Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Hari kelima puluh di Pulau Bali


__ADS_3

Mereka membeli rumah kecil yang terletak agak jauh dari keramaian. Mereka sengaja memilih lokasi tersebut agar mereka bisa tenang tanpa ada yang menggangu. Meski mereka hidup berdua tanpa ada pihak lain yang ikut campur, bukan berarti jika mereka bisa bebas dari masalah.


Awalnya mungkin mereka bisa merasa damai sejahtera. Akan tetapi hal itu tidak bertahan lama karena yang namanya masalah itu tidak bisa dihindari. Ke mana saja kalian pergi, pasti masalah akan terus mengejar kalian di mana pun berada. Itu pasti.


Sebuah pertengkaran terjadi di rumah tangga mereka. Diawali dengan pertengkaran kecil hingga akhirnya menjadi besar. Hal itu terjadi karena mereka masih terlalu dini untuk hidup mandiri. Tentu saja hal itu membuat mereka kerepotan karena sejak kecil mereka terbiasa hidup mewah.


Sikap pemalas Ruiga itulah yang menyebabkan awal mula pertengkaran mereka. Kerjaan Ruiga di sana cuma tidur, makan, main game, dan rebahan saja. Sementara yang mengerjakan pekerjaan rumah adalah Ruhisa seorang diri. Tidak heran jika Ruhisa marah hingga menyebabkan pertikaian.


Pagi itu Ruhisa baru saja pulang dari pasar membeli bahan buat masak. Sesampai Ruhisa ke rumah, Ruhisa dikagetkan dengan keadaan rumah yang berantakan. Padahal sebelum Ruhisa berangkat ke pasar, kondisi rumah sudah bersih dan tertata rapi. Melihat hal itu membuat Ruhisa terbakar amarah.


Ruhisa datang mendekati Ruiga yang sedang bermalas-malasan di atas sofa. Ruiga tidak menyadari keberadaan Ruhisa yang berada di sampingnya. Ruhisa yang terlanjur kesal langsung menyiram wajah Ruiga pakai segelas air di atas meja sebelah.


"Eh apa-apaan ini?!" Sontak Ruiga kaget dan marah karena ulah Ruhisa.


"Kenapa malah kamu yang marah?! Seharusnya aku yang marah!!!"


"Tiap hari kerjaanmu marah terus!! Ada apa sih denganmu?! Dulu sewaktu kita masih tinggal bersama ayah dan ibu, kau gak pernah kaya gini!!"


"Sadarlah kak! Kita sudah tidak tinggal bersama mereka lagi. Sekarang kita harus mandiri mengurus hidup kita. Jangan malas-malasan saja! Setidaknya bantulah aku mengurus rumah!!"


"Kenapa kita tidak sewa pembantu saja sih?"


"Sewa? Mikir dong kak!! Kakak pikir gak butuh duit apa buat menyewa mereka?"


"Di ATM masih banyak uang kan?"


Ruhisa sangat kesal pada Ruiga yang bisa bersikap dewasa dan mandiri. Kini Ruhisa mulai merasakan sedikit penyesalan karena telah pergi dari rumah. Namun karena sudah terlanjur terjadi, maka tidak ada pilihan lain selain menjalaninya.


"Heh kakak pikir uang kita tidak bisa habis? Ingat kak pengeluaran kita dari hari ke hari itu sangat banyak. Belum lagi kakak selalu boros membeli sesuatu yang tidak penting. Jika kita seperti ini terus kita akan jatuh miskin."


"........" Ruiga tidak bicara. Dia malah menguap seolah masih mengantuk.


"Kerja kak! Carilah kerja! Cepat atau lambat uang kita akan habis. Agar kita bisa bertahan hidup, kakak harus kerja."


"Kalau aku yang kerja, terus kamu ngapain? Lagian uang kita masih cukup untuk beberapa bulan atau beberapa tahun. Selama kita hemat, kita bisa memperlambat kemiskinan. Nanti saja cari kerjanya setelah uang kita tinggal sedikit."


Tanggapan dari kakaknya justru membuat Ruhisa makin kesal. Secara spontan Ruhisa melemparkan bahan belanjaannya ke wajah Ruiga.


"Kakak ini ***** atau gimana sih?! Kakak gak perlu menunggu uang kita habis dulu untuk mencari kerja! Justru kakak harus mulai latihan kerja dari sekarang biar terbiasa dengan kehidupan kerja!"


"Usiaku masih terlalu dini untuk bekerja."


"Terus kalau gak kerja kita dapat uang dari mana?!"


