
Liliya merasa adem hatinya karena pagi harinya di hari minggu disambut dengan pemandangan indah. Pemandangan itu bukanlah sinar surya yang indah ataupun pemandangan kebun bunga miliknya, melainkan adalah sikap kedua anak kembarnya yang terlihat rukun.
Dari tempat Liliya duduk, ia bisa melihat secara jelas tingkah laku anaknya yang sedang bercanda-gurau di tepi kolam renang. Mereka terlihat bahagia seolah keduanya tak bisa lagi dipisahkan.
Cukup lama Liliya duduk di sana sambil memperhatikan sikap mereka. Lalu salah satu pembantu rumah datang menghampirinya. Pembantu itu membawakan secangkir teh hangat pada nyonya majikannya. Secangkir teh itu telah diletakan di atas meja samping Liliya duduk.
Pembantu itu menyadari jika majikannya sedang bahagia menyaksikan anaknya yang terlihat akur. Namun pembantu itu punya pandangan lain. Pembantu itu ingin memberitahukan sesuatu pada nyonya majikannya, namun sesuatu di hati telah menahannya. Ia merasa takut dan bingung untuk menjelaskannya.
"Coba lihat mereka bi! Mereka lucu kan kalau sedang akur? Jadi teringat mereka sewaktu kecil Hehe."
"Eh iya nyonya."
"Loh kok reaksimu seperti itu? Apa ada yang salah?"
Mulai detik itu ia mencoba memberanikan diri untuk berterus terang. Tapi ia tidak langsung bicara ke intinya karena ia takut nyonya besar akan kaget dan marah.
"Jadi begini nyonya. Saya mau memberitahu sesuatu. Tapi saya bingung bagaimana cara mengatakannya."
Raut wajah Liliya menjadi serius seketika. Masalahnya jarang sekali pembantu di rumah ini bicara seserius ini. Biasanya mereka cenderung diam.
"Jika kau tahu sesuatu yang penting, maka katakanlah sebelum terlambat!"
Pembantu itu mencoba menghirup nafas lega sebelum sesuatu yang tidak bisa diterima dengan hati terucap.
"Sebelum saya menjelaskan ke intinya, saya mau tanya dulu, apakah nyonya tidak merasa aneh dengan keakraban Tuan muda Ruiga dan Nona muda Ruhisa?"
Liliya bingung dengan pertanyaan tersebut. Tapi jika dipikir-pikir kembali oleh Liliya rasanya tidak ada yang aneh. Hal itu karena dalam ingatan Liliya versi alternatif itu Ruiga dan Ruhisa memang sangat akur dan akrab. Jadi tiada pikiran macam-macam di kepala Liliya.
"Menurutku tidak ada yang aneh. Apakah menurutmu aneh jika kedua anakku akur satu sama lain?"
"Bukan begitu maksud saya nyonya."
"Terus apa maksudmu?" Nada bicara Liliya mulai meninggi.
"Baik saya akan cerita apa yang pernah saya lihat. Tapi nyonya jangan langsung marah ya!" Liliya memilih diam sambil menganggukkan kepalanya. Lalu pembantu itu berkata: "Jadi begini, akhir-akhir ini saya sering melihat mereka bermesraan seperti sepasang kekasih ketika tuan dan nyonya pergi. Mereka berdua juga sering berduaan di kamar. Dan yang paling membuat saya kaget adalah ketika mereka berciuman di ruang TV."
Seketika saja hati Liliya terasa ditusuk oleh tombak panjang beracun. Kalimat itu terdengar menyakitkan bagi Liliya. Selama beberapa detik Liliya tak bisa bicara karena kaget. Liliya bingung mau berekspresi seperti apa.
Sebenarnya Liliya sangat marah saat itu, namun dia mencoba untuk bijak dalam menyikapi masalah ini. Walaupun selama ini para pembantu selalu berkata jujur, tapi Liliya tidak langsung mempercayai perkataan pembantunya. Liliya pikir ini cuma kesalahpahaman saja. Rencananya Liliya akan menginterogasi kedua anaknya setelah suasana hati tenang.
"Kamu tidak bohong kan soal ini?"
