Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Pertikaian


__ADS_3

Hari keduaku di sekolah aku masih belum terbiasa dengan orang-orang asing di tempat ini. Selain mereka terlihat asing, rupanya mereka juga sulit untuk diajak bersosialisasi.


Sulit diajak bersosialisasi yang kumaksud adalah sulit untuk berteman. Secara komunikasi mereka tetap mau berkomunikasi. Tapi soal relasi, mereka sulit. Bahkan ini lebih buruk dari orang-orang di sekolah asliku. Kalau di sekolah asliku siapa pun pasti tidak menolak berteman denganku selama aku punya uang. Namun untuk di dunia ini hal itu tidak berlaku.


Kini kami telah keluar dari mobil jemputan. Dan baru aku sadari jika posisi Ruhisa di sini jauh lebih spesial dariku. Puluhan pasang mata tertuju pada Ruhisa. Bagaikan artis yang berkunjung di sekolahan ini, perhatian mereka terhadap Ruhisa sungguh spesial bagi mereka.


Sebenarnya hal itu sudah kucurigai dari awal aku sekolah di sini, namun aku baru menyadarinya di hari kedua jika kedudukan Ruhi sangat dipandang istimewa oleh mereka. Aku penasaran kenapa mereka begitu pada Ruhi.


"Hei Ruhisa, nanti pulang bareng aku ya."


"Oi Ruhi, mau kan kencan denganku?"


"Ruhisa nanti kita main basket lagi ya."


"Ruhisa... "


"Ruhisa... "


"Ruhisa... "


"Ruhisa... "


"Ruhisa... Aku suka kamu."


Dih Kampret! Kok aku jijik ya dengan sifat mereka. Memang Ruhisa itu siapa? Dia bukan artis, bukan selebgram, bukan Youtuber, dan bukan bangsawan. Tapi kenapa sosok Ruhisa ini begitu istimewa di mata mereka?


Aku yang tidak betah dengan orang-orang aneh ini langsung memutuskan untuk menuju kelas duluan. Aku tinggalkan Ruhisa yang dikerumuni oleh siswa laki-laki yang kuprediksi kalau mereka mesum.


Ruhisa pun tidak menyadari kepergianku darinya. Bagus sih, dengan begini aku bisa bebas dari dia selama beberapa saat.


Setelah sampai di dalam kelas, di sana cuma ada Nina saja yang duduk sendirian di bangkunya. Aku kira kondisi kelas sudah ramai dengan siswa. Tapi entah kenapa cuma ada Nina di sini.


"Oi Nin!" Sapaku padanya.


"Heh..." Dia menatapku dengan sinis.


Ada apa dengannya? Dia terlihat seperti tidak bersahabat denganku. Jika dipikir kembali baru kali ini aku berinteraksi dengan Nina lagi setelah kejadian di rumahnya dulu.


"Ada apa?"


"Mau apa kau?!" Jawabnya dengan ketus.


Oh sekarang aku ingat. Dia masih marah soal kejadian di rumahnya dulu. Waktu itu aku terlalu emosi dengan kehadiran Ruhisa yang merusak suasana hingga aku berkata kasar pada mereka.


"Kau masih marah?"


"Ya." Jawab Nina dengan singkat dan jelas.


"Maafkan aku!"


"Gak."


"Kalau kau tidak memaafkan aku, terus aku harus berteman dengan siapa? Cuma kau yang aku kenal di sini."

__ADS_1


"Dih lebat deh. Aku malas berteman dengan anak yang durhaka sama adiknya."


"Soal itu aku sudah mendapatkan pelajaran berharga. Akan kucoba menerima keberadaannya walau itu susah. Kau kan bisa lihat sendiri kan kemarin aku dan Ruhisa sudah baikan."


"Apanya yang baikan? Sifatmu padanya saja masih ketus gitu. Apalagi ketika dia terlalu dekat padamu, kau selalu membentak dan memarahinya."


