
Air seni itu mancur ke toilet selama beberapa detik. Warnanya yang bening seperti air menandakan sehatnya tubuh ini. Tapi apa gunanya tubuh sehat apabila jiwa dan pikiran kurang sehat? Semua ini karena dunia konyol ini. Tiap harinya aku selalu dibikin jengkel oleh para penghuni dunia ini.
Hm sepertinya tak ada lagi sisa air yang harus dikeluarkan. Dan aku pun harus keluar dari toilet. Dan ketika belum jauh keluar dari toilet, tiba-tiba seseorang menarik tanganku dari samping.
"Eh!?"
Sungguh mengagetkan orang itu. Aku kira itu Ruhisa yang biasanya sering muncul tiba-tiba dan bikin kaget. Namun ternyata dugaanku salah. Dia adalah siswa dari klub olahraga. Sepertinya aku tahu apa tujuannya.
"Kau ini bikin kaget saja!"
"Maaf. Aku hanya ingin tanya, apakah Nona Sasugara sudah menerima surat dariku?"
"Sudah."
"Lalu bagaimana reaksinya? Apakah dia senang?"
"Biasa saja sih. Sepertinya dia tidak suka laki-laki."
Sontak saja Riko menjadi pesimis. Rasa kecewa di wajahnya itu begitu membuatku kasihan padanya. Tapi apa dayaku yang tak bisa berbuat banyak.
"Aku kira dia akan suka padaku. Ternyata sama seperti yang lain yang juga ditolak."
"Memang apa bagusnya sih Ruhisa? Perempuan yang jauh lebih cantik darinya ada banyak. Tapi kenapa harus Ruhisa?"
"Kau bilang begitu karena kau adalah kakaknya. Seorang kakak mana bisa memahami adik perempuannya? Beda ceritanya jika kau adalah laki-laki biasa yang bukan sodaranya, maka aku yakin kau akan jatuh cinta pada Ruhisa. Dia adalah idaman di sekolah ini."
"Kuberitahu ya, dia itu bukan adikku. Dan aku juga tidak mau punya adik seperti dia."
"Kau bercanda? Mana mungkin kalian bukan sodara kandung? Sudah sangat jelas wajah kalian kembar dan kemiripan kalian 99% Jika rambutmu panjang seperti Ruhisa, maka tak ada orang yang bisa membedakan antara Ruiga dan Ruhisa."
"Mana mungkin tidak bisa membedakan? Sudah jelas jenis kelamin kami beda. Walau wajah kami terlihat sama, tapi tetap ada perbedaan antara raut wajah laki-laki dengan raut wajah perempuan."
"Ngeyel banget sih kau ini. Wajahmu dan wajah Ruhisa itu sama persis. Kalau boleh jujur tipe wajahmu itu tipe-tipe wajah perempuan. Untung saja kau tidak berpakaian seperti perempuan. Jika iya pasti mereka akan mengira kau ini perempuan tomboy."
Apa-apaan orang ini? Seenaknya saja memutuskan sesuatu. Memang benar muka kami mirip. Tapi mukaku bukan muka perempuan. Enak saja menyamakanku dengan orang yang tidak nyata di dunia nyata.
"Terserah kau deh. Aku mau ke kantin."
"Aku ikut. Kebetulan tadi pagi aku belum sarapan."
Dia mau ikut?! Agak mengejutkan sih karena sejauh ini cuma dia siswa laki-laki yang respek padaku, sementara sisanya cuma sebagai orang sekedar kenal saja.
Lalu sampailah kami ke warung soto yang agak sepi. Aku sengaja ke sini karena di warung lain terlalu ramai dan berisik. Aku jauh lebih tenang ketika hanya ada sedikit orang di suatu tempat. Dan Riko pun tidak keberatan kuajak ke sini.
"Ternyata kau ini tidak seangkuh yang mereka bilang ya."
"Ha? Mereka bilang aku angkuh? Siapa yang bilang begitu?"
"Banyak orang yang bilang begitu. Apalagi setelah menyebarnya berita kau dengan sengaja melukai adikmu. Beberapa dari mereka jadi makin tidak suka padamu."
"Apanya yang terluka? Dia cuma aku dorong hingga jatuh dan itu pun tidak menimbulkan luka. Lagipula Ruhisa duluan yang sengaja memancing amarahku."