"Saya berani sumpah nyonya. Jika saya terbukti bohong, maka saya siap dipecat."
"Baiklah, akan kupegang kata-katamu. Sekarang lanjukanlah pekerjaanmu!"
Pembantu itu kembali ke dapur untuk melanjutkan rutinitasnya. Dan Liliya yang sudah merasa tenang hatinya mencoba mendekat ke tempat anaknya berduaan.
Ruiga dan Ruhisa terlalu asik berduaan sampai mereka tidak menyadari keberadaan ibunya yang berdiri di belakang mereka.
"Kak, ayo berenang!"
"Gak mau."
"Ayolah, mumpung suasana mendukung!"
"Apanya yang mendukung? Mereka bisa melihat kita."
"Biar saja mereka melihat. Lagipula mereka tidak akan curiga."
"Gak ahh. Nanti jika mereka berpikiran macam-macam pasti aku yang disalahkan."
"Gak kok. Jika kakak sampai disalahkan, maka aku siap membela kakak."
"Kau ingin melakukannya di kolam renang?"
"Hm, iya hehehe. Bosan kan kalau di kamar terus...."
Liliya mulai merasa aneh dengan percakapan tersebut. Percakapan itu menggiring pikiran Liliya ke arah yang seronok. Sebenarnya Liliya masih penasaran dengan lanjutan percakapan mereka, namun karena Liliya merasa tidak siap untuk menerima kenyataan yang buruk, maka Liliya mencoba mengakhiri pembicaraan mereka dengan menunjukan tanda keberadaan diri.
"Ehem!!!"
Sontak saja si kembar langsung menoleh ke arah belakang. Mereka terlihat kaget dengan keberadaan ibunya yang tiba-tiba datang.
"Sudah lama ibu di sini?" Ruhisa bertanya.
__ADS_1
"Cukup lama."
Mereka terdiam tak tahu mau berkata apa.
"Ibu ingin bicara sama kalian di dalam." Kata Liliya dengan ekspresi wajah agak seram.
Si kembar pun tak bisa menanggapi banyak soal itu. Mereka memilih untuk menurut saja dan berharap jika ibunya tidak mencurigai sesuatu.
Mereka duduk di ruang keluarga. Si kembar duduk berhadapan dengan ibunya yang wajahnya tidak terlihat bersahabat. Namun di situasi seperti itu Ruhisa mencoba untuk tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Jadi apa yang ingin ibu bicarakan?" Tanya Ruhisa pada ibunya.
"Ibu mau bertanya, sejauh apakah hubungan kalian berdua?"
Mendengar pertanyaan itu Ruhisa dan Ruiga hanya bisa saling melirik. Mereka bingung mau menjawab apa. Tetapi Ruiga sudah menyadari jika ibunya telah curiga terhadap dirinya dan adiknya.
Ruiga menyalahkan Ruhisa dalam masalah ini. Kenapa? Karena Ruhisa itu terlalu blak-blakan dan memandang remeh orang sekitar. Ruhisa pikir mereka tidak akan curiga dengan kedekatan mereka hanya karena mereka kakak dan adik, namun faktanya mereka jadi curiga seiring berjalannya waktu.
"Konyol itu bertanya seperti itu. Sudah jelas kan hubungan kami hanya hubungan kakak dan adik biasa." Jawab Ruiga yang wajahnya terlihat sedikit panik.
"Yakin hanya sebatas kakak dan adik?"
Mereka terdiam sejenak.
"......"
"Baru saja ibu mendapatkan laporan katanya kalian pacaran dan pernah berciuman. Betulkah itu?"
Kali ini si kembar benar-benar terpojok. Mereka merasa rahasia mereka terbongkar.
Ruiga pun sibuk mencari alasan untuk membantah pernyataan tersebut, sementara Ruhisa yang merasa tak perlu ditutupi lagi justru memilih untuk berterus terang.
"Iya ibu benar. Yang ibu katakan barusan benar." Kata Ruhisa tanpa pikir panjang.
