
Bel masuk tanda dimulainya pembelajaran pun terdengar. Semua siswa-siswi mulai memasuki kelas masing-masing dan duduk di bangku mereka.
Dari awal datang ke kelas, aku belum keluar dari kelas, jadi yang perlu kulakukan saat itu adalah duduk diam sambil menunggu guru memasuki ruang kelas.
Sesuatu yang berbeda pun berasa pekat sekali di ruangan ini. Terasa sedikit sepi ketika diriku terduduk di bangku ini. Jika di hari biasa diriku selalu disambut dengan ejekan dan sindiran dari Nina, namun kali ini hal itu tak dilakukan.
Aku hanya bisa menatap kursi kosong yang seharusnya ditempati oleh Nina. Tapi kenapa dia tidak datang? Sebelumnya dia selalu hadir lebih awal dari murid lain. Mungkinkah dia sakit? Tapi di meja guru tidak terdapat surat izin dari murid.
Sekitar 20 menitan setelah dimulainya pembelajaran, barulah batang hidungnya terdeteksi olehku. Dia mengetuk pintu dengan wajah yang sedang menahan malu.
"Maaf pak. Boleh saya masuk?"
"Kau tahu jam berapa sekarang?" Kata pak guru yang terlihat tidak senang.
"Maaf saya terlambat." Kata Nina sambil menunaikan kepala. Dan Nina pun menjadi bahan tertawaan seisi kelas.
"Kau tahu kan harus apa?" Kata guru dengan nada tak enak didengar.
"Iya pak, saya paham."
Nina pun mendapatkan hukuman menyanyikan lagu Indonesia Raya di depan kelas sebanyak tujuh kali. Lumayan sih bisa mengulur proses pembelajaran yang membosankan. Tapi sayangnya hal itu tidak begitu lama karena si Nina sengaja mempercepat dia bernyanyi agar momen menyebalkannya itu berakhir.
Setelah masa hukumannya berakhir, dengan cepat Nina langsung berjalan menduduki bangkunya. Dia duduk begitu saja di sebelahku tanpa memperdulikan posisiku. Ya mungkin karena dia tidak mau ketinggalan materi jadi dia lebih memfokuskan ke kegiat belajar.
...****************...
Ketika bel istirahat berbunyi, keadaan Nina masih saja sama. Dia terlihat ketek seolah tak peduli sekitar. Bahkan ketika teman perempuannya mencoba mengajak Nina ke kantin pun ia tolak.
Lalu timbullah niatanku untuk mengajaknya bicara.
"Tumben kau telat?" Tanyaku. Sebenarnya aku merasa gengsi sih mengajak dia bicara duluan. Tapi karena penasaran maka kubuang jauh-jauh gengsi itu.
"Kau bicara padaku?"
Mendengar hal itu aku hanya bisa melongoh. Aneh saja dia ditanya malah tanya balik.
"Kau pikir aku berbicara dengan siapa? Ya jelas sama kamulah!"
"Oh kukira kau tidak mau bicara padaku." Jawab Nina dengan nada aneh didengar.
"Kau masih marah dengan kejadian kemarin?"
Nina tidak menjawab pertanyaan dariku. Namun reaksi wajahnya itu seolah telah memberi kode jika dia masih marah padaku.
"Baru kali ini ada orang marah ketika diberi uang."
Kemudian terdengarlah bunyi pukulan meja. Pukulan itu berasal dari kedua tangan Nina yang entah kenapa marah tiba-tiba.
__ADS_1
"Kau ini sadar gak sih kalau sikapmu kemarin sangat merendahkanmu?!"
"Iya aku tahu kau tersinggung karena kau mengira aku menyamakanmu dengan itu. Tapi sungguh aku tidak ada niat begitu."
"Terus maksudnya apa kau bersikap seperti itu?!"
"Aku hanya sedang mengujimu saja."
"Menguji? Jadi kau masih tidak yakin dengan ketulusanku?!"
"Lah mau gimana lagi? Selama ini banyak yang bicara sepertimu, tapi ujung-ujungnya ketahuan juga niat asli mereka yang hanya mengincar uang."
"Terus apa maumu sekarang?" Kata Nina dengan tatapan sinis.
"Aku ingin kau menjadi temanku sesuai perkataanmu kemarin."
"Ngapain aku berteman sama orang yang tidak mempercayai ketulusanku?"
"Sekarang aku percaya." Kataku dengan nada penuh keyakinan. Awalnya dia terlihat ragu padaku. Lalu aku mengulurkan tangan ke ayahnya sebagai ajakan berjasa tangan selayaknya ketika kita kenalan sama seseorang.