Kok dia bisa tahu soal itu? Apakah secara diam-diam Nina memperhatikan aku dan Ruhi? Tapi jika dia masih mau memperhatikan kami, artinya dalam hatinya masih ada niatan untuk berteman denganku.


Aku pun hanya bisa diam sejenak sambil tersenyum.


"Apanya yang lucu?!"


"Tidak ada. Kita bahas lagi nanti. Oh ini aku dapat cokelat batangan dari Ruhi. Ini buat kau saja, aku gak terlalu minat dengan makanan terlalu manis." Kataku sambil meletakan cokelat di mukanya. Setelah itu aku menuju bangkuku untuk meletakan ranselku.


Setelah itu beberapa siswa di kelas ini mulai berdatangan memenuhi bangku kursi termasuk Ruhisa. Ruhisa mendekat ke arahku dengan tatapan kesal. Tidak Biasanya dia memasang wajah kesal seperti itu padaku. Biasanya dia selalu memasang wajah sok imut ketika berada di dekatku.


Sampai di sini aku diam saja sambil menunggu guru datang ke kelas. Dari gerak-geriknya Ruhisa menginginkan aku bertanya padanya. Namun hal itu tidak kulakukan karena aku lebih suka bersikap tak peduli padanya. Diriku bisa sabar berada di dekatnya saja merupakan keajaiban besar. Jadi jangan menuntut hal yang lebih dari itu lagi!


"Kenapa kakak diam saja!?"


"Huh?"


"Dan kenapa tadi kakak meninggalkan aku sendirian di sana?!"


"Kau marah padaku? Tumben...." Kataku dengan heran.


"Ya iyalah aku marah! Kakak macam apa yang diam saja melihat adiknya digodain cowok-cowok aneh?!"


"Ih malah ketawa! Ini tidak lucu! Akan aku aduin kakak ke ibu biar dimarahi!" Kata Ruhisa dengan nada mengancam.


Gak salah dengar nih? Ruhisa berani mengancamku? Apakah ini ulah dari Zelus? Sangat masuk akal jika Zelus merubah karakter Ruhisa menjadi seperti ini.


"Terus kau ingin aku melakukan apa?"


"Pakai nanya segala! Ya seharusnya kakak mencegah mereka gangguin aku! Kakak pikir enak digodain cowok aneh seperti mereka?!"


"Terus apa hubungannya mengadukanku pada ibu soal ini?"


"Ya kan sebagai kakak harusnya kakak itu melindungi adiknya. Bukannya malah diam saja melihat adiknya digodain." Kali ini nada bicara Ruhisa makin meninggi. Sepertinya dia mau cari ribut denganku.


Padahal sejauh ini aku sudah mencoba bersabar untuk tidak termakan emosi olehnya, eh tapi sekarang dia malah sengaja memancing emosiku.


Ini menjadi posisi serba salah. Jika aku tanggap dengan amarah maka aku tidak akan diberi kepercayaan pada Zelus soal takdirku ini. Tapi jika aku diam saja, rasanya sangat kesal dan panas dalam hati.


"Kakak payah! Kakak gak guna! Kakak egois!"


"Jaga mulutmu! Jangan bikin aku emosi!"


"Kakak duluan yang bikin aku emosi!" Kata Ruhisa sambil menjambak rambutku.


Aku yang terlanjur terlumat amarah tanpa sadar aku telah mendorong tubuh Ruhisa hingga terjatuh dari bangkunya. Dan pada saat itulah diriku menjadi pusat perhatian dari berbagai pasang mata, termasuk Nina yang menatapku dengan kesal.


"Apa ini yang namanya sudah baikan?" Kata Nina.

__ADS_1


"Maaf, aku terbawa suasana."


"Jangan minta maaf padaku! Minta maaflah pada adikmu!" Kata Nina yang marah padaku.


Tidak hanya Nina saja yang marah. Namun semua siswa di sini juga ikut marah padaku. Tapi kenapa?


