
Nina POV.
Aku sudah berada di depan kakek Zelus. Kami sedang berada di kamarku bersama aku, kakek Zelus, dan keluargaku. Ini adalah hari di mana aku akan masuk ke dunia alternatif menyusul Ruiga.
"Jadi kau sudah siap?"
"Ya."
"Hati-hati ya di sana! Jangan lama-lama di sana! Ingat kau harus kembali sekolah." Kata ibuku.
"Iya bu, aku tidak akan lama kok. Secepat mungkin akan kubawa kembali Ruiga ke dunia ini."
Aku sudah diberi izin oleh orangtuaku. Tentunya ini tidak mudah karena pastinya ibuku tidak setuju aku terjun ke dunia lain. Tapi dengan sedikit usaha, ibuku pun mengizinkanku atas dasar niatku untuk menyelamatkan Ruiga dari dunia alternatif.
"Kakak jangan lupa bawa oleh-oleh ya!" Kata Adik kecilnya yang masih polos.
"Iya kakak janji." Kataku sambil mengelus kepalanya.
Kemudian Zelus menyuruhku tiduran di kasur dan perjalanan menuju dunia itu dimulai.
Secara perlahan mataku tertutup seperti ketika aku sedang mengantuk. Begitu kedua mataku tertutup rapat-rapat, aku sudah merasa diriku tidak lagi berada di tempat itu.
Aku membuka mata, namun yang terlihat cuma gelap gulita. Walau gelap aku masih bisa melihat tubuhku sendiri. Dan kemudian datanglah Kakek Zelus.
"Sebelum kau ke sana, aku mau menjelaskan beberapa hal padamu."
"Apa itu?"
"Perlu kau ketahui, dunia sana sebetulnya hanyalah kepalsuan. Mungkin di sana terlihat seperti dunia nyata yang dipenuhi banyak orang. Tapi sesungguhnya mereka semua palsu. Mereka hanyalah manusia buatan yang aku kloning dari dunia nyata. Cuma kau dan Ruiga saja satu-satunya manusia asli di sana. Di sana aku juga membuat tiruanmu versi dunia alternatif."
"Tiruan diriku? Jadi di dunia itu akan ada dua Nina yang berbeda?"
"Benar. Tapi jika kau keberatan jika ada dua Nina di sana, maka Nina versi dunia alternatif akan kuhapuskan sementara."
"Sebenarnya tidak dihapus juga tidak masalah. Tapi aku takut jika adanya dua Nina di sana akan mengakibatkan masalah, maka lebih baik dihapus saja deh. Cukup aku saja Nina yang ada di sana."
"Baiklah. Aku harap kedatanganmu bisa membuat Ruiga terbuka pikirannya."
"Tapi jika di sana ada Nina versi dunia alternatif, apakah juga ada Ruiga versi dunia alternatif?"
"Untung kau bertanya. Aku hampir lupa menjelaskan. Tentu ada Ruiga versi dunia alternatif. Tapi keberadaannya tidak kuhapuskan, melainkan kuubah perannya sebagai kembaran dari Ruiga. Di sana Ruiga versi dunia alternatif disebut Ruhisa kembarannya Ruiga. Tugasmu di sana untuk membuat Ruiga agar Ruiga bisa menerima Ruhisa sebagai adiknya."
"Menarik sekali menjadikan Ruiga versi dunia alternatif sebagai sodara kembarnya. Lalu bagaimana denganku? Apakah kehidupanku di sana sama persis ketika aku di dunia nyata?"
"Di sana kau berperan sebagai yatim piatu. Kau ditempatkan di rumah khusus bersama anak yatim piatu lainnya. Tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa sih. Ya sudah, ayo bawa aku ke sana!"
Tiba-tiba pandanganku menjadi silau oleh cahaya ilahi yang entah muncul dari mana. Pokoknya silau banget cahaya itu. Dan ketika pandanganku sudah jelas, maka sadarlah diriku yang sudah berada di atas kasur.
