Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Piknik Keluarga 2


__ADS_3

Ruiga POV


Mereka berdua mulai bersemangat membicarakan piknik ini. Beberapa pilihan lokasi piknik telah kami bahas dengan serius. Karena ini bukan hal main-main, maka aku harus memilih lokasi yang tepat untuk piknik ini. Sebisa mungkin harus berjalan lancar sesuai rencana.


Sebenarnya sih aku tidak begitu keberadaan mau piknik ke mana, asalkan mereka merasa senang. Inti piknik hari ini adalah kedekatan. Kedekatan yang mendatangkan pengakuan mereka atas diriku yang sekarang.


"Bagaimana kalau ke pantai?" Ayah mengajak ke pantai.


"Jangan ke pantai! Di sana banyak bule berenang. Takutnya mata Ruiga jelalatan ke sana." Kata ibuku.


"Apa?! Mana mungkin aku seperti itu?!" Kataku yang merasa tidak terima. Tapi aku tidak marah karena aku tahu ibuku cuma bercanda.


"Bagaimana kalau kita ke candi Prambanan Jogja? Kalian belum pernah ke sana kan?"


"Mau ke mana saja tidak masalah asalkan kalian senang."


Lalu orang keempat bergabung bersama kami. Wajahnya terlihat lesu tak bersemangat. Cara berjalanannya saja seperti tidak niat jalan saja.


"Kenapa jam segini baru bangun?" Ibuku bertanya pada Ruhisa.


"Bosan saja tiap hari bangun pagi." Jawab Ruhisa.


"Mana boleh begitu! Perempuan harus bangun pagi setiap hari. Jangan seperti kakakmu yang selalu bangun kesiangan!" Kata ayahku.


"Hei sekarang kan aku bangun pagi. Dan perasaan tidak setiap hari juga aku bangun kesiangan."


Bagaikan tidak peduli dengan kata-kata orangtuaku, Ruhisa lebih memilih mengisi perutnya dengan makanan yang sudah berada di meja makan.


Ruhisa duduk di sebelah kami tanpa komentar apa pun terhadap rencana piknik ini. Ini sangat langka terjadi. Dan baru kali ini aku melihat Ruhisa tak bersemangat begini. Biasanya dia selalu jalan selangkah lebih cepat ketika membahas hal seperti ini.


"Bagaimana tanggapanmu Ruhisa? Apa kau setuju ke candi?"


"Tidak?" Jawab Ruhisa pada ibu.


"Terus Ruhisa maunya ke mana?" Kata ayah.


"Tidak ke mana-mana." Jawab Ruhisa yang agak cuek.


"Kau ada masalah?" Tanya ibu.


"Tidak."


Aku mulai penasaran. Aku pikir dia begini gara-gara semalam aku usir dari kamarku. Lalu aku harus apa? Piknik ini tidak ada gunanya jika salah satu dari kami tidak ada yang merasa senang, ataupun ikut.


Lalu terlintaslah ide gila di benakku. Ini sangat gila dan sebenarnya aku ragu untuk melakukannya. Tapi jika hanya dengan cara ini bisa mengatasi, maka tak apalah aku lakukan.


Ruhisa yang duduk di sebelah kananku langsung aku bisiki sesuatu.


"Ikutlah piknik, maka aku akan menuruti permintaanmu selama seharian penuh."


Begitu aku membisikan kalimat tersebut, maka segeralah jiwa Ruhisa yang tadinya lesu. Dia tersenyum licik seolah sedang merencanakan sesuatu yang membuatku repot.


Baik, aku tidak perlu menuruti semua permintaan Ruhisa. Jika permintaan itu terdengar tidak masuk akal, mending aku langsung cari alasan lain agar bisa menolaknya. Atau setidaknya mengalihkan pembicaraannya.


"Janji ya!" Kata Ruhisa dengan tatapan tajam.


"Iya, tapi jangan minta yang aneh-aneh! Mintalah sewajarnya saja!"


"Kalian ini membicarakan apa sih? Tidak biasanya kalian main rahasiaan." Kata ibuku yang heran.


"Bukan apa-apa. Ayo kita berangkat sekarang!" Kata Ruhisa yang semangatnya makin berkobar.


"Sabar sebentar. Kita selesaikan makannya dulu. Lagian kita belum menentukan mau piknik ke mana." Kata Ayahku.


"Kita ke bioskop saja!" Kata Ruhisa.