"...... Kita bahas lain kali saja. Aku ngantuk mau tidur."


"Oke deh kalau kakak gak mau cari kerja gak apa-apa. Tapi tolong bantu aku mengurus pekerjaan rumah! Aku capek setiap hari menyapu, mencuci, memasak, menyetrika, dan pekerjaan lainnya. Memang kakak gak kasihan apa sama aku?"


Melihat reaksi kakaknya yang apatis itu malah mengubah amarah Ruhisa menjadi air mata. Ruhisa terduduk di lantai sambil menangis. Wajahnya ia tutupi dengan kedua telapak tangannya.


Bukannya menenangkan adiknya yang lagi menangis, Ruiga justru bersikap cuek. Lalu Ruiga berjalan ke luar rumah. Setelah itu keberadaan Ruiga tak terdeteksi lagi. Dia meninggalkan Ruhisa sendiri di rumah itu beserta dengan pekerjaan rumah yang terlalu melelahkan jika dikerjakan oleh anak seusia Ruhisa sendiri.


Ruiga sudah bosan melihat air mata adiknya. Hal itu sering terjadi hampir tiap paginya. Ketika pertengkaran terjadi di rumah itu, pasti endingnya selalu diakhiri oleh air mata Ruhisa. Kejadian seperti ini sudah terjadi sejak hari kesebelas di pulau Bali.


Ruiga memutuskan pergi ke pusat keramaian. Namun ia ke sana bukan untuk mencari kerja, tapi untuk mencari udara segar sekaligus pemandangan baru. Yang ia lakukan cuma nongkrong saja di warung sampai uang yang ada di sakunya habis.


"Ternyata repot juga ya hidup tanpa orangtua. Bahkan Ruhisa pun juga kerepotan. Apakah sebaiknya kami kembali ke ayah dan ibu saja ya?" Kaya Ruiga yang sedang bersantai di warung makan.


...****************...


Pukul 13.56 siang Ruhisa baru selesai menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Pekerjaan rumah terakhir yang ia lakukan adalah mencuci baju. Itu pun dilakukan secara manual tanpa mesin cuci. Tentu saja Ruhisa sangat kerepotan karena gaya hidup mereka sudah tidak sama seperti dulu yang selalu diurus oleh orangtua dan para pembantu. Kini Ruhisa melakukan seorang diri.


Ruhisa merasa lelah. Tiap harinya selalu dia yang melakukan tugas rumah sementara kakaknya hanya bermalas-malasan saja. Di waktu istirahatnya pun Ruhisa hanya bisa menangis. Dari sini Ruhisa sadar bahwa perasaan cinta saja tidak cukup untuk bertahan hidup.


Kemudian Ruhisa mengambil ponselnya dan memeriksa saldo ATM yang dia punya. Uang yang tersisa memang masih banyak. Walau masih banyak, tapi Ruhisa tetap kekeh untuk tidak terlalu boros. Setidaknya sampai mereka memiliki pekerjaan.


Ruhisa pikir hampir mustahil untuk membuat Ruiga mau mencari kerja. Maka dari itu Ruhisa berinisiatif mencari kerja dari internet. Ruhisa tahu ini melelahkan, tapi ia sadar bahwa cuma dia seorang yang bisa menghidupi kebutuhan mereka selama beberapa bulan ke depan.


Di media sosial terdapat banyak daftar pekerjaan ringan, namun dari banyaknya pekerjaan yang ada, tidak ada pekerjaan yang cocok bagi Ruhisa.


"Pelayan kafe? Sepertinya ini bagus."


Ruhisa mulai menemukan pekerjaan yang sanggup ia lakukan. Menurut Ruhisa tidak begitu ribet jadi pelayan. Apalagi jam kerjanya dimulai dari jam 6 petang, jadi paginya bisa ia gunakan untuk memasak dan beres-beres rumah. Ruhisa telah memantapkan dirinya.


Sore harinya barulah pulang Ruiga yang sudah kehabisan uang. Ruiga telah menghapuskan jatah uang hari ini. Ia tidak bisa lagi menggunakan uangnya karena ATM yang mengambil alih adalah Ruhisa.


"Selamat datang." Ruhisa menyambut Ruiga. Ruiga pun cuma terdiam malu.

__ADS_1


"Maaf.... "


"Aku mulai bosan mendengar maaf darimu."


"Kau tidak memaafkan aku?"


"Bagaimana aku bisa memaafkan kakak jika kakak selalu mengulangi kesalahan yang sama tiap harinya?"