Ini ruangan kamar lengkap dengan tempat tidur dan meja belajar. Tapi aku merasa asing dengan tempat ini. Inikah rumahku versi dunia alternatif? Tidak buruk dan perlu disyukuri meski di sini aku tinggal sendiri.
Oke tidak perlu buang waktu lagi. Mulai detik ini akan kutemui Ruiga. Kata kakek rumah Ruiga tidak berbeda lokasinya dengan dunia nyata karena sebagian besar dunia ini merupakan duplikat dari dunia nyata. Anggap saja seperti dunia paralel ala-ala cerita fiksi gitu.
Tetapi aku kaget ketika aku keluar dari rumah ini. Area di sini terlihat asing di mataku? Di dunia nyata tempatku tinggal tidak seperti ini. Lalu bagaimana aku bisa sampai ke rumah Ruiga?
Di sini sepi. Tiada ada orang yang bisa aku tanya. Seharusnya tadi aku tanya dulu pada kakek sebelum dia pergi. Apakah kakek Zelus tahu aku sedang kebingungan sekarang?
Ya sudahlah. Aku yakin tempat ini masih satu komplek dengan rumah Ruiga. Yang perlu dilakukan hanyalah berjalan menuju keramaian, kemudian bertanya pada warga setempat.
...****************...
__ADS_1
Langkah demi langkah telah kulalui. Hampir saja aku menyerah untuk bisa menemukan Rumah Ruiga. Tapi untung saja ada anak kecil di jalan yang bisa kutanyai. Dan akhirnya aku diberi arahan menuju lokasi keramaian.
Kini suasana tidak lagi sepi. Tiap aku berjalan selalu saja terlihat para pejalan kaki yang berjalan ke sana dan ke mari. Mulai dari sini aku tidak lagi merasa asing. Tempat yang kulalui sekarang sama persis dengan tempatku tinggal. Dan beberapa warga di duniaku juga ada di sini dalam versi dunia alternatif.
Jika tempat tinggal Ruiga tidak dirubah, pasti rumah keluarga Sasugara tidak jauh dari sini. Yang perlu kulakukan hanyalah berjalan 50 meter lagi dari sini, maka aku akan sampai ke sana.
'Sasugara House' ada tulisan itu di atas gerbang masuk rumahnya. Tidak salah lagi, ini rumah Ruiga. Bentuknya sama persis seperti di dunia nyata. Bahkan Satpam penjaganya pun juga sama. Hanya saja satpam di sini tidak serakah seperti di dunia nyata. Di sini dia terlihat galak menatapku.
"Ada perlu?"
"Eh, aku mau bertemu Ruiga Sasugara."
"Sepertinya aku pernah melihatmu. Tapi itu sudah lama kalau tidak salah." Kata satpam itu sambil mencoba mengingat-ingat.
"Tapi Ruiga ada di rumah kan pak?"
"Ada. Tapi aku masih belum ingat kau ini siapa."
"Aku teman sekolahnya Ruiga."
"Oh kenapa tidak bilang dari tadi? Pantas saja aku merasa pernah melihatmu. Ternyata kau teman sekelas tuan Ruiga."
Ya elah satpam ini banyak bicara. Beda banget dengan satpam Ruiga di dunia nyata yang cenderung to the point.
"Boleh aku masuk?"
"Oh silakan. Masuk saja ke dalam! Jika Tuan Ruiga tidak ada, coba tanyakan pada adiknya atau para pembantu di sana!"
Adiknya? Oh iya di sini Ruiga punya sodara kembar. Kira-kira seperti apakah kembaran Ruiga di sini? Apakah wujudnya sama persis dengan Ruiga? Dan apakah sifatnya juga sama manjanya dengan Ruiga? Atau justru adiknya lebih dewasa daripada kakaknya?
Aku yang tidak sabar bertemu dengannya langsung berlari menuju teras rumahnya. Tapi di sana aku tidak melihat siapa pun. Gak enak saja kalau aku langsung masuk ke dalam begitu saja. Dan seharusnya kan sebagai satpam dia memandu tamunya untuk menemui tuan rumahnya. Eh si satpam malah diam saja seolah tak ada beban.