"Nah itu dia. Mereka bilang kau ini pemarah. Mereka juga tidak suka itu."
"Terus saja gitu sampai seisi dunia ini membenciku. Sepertinya orang sepertiku memang layak dibenci."
"Aku tidak membencimu kok. Aku paham perasaanmu. Seorang adik ada kalanya juga bikin kakaknya emosi. Lalu terjadilah pertengkaran di antara mereka."
"Apakah kau punya adik?"
"Punya sih, walau bukan adik kandung. Awalnya dia memang mengganggu, tapi setelah dia remaja dan punya pacar, maka dia tidak lagi menjadi pengganggu. Jadi kalau dia butuh sesuatu dia tidak menggangguku lagi, tapi dia akan datang ke pacarnya."
"Nah itu dia kuncinya. Terimakasih telah memberiku pencerahan." Kataku sambil memeluknya secara tidak sadar.
"Woi jangan memelukku di tempat umum! Aku takut mereka mengira kita sebagai pasangan gay."
"Maaf, maaf. Aku juga tidak sadar bilang begitu."
"Tapi kenapa kau bilang terimakasih? Aku kan tidak memberimu apa-apa."
"Kata-kata darimu telah memberiku jalan."
"Maksudnya apa?" Riko kebingungan.
"Kau bilang seorang adik perempuan akan berhenti mengganggu kakaknya setelah dia punya pacar. Nah aku akan mencarikan Ruhisa pacar agar Ruhisa berhenti menggangguku. Dengan begini aku tidak harus melihat Ruhisa tiap saat."
"Kenapa kau nampak tidak suka pada adikmu? Jika diperhatikan kau seperti jijik gitu ketika Ruhisa ada di dekatmu."
"Sudah kubilang kan dia bukan adikku. Wajah kami hanya mirip. Terserah mau percaya atau tidak."
"Tuh dirinya sudah datang. Nanti aja bicaranya. Kita makan dulu aja."
Dan kami pun makan soto di sana. Namun di situ aku terheran-heran dengan Riko yang makannya kaya orang kesurupan. Memang sih tadi dia bilang belum sarapan. Tapi tidak disangka dia seratus itu makannya hingga habis 3 porsi.
"Wah kenyang. Aku mau ke toilet dulu ya. Nanti aku balik lagi." Kata Riko yang berlari seperti orang lagi dikejar setan. Aku pun hanya dia melihatnya dia lari.
Tetapi kok dia lama sekali? Apakah dia boker? Lebih baik aku tinggal saja deh. Lagipula dua menit dari sekarang bel masuk kelas akan berbunyi. Lebih baik aku segera membayar dan kembali ke kelas.
"Bude aku mau bayar." Kata bude penjual soto.
"Baiklah. Totalnya adalah Rp. 47.500."
"Loh kok mahal sekali? Aku kan cuma pesan satu soto dan dua gelas es teh saja."
"Iya tapi temanmu bilang tadi kau yang bayar semua pesanannya. Jadi totalnya adalah Rp. 47.500."
"Kurang ajar tuh anak. Belum seminggu kenal tapi sudah berani memanfaatkan aku. Pantas saja dia tadi terlihat sok baik padaku. Ternyata ada niat tersembunyi dari sikap sok baiknya.
Tidak masalah sih jika aku disuruh membayar uang segitu. Lagipula uang Rp. 47.500 itu merupakan jumlah angka kecil di mata keluarga Sasugara. Aku hanya kecewa padanya karena telah memanfaatkan aku.
...****************...
Saat bel pulang sekolah berbunyi aku sengaja menyuruh Ruhisa duluan menuju mobil jemputan. Tentu saja awalnya Ruhisa menolak karena dia maunya bareng aku. Tapi dengan sedikit bentakkan padanya, akhirnya dia mau juga kusuruh pergi duluan.
__ADS_1
Aku ada sedikit urusan dengan seseorang. Dan orang itu adalah Riko. Ini bukan masalah soto yang tidak dibayar Riko. Namun ini masalah bantuan. Aku butuh bantuan dari Riko. Karena cuma Riko saja yang bisa kumintai tolong. Tadinya sih aku mau minta tolong pada Nina, namun hal itu tidak jadi karena Nina masih marah padaku. Dia tidak mau bicara lagi denganku.
