Kembaran Dari Dunia Lain

Kembaran Dari Dunia Lain
Kiamat


__ADS_3

Seminggu terisolasi di rumah sakit, Ruhisa mulai merasa jenuh. Tiap harinya cuma ia habiskan berbaring di ranjang pasien. Badannya lemas dan panas. Ingin sekali rasanya ia bangun dan menghirup udara segar dari jendela sana, namun hal itu tidak bisa.


Meski begitu Ruhisa tetap menjaga wajah cerianya yang selalu menjadi ciri khasnya. Dia terima semua walau terasa perih di dada. Yang bisa ia lakukan saat itu hanya berharap bahwa dirinya akan kembali pulih.


Ruhisa mulai merasa haus. Tangannya tak cukup tenaga untuk mengambil air mineral di meja sampingnya. Di ruang itu cuma ada dirinya saja seorang karena Ruiga sedang keluar untuk membeli sesuatu.


"Kak cepatlah balik!"


Sekitar 20 menitan barulah Ruiga kembali ke ruang inap itu. Dan betapa sedihnya Ruiga yang melihat adiknya dalam kondisi buruk. Ruiga pun mulai menyalahkan dirinya soal ini.


"Aku kembali."


"Aku haus...."


"Baiklah, akan aku ambilan minum."


Ruiga mengambil sentil air mineral, kemudian ia masukan sedotan agar adiknya bisa minum tanpa bangun.


Di situasi seperti ini Ruiga kembali teringat dengan masa kecilnya sewaktu kecil. Dulu ia pernah sakit juga walau tak separah sakit yang diderita Ruhisa. Itu cuma demam biasa yang membuat kedua orangtuanya panik. Dan pada saat Ruiga sakit itulah kedua orangtuanya berperan penting dalam mendampingi putranya hingga kembali pulih.


Dari ingatan Ruiga itu, akhirnya Ruiga menyimpulkan bahwa sosok orangtualah yang paling penting dalam situasi seperti ini.


"Ruhi, apakah kamu kangen ayah dan ibu?"


"Ya iyalah kangen. Mereka kan orangtua kita."


"Kalau begitu aku akan menelepon mereka."


"Jangan!!" Dengan spontan Ruhisa membantah.


"Lah kenapa? Aku yakin mereka bisa membuatmu lebih baikan."


"Kakak ini gila ya?! Kakak pikir mereka akan menerima kita seperti dulu lagi setelah kita kabur dari mereka?! Tentu saja tidak! Pastinya mereka akan marah besar."


"Tapi kita tidak ada pilihan lain."


"Dengar kak. Jika kakak memanggil mereka ke sini, maka sama saja kita bunuh diri. Kemungkinan terburuknya kita akan dipisahkan untuk selamanya oleh mereka. Aku tidak mau itu terjadi. Aku ingin tetap bersama kakak sampai akhir napasku."


"Kau yakin tidak butuh mereka?"


"Bukannya tidak butuh. Tapi aku takut jika mereka akan memisahkan kita untuk selamanya."


Ruhisa memohon agar kakaknya tidak memanggil orangtuanya ke sini. Awalnya Ruiga agak ragu soal itu, namun setelah melihat keyakinan Ruhisa dan air matanya, maka Ruiga mengiyakan permintaan adiknya.


"Ya sudah, kau tidur lagi saja."


"Aku bosan tidur terus."


"Terus mau apa? Dengan kondisi seperti itu kau tidak bisa berbuat apa-apa."


"Aku ingin keluar."


"Bodoh! Mana boleh begitu?!" Ruiga menolak kemauan adiknya.


"Cuma sebentar saja tidak masalah kan? Aku ingin naik kursi roda sambil didorong kakak ke suatu tempat yang dipenuhi oleh bunga."


"Lupakan saja soal itu! Dokter tidak memperbolehkan hal itu."


Ruhisa tak dapat membujuk kakaknya lagi. Dan akhirnya dia menyerah dan pasrah dengan keadaan.


...****************...


Hari silih berganti dan keadaan tidak semakin baik. Panas dari tubuh Ruhisa makin meninggi tiap harinya. Dokter yang menangani hal itu juga heran karena hingga detik ini ia tak bisa menemukan apa penyakitnya.


Tiap malamnya Ruiga cuma bisa menangis melihat keadaan adiknya yang makin parah. Ia merasa gagal menjadi apa yang terbaik buat Ruhisa. Ruiga pikir Ruhisa tidak akan semenderita ini apabila mereka tidak pergi dari rumah.


Karena dokter terbaik di kota itu tak bisa membantu, jadi teringatlah Ruiga dengan seseorang yang memungkinkan bisa menyembuhkan Ruhisa. Walau sebenarnya Ruiga tidak mau menemui sosok itu, tapi Ruiga tak ada pilihan lain.


"Zelus. Pasti dia bisa menyembuhkan Ruhisa." Kata Ruiga dalam hatinya.


Malam itu Ruhisa sudah tertidur. Jadi Ruiga bisa meninggalkannya sebentar untuk menemui Dewa Zelus. Ruiga yakin tidak butuh waktu lama untuk menemukan Dewa Zelus karena Ruiga masih merasa terhubung dengan dia.


Ruiga telah meninggalkan rumah sakit dan berlari ke arah yang jauh dari keramaian. Namun sewaktu Ruiga keluar dari rumah sakit, Ruiga melihat keanehan di luar.