"Kau benar. Aku memang laki-laki gak guna."


"Sudahlah! Percuma membahas itu jika kakak tidak ada niat untuk berubah. Lebih baik kakak makan sana di dapur! Aku sudah menyiapkannya."


Kemudian Ruhisa berjalan menuju kamar mandi. Dari pagi Ruhisa tidak sempat mandi karena sibuk masak dan beres-beres rumah. Ruhisa terlalu rajin membersihkan rumah sehingga dia lelah tiap harinya.


Ruiga pun mulai menyadari bahwa ada yang tidak biasa dari Ruhisa. Biasanya jam segitu Ruhisa akan rebahan di kamar selama beberapa saat. Namun sore itu Ruhisa sama sekali tidak rebahan di kamar. Ruhisa terlihat sibuk menyiapkan sesuatu.


Ruiga terkejut dengan dandanan Ruhisa yang terlihat rapi. Dari cara berpakaiannya saja sudah bisa ditebak bahwa dirinya akan pergi. Seketika saja Ruiga menjadi panik.


"Mau ke mana?"


"Menurutmu aku mau ke mana?"


"Apa ini gara-gara kejadian tadi pagi?"


"Iya...." Jawab Ruhisa dengan nada datar.


"Aku kan sudah minta maaf. Apa itu tidak cukup?"


"Tidak.... "


"Ayolah, aku tahu kau marah. Tapi haruskan kau pergi meninggalkan aku?"


"Aku cuma mau pergi kerja. Lagipula aku sudah berjanji akan selalu bersamamu. Jadi jangan khawatir!"


Ruiga pun bernafas dengan lega begitu tahu Ruhisa cuma mau pergi kerja. Tapi entah kenapa Ruiga merasa agak tidak rela jika Ruhisa yang bekerja.


"Kerja? Tapi kan ini sudah sore...."


"Iya aku kerja dari sore sampai malam. Sekitar jam sebelas malam aku baru pulang."


"Jangan konyol!! Kau tidak kasihan apa sama tubuhmu?!"


Ruiga pun membisu seketika dengan pertanyaan itu. Dengan tidak menjawabnya Ruiga, Ruhisa menganggap Ruiga memang tidak kasihan. Lalu berangkatlah Ruhisa ke tempat kerjanya walau waktu itu masih terlalu awal untuk berangkat.


...****************...


Enam hari berlalu setelah Ruhisa bekerja di hari pertamanya. Keadaan masih sama tiada yang berubah. Karena Ruhisa hampir seharian penuh menggunakan waktunya untuk aktivitas, maka Ruiga dan Ruhisa tidak ada waktu untuk berduaan. Kini mereka seperti sudah kehilangan relasi.


Ruhisa tidak begitu menyadari dengan memudarnya relasi mereka berdua, tapi Ruiga begitu berasa karena dia pengangguran. Dan pada akhirnya Ruiga mulai tersentuh hatinya setelah melihat Ruhisa pulang kerja.


Ketika Ruhisa pulang kerja, dirinya terlihat seperti robot pelayan yang sudah kehabisan baterai, lalu ambruk di atas ranjang. Waktu itu Ruhisa masih mengenakan pakaian pelayan kafe saat telentang di kasur.


Ruiga yang melihat adiknya lemas tanpa daya itu mulai tergerakan hatinya. Tanpa disadari Ruiga telah meneteskan air matanya hingga jatuh menimpa pipi Ruhisa yang tertidur.


"Maafkan aku Ruhisa."


Dalam keadaan tertidur, Ruiga mencium adiknya, kemudian menyelimuti tubuh adiknya dan ikut tidur di sampingnya.


Pagi harinya ketika Ruiga membuka mata, Ruiga sudah tidak melihat lagi Ruhisa di sampingnya. Ini terlalu pagi karena biasanya Ruhisa memulai aktivitasnya mulai dari jam tujuh pagi. Namun saat itu belum ada jam enam.


"Ruhisa..." Ruiga memanggil adiknya. Kemudian Ruiga menemukan Ruhisa sedang menyetrika baju di atas karpet yang di sekitarnya terdapat tumpukan pakaian kusut.


"Maaf aku belum buat sarapan. Tunggulah aku menyelesaikan ini, setelah itu baru aku buatkan sarapan."


"Jangan paksakan dirimu!"


"Kalau tidak bisa membantu apa-apa, lebih baik kau diam saja!" Kata Ruhisa dengan nada kasar.