Ketika aku berjalan menuju kebun bunga, maka terlihatlah sosok yang membuatku kaget setengah mati.
"Astaga! Ruiga...!?" Kataku dengan nada kaget. Tapi dia malah terdiam heran menatapku.
"Kak Nina? Tumben datang ke sini?"
Eh dia memanggilku dengan sebutan kak? Tapi bukan itu yang membuatku kaget. Tetapi dandanan Ruiga yang seperti anak perempuan. Dan lebih parahnya lagi dia memakai wig panjang hingga menyentuh pantat.
"Kenapa kau memakai rok? Dan kenapa kau memakai wig?"
"Siapa yang memakai wig? Ini kan rambut asli. Kok sikap kak Nina jadi aneh gini?"
"Jadi itu rambut asli?" Aku yang masih tidak percaya pun dengan sigap langsung menarik rambutnya untuk memastikan bahwa itu rambut asli atau bukan.
"Aduh sakit?! Kenapa kau menjambak rambutku?!" Katanya dengan nada menjerit.
Eh tunggu dulu! Suara itu terdengar seperti anak perempuan. Loh kok gitu? Dia perempuan? Apakah aku salah orang? Tapi wajahnya mirip Ruiga, hanya saja dia berpenampilan seperti perempuan dengan rambut panjang.
"Kau ini perempuan ya?"
"Kau ini buta apa? Orang idiot pasti juga tahu kalau aku ini perempuan!" Jawabnya dengan nada kesal.
Aku masih belum percaya kalau dia perempuan. Bisa saja Ruiga di sini jadi gila dan berpenampilan seperti perempuan karena jiwanya terganggu. Untuk memastikannya aku mencoba meraba dadanya. Jika dia benar perempuan, pasti ada payudara di dadanya walau ukurannya tidak besar.
"Eh kau mau ngapain?!" Kata dia yang melihatku mendekat padanya. Lalu tanpa pikir panjang langsung saja aku raba-raba dadanya yang terlihat rata jika dilihat dari luar.
"Ya ampun.... Ini mustahil!"
Ternyata benar, ada gumpalan lemak di dadanya. Ukurannya memang kecil. Rasanya sangat mustahil anak sekurus dia memiliki lemak di dadanya. Masalahnya ada juga laki-laki gemuk yang dadanya berlemak menyerupai payudara. Tapi Ruiga kan tidak gemuk. Jadi dia positif perempuan?
__ADS_1
"Ih kok kak Nina jadi mesum begini sih?" Lalu dia mendorong tubuhku agar aku berhenti meraba-raba dadanya.
"Eh maaf. Ternyata aku salah orang. Kupikir kau adalah Ruiga."
Kalau dia bukan Ruiga, lalu dia siapa? Apakah perempuan ini ada di dunia nyata? Wajahnya benar mirip dengan Ruiga. Apakah dia sodara sepupu Ruiga?
Jangan-jangan dia adalah kembaran yang dimaksud kakek Zelus?!
"Kakak kerasukan apa sehingga bertingkah aneh begitu?!" Katanya yang masih terlihat kesal padaku.
"Maaf, kukira kau ini Ruiga."
"Kau ini buta ya? Masa membedakan aku sama kak Ruiga saja tidak bisa?! Ternyata sifat aneh kak Ruiga akhir-akhir ini menular ke kamu juga."
Ternyata benar. Dia adalah Ruhisa kembarannya Ruiga di dunia ini. Masalahnya kakek Zelus cuma bilang kalau Ruiga punya adik kembar di sini. Tapi kakek Zelus tidak bilang kalau Ruhisa itu perempuan. Pantas saja namanya Ruhisa yang terdengar agak feminim. Kok aku gak kepikiran ya kalau kembarannya itu perempuan?
"Lalu di mana kakakmu sekarang?"
"Dia ada di kamar. Kenapa tiba-tiba ingin bertemu kakakku? Bukannya kau masih marah padanya?"
Marah? Oh mungkin yang dimaksud Ruhisa adalah aku versi dunia ini. Tapi aku versi dunia ini sudah tidak ada dan posisinya telah aku ambil alih.