Sesuai dugaanku, pasti dia berada di ruangan klub olahraga. Aku pun mendatangi tempat itu secara tergesa-gesa.
"Eh Ruiga. Maaf aku harus pulang sekarang." Katanya yang mencoba kabur dariku.
"Jangan kabur! Kau masih berhutang padaku!" Kataku sambil menarik ranselnya dari belakang agar dia tidak kabur.
"Maafkan aku tadi! Aku terpaksa begitu karena aku kelaparan dan tidak punya uang. Aku janji deh akan mengganti uangnya. Tapi tolong jangan adukan ke guru atau ke orangtuamu! Bisa-bisa aku dikeluarkan dari sekolah." Kata Riko dengan wajah cemas.
"Aku akan mengikhlaskan masalah tadi. Asalkan kau mau membantuku."
"Membantu soal apa?"
"Aku butuh bantuan untuk mencarikan pacar buat Ruhisa."
"Kenapa harus repot-repot? Kan ada aku, jadi tinggal jodohin saja aku dengan adikmu."
"Dih, gak tahu malu. Kau kan sudah ditolak. Aku ingin mencarikan pasangan yang sesuai Ruhisa mau."
"Bukannya tadi kau bilang dia tidak suka laki-laki?"
"Aku hanya bercanda soal itu. Kalau dia benci laki-laki, pasti tidak mungkin dia ingin selalu dekat denganku."
"Lalu tipe laki-laki seperti apa yang diinginkan Ruhisa?"
"Hm, aku tidak tahu."
Singkat cerita Riko menyuruhku untuk bertanya pada Ruhisa tentang tipe laki-laki yang disukai Ruhisa. Setelah itu barulah besok menyusun rencana pencarian calon pacar.
Kini aku berjalan menuju mobil jemputan yang sudah menunggu lama di depan gerbang. Nampak wajah kesal pada Ruhisa dan supir pribadiku.
"Kakak ngapain saja sih di sana? Lama banget tahu gak?!"
"Sudah ayo masuk! Aku ingin pulang." Kataku yang masuk duluan ke mobil. Lalu berikutnya disusul oleh Ruhisa yang duduk di samping.
"Kakak menyebalkan! Memang aku salah apa sih sampai kakak segitunya sama aku?"
Sebenarnya aku mau bilang bahwa keberadaan Ruhisa di sini itu merupakan kesalahan terbesar. Tapi aku memilih untuk tidak menjawab dan mengalihkan topik.
"Aku mau tanya. Tipe laki-laki yang seperti apa yang kau suka?" Terlihat jelas wajah kaget pada Ruhisa. Matanya sedikit melotot oleh pertanyaanku barusan. Kemudian dia merindukan kepalanya ke bawah dengan perasaan malu.
"Kenapa tiba-tiba kakak bertanya seperti itu?"
"Sudah, jawab saja cepat!"
"Masa sih kakak tidak tahu? Dulu kan aku sudah memberitahu kakak."
"Aku tidak ingat. Cepat beritahu aku!"
"Hm... jadi begini."
"Apa?"
"Anu apa? Bicaralah yang jelas!" Kataku dengan nada keras.
"Tuan Ruiga, jangan kasar sama Nona Ruhisa! Kasihan Ruhisa tiap hari tuan marahi." Kata supir pribadiku.
"Jangan ikut campur! Ini urusan pribadi kami."
"Aku tidak ikut campur. Tapi orangtua kalian memberiku pesan agar aku mencegah kalian berdua bertengkar."
"Siapa yang bertengkar? Aku hanya bertanya padanya."
"Tapi cara tuan bertanya itu tidak bagus. Perempuan itu tidak suka dibentak tuan."
"Iya deh aku mau menjawab. Kenapa kalian malah berdebat?" Kata Ruhisa.
"Cepat jawab!" Kataku dengan tak sabaran.
"Tipe laki-laki... yang kubuka adalah.... laki-laki yang.... seperti kakak. Dah gitu."
"Aku bertanya serius." Kataku agak kesal.
"Aku juga menjawab serius. Kapan aku pernah bohong ke kakak? Yang ada kakak terus yang bohong padaku."
