
Aura katian itu terasa pekat dalam ruangan. Bagaikan menunggu detik-detik kematian, itulah yang dirasakan Ruhisa. Mengetahui bahwa dirinya adalah tiruan merupakan hal yang paling mengecewakan. Lebih mengecewakan lagi ketika Ruhisa tidak bisa bersama kakaknya lebih lama lagi.
Ruhisa tahu hal ini tidak bisa dicegah ataupun diperlambat. Tiada pilihan lain selain menerima. Ruhisa akan menggunakan sisa waktu ini untuk hal yang berkesan. Tak peduli apakah sisa waktu bersama Ruiga akan bisa diingat setelah penghapusan atau tidak. Setidaknya Ruhisa sudah pernah mencoba.
Mereka masih berada di tempat itu. Di dalam kamar dengan penerangan minim. Lama kelamaan makin mengganggu pandangan mata bagi Ruiga. Maka dari itu Ruiga berinisiatif menyalakan lampu kamar Ruhisa.
Terang dan lebih nyaman untuk dilihat. Wajah murung Ruhisa makin terlihat jelas oleh lampu penerangan utama. Dan pada saat itulah hati sang kakak telah tersentuh.
Ruiga telah berhasil menjadi kakak. Dia sudah bisa menerima takdirnya sebagai kakak. Dan atas dasar itulah ia jadi tidak tega melihat muka suram adik kembarnya.
"Jangan sedih! Percayalah bahwa kakak bisa menyelamatkan dunia ini!" Kata Ruiga sambil memegang kedua pipi Ruhisa.
"Kakak tidak perlu memaksakan diri untuk itu. Aku dan yang lainnya pasti bisa kok menerima kenyataan ini."
"Jangan pasrah begitu saja tanpa berusaha!! Aku juga tidak rela jika dunia ini dihapus. Aku ingin kalian tetap hidup berdampingan dengan dunia nyata. Bahkan kalau bisa akan kuajak kau dan yang lain ke duniaku agar kalian tidak ikut dihapus." Kata Ruiga dengan nada tinggi.
"Dari percakapan kalian aku dengar bahwa kami tidak nyata dan tidak memiliki raga. Mana mungkin kami bisa ke dunia kalian? Berhentilah lari dari kenyataan! Tiada pilihan lain selain menerima."
Bagi Ruiga yang dikatakan Ruhisa memang benar. Tapi soal tidak menyerah sebelum mencoba tetap akan dilakukan Ruiga. Dia mencoba meyakinkan sekali lagi pada Ruhisa bahwa kondisi akan kembali membaik.
"Tapi kakak percaya keajaiban. Keajaiban tidak akan terjadi jika tidak ada yang mempercayai. Oleh karena itu tolong percayalah padaku Ruhisa! Percayalah pada kakak bahwa kakak bisa menyelamatkan kamu dan dunia ini."
Semangat yang penuh keyakinan itu membuat lebih baik suasana hati Ruhisa. Sekarang Ruhisa bisa tersenyum walau itu karena dipaksakan. Tapi setidaknya senyuman itu membuat Ruiga lega.
"Baiklah jika kakak bilang begitu. Tapi janji kakak tadi pagi masih berlaku kan?"
"Iya ini janji kakak seumur hidup. Jadi akan berlaku sampai selamanya. Kakak janji akan mencegah dunia ini dihapus."
"Dihhhh, bukan janji yang itu." Muka Ruhisa jadi cemberut.
"Lah terus janji yang mana?"
"Kakak lupa janji kakak sebelum kita berangkat piknik?"
Setelah beberapa detik berpikir, akhirnya Ruiga ingat. Sebelumnya Ruiga berjanji akan menuruti permintaan Ruhisa selama seharian penuh ini. Sekarang masih hari yang sama. Mereka punya sisa waktu tiga jam sebelum hari ini berakhir.
"Hampir saja lupa. Untung kau ingatkan. Baik, jadi sesudah pukul 00.01 perjanjian kita berakhir. Jadi kau minta apa dari kakak?"
Ruhisa terdiam sejenak. Dia agak ragu untuk bicara karena takut akan mendapatkan penolakan dari kakaknya. Ruhisa tahu jika dirinya meminta hal itu, maka kakaknya akan marah. Padahal dalam sisa waktu ini Ruhisa tidak ingin membuat kakaknya marah.
"......."
"Kenapa diam? Jangan membuang waktu! Kakak mulai ngantuk...."
Ruhisa mulai melihat tanda-tanda mengantuk dari kakaknya. Dan akhirnya dengan memberanikan diri Ruhisa mengatakan apa yang dia minta.