"Memang bioskop sudah buka jam segini? Sekarang baru pukul 7.23 pagi." Kata ibu.


"Kalau mau nonton bioskop mending jangan waktu pagi! Pagi ini gunakan waktu untuk bersenang-senang di luar ruangan saja. Kalau soal nonton, kita bisa menonton ketika malam sebelum kita pulang." Kata ayah.


"Ya sudah. Kalau begitu aku mau ke kebun binatang." Kata Ruhisa.


Di sini Ruhisa yang paling berkuasa. Seolah-olah Ruhisa dapat mengendalikan pikiran orangtuaku dengan mudah. Dan mereka pun mengiyakan ajakan Ruhisa tanpa berunding lagi.


...****************...


Kebun binatang lokal. Ini masih satu kota dengan tempat tinggal kami. Gak sampai satu jam kami pun sampai dengan mobil yang disupiri langsung oleh ayahku. Hari ini benar-benar spesial untuk keluarga Sasugara, jadi ayahku tidak ingin siapapun ikut termasuk supir pribadi.


Kami bisa sampai dengan cepat karena di dunia ini jumlah manusianya tak sebanyak seperti di dunia asalku. Jarang sekali terlihat ramai meski di sana adalah tempat umum.


Bagaikan berada di kota game GTA yang tingkat kedamaiannya sedang seolah sudah diatur sedemikian. Ya faktanya sih memang sudah diatur sih dunia ini oleh Zelus. Oh ya, ngomong-ngomong aku jarang melihat Zelus di dunia ini. Bahkan dia tidak lagi datang untuk menasihati atau menegurku.


Kembali ke cerita. Sampai di sini terlihat aman terkendali. Sesuai rencana mereka terlihat senang. Yang paling senang di sini adalah Ruhisa. Ya jelaslah dia merasa paling senang karena yang mengajak kami ke sini adalah dia.

__ADS_1


"Kita hampir empat jam di sini. Yakin kalian tidak mau pergi ke tempat wisata lain?" Kata ayah.


"Aku masih mau di sini. Belum semua hewan aku pegang." Jawab Ruhisa.


"Mana mungkin kau boleh memegang mereka semua! Memang kau berani memegang singa?"


"Tentu saja boleh kalau petugas kebun binatang dikasih uang, pasti aku dibolehkan memegang semua hewan di sini."


"Jangan konyol kau! Jelas tidak mungkin kan petugas membiarkan pengunjung menyentuh hewan buas! Kalau cuma hewan jinak sih gak masalah." Aku agak naik darah.


"Ruhisa itu tidak serius dengan perkataannya. Dia cuma cari alasan saja agar bisa lebih lama di sini." Kata ibuku.


Ruhisa pun berlari sendirian menuju kandang gorila. Jika aku perhatikan dia tidak terlihat ingin menyentuh gorila itu. Sebenarnya jika dia mau dia bisa menyentuhnya melalui celah besi pagar kandang. Tapi Ruhisa jaga jarak dari kandang.


"Awasi adikmu! Kami mau cari makan di warung sana. Jangan terlalu lama di sini, dan ajaklah adikmu kembali setelah kau rasa cukup!" Kata ibuku. Dan mereka berdua pun pergi ke warung makan.


Sekarang hanya ada aku dan Ruhisa, sementara pengunjung lain cuma sedikit di sini.


Dari tempat Ruhisa berdiri, ia memberikan isyarat tangan agar aku mendekati dia. Setelah aku ke sana, tiba-tiba dia minta aku melakukan hal yang merepotkan.


"Kak gendong aku dong!"


"Apa-apaan ini?!"


"Heh kakak kan sudah janji mau menuruti permintaanku selama seharian ini."


"Iya sih. Memang kau tidak malu digendong? Kau ini bukan anak kecil lagi!"


"Ya bodo amat! Pokoknya aku mau digendong."


"Ya sudah. Tapi sebentar saja ya."


Dengan terpaksa aku menggendong dia sambil mengelilingi area kebun binatang. Rasanya malu ****, dari tadi kami dilihatin orang. Tapi bisa-bisanya Ruhisa nampak santai tanpa peduli orang lain yang melihat kami.


Kemudian dia menyuruhku mendekat ke kandang macan. Mungkin dia tertarik dengan dua macan berwarna putih di sana. Ada banyak macan di sana, tapi cuma dua yang warna putih. Kandangnya besar dan luas seperti taman komplek di dalamnya tapi di pinggir terdapat pagar tinggi.


