
Ruhisa pun merasa gembira dengan hadiah yang ia terima. Saking bahagianya ia sampai tidak menganggap orang di sekitar seolah dunia milik dia sendiri. Karena tidak ingin merasa mengganggu, Nina pun memilih untuk pergi. Ia sudah percaya 100% bahwa Ruiga dapat mengatasi ini tanpa dirinya.
Lalu Nina menuju ke halte bus untuk menunggu bus. Butuh waktu 13 menit agar bus datang ke halte. Dan naiklah Nina ke dalam bus. Setelah ia duduk di kursi belakang barulah ia sadar bahwa ia harus menyusun rencana buat besok.
Soal kedekatan antara Ruiga dan Ruhisa dianggap tidak beradalah bagi Nina. Lagipula tanpa harus didekati Ruhisa sudah sangat respek pada kakaknya. Jadi Nina mencoba membuat si kembar dekat dengan orangtuanya di sini. Nina tahu pasti Ruiga di sini tidak begitu dekat dengan keluarganya.
Nina pun sudah menancapkan untuk mendekatkan Ruiga dengan keluarganya. Yang perlu dilakukan Nina sekarang adalah meyakinkan ikatan Ruiga pada keluarganya.
20 menit berlalu, kini sampai juga Nina ke area komplek. Sampai di situ cukup berjalan kaki saja Nina menuju rumah. Agak jauh sih jaraknya, tapi hal itu tidak begitu melelahkan dibanding disuruh berlari mengelilingi lapangan bola tiga kali.
Sesampai di rumah ia langsung merebahkan dirinya di atas sofa sambil menunggu energinya terisi penuh. Dan pada saat itulah ia mulai merindukan dunia asalnya.
"Kira-kira adik dan ibuku sedang apa ya di rumah? Apakah mereka sehat? Aku harap begitu."
Padahal Nina belum ada tiga hari di dunia alternatif ini, tapi dia sudah dibikin rindu oleh waktu. Sebenarnya tiada perbedaan waktu antara dunia alternatif dan dunia nyata. Semuanya telah diatur serupa oleh Dewa Zelus.
Kemudian dalam celana pendek Nina terasa bergetar. Jangan berpikir aneh-aneh dulu! Itu cuma getaran dari ponselnya yang sengaja dibikin getar tanpa suara. Dan ketika ponsel itu diambil dari saku celana, ternyata itu panggilan telepon.
"Ruiga? Pasti dia ada masalah nih." Dan dijawablah panggilan itu.
"Sialan kau! Kenapa kau pergi tidak bilang-bilang?"
"Hei aku kan tadi sudah SMS kamu."
"Ya mana kutahu! Aku kan jarang buka SMS. Mending kau kirim pesan dari Whatsapp aja yang sudah pasti akan kubuka."
"Iya-iya maaf. Lagian kau tadi terlalu asik sama adikmu, ya jadinya aku pergi karena takut mengganggu."
"Kau bikin aku panik tahu gak? Kupikir kau hilang diculik orang."
"Iya aku kan sudah minta maaf...."
"Nanti aku akan ke rumahmu."
"Eh ngapain? Belum puas apa tadi seharian kita bersama?"
"Kita perlu bicara."
"Ya sudah bicara di sini aja!"
"Tapi aku ingin bicara langsung."
"Ih merepotkan sekali. Ya sudah, nanti datang saja. Eh tapi jangan datang terlalu malam!"
Percakapan pun terhenti. Nina yang merasa gerah pun memilih untuk segera mandi. Dia perlu mandi karena selama dia berada di kota tadi terlalu banyak polusi udara. Selain itu pakaian yang ia kenakan tidak terlalu tertutup, jadi tubuh yang berkeringat itu tercampur dengan polusi debu di perkotaan.
Nina sudah berada di dalam kamar mandi. Satu persatu pakaian yang menempel pada dirinya telah ia lepas. Kemudian ia berjalan menuju bak mandi yang sudah dipenuhi oleh air dingin.