Ruiga dan Liliya yang mendengar itu langsung kaget. Mereka tidak menyangka bahwa Ruhisa akan segila itu mengambil keputusan untuk jujur. Bagi Ruiga ini sungguh konyol. Ruiga pikir adiknya terlalu bodoh karena secepat itu Ruhisa mengaku. Padahal ini bukan masalah sepele yang bisa diatasi dengan mudah. Masalah ini bisa berdampak buruk pada keluarga mereka.
Liliya yang sudah terlanjur kebakar emosinya langsung menampar pipi Ruhisa dan Ruiga. Keduanya tak melawan dan tidak berkomentar apa-apa.
Seorang ibu mana yang tidak kaget mengetahui kedua anaknya telah saling jatuh cinta? Bayangkan hal ini terjadi di keluarga kalian, pasti kalian bingung mau berkata apa.
"Memang apa yang salah?! Kami cuma mencoba untuk saling menyayangi." Ruhisa mencoba membela diri.
"Heh kalian berdua ini bersodara!! Mana boleh kalian seperti itu, apalagi sampai berciuman?!?!" Amarah Liliya makin berkobar-kobar.
"Kami tidak peduli jika kami bersodara. Kami telah saling menyayangi dan kami telah berjanji untuk terus bersama." Ruhisa makin berani melakukan pembelaan. Lalu Ruhisa berkata lagi: "Hei kak! Jangan diam saja! Ayo bicara dan belahlah adikmu!!" Bentak Ruhisa pada kakaknya.
Ruiga sudah pasrah dengan situasi ini. Dengan terbongkarnya hubungan terlarang mereka sudah merupakan game over bagi Ruiga. Ruiga tidak bisa berbuat banyak.
"Kalian beruntung karena ayah kalian tidak mengetahui hal ini. Jika ayah sampai tahu, pasti kalian akan dihukum berat."
"Kami tidak peduli walau harus dihukum. Apa pun yang akan terjadi, kami akan tetap saling menyayangi."
"Sumpah, kalian membuat hati ibu sakit dengan kenyataan ini... Ibu mencoba baik pada kalian. Ibu beri kalian kesempatan untuk memikirkan kembali hubungan kalian di kamar. Apabila kalian masih tetap tidak berubah, maka kalian terpaksa akan dipisahkan secara paksa."
Lalu Liliya memanggil satpam di rumahnya untuk menyeret Ruhisa dan Ruiga ke kamar masing-masing. Setelah itu Liliya memilih menyendiri di kamar untuk menenangkan pikirannya. Untuk saat ini Liliya tidak memberitahu suaminya soal ini, kecuali jika mereka tetap kekeh dengan hubungan terlarang mereka.
...****************...
Ruiga yang telah dikurung di kamar merasa jengkel pada adiknya. Ruiga menyalahkan Ruhisa soal masalah ini. Padahal Ruiga selalu memberitahu Ruhisa agar Ruhisa tidak kebawa nafsu saat di luar kamar. Ruhisa memang sering curi-curi kesempatan untuk mencium bibir kakaknya hingga pada akhirnya hal itu dilihat oleh seseorang.
Dan Ruiga pun merasa menyesal karena dulu pernah menyetujui hubungan terlarang ini. Padahal dalam hati Ruiga telah ada penolakan atas hubungan tersebut. Yah namun karena bujuk-rayu Ruhisa begitu beracun, maka pendirian sang kakak tumbang juga. Hal itu karena Ruhisa sering dengan sengaja tidak pakai baju dan berpose menantang di depan Ruiga.
Saat itu Ruiga ingin sekali memarahi Ruhisa dan memukul Ruhisa. Namun karena mereka terhalang oleh dinding, maka hal itu tak dapat dilakukan.
Beberapa menit berlalu ponsel Ruiga yang ada di saku celana berbunyi. Itu adalah panggilan telepon dari adiknya. Kebetulan sekali Ruiga ingin memarahi Ruhisa saat itu.
"Dasar ******! Kenapa kau langsung mengaku pada ibu!?!? Padahal jika kita coba meyakinkan ibu, pasti ibu akan percaya pada kita, terutama padamu! Tapi dengan bodohnya kau malah mengaku!"
"Hei kakak gak bisa menyalahkan aku begitu saja! Setidaknya aku jauh lebih baik karena aku masih bisa melakukan pembelaan, sementara kakak cuma diam seolah-olah bisu!!"
