Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Kejutan


__ADS_3

Langit sore hampir lenyap. Sepertinya sudah saatnya bagiku untuk kembali ke rumah. Lagian tidak ada alasan lagi untuk berlama-lama di depan teras warung yang sudah tutup.


Penyesalan pun kini datang tak diundang. Jika dari awal aku tahu kalau Nina benar tulus padaku, maka pasti dia sudah aku curhat soal sikap aneh orangtuaku. Tapi mau bagaimana lagi? dia sudah terlanjur marah padaku. Bahkan aku ragu dia masih mau berteman denganku. Tapi biarlah, asalkan dia berhenti berbuat jahil padaku.


Eh tunggu dulu! Jangan-jangan dengan marahnya dia padaku justru membuat dia benci padaku dan semakin rajin menjahiliku!? Sial, lagi-lagi aku salah langkah.


Ah sudahlah. lebih baik aku pikir belakangan saja. Yang perlu dilakukan saat ini adalah pulang lalu mandi air hangat di bak mandi.


...****************...


Kepulanganku pun seperti tidak dianggap oleh mereka. Padahal jelas banget aku lewat di sebelah mereka di meja makan. Bahkan ketika aku mendekat ke meja makan untuk mengambil selembar roti tawar pun keberadaanku tetap tak terdeteksi.


Pembicaraan mereka terlihat serius. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Yang jelas mereka seperti meributkan gender laki-laki dan perempuan. Memang sejak kapan mereka menjadi rasis terhadap gender?


Beberapa menit aku ikut kumpul di meja makan bersama mereka. Dan mereka pun tetap saja sibuk berdiskusi tentang hal yang tidak kumengerti.


"Ayah sih lebih suka laki-laki. Bisa saja dia akan menjadi penerus yang lebih bijak."


"Laki-laki itu membosankan. Ibu lebih suka perempuan. Lagipula ibu sudah bosan melihat laki-laki."


"Perempuan mana bisa menjadi penerus keluarga?!" Nada bicara ayah sedikit meninggi.


"Tapi perempuan itu jauh lebih berakhlak daripada laki-laki."


"Mana ada yang seperti itu? Berakhlak atau tidak itu tergantung pribadi individu. Bukan masalah laki-laki atau perempuan."


"Iya sih. Tapi kan perempuan lebih imut daripada laki-laki."


"Mana ada laki-laki imut? Di mana-mana laki-laki itu harus terlihat perkasa, bukannya imut! Kalau laki-laki imut, mending jadi bencong aja!"


"Terserah ayah saja deh. Pokoknya ibu mau perempuan. Titik!" Kata ibu yang terlihat emosi.


"Enak saja perempuan! Pokoknya harus laki-laki!"


"Perempuan!!"


"Laki-laki!!"


"Perempuan!!


"Laki-laki!"

__ADS_1


"Perempuan.....!!!" Ibu menjerit dengan suara cempreng yang membuat kedua telingaku sakit.


BRUKKK!!! Suara kepalan tanganku yang meninju meja makan. Akhirnya mereka pun mau juga melihat ke arahku setelah dari tadi mereka sibuk berdebat.


"Kalian ini berdebat soal apa sih?! Dari tadi yang dibahas perempuan dan laki-laki terus! Akhir-akhir ini sikap kalian aneh tahu gak?" Kataku pada mereka. Anehnya mereka cuma tersenyum, kemudian mereka berdua saling bertukar pandang.


"Oh kau di sana Rui." Kata Ibu .


"Ayah dan ibumu sedang membahas soal ad...." Belum selesai bicara tiba-tiba ibu mencubit pinggang ayah seolah ibu memberi kode untuk tidak memberitahu sesuatu padaku.


Makin penasaran dan mencurigakan. Sebenarnya apa yang mereka bahas? Adakah hubungannya denganku? Jika iya kenapa harus disembunyikan dariku coba?


"Apa?"


"Bukan apa-apa." Kata ibu sambil tersenyum palsu.


"Serius deh Ruiga heran dengan sikap kalian yang aneh. Biasanya aku cuek saja pada apa pun yang bukan urusanku. Tapi untuk kali ini aku justru penasaran."


"Hm bagaimana ya?" Ibu terlihat bingung.


"Sudahlah bu, sepertinya Ruiga berhak tahu hal ini."


"Apaan sih?" Kataku dengan nada kesal.


"Ibu dan ayah punya kejutan untukmu." Kata Ibu. Tapi jujur saja aku tidak semudah itu percaya. Terus apa hubungannya perdebatan mereka antara laki-laki dan perempuan dengan kejutan?


"Tidak masuk akal."


"Intinya kami punya kejutan untukmu. Ibu yakin Rui akan senang dengan kado dari kami." Kata Ibu.


"Hah kado? Ulang tahunku kan sudah lewat empat bulan lalu."


"Tidak harus ulang tahun juga kali kalau mau memberikan kado." Kata ayah.