Dia begitu menikmati sensasi air dingin yang menelan tubuhnya. Sesekali dia menenggelamkan kepalanya ke air agar otaknya yang panas bisa padam. Namun hal itu tidak ada hasilnya.
Setelah puas berandam dalam air ia pun menyudahi waktu mandinya. Waktu mandinya ia akhiri dengan gosok gigi sebelum dirinya benar-benar keluar dari kamar mandi.
Waktu itu dia masih bertelanjang walau dirinya sudah keluar dari kamar mandi. Nina lupa membawa handuk, jadi dia tidak ada pilihan lain selain bertelanjang dari kamar mandi ke kamar tidur.
Kini dia sudah berada di dalam kamar tidur. Ketika dia mau membuka lemari baju, tiba-tiba perhatiannya tertuju pada cermin yang menempel di dinding. Dari situ ia bisa melihat tubuhnya secara jelas dari cermin tersebut. Nina pun jadi teringat kejadian masa lampau ketika pertama kali Nina datang ke sekolah pindahannya.
Kejadian itu belum lama terjadi. Belum juga ada setahun. Dan di hari itulah awal mula Nina bertemu Ruiga dan duduk sebangku bersama. Kejadian itu bermula ketika Nina ke sekolah di hari pertama ia masuk. Karena ia siswi pindahan, jadi tidak ada satu pun yang mengenalnya. Walau tiada yang mengenal Nina saat itu, tetapi Nina merasa aneh karena banyak siswa-siswi yang melihat ke arahnya, terutama cowok.
Padahal Nina merasa bahwa dirinya tidak begitu cantik, penampilannya pun tetap sopan dan tidak aneh. Tapi Nina heran karena mereka sering melihat ke arah Nina begitu lama seolah ada yang aneh pada Nina. Setelah tujuh hari berlalu, barulah Nina sadar kenapa mereka sering menatap Nina berlebihan. Ternyata yang mereka lihat itu bukan wajah Nina, melainkan mereka melihat ke arah dada Nina yang ukurannya lebih besar daripada anak usianya.
Hanya Ruiga saja yang saat itu tidak terlalu peduli dengan ukuran dada Nina. Ruiga tetap cuek seolah tak tertarik pada Nina walau mereka adalah kawan sebangku. Dan karena itulah Nina mulai tertarik pada Ruiga dan sering menggodanya. Sayangnya Ruiga tidak pernah peka dan malah menganggap hal yang dilakukan Nina itu sebagai gangguan.
Sebenarnya sih bukannya Ruiga tidak tertarik dengan ukuran dada Nina itu, tapi Ruiga itu orangnya gengsian. Dia terlalu gengsi jika melihat orang terlalu lama kecuali bagian wajah ketika sedang diajak berbicara. Selain itu Ruiga juga bukan tipe orang yang bisa langsung akrab dengan orang lain, makanya Ruiga seolah terlihat cuek, padahal dia cuma belum terbiasa. Tapi beberapa kali Ruiga pernah curi-curi pandang ke arah Nina tanpa sepengetahuan Nina. Namun hal itu cuma beberapa detik saja tidak lama. Ya namanya juga laki-laki normal, wajarlah.
Kembali ke masa sekarang, Nina masih berada di depan cermin. Ia masih memandangi dirinya dari pantulan cermin.
"Memang apa bagusnya sih gumpalan lemak ini? Untung saja orang di dunia ini lebih beretika daripada orang di dunia nyata." Kata Nina sambil memegang dadanya sendiri.
Di usianya yang masih 16 tahun ini Nina merasa benda itu terlalu dini untuk sebesar itu. Dia sangat risih ketika banyak orang terutama laki-laki yang sering memandang bagian dadanya. Dan karena itulah Nina tidak begitu suka berbaur dengan siswa lain di kelasnya.
Lalu sebuah bunyi bel pun memecah keheningan di situ. Nina pun bangun dari lamunannya. Bunyi bel yang ketiga itulah yang membuat Nina sadar kalau dia kedatangan tamu. Dari situ saja Nina sudah bisa menebak siapa itu.
