
Masih di alun-alun kota tempat berlangsungnya acara kembang api. Waktu itu aku dan Nina terdiam dan bingung mau berkata apa, sampai ketika salah satu dari kami memberanikan diri untuk berkata.
"Kenapa tiba-tiba diam?" Nina bertanya padaku.
"Maaf aku melamun."
"Kau masih mikirin dunia ini yang akan dihapus?"
"Iya benar, tapi bukan hanya itu saja yang kupikirkan."
"Kurasa orang sepertimu tidak bisa berpikir yang lebih tinggi."
"Jangan sembarangan aku! Hanya karena aku tidak pintar di sekolah, bukan berarti kalau aku tidak bisa berpikir. Kadang aku berpikir apakah Ruhisa bisa kuajak pulang ke dunia kita? Dan apakah suatu saat aku bisa menikah?"
Entah apa yang lucu, tapi menurutku tidak ada yang lucu. Tapi Nina tertawa tiba-tiba. Lebih tepatnya dia menertawaiku.
"Hahahaha.... Kau ini *****."
"Apa katamu?"
"Mana bisa kau membawa Ruhisa ke dunia kita? Dia itu tidak punya raga. Kita berada di sini itu cuma rohnya saja yang di sini. Tubuh kita sedang tertidur di dunia nyata."
"Oh iya aku baru ingat soal itu."
"Tapi aku tertawa bukan karena itu sih."
"Lah, lalu karena apa?!" Aku heran.
"Aku tertawa karena aku tidak mengira jika kau memikirkan tentang pernikahan. Kupikir kau ini aseksual gitu. Tapi aku lega, ternyata kau masih memikirkan rencana menikah."
Sampai detik ini Nina masih tertawa ngakak. Aku tidak mengira jika selera humornya sereceh itu.
"Sudah berhentilah tertawa! Aku risih mendengarnya."
"Maaf, maaf..." Nina mencoba berhenti tertawa.
"Apakah kau sudah menemukan orang yang ingin kau ajak menikah?"
"Sudah." Jawab Nina dengan cepat. Eh cepat banget dia menjawab. Apakah dia serius? Tapi aku hampir tidak pernah melihat dia berdekatan sama anak laki-laki selain aku. Selain itu Nina juga tidak terlalu menanggapi ketika sedang digodain anak laki-laki di kelas. Dia selalu bersikap dingin ke laki-laki kecuali aku. Itu pun aku baru menyadarinya setelah kami resmi berteman. Kupikir sifat jahilnya dulu karena punya dendam padaku. Tapi kata Nina itu cuma caranya agar bisa akrab padaku.
"Aku penasaran laki-laki seperti apa yang ingin kau ajak menikah itu. Jadi artinya kalian sudah pacaran?"
"Tidak. Kami tidak pacaran. Dia *****, dia tidak peka, dan dia cuma memikirkan diri sendiri, makanya dia tidak bisa mengerti perasaanku. Menyedihkan sekali kan?"
"Wah dari kata-katamu barusan kau seperti sudah lama mengenalnya. Pasti kau sangat mencintainya sampai begitu ingin diperhatikan. Tapi aku tidak akan kalah darimu. Aku juga akan mencari orang yang mau diajak menikah."
"***** banget sumpah!!!" Kata Nina dengan nada seperti mau menangis.
Dan dalam hitungan detik air mata itu keluar dari kedua mata Nina. Nina menangis? Ini langka terjadi. Bukan langka lagi sih, tapi baru pertama kalinya. Tapi kenapa menangis? Apakah aku barus saja membuatnya mengingat sesuatu yang menyedihkan? Oh mungkin karena aku tadi membahas pernikahan.
Plakkk...!! Aku ditampar Nina. Ini mengejutkan sekaligus menyakitkan. Terasa perih di pipi kiriku. Aku yang menerima itu cuma terdiam sambil menatap dia yang air matanya makin keluar banyak.
"Kau ini jadi orang jangan terlalu ***** dong! Sesekali mikirlah sedikit! Gunakan otak!!"
"Kenapa tiba-tiba marah?"