Mana ada laki-laki yang seperti diriku? Aku masih tidak mengerti maksudnya yang sepertiku itu dari segi fisik atau sifat?"
"Maksudnya kau suka tipe laki yang wajahnya seperti aku gitu?"
"Bukan!"
"Yang sifatnya seperti aku?"
"Bukan....! Ih masa kakak gak paham sih!!"
"Terus maksudnya yang seperti aku itu apanya??!!" Kataku dengan ngotot.
"Tuan Ruiga tenanglah! Aku tahu apa yang dimaksud nona Ruhisa. Setelah kita sampai ke rumah, akan kujelaskan apa maksud nona."
"Kelamaan. Kalau bisa sekarang kenapa harus menunggu?!" Kataku dengan kesal.
"Kakak bodoh!"
"Apa kau bilang?"
"Kakak bodoh, kakak bodoh, bodoh, bodoh, dan paling bodoh!" Kata Ruhisa dengan nada keras hingga terdengar sakit di telinga.
"Mau ngajak berantem? Asal kau tahu dari tadi aku sudah mencoba bersabar. Jika kau suka membuatku marah, akan aku...."
"Tuan Ruiga, kendalikan dirimu! Kalian jangan bertengkar di sini! Aku jadi tidak fokus mengemudi kalau kalian bertengkar di sini. Kalian tidak ingin kan kita kecelakaan?"
Aku dan Ruhisa pun hanya bisa berdiam dan saling membuang muka. Amarahku hari ini terpaksa diredam. Padahal aku ingin sekali menjambak rambutnya hingga rontok. Itu bocah tiap harinya hanya bikin emosi saja.
__ADS_1
Cuma ditanya soal tipe laki-laki idaman saja menjawabnya berbelit-belit gitu. Biasanya dia ceplas-ceplos saja saat diajak bicara.
Beberapa menit kemudian sampailah kami ke rumah. Aku dan Ruhisa telah turun dari mobil, sementara supir memasukan mobil ke garasi.
"Kakak *****!" Kata Ruhisa dengan keras di depan wajahku. Setelah itu dia berlari kencang ke dalam rumah. Aku yang emosinya bangkit secara spontan berlari mengejar dia. Namun tiba-tiba langkah kakiku terhenti setelah aku melihat Ruhisa yang bersembunyi di belakang badan ibuku.
"Mau kau apakan adikmu?" Kata ibuku dengan wajah tak enak dilihat.
"Bu kakak mau memukulku."
"Aku belum sempat memukulmu."
"Belum sempat, artinya kau benar mau memukul adikmu kan?" Kata ibu dengan nada marah.
"Eh itu....."
"Bisa gak sih sehari saja kalian tidak ribut? Ibu dan ayah bosan melihat kalian bertengkar terus."
"Ruhisa duluan yang memancing emosiku." Kataku yang mencoba bela diri.
"Kakak duluan yang bicara dengan nada kasar padaku."
"Diam kau ya! Jangan beraninya cuma berlindung di depan ibu! Kalau berani sini hadapi aku!" Kataku yang emosinya tak terkendali. Tapi ibu justru menamparnya keras-keras.
"Kau juga beraninya jangan sama perempuan, apalagi sama adikmu sendiri! Kau ini seorang kakak. Seorang kakak itu harusnya menjadi pelindung bagi adiknya, bukannya malah mengajak gelut adiknya!"
"Terus saja bela dia terus! Di mata ibu aku gak pernah benar!!"
"Memang faktanya kau tidak pernah benar! Ibu peringatkan ya. Jika kalian berdua sampai bertengkar lagi, maka ibu akan mengirim kalian ke panti asuhan."
"Loh kok kami berdua yang dikirim ke panti? Kenapa bukan kakak saja?" Protes Ruhisa pada ibu.
"Kalau kalian tidak mau dikirim ke panti asuhan, makanya kalian jangan bertengkar!" Bentak ibu pada kami.
"Tapi kakak duluan yang selalu bikin masalah."
"Ibu tidak peduli siapa yang mulai duluan. Apa pun alasannya ibu tidak suka kalian bertengkar! Dan kalian harus mendapatkan hukuman.
Hukuman lagi?! Eh tapi ibu bilang "kalian" artinya bukan aku saja yang dihukum. Tapi Ruhisa juga. Kalau gini kan lebih adil.