"Iya sebentar." Teriak Nina dari kamarnya.
Nina segera mengenakan pakaiannya yang ada di lemari bajunya. Dan tanpa berlama-lama ia segera menghampiri tamunya. Sesuai prediksinya, ternyata tamunya adalah Ruiga. Ia datang dengan membawa plastik berisi makanan.
"Cepat sekali kau datang."
"Tadi kan kau bilang kalau aku tidak boleh datang terlalu malam."
"Ya tapi gak terlalu cepat juga kali. Ya sudah masuk sana!"
"Eh rambutmu basah. Kau habis berenang? Tapi kau kan tidak punya kolam renang."
"Memang kalau rambutku basah harus punya kolam renang gitu?" Tanya Nina agak ketus.
"Gak juga sih."
Suasana jadi hening sesaat. Entah kenapa waktu itu Ruiga seperti canggung untuk bicara lebih dalam. Nina yang biasanya selalu gampang mengajak orang lain bicara pun, kini dia juga cenderung diam.
"Terus apa yang mau kau katakan?" Nina mencoba untuk to the point.
"Eh anu...."
"Anu apaan?" Pikiran Nina pun jadi ke mana-mana.
"Hm aku hanya ingin berada di dekatmu saja selagi kau masih di sini. Aku takut kalau kau tiba-tiba pergi dan aku di sini sendirian."
"Makanya manfaatkan waktumu sebaik mungkin agar kau cepat bisa kembali ke dunia asal kita!"
"Lalu apa yang harus kulakukan besok?"
__ADS_1
"Aku senang kau bertanya. Jadi gini, jika kau dan keluargamu ada waktu luang, coba ajak mereka piknik!"
"Piknik? Apa hubungannya dengan membuatku bisa keluar dari sini? Kan kita cuma fokus pada Ruhisa saja."
"Sudah kuduga pasti kau tidak mengerti. Jadi gini, untuk membuktikan bahwa kau ini sudah menerima takdirmu, maka kau perlu menunjukkan kepada orangtuamu juga. Aku tahu mereka bukan orangtua aslimu, tapi kakek Zelus ingin kamu menghormati mereka juga seperti orangtua kandungmu. Kalau masalah Ruhisa sih kita tidak perlu berbuat banyak karena Ruhisa sudah lebih jauh menyayangimu sebelum kau menyayanginya."
"Tapi itu sulit. Jarang sekali kami berempat punya waktu luang. Jika bukan ayah yang sibuk, pasti ibu yang sibuk, dan begitu seterusnya."
"Tapi minggu libur kan?"
"Iya sih...."
"Nah gunakan waktu itu untuk berbaur dengan mereka dan tunjukan kepedulianmu terhadap Ruhisa!"
"Tapi kau masih lama kan di sini?"
"Rencana awalnya sih cuma tiga hari atau seminggu gitu. Ya itu tergantung situasinya nanti. Jika selama tiga hari ini rencanaku berjalan mulus, maka aku akan kembali pulang. Berikutnya aku percaya kau bisa mengatasinya sendiri."
"Terus bagaimana jika aku tidak bisa mengatasinya sendiri?"
"Ya kau harus yakin dong kalau bisa! Jangan pesimis gitu! Aku paling benci sama orang pesimis."
"Tapi kan kemungkinan aku gagal itu tetap ada...."
"Iya iya, aku akan terus di sini sampai kau berhasil keluar. Itu kan yang kau mau?!" Kata Nina dengan nada keras. Dan Ruiga pun cuma bisa tersenyum senang.
Beberapa menit lagi langit sore akan sirna dan menjadi gelap. Namun Rui tetap masih di situ. Entah kenapa waktu itu dia agak banyak bicara. Sering sekali tadi ia menanyakan hal yang tidak penting seolah hanya sekedar mencari bahan bicara saja.