"Ih dasar gak peka! Orang yang kumaksud itu adalah kau!!!! Orang yang ingin kunikahi itu adalah kau! Masih gak sadar juga?!" Nina mengamuk sambil membanting tas kecilnya yang sering ia bawa ketika berpergian.
"Hei hentikan! Gak enak dilihat orang!"
"Bodo amat! Mereka semua tidak nyata! Mana mengerti mereka soal perasaanku!" Kata Nina dengan nada berteriak.
"Kau salah jika kau pikir mereka tidak mengerti perasaan orang. Walaupun cuma tiruan, tapi dia juga bisa merasakan."
"Cuma itu yang ingin kau katakan?!"
"Anu...."
"Kenapa sih aku harus suka sama laki-laki ***** ini?! Kukira kau istimewa...." Kali ini Nina menangis dengan suara. Padahal sebelumnya dia cuma menangis tanpa bersuara.
Ini bercanda kan? Dia serius suka sama aku? Tapi kenapa aku? Bukannya dia bilang dari awal jika dia hanya ingin berteman denganku?
Namun setelah kupikir kembali, masuk akal juga. Kami pernah tidur bareng sambil berpelukan sampai pagi. Dan kami juga pernah bercumbu. Kukira waktu itu kami melakukan itu cuma atas dasar nafsu. Ternyata dia menciumi atas dasar cinta.
Aku bodoh karena tidak menyadari hal itu. Logikanya mayoritas perempuan tidak akan mau mencium laki-laki yang tidak disukai. Waktu itu Nina bilang sama sekali tidak keberatan mencoba berciuman denganku, walau endingnya berujung penyesalan.
"Aku memang tidak istimewa. Aku juga tidak punya banyak keahlian yang membuatku populer di kalangan perempuan. Maaf telah mengecewakan. Aku pikir anak seperti aku sama sekali tidak ada yang menyayangimu dengan tulus. Kau tahu sendiri kan jika di dunia nyata aku cuma dimanfaatkan karena aku anak orang kaya. Hampir semua orang begitu padaku, dan maka dari itu aku sampai berpikir kalau tak ada yang serius menyukaiku."
"***** kau!!! Aku kan sudah bilang, aku tulus padamu! Tapi bisa-bisanya kau masih menganggapku sama seperti mereka! Kalau aku tidak sayang padamu, aku tidak mungkin rela meninggalkan ibu dan adikku demi kamu. Aku gak rela jika kau dikurung di sini! Aku ingin kau pulang bersamaku dan kembali bersekolah seperti biasa. Kau istimewa bagiku Rui. Kau adalah anak laki-laki pertama yang menghargai aku ketika mengajakmu bicara."
"Mungkin kau akan marah jika aku lakukan hal ini lagi. Tapi aku tidak peduli, karena aku rasa kau butuh ini."
"......?"
Aku memeluk dia dan menjadi perhatian umum. Malu sih aku memeluk perempuan di hadapan banyak orang. Tapi biarlah karena aku pikir dia butuh dipeluk. Padahal sebelumnya dia bilang tidak ingin mengulangi perbuatan ini lagi.
__ADS_1
Dan di luar dugaan, dia malah membalas pelukanku. Jadi artinya dia tidak keberatan jika kupeluk di depan umum.
Dia sudah memberanikan diri untuk menyatakan cinta padaku. Sepertinya aku harus segera memberi sebuah tanggapan. Aku tidak menyangka jika aku akan ditembak cewek. Ini merupakan prestasi tak terkira.
"Nin, aku senang dengan perhatianmu padaku. Walau kesan pertama aku mengenalmu tidak mengenakan, tapi aku bersyukur bisa mengenalmu sejauh ini. Kau telah merubah banyak hal padaku. Tapi jujur aku tidak tahu untuk menjawab apa. Aku tahu kau baik. Sebelumnya aku belum pernah mengalami situasi ini, jadi aku tidak tahu harus berbuat apa. Maaf jika aku tidak bisa memberi respon yang kau harapkan."