"Kau pernah dihukum dirantai di tiang kan? Sekarang kau akan dihukum dengan cara serupa bersama adikmu. Terimalah hukuman ini dan renungkan kesalahan kalian!"
Dirantai lagi. Sebenarnya tidak masalah. Tapi kenapa harus diikat bersama Ruhisa?! Setidaknya pisahkan kami berdua jika harus dirantai. Dirantai berdua di kebun dan jadi tontonan para pembantu itu mengesalkan. Tapi aku heran kenapa Ruhisa malah tertawa kecil saat kami berdua duduk diatasi rumput saling membelakangi dan dirantai. Seolah-olah dia begitu menikmati.
"Kau pikir ini lucu?"
"Gak lucu sih."
"Terus kenapa tertawa?!"
"Bisa gak sih kalau kakak bicara padaku jangan pakai nada tinggi terus?"
"Itu karena kau selalu memancing emosiku!"
"Kakak saja yang gampang emosi."
"......"
"Apa kakak ingat? Dulu kita pernah dihukum bersama gara-gara kita tidak sengaja memecahkan guci kesayangan ibu di ruang tamu. Dulu kita dihukum membersihkan gudang bersama. Eh bukannya bersih-bersih, tapi kita malah tiduran dalam gudang. Aku tidak bisa lupa soal itu."
Ingatan macam apa itu? Sudah jelas hal itu tidak pernah terjadi. Tapi kenapa Zelus memberi ingatan pada Ruhisa seperti itu?
"Kenapa kakak diam saja? Kakak lupa?"
"Sudah, jangan bicara lagi!"
"Bukannya yang mulai mengajak bicara duluan itu kakak? Dari tadi aku juga diam."
"Iya, sekarang diamlah!"
"Udahan saja marahnya. Kita baikan lagi saja. Kalau kita tidak baikan, kita tidak bakalan dilepaskan."
"Sadar gak sih kau ini?! Tiap kali kau mengajak baikan, pasti di hari yang lain kau bikin emosi lagi. Dan endingnya pasti kau mengadu ke ibu atau ayah. Setelah itu.... "
"Setelah itu kakak dihukum hehehe."
"Ini tidak lucu!"
"Ya makanya kakak jangan mudah emosi! Tapi kita tidak punya pilihan lain. Jika kita tidak segera baikan, maka kita tidak bakalan dilepaskan hingga malam berganti pagi."
"Kenapa kau bisa yakin jika ibu akan melepaskan kita jika kita baikan?"
"Lah kan tujuan ibu menghukum kita kan agar kita baikan dan merenungi kesalahan masing-masing. Aku yakin itu tujuannya. Coba lihat ke lantai dua!"
Lantai dua? Memang kenapa?
Oh ternyata di lantai dua kami sedang diawasi oleh ayah yang berdiri memantau kami. Lah? Ibu dan ayah tidak kerja hari ini?
"Bersikaplah seolah kita sudah baikan. Aku yakin ayah akan percaya kalau kita sudah berdamai."
"Terserah kau saja."
"Oh satu hal lagi. Kenapa tiba-tiba kakak menanyakan hal itu?"
"Kalau kau tidak mau memberi jawaban yang pasti, lebih baik kau jangan bahas itu lagi! Yang ada hanya bikin emosi saja."
"Maaf. Tadi kan aku sudah menjawab. Tipe laki-laki yang kusuka adalah laki-laki seperti kakak. Lebih tepatnya orang itu adalah kakak. Kakaklah laki-laki yang Ruhisa suka. Makanya aku menolak semua laki-laki yang mendekat padaku."
"Kau ini gila ya?!"
"Aku serius. Aku ingin selalu berada di dekat kakak. Selamanya.... "
Aku mencoba berpikir positif. Mungkin maksudnya dia suka aku sebagai kakak yang menyayangi adiknya. Aku pikir Ruhisa tidak setolol itu yang mencintai kakaknya sendiri. Walaupun kami bukan sodara kandung dan dia bukan manusia asli, tapi aku yakin Zelus tidak akan memberi perasaan cinta Ruhisa padaku. Karena yang diinginkan Zelus adalah aku menjadi kakak yang baik untuk Ruhisa.
__ADS_1
...****************...