Sejujurnya Nina ingin Ruiga pergi, namun dalam hatinya dia tidak tega untuk mengusirnya karena Ruiga merupakan sosok penting dalam hidup Nina. Namun di sisi lain Nina juga butuh waktu untuk sendirian. Hari-hari di sekolah hingga perginya Nina ke mall bersama Ruiga tadi siang telah menguras suasana hati.
"Nin boleh kan aku mandi di sini?"
"Yakin kau mau mandi di sini? Kamar mandiku sempit, berbeda dengan kamar mandimu."
"Bodo amat deh mau sempit atau tidak. Yang penting aku bisa mandi." Kata Ruiga yang bodor duluan mencari kamar mandi.
Pukul 18.33 petang Nina berada di depan televisi. Lalu dia teringat dengan Ruiga yang masih mandi. Bagi Nina ini terlalu lama. Seorang anak laki-laki mandi terlalu lama, hal itu jadi membuat Nina berpikir macam-macam.
Karena khawatir terjadi apa-apa di dalam, Nina mencoba memastikannya. Nina ketuk pintu kamar mandi sambil menyebut nama Ruiga. Dan Ruiga pun memberi respon.
"Ada apa?"
"Eh kamu ngapain aja di dalam? Awas ya jika kau sampai berbuat aneh-aneh dengan sabunku!"
"Sebentar lagi aku selesai kok."
Sesuai apa yang dikatakan Ruiga barusan. Ruiga keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Karena tidak ada handuk di sana, Ruiga menggunakan kaosnya sebagai handuk. Tapi hal itu justru dianggap aneh bagi Nina.
"Kalau kau butuh handuk seharusnya kau bilang! Kalau gini kan kaosmu yang jadi basah!"
"Mana mungkin juga kan aku menggunakan handuk bekas perempuan."
"Lah memang kenapa?"
"Padahal di sini ada tiga handuk. Dan baru aku pakai satu ketika aku datang ke sini. Usah deh pakai handukku saja. Kasihan aku sama kaosmu."
Nina menuju kamar untuk mengambil handuk yang belum dipakai. Begitu handuk itu diambil, Nina langsung melemparkannya ke wajah Ruiga yang rambutnya masih basah. Tak hanya membawa handuk, Nina pun juga meminjamkan kaos oblong miliknya yang ada di lemari.
"Nih pakai kaos ini! Kau bisa masuk angin jika pakai kaos basah itu."
"Memang gak ada kaos lain apa? Ini kan kaos perempuan!"
"Semua kaos di sini kaya gitu semua. Sisanya pakaiannya perempuan semua."
"Bukannya dulu kau pernah pakai kemeja kotak-kotak gitu waktu ke rumahku?"
"Itu kan pakaianku di dunia nyata. Kalau di dunia ini cuma ini pakaian yang kupunya."
Tiada pilihan lain, Ruiga pun terpaksa pakai kaos yang ada motif bunganya. Bagi Ruiga itu agak mengganggu dan mengurangi tingkat percaya diri. Karena di sana cuma ada dia dan Nina, Ruiga pun mencoba biasa saja.
"Tuh kan cocok dicapai olehmu. Kaos itu buat kamu saja deh Hehe." Kata Nina dengan tawa mengejek.
"Jangan mengejekku begitu! Jangan-jangan kau sengaja kan meminjamkan kaos aneh ini?"
"Iya deh aku ngaku. Aku memang sengaja Hahahaha."
"Sialan...."
"Ngomong-ngomong sekarang sudah malam loh. Kamu mau pulang kapan?"
"Kau mengusirmu?"
"Iya..." Jawab Nina dengan nada tegas.
"Memang apa salahnya jika aku ada di sini?"
"Tidak baik kan laki-laki di main di rumah perempuan lama-lama. Apalagi kita masih di bawah umur."
"Lah bukannya aku pernah menginap di sini dan kau pun juga tidak apa-apa waktu itu."
"Jujur ya, waktu itu aku tidak tega mengusirmu. Aku membiarkan kau menginap dan tidur satu kasur denganku itu cuma karena aku kasihan. Dan aku tidak mau hal itu terulang lagi!"