"Apanya yang pembelaan?! Yang kau katakan tadi justru membuat ibu semakin yakin bahwa kita telah menjalani hubungan terlarang!"
"Memang begitu kan kenyataannya?! Kita memang melakukan itu! Mau ditutupi berapa kali pun pasti akan ketahuan juga."
"Ini semua salahmu! Gara-gara kau, aku jadi terseret dalam masalah ini!!"
__ADS_1
"Kenapa kakak menyalahkan aku!!!"
Nada bicara mereka makin meninggi tertelan emosi. Keduanya saling menyalahkan dan tidak mau disalahkan.
"Kau bilang kenapa? Yang dari awal menginginkan hubungan ini adalah kamu kan? Kamu juga yang terus menggodaku agar aku jatuh cinta padamu. Apalagi kau sering memamerkan tubuh mungilmu di depanku. Kau kira laki-laki bakal biasa saja gitu?!?!"
"Hei, waktu itu kan aku sempat menyerah membuat kakak suka padaku. Bahkan aku hampir saja menghanyutkan diriku ke sungai, tapi tiba-tiba kakak datang dan mencegahnya melakukan itu. Dan pada saat itulah kita memutuskan untuk terus bersama, ingat?"
Percakapan menjadi hening sejenak. Karena bingung mau mengatakan apa lagi, akhirnya Ruhisa memutuskan percakapan telepon tersebut.
Tak lama setelah berakhirnya percakapan telepon, tiba-tiba masuklah pesan seluler dari Ruhisa. Dan isinya adalah:
*Kak aku punya rencana. Ayo kita kabur dari rumah dan melanjutkan hubungan kita ke kota lain! Jika kakak ingin melanjutkan hubungan kita, ayo ikut aku pergi! Tapi terserah kakak sih mau atau tidak. Aku tidak akan memaksa kakak lagi seperti dulu.
Intinya aku tidak bisa menghapus rasa cintaku pada kakak. Jika diizinkan aku akan terus mencintai kakak sampai mati. Tapi jika tidak bisa pun juga tidak apa-apa. Akan kuhargai pilihan kakak.
Aku sudah memindahkan uang ATM lamaku ke ATM baruku. Dengan begini ayah tidak bisa memblokir ATM milikku. Dengan uang inilah bekal kita untuk memulai hidup baru berdua. Jika kakak mau, kakak juga boleh memindahkan uang kakak ke ATM baruku. Ya itu jika kakak masih punya uang di ATM.
Rencananya aku akan pergi ke Bali bersama kakak. Nanti kita akan beli rumah di sana dan menetap di sana. Kita akan rubah identitas kita agar kita tidak mudah terlacak.
Sebelum aku menulis pesan ini, aku sudah bernegosiasi sama ibu. Aku tadi pura-pura merasa bersalah dan meminta maaf pada ibu. Aku juga bilang bahwa aku telah sadar dan tidak akan mengulangi lagi. Tapi itu sandiwara saja agar ibu mau melepaskan kita. Saat kita sudah dibebaskan dari kamar, maka itu adalah kesempatan bagi kita untuk melarikan diri.
Masih ingat kan pintu darurat rahasia? Nah kita gunakan pintu itu untuk kabur. Cuma keluarga kita yang tahu soal pintu itu, jadi para satpam dan pembantu tidak akan tahu.
Pokoknya setelah pintu dibukakan, kakak langsung saja temui aku ke pintu itu*!
"Si bodoh itu kenapa nekad sekali sih?! Sebesar apakah cintanya padaku sampai dia berani melawan ibu dan ayah? Aku bingung mau senang atau sedih? Dan kenapa aku harus dihadapkan dengan cobaan seaneh ini?"
Tak lama kemudian pintu kamar Ruiga yang terkunci telah dibuka langsung oleh Liliya. Liliya masih terlihat kesal pada Ruiga.
Lalu Liliya mendekat dan berkata: "Sebagai ibu aku kecewa padamu! Kau ini kakaknya Ruhisa. Seharusnya kau bisa bersikap bijak dalam masalah ini. Tapi kau justru bersikap bodoh dan meracuni pikiran adikmu."