"Turun ya. Aku capek."


"Gak mau! Bertahanlah sedikit lagi!"


"Biarkan aku istirahat sebentar! Kakiku sakit."


"Gak mau. Lemah banget sih jadi cowok!"


"Siapa pun pasti juga capek menggendong kamu mengelilingi area kebun binatang. Kau sih enak digendong, lah aku dari tadi berdiri terus!!"


"Justru yang aneh itu kamu! Kau memanfaatkan janjiku dengan permintaanmu yang aneh!"


"Ih mulai deh kakak marah-marah gak jelas lagi."


"Apanya yang gak jelas?!"


"Sudahlah, itu sudah tidak penting. Tapi apa kakak tidak merasa bernostalgia dengan momen ini?"


"......"


"Dulu kan kakak juga sering menggendongku ketika kita sedang main ke bukit. Waktu itu aku tidak sanggup berjalan lagi, tapi kakak malah menggendongku hingga sampai ke puncak bukit. Itu pengalaman yang indah bersama kakak."


Konyol! Mana kuat aku menggendong orang sambil menaiki bukit? Ingatan palsu Ruhisa sangat tidak sinkron dengan diriku. Dan atas dasar apa coba Zelus memberikan ingatan seperti itu pada Ruhisa. Dari sekian banyak manusia buatan di sini cuma Ruhisa saja yang sering membahas masalalu.


"Hei, kakak dengar gak sih aku bicara?"


"Iya aku dengar."


"Percuma dengar kalau tidak peduli."


"Ayolah mau sampai kapan aku menggendongmu? Memang kau tidak bosan di kebun binatang terus? Kasihan ayah dan ibu yang menunggu kita. Meraka pastinya jenuh di sini terus."


"Sejak kapan kakak peduli sama orang lain? Tapi bagus sih, artinya secara perlahan kakak sudah berubah menjadi seperti dulu."


"Kau bilang aku pernah menggendongmu waktu kecil kan?"


"Ya."


"Itu artinya aku peduli sama orang lain. Kalau aku tidak peduli, mana mungkin aku menggendongmu."


"Itu kan sewaktu kecil. Tapi sejak hari itu kakak berubah. Kakak jadi egois dan kasar. Kakak selalu memarahiku ketika aku mendekati kakak. Kakak selalu bersikap seolah kita ini bukan sodara. Kakak selalu menatapku dengan wajah kebencian. Kakak juga sering kurang ajar sama ayah dan ibu. Dan paling parah, kakak melupakan kenangan indah kita bersama. Selain itu...."


"Ruhisa, sumpah aku capek."


Ruhisa pun tertawa kecil. Tapi bukannya langsung turun untuk meringankan bebanku, tapi dia tetap ingin digendong sampai menuju ke tempat ayah dan ibu.


"Aku akan turun setelah kita sampai ke warung itu."

__ADS_1


"Itu jauh..."


"Berjuanglah kak. Kakak pasti kuat."


Sialan Ruhisa. Dia sengaja menyiksaku. Apakah dia punya dendam padaku? Mendengar ceritanya yang membahas keburukanku di sini membuatku yakin jika dia punya dendam denganku.


Tapi aku tidak boleh emosi. Aku harus tetap tenang. Aku harus ikhlas menerima ini agar mereka merasa senang. Lagian cuma hari ini saja aku begini. Setelah ini aku akan datang pada Zelus dan memintanya agar dia mau mengeluarkanku dari sini. Setidaknya bisa membuat Zelus meringankan beban ini.


"Kita sudah sampai. Cepat turun!" Kataku dengan paksa.


Ruhisa terlihat puas setelah mengerjaiku. Yah aku sekarang paham jika sengaja membuatku begitu. Dia tertawa senang melihatku kecapekan.


"Kau terlihat lelah sekali. Jangan bilang dari tadi kau menggendong Ruhisa?" Kata ibu yang agak panik.


"Gak lama kok bu. Gak nyampai satu jam juga." Kata Ruhisa.


"Minum, aku butuh minum." Kataku yang tidak sanggup berlari dan terduduk di lantai.


"Ini." Ruhisa memberiku sentil air mineral yang sudah dia bawa dari rumah. Padahal aku lebih suka minuman bersoda yang ada di warung ini.