"Kau tidak perlu menjawab sekarang. Aku juga tidak memaksamu untuk membalas cintaku. Aku hanya mencoba jujur padamu soal perasaanku. Setidaknya aku sudah lega karena sudah mengungkapkan isi hatiku. Yang bisa kulakukan sekarang hanya bisa mendoakannya agar kau dan aku bisa secepatnya pulang."
"Aku suka kamu."
"Aku tidak butuh jawaban itu sekarang. Lakukanlah tugas terakhirmu di sini! Setelah itu kau bebas mau berbuat apa."
"Terima kasih telah mengajariku menjadi kakak yang baik."
"Kita berdua adalah seorang kakak. Sesama seorang kakak harus saling membantu."
Kami pun mengakhiri pelukan kami. Aku coba hapus air matanya dengan jariku. Dia pun tersenyum dan pipinya memerah. Karena aku tahu dia mencintaiku, aku pikir tidak masalah jika aku menciumnya sekali lagi. Bahkan aku tidak peduli jika harus menjadi tontonan.
Melihat aku yang mulai mendekatkan wajahku padanya, dia langsung mendorong tubuhku seolah dia tahu maksudku. Ternyata dia tidak mau berciuman lagi denganku.
"Kau ini main sosor aja! Gak malu apa dilihat orang?!"
"Bukannya tadi kau bilang tidak malu karena mereka bukan orang sungguhan. Sewaktu kupeluk tadi kau juga tidak malu, tapi kenapa sekarang malu ketika kucium?"
"Berpelukan dan berciuman itu hal yang berbeda. Ciuman tidak boleh dilakukan di sembarangan tempat. Selain itu kau kedatangan tamu."
Tamu? Siapa?
Nina pun memutar pandanganku ke belakang. Dan Jeng Jeng, ternyata di belakangku tadi ada Ruhisa. Di wajahnya terlihat tidak senang. Mungkinkah dia melihat semua tadi?
Lalu aku bertanya pada Nina: "Sejak kapan dia di sana?"
"Cukup lama, atau mungkin sangat lama. Aku baru menyadarinya setelah aku menamparmu tadi. Lebih baik kau hampiri dia dan ajaklah bicara. Seperti dia ada perlu denganmu."
"Kenapa kau baru bilang sekarang *****?! Takutnya Ruhisa akan mengadukan kita ke orangtuaku. Jangan sampai aku gagal keluar dari dunia ini gara-gara kelakuan kita tadi!"
"Ya maaf. Aku tadi terlalu emosi padamu sampai tidak memperdulikan Ruhisa di sana."
Apa boleh buat? Aku yakin Ruhisa sudah melihat semua. Pastinya dia mengikutiku sejak aku dan Nina ke tempat ini.
Sambil menutup nafas dalam-dalam aku memberanikan diri untuk menghampirinya. Jarak kami sekitar tujuh meter. Pastinya dia juga mendengar seluruh pembicaraan kami. Dan itu sebabnya dia terlihat tidak senang. Ruhisa terlalu Over protektif padaku jadi dia tidak senang jika ada orang lain yang terlalu dekat padaku.
Kini aku sudah berada di depannya. Namun Ruhisa hanya diam saja. Dia tidak berkomentar apa-apa dan aku sendiri juga bingung mau bilang apa.
"Cukup lama." Jawab Ruhisa dengan pelan.
"Aku juga tidak mau kalah kak. Setelah kau puas bersama dia, aku ingin kakak menemuiku di rumah. Kutunggu kakak di kamar." Kemudian dia berbalik badan dan pergi menjauh dari area alun-alun kota.
Dia bilang tadi menungguku di kamarnya. Kok pikiranku menjadi ke mana-mana ya?
Nina pun mendekat dan berkata: "Rui, aku punya firasat buruk soal ini. Sejak hari pertama aku mengenal Ruhisa, aku merasa dia juga sama sepertiku."
"Apa maksudmu?"
"Ih kau ini gak peka banget sih jadi orang!!!" Nina marah.
"Makanya to the point saja. Katakan apa maksudmu!"
"Hadehhh.... Jadi gini Ruhisa itu juga menyukaimu."
