
Nina POV.
Aku dan Ruhisa telah sampai di depan kamar Ruiga. Pintunya terlihat terbuka sedikit. Lalu Ruhisa pun membuka pintu itu. Dan terlihatlah seisi ruangan tersebut yang dipenuhi banyak barang yang tertata rapi di sini.
Benarkah ini kamar Ruiga? Kamarnya bagus dan dekorasi kamarnya pun nyaman dilihat. Apakah kamar di dunia nyata juga seperti ini?
Ruiga yang mendengar suara pintu terbuka pun dengan reflek langsung melihat ke arah kami. Tapi kedatangan kami tidak disambut dengan baik. Yang ada dia terlihat seperti mau mengusir kami.
"Ngapain kalian ke sini?!" Kata Ruiga dengan nada kasar.
Gila nih Ruiga. Padahal adiknya tidak berbuat salah, tapi Ruiga malah membentak adiknya seperti seorang kakak tiri yang galak pada adiknya.
"Kenapa aku dimarahi? Aku kan hanya mengantar Kak Nina. Nina mau bertemu dengan kakak."
"Bertemu denganku? Kukira kau masih marah padaku."
Aku yang sudah tidak bisa menahan kangen pun, dengan sigap langsung menerjang tubuh Ruiga, kemudian memeluknya erat-erat.
Melihat kelakuanku waktu itu telah membuat Ruiga dan Ruhisa kaget. Aku yang tidak peduli tetap merasa cuek saja dan tetap memeluk Ruiga. Akhirnya aku bisa bertemu Ruiga lagi secara sadar. Jujur aku sangat kasihan melihat dia di dunia nyata yang tak sadarkan diri.
"Ruiga, aku kangen kamu. Kau ini bikin aku panik saja. Syukurlah di sini kau baik-baik saja."
"Ih jangan peluk kakakku seperti itu!" Kata Ruhisa sambil melepaskan pelukanku dari Ruiga. Aku sendiri merasa kaget. Aku tidak mengira Ruhisa akan semarah ini saat aku memeluk Ruiga.
"Kenapa tiba-tiba sikapmu aneh? Selama beberapa hari kau ngambek tidak mau bicara padaku. Dan sekarang tiba-tiba kau datang dan bilang kangen. Kau ini aneh."
"Ini aku. Kau ingat? Masa kau tidak bisa membedakan mana aku yang asli dan aku yang palsu? Kau tahu kan apa maksudnya?"
"Kau yang asli? Jangan-jangan....."
"Apa aku perlu membully-mu lagi agar kau ingat padaku?"
"Mustahil! Jadi kau ini benar Nina teman sebangkuku? Tapi bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang. Nanti akan kujelaskan. Dan kedatanganku ke sini adalah untuk membantumu keluar dari sini. Di luar sana orangtuamu khawatir. Mereka ingin kau kembali."
"Kau tidak bohong kan? Kau benar Nina temanku?"
"Kenapa kau terlihat tidak yakin? Apakah aku versi dunia ini begitu mirip dengan aku yang asli?"
"Hampir mirip sih. Hanya saja kau versi di dunia ini tidak semenyebalkan dirimu."
"Jadi kau menganggapku menyebalkan gitu?"
"Sebenarnya kalian berdua sama-sama menyebalkan. Hanya saja aku lebih suka kau yang asli."
"Kalian berdua ini ngomongin apaan sih? Aku gak paham apa yang kalian katakan." Kata Ruhisa yang terlihat kebingungan.
"Diam kau! Ini bukan urusanmu!" Kata Ruiga dengan galaknya.
"Eh kok kau kasar banget sih sama dia?! Dia kan cuma bertanya."
"Habisnya dia bikin emosi terus." Jawab Ruiga.
"Apanya yang bikin emosi? Yang ada justru kamu yang gampang emosi. Kalau kau terus bersikap seperti itu padanya, maka kau tidak akan bisa keluar dari sini."