"Gak baik kan marah terlalu lama. Cepat atau lambat harus baikan."
"Iya kau benar. Ayo ikut aku ke kamar kakak!"
"Ha? Ikut ke kamarnya? Kenapa kau tidak panggil saja kakakmu ke sini?"
"Tahu sendiri kan kakak itu sulit diatur. Percuma aku suruh dia ke sini, pasti dia tidak mau. Lebih baik aku antar saja kau ke sana."
Sebenarnya sih aku merasa sungkan untuk ke sana. Masalahnya ini yang pertama kalinya aku diajak ke kamar cowok. Kira-kira seperti apa ya kamar Ruiga? Apakah cenderung berantakan seperti penampilannya?
"Bagaimana sifat kakakmu kepadamu? Apakah dia menyayangimu?"
"Konyol kau bertanya seperti itu! Kau tahu sendirilah gimana sifat kakak padaku. Tiap hari aku dimarahi terus dengan alasan aku ini terlalu mengganggu. Padahal aku hanya ingin mengobrol dengannya saja." Kata Ruhisa dengan wajah kesal.
Sesuai dugaanku. Pasti Ruiga tidak bisa menerima Ruhisa sebagai adik kembarnya. Tapi itu wajar karena ini terlalu cepat baginya. Dalam waktu singkat tiba-tiba dia memiliki adik kembar yang usianya setara dengan dirinya. Tentu saja hal itu tidak bisa diterima oleh akal Ruiga.
Jika Ruiga memang harus memiliki adik di dunia ini, seharusnya adiknya masih menjadi bayi gitu, jadi Ruiga tidak shock dengan kehadiran Ruhisa yang tiba-tiba mengaku sebagai adik kembarnya yang seumuran.
"Tapi kau harus yakin jika kakakmu itu juga punya rasa sayang terhadapmu."
"Ya aku paham itu. Dulu kan hubungannya dengan kakak memang baik. Tapi enak kenapa akhir-akhir ini dia berubah jadi galak. Padahal sewaktu kecil kami akur-akur saja."
Tunggu dulu! Dia bilang sewaktu kecil mereka akur-akur saja? Tapi bukannya kakek Zelus bilang dunia ini belum ada satu tahun diciptakan? Dunia ini tercipta hanya untuk menghukum Ruiga. Lantas bagaimana bisa Ruhisa punya ingatan masa lalu yang sebenarnya tidak pernah terjadi? Aku jadi bingung.
Selain itu aku masih tidak percaya jika orang-orang di sini merupakan manusia buatan kakek Zelus. Jika mereka bukan manusia asli, bagaimana bisa mereka berekspresi dan berpikir selayaknya manusia sesamaku? Mereka terlalu nyata untuk dibilang sebagai manusia buatan atau tiruan.
"Kok kak Nina melihatku seperti itu? Apa ada yang aneh di wajahku?"
"Hehe gak ada kok. Hanya saja aku tidak menyangka jika wajahmu sangat mirip dengan Ruiga."
"Lah kami kan kembar. Ya wajar dong kalau wajah kami sama. Kau gimana sih? Kita kan sudah kenal dari kecil, tapi kenapa kau baru mempermasalahkan hal ini sekarang?"
Kenal dari kecil? Aku kenal Ruiga saja belum ada setahun. Tapi bisa-bisanya Ruhisa berpikir jika kami sudah kenal sejak kecil. Kok bisa gitu ya? Apakah manusia lain yang ada di dunia ini juga memiliki ingatan buatan yang sesungguhnya tidak pernah terjadi?
Jika dunia ini tercipta ketika Ruiga dihukum, pastinya orang-orang di sini tidak memiliki ingatan masa lalu karena umur mereka belum lama setelah diciptakan.
Tapi sudahlah. Ada hal yang jauh lebih penting dari itu. Daripada memikirkan itu, mending memikirkan bagaimana cara agar Ruiga bisa menerima Ruhisa sebagai adiknya. Itulah tujuan awalku ke sini.
...****************...
__ADS_1