"Anggap saja ini permintaan terakhir dariku. Malam ini aku ingin kakak memperlakukan aku seperti yang pernah kakak lakukan pada Nina."
Ruiga sedikit bingung. Ruiga tidak tahu harus berbuat apa.
"Apa maksudnya?"
"Aku sudah tahu apa yang kalian lakukan di belakangku. Kalian pernah tidur bareng dan berciuman kan?"
Mendengar hal itu kedua mata Ruiga langsung melotot kaget. Jantungnya berdetak kencang. Ruiga tidak menyangka jika Ruhisa bisa tahu hal itu. Padahal sewaktu kejadian cuma ada Ruiga dan Nina. Jadi Ruhisa bisa tahu dari siapa? Itulah yang ditanyakan Ruiga dalam hati.
"........"
"Aku tahu kakak gak suka itu. Tapi ini adalah permintaan terakhirku sebelum aku dihapus."
"Hei Ruhisa...."
"Ha?"
"Kakak kan sudah bilang kalau kakak akan mencari cara agar kau dan dunia ini tidak dihapus. Jadi jangan beranggapan bahwa dihapusnya kau dan dunia ini adalah kepastian mutlak!"
"Kakak boleh punya rencana. Tapi rantai takdir tidak bisa dipatahkan. Kita tidak tahu pasti kapan penghapusan itu terjadi. Jadi sebelum aku dan dunia ini lenyap, aku ingin melakukan hal itu sesama kakak..."
Satu air mata dari Ruhisa jatuh ke lantai. Setelah itu Ruhisa mendekatkan diri pada kakaknya. Dia tersenyum. Dia meletakan kedua telapak tangannya ke dada Ruiga. Kemudian mendorongnya hingga mundur beberapa langkah ke belakang.
Ruiga tidak tahu apa maksudnya. Ruiga cuma diam dan pasrah dengan apa yang akan dilakukan adiknya. Ruiga tidak bisa menyangkal bahwa takdir tidak bisa dirubah. Dia membenarkan hal itu, walau dia tetap tidak menyerah sebelum mencoba.
"Setelah aku melakukan ini, tolong jangan benci aku ya kak!"
Ruhisa melepas kancing kemejanya satu persatu. Melihat hal itu sebentar saja Ruiga langsung tahu apa yang dimaksud Ruhisa. Maka dari itu Ruiga mau mencegah tindakan itu. Tapi Ruhisa tidak menghentikan aksinya.
"Apa yang kau lakukan!? Jangan lakukan itu!!" Bentak Ruiga.
"Tapi cuma ini permintaan terakhirku. Kita tidak tahu apa yang terjadi ke depannya. Izinkan aku mencintai kakak lebih dalam lagi!"
Ruiga tak dapat membalas kata-kata dari adiknya. Dia diam sambil menutup mata. Dan pada saat itulah Ruiga merasa tubuhnya didorong ke arah tempat tidur.
Ketika Ruiga membuka mata, ia melihat Ruhisa sudah tidak memakai pakaian lagi. Ruiga tidak lagi memberi perlawanan. Ruiga merasa ada benarnya juga apa yang dikatakan Ruhisa. Ruiga tidak tahu apa yang akan terjadi. Penghapusan dunia bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa persiapan. Ruiga pun membiarkan adiknya melakukannya, asal adiknya bisa bahagia.
"Jangan marah ya kak!"
Ruhisa ******* bibir kakaknya tanpa memberitahu terlebih dahulu. Hal itu membuat Ruiga kaget dan membuat jantungnya berdetak keras.
Awalnya mengagetkan dan merasa aneh karena dicium oleh adik sendiri. Tapi lama kelamaan Ruiga mulai terbiasa seperti ketika ia berciuman dengan Nina. Mereka terus melakukan hal itu hingga keduanya tertidur lelap.
...****************...
Pukul 5.47 pagi Ruhisa bangun lebih dulu daripada Ruiga. Ruhisa merasa puas bisa tidur bersama kakaknya walau semalam hanya terjadi saling peluk dan bercumbu.
Ruhisa melihat ke samping tempat kakaknya tidur. Wajah Ruiga ketika tidur terlihat mengemaskan bagi Ruhisa. Merasa terlalu lucu Ruhisa pun tertawa kecil sambil menyentuh wajah Ruiga yang masih tertidur.
__ADS_1
Sentuhan wajah dari jari-jari Ruhisa telah membuat Ruiga sadar. Kedua mata Ruiga mulai terbuka secara perlahan. Ketika terbuka sepenuhnya Ruiga disambut hangat oleh Ruhisa yang dari tadi menunggu Ruiga bangun.