"Iya aku tahu. Kau takut kan kalau aku mau berbuat macam-macam padamu?"
"Nah itu tahu....!!"
"Ya sudah. Tapi biarkan aku lebih lama lagi di sini! Aku janji tidak sampai menginap. Cuma sebentar saja kok."
Karena Ruiga telah berani berjanji, maka Nina pun mencoba untuk mempercayai janji itu. Jarang banget kan Ruiga berani menjanjikan sesuatu pada orang lain.
Malam pun tiba. Kira-kira pukul 21.00 lebih Ruiga masih di rumah Nina. Nina sendiri juga tidak segera menyuruh Rui pergi. Yang ada mereka berdua malah menikmati menonton drama asia di ponsel Ruiga. Anak orang kaya memang banyak kotanya, jadi ini adalah kesempatan bagus bagi Nina pecinta drama.
__ADS_1
Ruiga yang tidak begitu tertarik dengan drama mencoba menyudahi menonton dan membiarkan Nina memakai ponselnya. Cukup lama Nina menonton drama itu sampai lupa waktu. Lalu sebuah adegan di film drama itu membuat wajah Nina memerah. Merasa ada yang aneh dengan wajah Nina, Ruiga pun langsung bertanya.
"Kenapa wajahmu memerah?"
"Bukan apa-apa."
"Yakin?"
"Iya, aku cuma terharu dengan cerita drama ini."
"Yakin wajahmu memerah bukan karena adegan ciuman?" Kata Rui sambil tersenyum nakal.
Nina pun kaget pada Ruiga yang berhasil mengetahui hal itu. Ini di luar dugaan Nina jika Ruiga bisa menebak hal sejauh itu. Biasanya kan Ruiga paling tidak peka sama hal di sekitarnya.
"Eh kok kamu....."
"Santai saja. Aku bisa jaga rahasia kok. Tidak akan kuberitahu siapa pun."
Nina hanya bisa menundukan kepala karena malu. Tapi di sisi lain Nina penasaran kenapa Ruiga bisa langsung tahu. Sampai penasarannya Nina sampai berpikir jika Ruiga pernah ciuman sebelumnya.
Setelah beberapa menit terdiam, kini Nina memberanikan diri untuk bertanya.
"Rui, rasanya ciuman itu gimana?"
"Mana aku tahu, aku aja belum pernah melakukannya." Kata Ruiga yang kaget dengan pertanyaan itu.
"Yakin belum pernah? Kok tadi kau bisa tahu soal itu...."
"Ya karena aku pernah menonton drama itu makanya aku tahu kalau ada adegan ciuman."
"Kupikir kau tidak suka."
"Iya memang tidak begitu tertarik. Tapi aku penasaran saja di dunia nyata diam-diam ibuku suka nonton drama Korea di kamarnya jika sedang nganggur. Ibuku punya banyak film drama di laptopnya. Lalu aku iseng saja nonton salah satu koleksi ibuku. Dan kebetulan drama yang kau tonton ini sama yang pernah aku tonton waktu itu. Makanya aku memilih tidak menontonnya lagi sampai selesai karena dulu aku pernah menonton sebelumnya."
"Kok aku merasa tidak yakin dengan ceritamu ya. Bilang saja deh, kau ini pecinta drama Korea juga kan? Tapi kamunya tidak mau ngaku!"
"Terserah mau percaya atau tidak. Yang jelas waktu itu aku menonton karena penasaran saja kenapa ibuku bisa betah Nonton drama selama berjam-jam. Cuma itu alasannya."
"Iya deh percaya. Eh tapi kenapa ya setiap film drama sering ada adegan ciuman?"
"Kupikir itu cuma trik dunia film aja agar menarik perhatian penonton."
"Ya masa iya sih selalu ada adegan ciuman tiap kali aku nonton film. Tak hanya drama Korea saja, tapi di film romantis juga banyak adegan itunya."