Ruiga mencoba mendekat pada adiknya. Ruiga bingung bagaimana untuk memulainya. Intinya Ruiga tidak ingin Ruhisa kerja malam lagi.


"Bolehkan aku minta sesuatu darimu?"


"Apa?"


"Berhentilah kerja di kafe!"


"Gak mau."

__ADS_1


"Aku tidak tega melihatmu berjalan seperti mayat hidup ketika pulang ke rumah. Kau terlalu memaksa diri."


"......."


"Baiklah kau menang. Izinkan aku menggantikan posisimu bekerja!"


Ruhisa terkejut dengan perkataan kakaknya itu. Tapi wajah Ruiga terlihat serius. Dan maka dari itu Ruhisa mencoba untuk mempercayainya.


"Serius?"


"Iya aku serius. Dengan begitu aku tidak perlu takut jika kau jatuh sakit karena kelelahan."


Ruhisa pun tersenyum senang mendengar hal itu. Akan tetapi senyuman itu berubah seketika menjadi petaka.


Bagaikan boneka tali yang terputus talinya. Tubuh Ruhisa ambruk di atas karpet. Secara spontan Ruiga bereaksi panik. Lalu sebuah suhu panas terasa ketika tangan Ruiga menyentuh tubuh Ruhisa.


"Ruhisa kau kenapa? Hei sadar!!!"


Tiada respon dari Ruhisa. Tapi sisi positifnya Ruiga masih bisa merasakan pernapasan Ruhisa.


Karena Ruhisa tak kunjung bangun dan suhu badannya makin naik, maka Ruiga pun segera memanggil ambilan untuk dibawa ke rumah sakit terdekat.


...****************...


Pagi berganti jadi malam. Dan Ruhisa pun tetap masih tak sadarkan diri. Tetapi kata dokter yang menerima Ruhisa, katanya Ruhisa cuma kecapekan saja. Tapi bagi Ruiga ini mustahil kalau cuma gara-gara kecapekan. Masalahnya suhu badan Ruhisa ini terlalu panas.


"Ruhisa..."


Ruiga mengelus kening adiknya yang masih tak sadar diri. Untuk sementara Ruhisa menginap di rumah sakit. Tapi dokter juga tak tinggal diam. Dokter juga melakukan sebuah pengecekan pada Ruhisa walau hasil akhirnya adalah nihil.


Malam sekitar jam dua belas tiba-tiba Ruiga merasakan ada pergerakan dari tubuh Ruhisa. Tangan kanan Ruhisa terlihat ada pergerakan. Kemudian disusul dengan kedua mata Ruhisa yang secara perlahan mulai terbuka.


"Ruhi....!"


"Ini di mana?"


"Oh syukurlah kau bangun." Kata Ruiga dengan wajah penuh sukacita.


"Ini bukan di rumah kita...."


"Memang bukan. Kita ada di rumah sakit."


"Siapa yang sakit?"


"Siapa lagi kalau bukan kamu!! Kau sakit gara-gara kecapekan kerja."


"Kau pikir aku begini gara-gara siapa dan untuk siapa?"


"Iya iya aku salah. Itu kan yang kau mau?!"


"Hm, apakah kau sudah kerja di kafe?"


"Belum."


"Kok belum sih!? Katanya kau mau menggantikan aku bekerja!?!?"


"Mana bisa aku bekerja sementara kau sakit dirubah sakit?!"


"Apa pun yang terjadi kau harus tetap kerja meski aku sakit."


Kemudian dokter dan dua suster di belakangnya memasuki kamar pasien. Jika dilihat dari raut wajah mereka, nampaknya mereka datang tanpa membawa kabar baik. Rui dan Ruhisa sudah bisa menebaknya.


"Karena kami belum bisa menemukan apa penyakitnya, maka untuk sementara Ruhisa harus menginap di rumah sakit."


"Apakah ini penyakit baru?" Kata Ruiga.


"Bisa jadi begitu. Doakan saja agar kami bisa segera menangani ini!"


"Aku merasa pusing dok..." Kata Ruhisa sambil memegangi kepalanya.


Yang bisa dilakukan oleh dokter hanyalah memberikan obat-obatan ringan saja karena penyakit Ruhisa belum diketahui apa.


"Maaf, kau begini gara-gara aku."


"Sudah kubilang kan, aku sudah bosan mendengar maaf dari kakak."


Ruiga pun menangis. Tapi Ruhisa yang masih terbaring hanya bisa tersenyum sambil mengusap air mata dari kakaknya yang sekarang sudah dianggap sebagai suaminya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2