"Banci banget sih jadi cowok! Beraninya sama perempuan." Kata mereka.


"Iya tuh. Gak kasihan apa sama adiknya?!"


"Kalau tidak suka itu setidaknya jangan dikasarin!"


"Ruhisa kau tidak apa-apa kan?"


Oke sabar. Ini bisa terkendali dengan pikiran dingin. Untuk situasi seperti ini akan lebih baik aku mengalah.


Merupakan kesalahan aku berlaku kasar padanya tadi. Dengan begini pastinya Zelus masih mengira kalau aku belum bisa menerima takdirku sebagai kakak. Tapi itu memang benar sih. Sejujurnya aku sangat tidak terima dia menjadi adik kembarku. Tapi di sini aku harus dipaksa untuk menerima keberadaan Ruhisa sebagai adik.


"Maaf." Kataku sambil mengulurkan tanganku pada Ruhisa untuk membantunya berdiri. Namun uluran tanganku tidak ia terima. Dia menepis uluran tanganku dan berdiri dengan sendirinya. Lalu keadaan bertambah buruk lagi.


"Ada keributan apa ini?" Kata Bu guru yang tidak kuketahui namanya.


Secara kompak para siswa di kelas ini langsung mengadukan perlakuanku pada bu guru. Awalnya aku merasa bodi amat mau diaduin karena Kupikir hal itu tidak terlalu berdampak bagiku. Namun prakiraanku itu ternyata salah.


"Ruiga, kau kuberi hukuman atas tindakanmu barusan." Kata bu guru.


"Hah hukuman?"


Ini konyol. Kenapa aku dihukum gara-gara masalah ini? Ini terlalu berlebihan. Aku dipancing emosiku dan secara reflek aku mendorong Ruhisa hingga jatuh, tapi aku mendapatkan hukuman meski aku sudah minta maaf?!


"Hukumanmu adalah diikat di tiang bendera upacara sampai jam istirahat pertama selesai."


Astaga Dragon!! Kali ini lebih konyol lagi. Ini terlalu kelewatan tingkat hukuman yang diberikan. Padahal hukuman membolos selama tiga hari saja tidak sesadis ini hukumannya. Mending langsung mendapat skor saja daripada dihukum diikat di tiang bendera.


Sebenarnya dihukum diikat di tiang bendera itu tidak terlalu menyakitkan, tapi rasa malunya itu yang jadi masalah. Selain jadi bahan tertawaan oleh siswa lain, pastinya ada-ada saja siswa yang iseng memotret diriku lalu mempostingnya di internet.


"Ini tidak adil! Hukuman yang ibu berikan ini gak seimbang dengan pelanggaranku."


"Apanya yang tidak seimbang? Kau baru saja melukai anak orang terpandang di sekolah ini."


"Terpandang?"


"Ruhisa adalah anak dari keluarga Sasugara yang mendirikan sekolahan ini. Tentu saja posisi Ruhisa harus dilindungi."


"Aku juga dari keluarga Sasugara, tapi kenapa hukumanku terlalu sadis?"


"Kau memang dari keluarga Sasugara. Tapi aturan tetap aturan. Orang yang dengan sengaja bikin gara-gara dengan anak keluarga Sasugara akan diberi hukuman berat. Seharusnya kau bersyukur karena hukuman ini jauh lebih ringan dari yang seharusnya."


Sesungguhnya aku ingin protes banyak hal padanya. Namun mengingat posisiku di sini, aku pun memutuskan untuk mengalah. Ini demi mendapatkan kepercayaan Zelus padaku. Jika aku terus bersikap melawan, pastinya aku akan dipandang belum berubah oleh Zelus.


Cuma dengan cara ini aku bisa keluar dari dunia aneh ini. Cuma dengan mengalah dan menerima sambil menahan emosi. Dan dengan keluarnya aku dari dunia ini, maka aku tidak perlu lagi melihat Ruhisa lagi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2