Setelah aku bilang itu ke Ruiga, barulah Ruiga mulai tenang. Dia tidak lagi terlihat marah.
"Kalian berdua aneh! Akan kuadakukan kakak pada ayah biar kakak dimarahi." Kata Ruhisa dengan wajah sedih bercampur dengan rasa kesal. Kemudian dia berlari keluar dari kamar.
"Kenapa kau diam saja? Cepat kejar dia!"
"Ngapain harus dikejar? Kau pikir kami sedang main kejar-kejaran?"
"Kau sadar gak sih apa yang kau perbuat tadi? Sikapmu tadi pastinya melukai hati Ruhisa. Cepat kejar dia dan minta maaflah!"
"Kok kau bisa kenal Ruhisa? Jika kau benar Nina dari dunia nyata, seharusnya kau tidak mengenali Ruhisa."
"Kakek Zelus telah memberitahuku semuanya tentang dunia ini dan alasan kenapa kau dikurung di dunia ini."
"Bagaimana ceritanya kau bisa kenal Zelus? Apakah kau senasib denganku juga yang dikurung di dunia ini karena tidak bisa menerima takdir?"
"Jangan kau samakan aku denganmu! Alasanku ke sini itu untuk membantumu keluar dari dunia ini. Dan itu atas permintaan kakek Zelus sendiri."
"Lalu bagaimana caramu membuatku keluar dari sini?"
"Seharusnya kau tahu sendiri kan. Tentu saja dengan cara kau menerima Ruhisa sebagai adikmu."
__ADS_1
"Cuma itu? Kukira kau punya jalan pintas untuk keluar dari sini. Eh ternyata sama saja kau dengan Zelus."
"Lah kan tujuan kakek Zelus mengurungmu di sini kan agar kau bisa menerima takdirmu sebagai kakak."
"Iya tapi hal itu tidak mudah."
"Maka dari itu aku datang ke sini. Akan kuajari kau cara menjadi kakak yang baik."
"Aku sudah mencoba hal itu. Tapi itu sulit."
"Iya memang sulit diawalnya. Nanti kau akan terbiasa."
"Yang ada mereka malah bikin aku emosi. Kau tahu, tiap kali terjadi sesuatu pasti aku yang selalu disalahkan."
"Iya aku tahu. Aku juga punya adik. Aku paham perasaanmu. Menjadi kakak itu memang tidak gampang. Tapi kita sebagai kakak harus menjalani takdir kita dengan ikhlas. Kita adalah beberapa orang yang terpilih menjadi kakak dan kita dipercayai oleh Tuhan untuk menjaga adik kita."
"Ruhisa itu bukan adikku."
"Iya aku tahu dia hanya manusia dunia alternatif. Tapi kan di dunia nyata kau punya calon adik. Artinya kau harus menjadi kakak yang baik buat calon adikmu nanti. Anggap saja Ruhisa itu adik kandungmu sebagai obyek latihan menjadi kakak."
"Terus apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Yang jelas sekarang kau harus minta maaf padanya."
"Perlu kau tahu ya, soal maaf-maafan kami sering melakukan itu. Tapi di hari lain pasti kami bertengkar lagi."
"Bertengkar itu wajar. Aku juga pernah bertengkar dengan adikku. Yang namanya hubungan sesama manusia itu pasti pernah berselisih. Bahkan kita aja juga pernah bertengkar kan? Baikan dulu sana sama adikmu! Setelah itu akan kutuntun kau secara perlahan untuk menjadi kakak yang baik."
Ruiga pun melakukan apa yang aku sarankan. Dan mereka pun kembali baikan. Ternyata mudah banget membuat Ruhisa mau baikan dengan kakaknya. Berbeda dengan adikku yang sulit dibujuk kalau tidak dikasih sesuatu terlebih dahulu.
"Karena kalian sudah baikan, bagaimana kalau kita pergi keluar untuk merayakannya?"