"Kenapa tiba-tiba kau malah membahas hal seperti itu?"
"Kita kan sudah besar. Pastinya kita mulai heran dan ingin tahu kan soal itu. Aku yakin kau pasti juga penasaran kan?"
"Kalau aku sih lebih suka adegan..... "
"Sudah jangan diteruskan! Aku sudah tahu apa maksudmu! Dasar lelaki! Ternyata semua laki-laki itu sama saja ya, sama-sama mesum."
"Lah memang apa bedanya dengan adegan ciuman? Bukankah ciuman itu termasuk mesum juga?"
"Ya bedalah! Ciuman itu cenderung romantis. Berbeda dengan adegan favoritmu yang cenderung seksual!"
"Tapi ada kok orang ciuman dengan nafsu."
"Mana ada kaya gitu?"
"Kau kenal Rendy kan?"
"Rendy teman sekelas kita di dunia nyata?"
"Iya, aku pernah melihat Rendy ciuman dengan pacarnya ketika di rumahnya."
"Eh serius kau?"
"Iya, mereka begitu menikmatinya tanpa memperdulikan orang di sekitar. Aku yang ada di sana saja tidak dianggap ada."
"Ya iyalah mereka tidak menganggapmu ada karena mereka hanya ingin uangmu, bukan dirimu. Tapi aku masih tidak menyangka jika Rendy berani berbuat begitu. Padahal kan di kelas dia terlihat alim..."
"Kenapa kau bisa tertarik begitu dengan adegan ciuman?"
"Aku cuma penasaran saja kenapa di film mereka terlihat menikmati."
"Film kan cuma settingan. Iya sih, tapi tetap saja aku penasaran."
Lalu terdengarlah pertanyaan konyol dari Ruiga.
"Kalau penasaran bagaimana kalau kita mencobanya?"
Waktu itu perkataan Ruiga hanya sebatas guyonan saja. Tetapi Nina yang terlanjur hanyut perasaannya malah menganggap Ruiga serius.
"Bercanda... Aku tidak serius mengatakan itu.
Lalu Nina mendekatkan diri pada Ruiga. Mereka berdiri sejajar di atas karpet depan televisi. Wajah keduanya nampak ragu ketika mau mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi.
"Aku tidak keberatan sih jika mau mencobanya denganmu." Kata Nina dengan nada lirih.
"Eh kau serius?! Aku tadi kan cuma bercanda.... "
Belum selesai Ruiga bicara, Tapi Nina malah nyosor duluan. Nina yang terlanjur ditakuti rasa penasaran langsung mencium Ruiga yang posisi bibirnya belum siap. Mereka berdua sama-sama terkejut merasakan sentuhan bibir yang membuat mereka bergetar.
Lima detik kemudian kedua bibir yang bersentuhan itu terpisah. Lalu terlihatlah wajah malu-malu pada mereka. Merasa belum puas mereka pun mau mencobanya sekali lagi. Kali ini durasinya lebih lama.
Karena Nina terlalu sering melihat adegan ciuman yang lebih panas, maka dipraktekanlah adegan ciuman yang pernah ia lihat. Tidak hanya sekedar menempelkan bibir saja, tapi juga mencoba melihat bibir Ruiga hingga Ruiga pun kaget. Tapi lama kelamaan Ruiga pun mulai beradaptasi dan saling membalas cumbuan itu.
Mereka terlalu menikmati sampai tidak menyadari jika ada yang menyaksikan mereka berciuman. Yang jelas orang itu kaget sekali melihat pemandangan tersebut. Tetapi baik Ruiga maupun Nina sama-sama tidak tahu jika adegan itu telah disaksikan oleh seseorang.
Tanpa sengaja orang ketiga itu menjatuhkan rak sepatu yang terletak di dekat pintu masuk. Sontak saja Rui dan Nina kaget dan menghentikan aksinya. Mereka pun tahu jika barusan ada orang yang datang, namun mereka tidak tahu dia siapa.
__ADS_1
...****************...