Sebuah senyuman di wajah Nina pun terlihat seperti mengejek. Meski begitu dia merespon ajakan Jabatangan dariku. Kemudian kami saling memperkenalkan diri meski kami sudah saling lama kenal.
"Perkenalkan aku Ruiga Sasugara siswa paling kaya di sekolah ini."
"Yang kaya itu orang tuamu, bukan kamu! Kau ini hanya menumpang hidup pada mereka." Kata Nina dengan nada mengejek.
"Giliran apa?"
"Giliran memperkenalkan diri."
"Lah harus ya? Kau kan sudah tahu aku ini siapa."
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kau mau memperkenalkan diri."
"Yaelah ribet amat berteman denganmu. Iya deh. Perkenalkan namaku Nina Willya. Puas kau sekarang?"
Kemudian kita pun saling bertukar senyuman. Ini merupakan hari bersejarah bagiku karena di hari inilah aku mulai berteman dengan orang yang tepat. Bisa dibilang Nina adalah teman pertamanya di sekolah yang tulus tanpa ada maunya.
"Aku heran, kenapa hari ini kau telat? Biasanya kau selalu disiplin soal waktu."
"Tadi aku ada urusan penting."
"Apa itu?"
"Pagi-pagi buta aku harus membantu ibuku menyiapkan barang dagangan, dan setelah itu aku harus mengantarkan adikku sekolah dulu sebelum aku berangkat."
"Lah kau punya adik?" Aku terkejut mendengar itu.
__ADS_1
"Iya, dia masih belum berani berangkat sendiri karena dia masih kelas satu SD. Dan itu pun jarak sekolahnya juga jauh."
"Kenapa bukan ibumu saja yang mengantar adikmu?"
"Kan ibuku kerja. Biasanya sih adikku kalau berangkat bareng sama anak tetangga sebelah. Tapi karena dia hari ini tidak masuk, jadi adikku meminyaki mengantarkannya."
"Terus kenapa kau mau?" Mendengar pertanyaanku ini wajah Nina malah terkejut heran.
"Pertanyaan macam apa ini?! Ya jelas maulah! Terus siapa lagi kalau bukan aku?"
"Kan masih ada ayahmu."
"Dia sudah meninggal!" Jawabnya dengan nada ketus.
"Maaf. Tapi kenapa kau baru cerita hal ini sekarang? Padahal kita kan sudah kenal lama. "
"Kau sendiri juga kenapa baru menanyakan hal ini sekarang?"
"Iya deh aku yang salah. Kau maunya laki-laki duluan yang mengajak bicara gitu kan?"
"Tumben peka."
"Aku tadi malam sudah baca buku soal perasaan perempuan. Maunya perempuan itu laki-laki yang memulai duluan. Tapi aku merasa bersyukur..."
"Bersyukur bisa berteman denganku?"
"Bukan. Tapi bersyukur karena aku tidak punya adik."
Seketika saja kedua mata Nina melotot karena kaget. Pertanyaannya adalah kenapa dia kaget? Memang ada yang salah dari perkataanku?
"Memang apa masalahnya jika kau punya adik?" Pertanyaan Nina ini terdengar serius.
"Jika aku punya adik pasti aku akan terbebani oleh kehadirannya. Seorang adik itu merepotkan. Belum lagi seorang adik selalu mengganggu seorang kakak untuk bersantai. Dan jika ada apa-apa dengannya pasti akulah yang disalahkan."
"Bodoh!" Kata Nina sambil memukul kepalaku dengan sebuah buku LKS. Dipukul pakai benda seperti itu sih gak sakit sih. Tapi kenapa dia semarah itu reaksinya?
"Kenapa kau memukulku?!"
"Kenapa kau bilang seorang adik itu beban padahal kau ini tidak pernah merasakan punya adik?!"
"Tidak perlu merasakan, cukup mendengar ceritamu barusan saja sudah jelas bahwa seorang adik itu membebani kakaknya."
"Dih *****!"
Nina langsung membuang muka padaku. Dia memilih menyibukkan diri membaca buku dan tidak mau menanggapi perkataanku lagi.
Padahal kami baru saja mulai akur, eh tahunya dia malah ngambek lagi. Tapi menurut buku yang kubawa semalam, perempuan itu biasanya tidak lama marahnya. Asalkan laki-laki mau minta maaf duluan sih.
__ADS_1
...****************...