"Untuk apa dirayakan? Kurang kerjaan banget!" Kata Ruiga.
"Kau ingin keluar dari dunia ini kan? Kalau mau ikuti saja rencanaku." Kataku yang membisikannya padanya.
"Keluar ke mana?" Tanya Ruhisa.
"Keluar jalan-jalan ke taman komplek. Pasti kalian tidak pernah kan menghabiskan waktu bersama di taman?"
"Ya sudah, ayo kita ke taman sekarang!"
Lalu Ruiga pun membisikkan sesuatu padaku. "Apa rencanamu? Jangan paksa aku melakukan hal yang tidak kusuka!"
"Aku hanya ingin kau mengakrabkan diri padanya. Apakah itu salah?"
"Memang harus ya aku akrab padanya?"
"Pakai nanya lagi. Ya iyalah kau harus akrab sama adikmu jika kau mau menjadi kakak yang baik. Kakak macam apa yang tidak akrab sama adik sendiri?!"
"Aku ragu ini akan berhasil. Yang ada nanti aku justru termakan emosi."
"Ya makanya jangan mudah emosi!"
"Serius sekali sih kalian bicara? Biasanya pembicaraan kalian tidak seintim ini." Kata Ruhisa.
"Kakakmu sedang membicarakan sesuatu."
"Sesuatu apa?"
"Suatu kejutan untukmu."
Tiba-tiba wajah Ruhisa menjadi ceria.
"Benarkah itu kak? Kakak punya kejutan untukku?" Kata Ruhisa dengan wajah bahagia.
"Dasar bodoh! Kenapa kau bilang begitu padanya? Mana mau aku memberi dia kejutan."
"Sudah burut saja padaku! Aku sudah menyusun rencana. Jadi kau cukup menjalani saja dan jangan protes!"
"Tapi kan..."
"Lalu apa kejutannya?" Tanya Ruhisa yang sudah tidak sabaran.
"Anu..... eh."
"Bukan kejutan namanya kan kalau diberitahu sekarang. Tunggu saja, sampai hari itu tiba." Kataku pada Ruhisa.
__ADS_1
Kini kami telah sampai di taman. Kebetulan di sini tidak ada orang lain kecuali kami. Ini bisa menjadi suasana bagus. Dengan begitu dunia serasa milik mereka berdua.
Lalu aku mendekat ke Ruiga dan berkata, "kenapa diam saja? Cepat ajak adikmu bermain!"
"Main apaan?"
"Terserah mau main apaan. Di sana ada ayunan. Coba ajak dia naik ayunan!"
"Kau ini gila ya. Kita kan sudah gede, masa main ayunan?"
"Siapa pun juga boleh kali main ayunan. Bukan hanya anak kecil saja. Tujuanku ke sini adalah membuat Ruhisa senang oleh sikapmu. Jadi ajak dia bermain sampai dia merasa senang. Jika perlu belikan dia sesuatu agar dia makin senang."
"Aku tidak punya uang."
"Lah!? Kau kan orang kaya. Mana ada gak punya uang?"
"Sudah tiga hari ini aku tidak diberi uang jajan gara-gara aku memarahi Ruhisa di hari itu."
"Ih kau ini. Lagian kenapa sih kau suka banget memarahi adikmu? Kalau tidak salah kenapa dimarahi coba?"
"Entah kenapa ketika dia berada di dekatku, yang ada hatiku terasa panas dan ingin marah padanya."
"Makanya jangan gampang marah! Pasti kau tersugesti oleh pikiranmu sendiri yang menentang keberadaan adikmu. Makanya ketika kau berada di dekat adikmu, maka hatimu panas dan ingin marah."
"Kak coba lihat langit sore ini! Pemandangannya indah. Fotoin aku dong!" Kata Ruhisa yang tiba-tiba mendekat."