Ruiga hampir tidak ingat kejadian semalam. Bahkan Ruiga sempat mengira kalau dia berada di kamarnya. Namun setelah Ruiga melihat Ruhisa yang masih tidak pakai baju, barulah ia ingat kejadian semalam.
"Selamat pagi kakak." Kata Ruhisa dengan senyuman.
"Kenapa kau masih telanjang?"
"Bukankah laki-laki itu lebih suka melihat perempuan tidak pakai baju?" Jawab Ruhisa yang tersenyum nakal.
"Apa-apaan jawabanmu ini..." Ruiga merasa agak kesal mendengar jawaban itu.
"Maaf. Bercanda doang kok. Tapi benar kan banyak laki-laki yang seperti itu?"
"Kenapa kau belum bersiap ke sekolah? Biasanya kau paling semangat ketika mau ke sekolah."
"Santai saja. Belum ada jam enam kok. Masih ada sedikit waktu santai."
"Baik, aku akan kembali ke kamarku. Dan kau mau sampai kapan telanjang terus?" Kata Ruiga. Ruhisa pun tersenyum mendengar itu.
"Setelah aku selesai mandi aku akan pakai baju kok."
Ruhisa terus melihat ke arah kakaknya ketika kakaknya berjalan mendekati pintu keluar. Ruiga tahu dia sedang diperhatikan. Dan Ruiga pun menoleh ke arah Ruhisa.
Lalu Ruhisa berkata: "Aku sayang kakak."
...****************...
Setelah berganti hari mereka kembali menjalani rutinitas mereka seperti sedia kala. Seolah-olah beban yang mereka pikirkan tadi malam sudah hilang, mereka kembali ceria.
Pagi itu mereka berangkat sekolah bersama. Kedua orangtua mereka berangkat lebih dulu sebelum mereka berangkat sekolah. Jadi pagi itu mereka punya banyak waktu berduaan
Supir pribadi mereka pun heran sekaligus bersyukur karena si kembar sudah jarang bertengkar lagi dan mereka terlihat akur.
"Kalian akhir-akhir ini terlihat rukun hehehe."
"Memang seharusnya begitu kan?" Jawab Ruiga. Ruhisa dan supir tersenyum.
Namun pak supir tanpa sengaja melihat hal aneh dari kaca spion dalam mobil. Sekilas pak supir melihat Ruhisa dan Ruiga seperti mau berciuman. Akan tetapi ketika pak supir menoleh ke belakang, mereka tak melakukan apa pun walau jarak keduanya terlalu dekat.
Mereka pun sampai di depan gerbang masuk sekolah. Begitu kaki Ruhisa menginjak area sekolah, secara otomatis semangatnya meningkat seperti biasa.
"Ayo masuk ke kelas!" Kata Ruhisa sambil menggandeng tangan kakaknya.
Selama perjalanan menuju kelas, mereka menjadi perhatian publik. Mereka yang melihat itu merasa aneh melihat si kembar akur dan terlalu dekat.
"Tumben mereka akur?"
"Iya biasanya Ruiga kaya agak jijik gitu jika tangannya digandeng adiknya."
"Aneh gak sih melihat kedekatan mereka?"
"Ya aneh saja. Masa kakak dan adik terlihat mesra begitu di depan publik."
"Hmmmm...."
Mereka pun menjadi pembicaraan. Tapi si kembar merasa cuek saja. Si kembar dengan PD-nya berjalan memasuki ruang kelas.
Nina yang melihat hal itu bingung mau merasa senang atau sedih. Nina senang jika Ruiga sangat menyayangi adiknya. Tapi di sisi lain Nina sedih jika kedekatan mereka melebihi batas hubungan kakak dan adik.
Rencananya Nina mau membicarakan kedekatan mereka secara empat mata dengan Ruiga. Makin bertambahnya menit Nina menjadi curiga dengan kedekatan si kembar.
"Apa yang terjadi semalam? Apakah Ruiga melakukan apa yang kukatakan kemarin?" Kata Nina dalam hati.
Ketika kegiatan pembelajaran berlangsung tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dari luar. Padahal sang guru sedang fokus mengajar. Ternyata yang datang adalah guru BK.
Para murid kaget karena tiba-tiba muncul guru BK ke kelas. Guru BK itu meminta waktu sebentar, dan guru yang mengajar pun memberi izin.
"Untuk murid yang namanya bapak panggil, mohon keluar dan ikut saya ke ruang BK."
Ada dua nama yang disebut yaitu Ruiga dan Nina. Sontak saja keduanya merasa terkejut karena keduanya merasa tidak melakukan kesalahan. Tapi ketika di kelas mereka tidak protes dan nurut saja ketika disuruh ke ruang BK.