"Jangan konyol! Mana mungkin seperti itu? Aku tahu dia selalu ingin dekat denganku, tapi itu hanya sebatas hubungan kakak dan adik kembar saja. Hal itu bisa diperjelas ketika dia sering membahas ingatan masalalunya tentang masa kecil kami."
"Aku serius. Tidak salah lagi Ruhisa menyukaimu lebih dari hubungan sodara kandung. Rui aku ini perempuan. Sesama perempuan kami bisa menebaknya langsung dari sorot mata dan gerak-geriknya. Perlakuan Ruhisa padamu itu bukanlah perlakuan seorang adik yang menyayangi kakaknya. Tanpa kau sadari dia itu menggodamu, makanya kau sampai jengkel kan sama dia."
"Ini sulit dipercaya. Selama ini aku beranggapan dia adalah tipe adik yang terlalu protektif pada kakaknya. Masalahnya aku juga punya kenalan yang punya adik super protektif."
"Awalnya aku juga mengira begitu. Tapi Ruhisa selalu menatap sinis padaku ketika kita bertiga berkumpul. Ruiga harus bijak menyikapi perkara ini. Jangan sampai ada perselisihan lagi di antara kalian. Kalian harus bisa mengakhiri masalah ini dengan damai."
"Huh dasar Ruhisa. Kenapa kakek payah itu memberiku masalah serumit ini? Kau tahu, ini jauh lebih rumit daripada masalah menerima takdir."
"Gak kok. Ini cuma masalah pengertian saja. Ajaklah dia bicara baik-baik! Sampaikanlah apa arti sesungguhnya ikatan kakak adik yang sebenarnya! Aku yakin dia bisa mengerti. Mungkin langkah terakhir yang dimaksud kakek adalah ini. Kakek ingin kamu memberikan sebuah pengertian kasih sayang persodaraan."
"Kau akan membantuku kan soal ini?"
"Tidak, kau harus melakukannya sendiri karena ini tugas terakhirmu. Lagian jika aku ikut menasihati Ruhisa, maka hal itu justru memperburuk suasana. Ruhisa sudah tahu perasaanku padamu, dan artinya dia telah membenciku. Nasihat dari orang yang dibenci itu mustahil dia mau mendengar. Cuma kau yang bisa menasihati dia. Aku percaya kau bisa."
Tak mau buang waktu, Nina segera menyuruhku pulang untuk bicara pada Ruhisa. Dia bilang dia akan terus mendukungku dari belakang dan mempercayaiku.
Aku harus berhasil. Aku tidak boleh gagal. Aku rindu kehidupan menyedihkanku di dunia nyata. Dan yang paling penting aku ingin membawa Ruhisa pulang bersamaku.
...****************...
Aku pulang naik taksi. Sesampai di sana aku langsung merasakan suasana dingin di benakku. Aku sendiri bingung mau menjelaskannya, tapi yang jelas ini mirip suatu firasat.
Dari pintu gerbang aku berjalan hingga masuk ke ruang utama. Di sini tidak ada tanda-tanda aktivitas manusia. Seharusnya kan ada pembantu yang menyiapkan makanan di dapur. Apakah mereka sudah tidur jam segini? Selain itu ayah dan ibu juga tak menampakan diri di sini.
__ADS_1
Langsung saja aku menaiki anak tangga menuju kamar. Pasti dia ada di kamar sesuai perkataannya sebelumnya. Ketika aku sampai di atas, aku melihat pintu kamar Ruhisa yang seperti sengaja dibuka lebar. Oke aku langsung ke sana sekarang.
Di dalam cahaya tak sesuai standar. Maksudku penerangan di sana sangat rendah. Satu-satunya sumber penerangan adalah lampu biru kecil yang ia taruh di atas meja belajar. Benda itu mirip bola kristal yang bercahaya remang-remang.
"Kukira kakak tidak datang secepat ini." Kata Ruhisa yang berdiri menghadap jendela. Dia tidak melihat ke arahku tapi melah membelakangiku.