"Terus kenapa kalian tadi memperdebatkan laki-laki dan perempuan? Apalagi cara debat kalian begitu serius dan tidak mau kalah seolah-olah ini soal hidup dan mati."


"Kami khawatir kamu kaget kalau diberitahu sekarang. Lebih baik kau tunggu saja kejutan dari kami." Kata ibu.


...****************...


Semalam mata ini sama sekali belum tertutup. Tahu kenapa? Itu karena jiwa dan pikiranku terus dihantui oleh kejutan yang orangtuaku katakan. Aku tak habis pikir mereka bersikap seperti itu. Maksudku ini tidak biasa mereka sok-sokan mau memberi kejutan. Biasanya jika mau memberi sesuatu mereka langsung memberikannya padaku tanpa ada kata kejutan.

__ADS_1


Kalaupun benar kejutan, harusnya kan mereka tidak langsung membeberkan pada orang yang bersangkutan. Kan konyol jika memberitahu orang jika dirinya mau dikasihani kejutan. Jika niat mereka memang mau memberi kejutan, harusnya kemarin mereka tidak bilang secara terang-terangan jika aku mau dikasihani kejutan.


Saking terlalu lamanya aku menggerutu, aku sampai lupa waktu. Untung saja masih pukul 5.55 pagi jadi aku masih sempat mandi sebelum berangkat ke sekolah. Biasanya jika aku telat bangun, aku sampai tidak mandi dan langsung pakai seragam.


Setelah selesai mandi dan memakai seragam, aku lihat jam di ponsel ternyata masih ada waktu 14 menit sebelum gerbang sekolah ditutup. Jadi aku menyempatkan diriku untuk sarapan dulu.


Aku berjalan menuruni tangga dari lantai tiga hingga ke lantai pertama. Belum sempat turun dari tangga kedua telingaku langsung mendengar perdebatan lagi. Tidak usah ditanya, pasti perdebatan itu berasal dari ayah dan ibu. Anehnya kenapa mereka belum berangkat ke kantor? Biasanya mereka selalu berangkat pagi-pagi sebelum pukul 6.30 pagi.


"Menurutmu lokasi mana yang tepat untuk dijadikan kamar?" Kata Ayah.


"Yang mana saja tidak masalah kan asalkan tidak di lantai bawah."


"Kalau begitu kita bikin kamarnya bersebelahan dengan kamar Ruiga saja?"


"Eh sembarang! Tahu sendiri Ruiga itu suka menyetel musik keras-keras. Kasihan nanti dia kebisingan jika kamar mereka bersebelahan." Kata Ibu dengan nada protes.


"Tadi katanya tidak masalah asalkan tidak di lantai bawah. Nah kamar Ruiga kan berada di lantai tiga sama dengan kita?"


"Iya tapi gak harus bersebelahan dengan kamar Ruiga juga kali."


Kali ini aku memilih tidak ikut campur. Mending menyimak saja pembicaraan mereka. Siapa tahu aku dapat bocoran soal kejutan yang mereka maksud.


Kemarin mempeributkan soal jenis kelamin. Dan sekarang mempeributkan letak kamar? Apakah ini ada kaitannya dengan kejutan untukku atau pembicaraan mereka ini soal urusan lain?


Lalu kamar yang mereka ributin itu untuk siapa? Cuma ada tiga anggota keluarga di sini dan masing-masing sudah memiliki kamar. Terus mereka berencana buat kamar lagi buat apa? Buat kamar tamu? Atau untuk pembantu? Ah kalau untuk pembantu sih mustahil karena para pembantu sudah disediakan kamar di lantai bawah.


"Eh Ruiga kau di sini." Kata ayah yang terlihat terkejut melihat keberadaanku di meja makan.


"Kenapa kau belum berangkat sekolah? Cepat berangkat agar tidak terlambat!" Kata Ibu.


"Aku akan berangkat setelah kalian berhenti berdebat." Kataku. Dan mereka pun saling pandang sebentar. Setelah itu barulah mereka memutuskan untuk berangkat kerja.


"Baiklah kita berangkat bareng saja." Kata ayah.


"Bukannya tempat kerja kalian dan sekolahku itu berlawanan arah?"


"Tidak masalah. Lagipula hari ini kami tidak harus datang terlalu pagi. Justru kamu yang harus datang pagi." Kata ayahku.


Aneh... Apa sih yang menyebabkan mereka berubah sikap? Biasanya saja mereka selalu disiplin kerja, tapi kali ini mereka seperti menyepelekan waktu. Iya sih mereka adalah pemilik perusahaan jadi bebas saja mau berangkat kapan saja. Tapi kan...


"Nah sudah sampai. Cepat masuk sebelum gerbang dikunci!" Kata Ayah.

__ADS_1


"Belajarlah yang serius ya Ruiga!" Kata ibuku setelah mencium keningku. Untung saja tidak ada temanku yang melihat ini. Jika ada yang melihat, ****** sudah aku dibully abis-abisan.


...****************...


__ADS_2