"Kali ini aku salah apa? Aku kan tidak berbuat salah." Kata Ruiga yang berjalan di belakang guru BK.
"Belum tentu siswa dipanggil ke ruang BK itu karena ada salah." Kata Nina.
"Lah terus karena apa??"
"Nanti kalian bakal tahu sendiri." Kata guru BK itu dengan suara halus.
Mereka telah masuk ke dalam ruang BK. Di sana hanya ada mereka bertiga. Nina dan Ruiga duduk bersebelahan menghadap ke guru BK. Wajah guru BK itu terlihat seperti mau menginterogasi mereka.
Terasa agak sedikit tegang di sana. Namun ketegangan itu sirna setelah penyamaran guru BK itu terbongkar. Lebih tepatnya Zelus membuka penyamarannya sebagai guru BK.
Nina dan Ruiga merasa sedikit kesal karena merasa dikerjai Dewa Zelus dengan penyamarannya. Dan ini adalah saat-saat penting bagi mereka.
"Hehehe maaf ya. Kalian tidak marah kan?" Kata Zelus.
"Ih kakek ini bikin tegang saja." Kata Nina.
"Hahaha... Jadi gini, kalian tahu kan alasan kalian kupanggil ke sini?"
"Iya aku tahu. Pasti kakek mau bilang kalau Ruiga sudah bebas kan?" Kata Nina dengan wajah bersukacita.
"Yes benar sekali. Selamat Ruiga. Kau telah berhasil menerima takdirmu."
__ADS_1
Nina merasa aneh pada Ruiga. Di mata Nina sama sekali tidak ada wajah bahagia pada Ruiga. Ruiga terlihat datar seolah sedang menahan beban pikir.
"Hei, seharusnya kan kau senang bisa kembali pulang." Kata Nina.
"......" Ruiga tidak menjawab.
"Hei kau dengar gak sih?!" Bentak Nina yang kesal karena tidak dijawab.
"Apa yang kau lakukan pada dunia ini ketika aku kembali pulang?" Akhirnya Ruiga mulai bersuara. Suara Ruiga terdengar sangat serius hingga membuat Nina heran.
Zelus sudah tahu apa yang ada di pikiran Ruiga. Tanpa basa-basi Zelus langsung menjawab: "Dunia ini beserta seluruh isinya akan kuhapuskan tanpa sisa. Kenapa? Apakah kau keberatan?"
"Aku keberatan!" Kata Ruiga dengan nada marah.
"Ruiga, kau ini....." Nina kaget melihat reaksi Ruiga yang tiba-tiba marah.
"Kenapa kau menghapus mereka?! Menghapus mereka sama saja membunuh mereka!!!" Kata Ruiga sambil memukul meja."
"Ruiga, kendalikanlah dirimu!" Kata Nina.
"Kau terlalu lama di sini sehingga perasaanmu ikut hanyut ke dalamnya." Kata Zelus.
"Jangan kau hapus dunia ini!! Mereka yang tinggal di sini itu hidup! Mereka punya jiwa dan pikiran sendiri. Mereka bukan boneka yang bisa seenaknya kau buat dan kau hapus begitu saja!!!" Emosi Ruiga makin tak terkendali.
"Kenapa tiba-tiba kau jadi peduli dengan dunia ini? Bukankah kau membenci dunia ini?" Tanya Zelus.
"Mungkin awalnya begitu. Tapi semua itu berubah...."
"Jujur saja. Kau tidak rela kehilangan Ruhisa kan?"
Ruiga dan Nina langsung kaget mendengar itu. Yang dikatakan Zelus memang benar apa adanya. Ruiga telah berhasil dipikat hatinya oleh Ruhisa.
"Apa yang dikatakan kakek benar Rui?" Tanya Nina. Tapi Ruiga tidak mau menjawab.
"Kau sudah dengar dari Nina kan? Dunia dan seluruh mahluk di dunia ini cuma replika hidup. Mereka manusia tiruan yang pikiran dan kepribadiannya sudah kuatur." Kata Zelus.
"Jika benar kalau kepribadian dan pikiran mereka sudah kau atur, kenapa kau tanamkan kepribadian aneh itu pada Ruhisa?!"
Kepribadian aneh yang dimaksud Ruiga adalah perasaan cinta Ruhisa pada Ruiga. Soal pertanyaan ini Zelus tidak bisa menjawab. Itu dikarenakan Ruhisa itu berbeda dengan manusia tiruan lain.
"Ruiga, kau harus menerima kenyataan kalau dunia dan manusia di sini adalah tiruan. Mereka tidak nyata walau sekilas mereka terlihat bernyawa." Kata Nina.