Ini aneh. Biasanya dia cenderung ceria dan hiperaktif, apalagi ketika berada di dekatku. Namun kali ini dia cenderung tenang dan seperti tidak mau banyak bicara.
"Kita perlu bicara."
"Bicara soal hubungan kakak dengan dia?"
"Bukan. Tapi tentang hubungan kita."
Ruhisa langsung berbalik badan dan menatap ke arahku. Lalu terlihatlah sebuah senyuman dari bibirnya yang tipis. Aku yang melihat itu justru merasa takut karena senyuman itu terlihat licik dan jahat.
"Menarik sekali. Aku sudah lama menanti kakak membahas ini. Jadi apa yang ingin kakak bicarakan soal hubungan kita? Apa kakak mau menikahiku?"
Sontak saja aku kaget dengan perkataannya. Dia tampak serius bicara seperti itu di depanku. Tapi saat itu aku masih ingin berpikir positif. Aku harap yang dia katakan itu cuma gurauan semata.
"Jangan konyol! Mana mungkin hal itu terjadi!"
"Terbuat dari apa hati kakak ini? Apakah kakak sama sekali tidak tersentuh dengan kasih sayangku?"
Ternyata dia serius. Kenapa aku tidak mencurigainya dari dulu ya? Jika diingat kembali sikap Ruhisa itu terlalu berlebihan untuk sikap adik kepada kakaknya. Aku kenal orang yang sangat sayang pada sodaranya, namun untuk kasus aku dan Ruhisa itu beda jauh.
"Perlu kutegaskan, kita ini cuma kakak dan adik. Kau sendiri kan yang bilang begitu?"
"Apa masalahnya jika kita kakak dan adik? Bagiku kakak adalah yang terindah bagiku. Cuma kakak yang kusuka, dan tidak ada yang lain." Dia mulai berjalan mendekat ke arahku.
"Ruhi, ini tidak lucu!"
"Cobalah jujur pada diri sendiri kak! Hati dan jiwa kita ini saling terhubung. Aku yakin kakak bisa merasakan hal itu. Kita ini awalnya adalah satu, tapi kita terbelah menjadi dua, dan maka dari itu kita disebut kembar."
Satu sel telur yang mengalami pembelahan ketika proses pembuahan. Mungkin itu maksudnya. Tapi tetap saja itu bukan alasan untuk dia bersikap seperti ini.
"Kenapa kau bisa memiliki perasaan sejauh ini? Perasaanmu ini terlarang kau tahu?"
"Itu karena kita selalu bersama sejak lahir. Mungkin kakak tidak memiliki ingatan masalalu dunia ini, tapi pengalamanku bersama kakak itu nyata. Kakak boleh menganggapku bodoh karena aku meyakini ingatan yang menurut kakak tidak nyata. Tapi pernah gak kakak kepikiran bagaimana jika kakak terlahir sebagai manusia alternatif?"
Ruhisa, dia....?! Dia tahu tentang dunia alternatif?! Tapi bagaimana bisa?! Apakah Zelus yang memberitahu dia? Itu mustahil sih.
"Kau ini bicara apa?"
"Tidak perlu ditutupi lagi kak! Aku sudah tahu semuanya. Duniamu dan duniaku itu beda. Kakak berasal dari dunia yang nyata, sementara aku dan dunia ini hanyalah tiruan."
"Tapi bagaimana bisa?! Siapa yang memberikantahu hal ini? Tidak mungkin kau tahu begitu saja."
Waktu itu aku tidak bisa mengontrol emosiku. Ini bukan emosi karena marah, tapi emosional terkejut.
"Sejak aku merasa sikap aneh dari kakak, aku mulai curiga. Dalam ingatanku kakak ini orang yang ramah dan penyayang. Namun kakak yang ada di mataku justru berbeda jauh. Selain itu kakak pernah bilang kalau aku dan seisi dunia ini palsu dan tidak nyata. Bahkan kakak juga menyangkal kalau aku ini sodara kembar kakak. Dan yang membuatku semakin paham lagi adalah ketika kau dan Nina membahas soal dunia alternatif. Dunia alternatif yang akan dihapus setelah kakak keluar dari sini. Itu cukup menjelaskan kenapa sifat kakak sangat berbeda dengan kakak yang ada dalam ingatanku."