"Sekarang sudah pukul 12.56 siang. Masih ada waktu banyak sebelum kita ke bioskop. Jadi mau ke mana lagi kita?" Kata ayah.


Apakah aku bisa bertahan dengan permintaan aneh dari Ruhisa berikutnya? Ini baru satu permintaan. Seharusnya tadi aku membatasi saja jumlah permintaannya agar aku tidak serepot ini.


"Ibu tadi lihat di internet jika di mall ada barang bagus. Bagaimana kita ke mall. Di sana kalian bisa main sepuasnya di Timezone, sementara ibu mau belanja sesuatu."


Apakah main ke mall itu bisa disebut piknik? Menurutku sih tidak. Tapi baik ayah maupun Ruhisa, mereka tak terlihat keberatan. Biarlah... Karena rencana ini hanya ingin membuat mereka senang, maka aku tidak keberatan.


...****************...


Sampai di mall pukul 13.12 siang. Tanpa basa-basi ayah dan ibu langsung menuju area perbelanjaan, sementara aku dan Ruhisa bingung mau ngapain.


"Enaknya kita ngapain kak?"


"Terserah kau saja, aku mau istirahat di sini saja."


"Eh gimana sih?! Masa aku main sendirian, sementara kakak duduk manis di sini!"


"Aku masih capek gara-gara menggendongmu tadi."


"Woi Sasugara!!"


Seseorang entah dari mana telah memanggil kami. Tapi jika didengar dari cara memanggilnya, itu terdengar seperti siswa sekolah kami.


"Kau kenal dia?"


"Gak sih, tapi aku pernah melihat mereka di sekolah."


Sudah kuduga mereka anak SMA SASUGARA. Mereka ada tujuh orang, lima laki-laki dan dua perempuan. Sepertinya mereka fansnya Ruhisa. Hal itu bisa dibuktikan perhatian mereka terhadap Ruhisa. Sementara aku yang ada di sekitarnya seperti tak dianggap oleh mereka.


Lalu salah satu dari mereka melirik ke arahku. Aku merasa agak familiar dengannya, tapi aku tidak ingat apa-apa soal dia.


"Kau nampak tak bahagia Rui."


"Heh kau kenal aku?"


"Ya jelas kenallah. Semua siswa di SMA SASUGARA pasti kenal si kembar Sasugara. Tapi...."


"Tapi kenapa kau terlihat seperti tidak mengenalku?"


"Emang kita pernah bicara sebelumnya?"


"Astaga... Ternyata aku telah dilupakan."


"Wajarlah kalau Ruiga lupa padamu. Lagipula kalian beda kelas dan kalian juga cuma beberapa kali saja berhadapan secara langsung." Kini anak perempuan bertubuh mungil datang menghampiriku.


Laki-laki berbadan atletis dan perempuan berbadan kecil yang imut. Mungkin aku pernah bertemu mereka di suatu tempat.


"Oh aku ingat. Kalian adalah anggota klub olahraga itu kan? Dan kau adalah orang yang kabur waktu jajan di kantin bersamaku. Tapi aku tidak ingat namamu."


"Hehe masih ingat saja kau ini soal itu." Kata dia sambil menepuk lenganku.


"Kalau kau lupa namaku, namaku adalah Yuhi."


"Iya aku ingat namamu."


"Kenapa kau lupa namaku, sementara kau ingat nama Yuhi? Dasar kau ini. Ternyata kepedulianmu cuma pada perempuan saja."


"Aku ingat Yuhi karena wajah dan bentuk tubuhnya sangat khas. Sebenarnya tadi aku juga hampir lupa, tapi setelah mendengar suaranya aku jadi teringat kembali."


"Tapi kan kau baru dua kali ini bertemu Yuhi, sementara aku kau sudah beberapa kali bertemu denganku."


Laki-laki itu adalah Riko yang cintanya pernah ditolak Ruhisa. Eh jangan-jangan tujuan Riko mendekatiku atas tujuan tertentu. Apakah dia mau memanfaatkan aku seperti waktu itu?

__ADS_1


Singkat cerita mereka mengajak kami makan di KFC. Kini aku mulai curiga. Apakah mereka ingin dibayari oleh kami mentang-mentang kami anak orang kaya? Tapi karena Ruhisa merasa senang dengan ajakan mereka, maka aku membiarkan saja. Lagipula kalau cuma kehilangan uang segitu saja bukan masalah bagi kami.


...****************...


__ADS_2