Ruiga pun melihat ke arahku. Dan aku pun memberi kode agar Ruiga mengiyakan permintaan adiknya. Walau terlihat tidak suka melakukannya, tapi Ruiga melakukannya dengan baik. Ruiga memfoto adiknya tanpa emosi marah. Aku senang dia bisa meredam amarahnya.
Setelah Ruhisa puas mendapatkan foto, aku pun memberi uang pada Ruiga agar Ruiga membelikan sesuatu untuk Ruhisa. Awalnya Ruiga menolak, tapi setelah kupaksakan akhirnya dia burut juga.
"Eh kakak mau ke mana?"
"Kakakmu mau beli sesuatu untukmu."
"Eh benarkah itu? Tumben sekali kakak begitu?"
"Kakakmu mencoba menjadi kakak yang baik buat Ruhisa."
Terlihat tidak percaya dengan apa yang kukatakan, tapi di wajah Ruhisa dia terlihat senang. Tapi kok Ruiga lama sekali perginya? Padahal warungnya dekat dari sini.
Lalu muncullah Ruiga dengan suatu barang yang ada di tangannya. Dan betapa kagetnya aku dengan barang yang Ruiga beli. Ini orang sakit atau gimana sih? Masa iya dia membeli pembalut. Tololnya gebangetan nih orang.
Sama halnya dengan diriku yang kaget melihat barang yang dibeli Ruiga, Ruhisa pun lebih kaget lagi. Pastinya Ruhisa mengharap akan dibelikan sesuatu yang spesial untuknya. Namun kenyataan justru benda seperti itu yang dibelikan.
"Ini untukku?" Kata Ruhisa dengan wajah heran. Aku yakin dia merasa kecewa, tapi dia tidak mau menunjukkannya pada kami.
"Iya itu untukmu." Jawab Ruiga tanpa merasa berdosa.
Sebentar deh. Ruiga itu sengaja atau dia terlalu polos?
"Terimakasih kak. Kebetulan aku kehabisan atok pembalut di rumah Hehe."
Apa!? Ruhisa senang?! Atau dia pura-pura senang saja?
"Hari makin sore. Lebih baik kita pulang." Kata Ruiga.
"Tunggu sebentar kak. Langit sore masih belum pudar. Sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja."
Kami pun menikmati sebentar sunset di taman komplek. Selama beberapa menit hingga mentari benar-benar tenggelam.
Oke rencana hari ini lumayan berjalan mulus. Yang bikin tidak mulus itu benda yang dibeli Ruiga. Tapi ini perlu disyukuri karena Ruiga sudah ada niat untuk menerima takdirnya.
Sebenarnya ini masih terlalu cepat untuk senang karena pastinya ke depannya akan lebih rumit lagi hubungan mereka. Lebih baik aku segera memikirkan rencana buat agenda besok.
Intinya mereka harus tetap akur selama beberapa hari saja, maka aku yakin kakek Zelus akan percaya jika Ruiga sudah menerima takdirnya.
"Ini terlalu cepat. Padahal aku masih ingin melihatnya lebih lama lagi." Kata Ruhisa.
"Masih ada hari esok. Kau bisa melihat sunset tiap harinya." Kataku.
Kemudian aku dan mereka terpaksa berpisah di sini. Ruhisa seperti membatasiku berdekatan dengan Ruiga. Bahkan ketika aku mencoba mau membisikkan sesuatu pada Ruiga saja, hal itu langsung dicegah oleh Ruhisa yang seolah tak terima aku terlalu dekat dengan Ruiga.
Sebagai seorang adik, Ruhisa terlalu overprotektif pada kakaknya. Untung saja Ruhisa bukan adik kembar sungguhan Ruiga. Jika iya pasti Ruiga kerepotan dan yang ada Ruiga makin benci pada adiknya. Benar juga. Ini adalah tantangan bagi Ruiga untuk menguji tingkat kesabarannya.
Sekarang aku akan kembali ke rumahku yang jauh dari keramaian publik.
...****************...
__ADS_1