Ruiga merasa kesal dengan perkataan ibunya itu. Ibunya menyalahkan Ruiga soal ini, tapi memang pantas sih Ruiga disalahkan karena dia adalah seorang kakak. Seorang kakak seharusnya bisa menjadi panutan buat adiknya, dan bukan malah ikutan berbuat salah.
Ruiga tidak mau disalahkan karena Ruiga merasa digoda oleh Ruhisa yang sejak awal memang sudah berniat memancing hati sang kakak. Tapi Ruiga tidak memberi perlawanan pada ibunya saat dirinya disalahkan. Ruiga mencoba tetap tenang sampai rencana pelariannya tiba.
Setelah Liliya meninggalkan Ruiga di kamarnya, Ruiga langsung keluar dari kamarnya untuk melihat Ruhisa. Ternyata Ruhisa tidak ada di kamarnya. Jadi bisa dipastikan bahwa Ruhisa sudah menunggu di pintu darurat.
Ruiga pun sangat berhati-hati berjalan menuju pintu rahasia. Sebisa mungkin dia masuk ke sana tanpa ada satu orang pun yang melihatnya. Dan Ruiga pun berhasil masuk tanpa diketahui. Kedatangannya disambut hangat oleh Ruhisa dengan sebuah senyuman.
Melihat kakaknya datang menemuinya, Ruhisa langsung memeluk kakaknya dan berkata: "Terima kasih telah mau pergi bersamaku."
Lalu dengan paksa Ruiga melepaskan pelukan dari Ruhisa dam berkata: "Terlalu cepat untuk senang. Kenapa kau bisa kepikiran rencana seperti ini?"
"Ya karena aku sayang kakak."
"Kurasa kau sudah lama merencanakan hal ini kan? Aku tidak yakin kau bisa kepikiran hal ini dalam waktu dekat. Hal yang terjadi barusan terlalu mendadak."
"Iya deh aku ngaku. Sudah sejak lama aku merencanakan ini karena aku tahu cepat atau lambat pasti hubungan kita akan ketahuan. Ya sudah, ayo kita pergi sebelum gelap!"
"Tunggu! Kita lupa membawa barang-barang penting."
"Itu tidak penting. Kita punya uang. Ada ratusan juta uang di ATM milikku. Nanti setelah kita sampai ke bali kita bisa beli lagi barang-barang kita."
"Ratusan juta?! Dari mana kau punya uang sebanyak itu?!" Ruiga kaget.
"Ayah kan selalu memberi jatah uang tiap bulannya? Karena aku tidak begitu suka belanja, jadi yang itu menumpuk hingga jumlahnya banyak. Kakak kan juga dikasih uang bulanan di ATM."
Hal itu sulit diterima dengan akal sehat. Ruiga pikir hal itu mustahil terjadi di dunia nyata. Sekaya apa pun seorang ayah, seharusnya aturan juga dalam memberi uang pada anaknya. Itulah yang ada dalam pikiran Ruiga.
"Ya sudah, ayo pergi!"
"Begitu kita keluar dari rumah ini, maka kita resmi menjadi pasangan hidup. Aku tidak mau lagi diperlakukan seperti adik. Aku ingin diperlakukan seperti ketika kakak menyayangi Nina."
"Kenapa tiba-tiba kau menyebut nama itu?!" Ruiga terkejut mendengar Ruhisa menyebut nama Nina. Karena itu dapat memancing Ruiga kembali sedih atas perginya Nina yang asli.
"Habisnya kakak seperti lebih sayang gitu pada Nina daripada sama aku." Kata Ruhisa dengan wajah cemberut.
"Jangan sebut nama itu lagi di depanku!"
Dan dimulailah perjalanan mereka menuju pulau Bali. Rencananya mereka akan naik bus menuju dermaga kapal arah Bali. Mereka memilih menggunakan kapal untuk menghemat biaya.
Pada saat itulah mereka bukan lagi kakak dan adik lagi. Mereka sepakat untuk menjadi pasangan hidup. Memang inilah yang mereka harapkan. Dan mereka pun berjanji untuk tidak menyesalinya.
...****************...
__ADS_1