"Aku tidak yakin cuma gara-gara informasi itu kau langsung berpikir kalau dunia kita berbeda. Maksudku kau terlalu cepat menyimpulkan itu. Aku yakin ada seseorang yang memberitahu soal dunia alternatif."
"Tidak ada yang memberitahu. Tapi aku mencari tahu. Aku dengar semua percakapan kalian di alun-alun. Aku dengar dari awal hingga akhir. Sangat tidak mungkin kalian mengarang cerita dalam pembicaraan serius itu, ya kan?"
Dia terlanjur tahu. Apa boleh buat?! Apa pun hasilnya aku sudah melakukan tugas terakhirku. Aku sudah memberikan pengertian soal hubungan kami.
"Jadi hanya berdasarkan itu kau ingin aku membalas cintamu?"
"Bukan karena itu. Aku mencintai kakak karena kakak dalam ingatanku lebih dulu mencintaiku. Waktu itu kami telah berjanji akan selalu bersama dan menyatu dalam satu tubuh."
"Kau dan orang-orang di dunia ini awalnya aku mengira kalian cuma boneka yang dikendalikan si tua Zelus itu. Tapi setelah aku mengenalmu, ternyata....."
"Kakak salah besar jika kami tidak punya perasaan! Dilihat dari sisi mana pun tidak ada perbedaan jauh antara aku yang tiruan dan kakak yang asli. Mau dianggap asli atau palsu, tapi kasih sayang aku, ayah, dan ibu adalah nyata. Kami bertiga sama sekali tidak berpura-pura saat menyayangi seseorang terutama kakak."
Ada benarnya juga apa yang dikatakannya. Setelah aku jalani beberapa hari di sini, rasanya tidak jauh beda dengan keadaan dunia nyata. Lalu apa yang harus kulakukan? Nina menyuruhku tetap bijak menangani situasi ini, tapi aku tidak tahu mau berbuat apa.
"Ruhisa tidak memaksa sih kalau kakak tetap tidak mau mencintaiku. Asalkan kakak selalu bersamaku di dunia ini Hehe." Dia tertawa sambil menangis. Aku jadi ikut terbawa suasana gara-gara dia.
"Jangan khawatir! Meski dunia kita berbeda, kita akan terus saling terhubung. Tapi di sisi lain aku juga punya dunia sendiri di sana. Aku harus kembali ke sana. Namun aku juga tidak akan meninggalkan dunia ini. Sesekali aku akan berkunjung ke sini lagi untuk menemui adik kembarku dan orangtua versi dunia alternatif ini." Kataku sambil mengelus-elus kepalanya.
"Bukankah Nina sudah bilang kalau dunia ini akan dihapus begitu kakak kembali ke dunia asal kakak? Kakak tidak bisa memilih keduanya. Kakak harus memilih salah satu."
"Jangan terlalu percaya apa yang dikatakan Nina! Pasti ada cara agar dua dunia ini tetap bisa berdampingan. Aku kenal sama pencipta dunia ini. Aku akan bujuk dia agar dunia ini tidak dihapus meski aku telah pulang. Dengan begitu aku bisa kembali ke sini kapan pun."
"Lalu bagaimana jika kakak gagal? Apakah kakak mau menetap di sini, atau pulang ke tempat asal kakak?"
Aku terdiam seketika oleh pertanyaan itu. Jika dinalar sih kayaknya sulit untuk membujuk Zelus agar dunia ini tidak dihapus.
Dia terlihat sangat sedih walau aku sudah meyakinkan dia agar optimis. Dan aku juga tidak rela kalau dunia ini akan dihapuskan. Mereka dan dunia ini adalah hidup. Mereka bernyawa dan memiliki perasaan sama seperti aku, itulah yang aku rasakan.
Aku harus bicara sama dia. Dia adalah seorang Dewa. Seorang Dewa seharusnya tidak tega menghapus keberadaan mereka yang terlanjur hidup.
...****************...
__ADS_1