"Kau baru empat hari di sini! Mana tahu kau soal mereka?! Aku yang sudah lama di sini tahu betul perasaan mereka! Mereka bisa berekspresi, mereka butuh makan, mereka butuh kerja, dan mereka punya tujuan hidup. Dan kau yang menciptakan mereka justru tidak bisa merasakan perasaan mereka!!"
Di sana Ruiga memarahi Dewa Zelus habis-habisan.
"Kau punya dua pilihan. Pilih dunia ini dihapus tapi kau bisa pulang, atau pilih dunia ini tidak dihapus, tapi kau tinggal di sini selamanya?" Kata Zelus.
Ini merupakan pertanyaan sulit. Keduanya sama-sama penting bagi Ruiga. Momen Ruiga di dunia ini begitu berharga walau awalnya dia membencinya. Tapi di sisi lain Ruiga juga kangen kehidupan lamanya di sana.
"Jangan memilih pilihan bodoh! Pikirkanlah orangtuamu di sana! Mereka tidak sabar melihatmu pulang." Kata Nina.
Butuh waktu agak lama untuk bisa memutuskan. Dan Nina pun tak ada hentinya memberi pengertian dan arahan yang benar pada Ruiga.
Ruiga yang tadinya duduk pun kini telah bangkit berdiri. Dengan ekspresi wajah yang mantap, Ruiga mengatakan pilihannya yang sudah menjadi keputusan akhir.
"Aku memilih... Tetap tinggal di sini." Itulah yang dikatakan oleh Ruiga.
Nina yang mendengar keputusan itu langsung marah bercampur sedih. Nina marah-marah sambil menangis. Nina menampar pipi Ruiga keras sekali sebagai ungkapan rasa kesal.
"Dasar bodoh!! Apa kau sadar apa yang kau katakan barusan?!?!" Bentak Nina pada Ruiga.
"Tentu aku sadar. Aku sadar ini adalah jalan terbaik. Kedua dunia tetap sama-sama ada tanpa harus hilang salah satunya. Maafkan aku Nin!"
"Maaf kau bilang?! Minta maaf sana sama kedua orangtuamu di dunia!! Dosamu pada mereka masih banyak tapi kau lebih memilih dunia palsu ini daripada duniamu sendiri!! Kau ini ***** banget sumpah."
"Maafkan aku."
"Terus apa gunanya aku membantumu selama ini jika hasilnya kaya gini? Kau telah menyia-nyiakan ketulusanku! Aku kecewa pada Rui. Aku membencimu."
"Maaf...."
Ruiga pergi dari ruangan itu. Ia kembali ke ruang kelas untuk melanjutkan pelajaran. Dia telah memantapkan pilihan tersebut dan berjanji tidak akan menyesalinya.
Sementara itu Zelus dan Nina masih berada di ruang BK. Nina menangis histeris. Dia kecewa orang yang disayanginya memilih pilihan bodoh. Dia merasa gagal menjadi teman karena gagal membujuk Ruiga pulang.
"Sudah jangan menangis!"
"Kek, Bisakah kakek membawa Ruiga pulang secara paksa? Aku yakin kakek sanggup melakukan itu." Kata Nina yang masih menangis.
"Bisa, tapi buat apa? Ruiga lebih bahagia di sini."
"Tapi pilihan yang diambil Ruiga itu salah kek! Kasihan orangtuanya yang mengharapkan Ruiga kembali. Dia butuh bersosialisasi dengan manusia sungguhan, bukan manusia tiruan."
"Kakek salut perhatianmu padanya. Dan kau selalu bijak mengambil keputusan. Jadi lebih baik kau pulang saja ke dunia asalmu. Kakek yakin orangtuamu ingin kau kembali."
"Tapi aku tidak bisa kembali tanpa Ruiga....."
"Soal Ruiga biar kakek yang mengurus. Kau tidak serius mengira kalau kakek akan diam saja kan?"
"Jadi maksud kakek, kakek akan...."
"Yes, kakek punya rencana sendiri untuk masalah ini. Tugasmu di sini sudah selesai Nina. Waktunya kau pulang. Percayakan masalah Ruiga pada kakek."
Nina mencoba mempercayai kata-kata itu. Dan Nina akan kembali pulang ke dunianya. Ini berat bagi Nina karena dia tidak bisa membawa pulang Ruiga.
__ADS_1
Akan tetapi tiba-tiba Nina minta sedikit waktu sebelum kembali pulang. Nina ingin mencoba bicara sekali lagi pada Ruiga. Zelus pun tidak keberatan dengan hal itu.
...****************...