"Kenapa.....?!"


Sebenarnya fenomena aneh ini sudah terjadi sangat lama sebelum Ruhisa sakit. Namun Ruiga baru menyadarinya sekarang. Fenomena itu adalah menghilangnya sebuah objek seperti bangunan rumah, pepohonan, gunung, jalan raya, dan manusia dunia alternatif.


Objek itu hilang seketika tepat di depan mata Ruiga. Ini sungguh aneh bagi Ruiga. Dan anehnya lagi penduduk setempat merasa biasa saja ketika suatu objek hilang di hadapan mereka. Seolah-olah mereka cuek tak peduli sekitar.


"Apakah ini yang namanya penghapusan dunia? Ini tidak bisa dibiarkan."


Cukup lama Ruiga mencari Dewa Zelus. Biasanya Dewa Zelus akan mudah ditemui di tempat sepi. Tapi kadang kala dia juga bisa ditemui di sebuah perkumpulan orang-orang yang sedang menyamar.


Berlari terus berlari sambil menyebut nama dewa penerima takdir. Namun tiada respon darinya. Dan yang didapatkan Ruiga cuma rasa lelah karena mencari.


"Si tua itu kenapa tega menghapus dunia ini!?!?"


Sebenarnya bukan hanya di Pulau Bali saja yang mengalami fenomena penghapusan. Namun ke seluruhan tempat dunia alternatif juga mengalami penghapusan objek secara perlahan. Bahkan kota asal Ruiga dan Ruhisa pun telah terhapus total.


Ruiga cuma bisa menunggu giliran pulau Bali mengalami penghapusan secara total hingga hanya menyisakan dirinya saja. Dan artinya Ruiga harus terima untuk berpisah dengan Ruhisa untuk selamanya.


"Ruhisa... Jangan sampai dia juga ikut hilang!!"


Ruiga berlari menuju kembali ke rumah sakit. Padahal baru ditinggal sebentar, tapi suasana rumah sakit yang tadinya ramai, kini menjadi agak sepi. Beberapa pengunjung di sana juga menghilang. Dan hal itu membuat hati Ruiga makin panik.

__ADS_1


Sesaat Ruiga sampai di depan ruangan Ruhisa dirawat, Ruiga melihat seseorang yang berdiri di depan pintu masuk. Awalnya Ruiga mengira bahwa itu adalah dokter. Namun ternyata salah. Itu adalah Dewa Zelus yang mengenakan pakaian dokter.


"Lama tak jumpa ya.... Rui."


"Berengsek kau!! Kenapa kau menghapus mereka?!" Tiga berteriak di hadapan Dewa Zelus.


"Lebih tepatnya tidak dihapus. Tapi karena daya tahan dunia ini telah rapuh."


"Apa maksudmu?!"


Dewa itu mengambil sesuatu dari jas dokternya. Ruiga pikir Dewa Zelus akan mengambil obat untuk menyembuhkan Ruhisa. Tapi Ruiga salah. Benda itu bukanlah obat, melainkan sebotol cairan gelembung sabun. Melihat hal itu Ruiga jadi makin kesal.


"Coba lihat ini!"


Dewa Zelus pun meniup satu gelembung dengan cairan itu. Tak ada yang istimewa dari gelembung itu. Itu cuma gelembung sabun biasa yang melayang di udara.


"Jangan main-main! Apa maksudnya melakukan itu?!"


Lalu gelembung itu meletus di udara.


"Kau lihat kan gelembung tadi kutiup lalu melayang di udara. Dan tak lama setelahnya gelembung itu meletus. Nah itulah yang akan terjadi pada dunia ini."


"Kau ini bukan Dewa! Kau ini iblis yang tidak punya hati....."


Ruiga yang termakan emosi langsung berlari ke arah Dewa Zelus untuk memukulnya. Tapi Dewa Zelus bisa menghindarinya dengan mudah.


"Sepertinya kau tidak mengerti apa maksudku."


"Makanya katakan secara jelas!!" Teriak Ruiga pada Dewa Zelus.


"Jadi gini, gelembung tadi diibaratkan sebagai dunia alternatif. Yang namanya gelembung pasti tidak akan bertahan lama dan akhirnya meletus. Itulah yang akan terjadi pada dunia ini yang juga akan menghilang bagaikan gelembung sabun tadi. Intinya bukan aku yang menghapus dunia ini, tetapi dunia ini akan terhapus dengan sendirinya secara perlahan."


"Kenapa kau tidak mencegah dunia ini terhapus?!"


"Pertanyaan bagus. Tapi aku ini dewa, bukan Tuhan. Aku bukan Tuhan yang bisa mengambil penuh alih kehidupan. Dunia alternatif dan isinya yang kubuat ini jauh dari kata sempurna. Dunia alternatif tak bisa disamakan dengan bumi yang jauh sempurna dan tahan lama. Kau paham kan apa maksudku?"


"Bahkan seorang dewa pun tak bisa berbuat banyak...?"


"Aku tahu kau ini anak baik yang terlanjur sayang dengan dunia ini. Kau menganggap manusia tiruan itu nyata seperti dirimu sendiri. Tapi faktanya mereka itu tidak bernyawa. Kau harus terima itu Rui. Kehidupan nyawamu di dunia sana jauh lebih berarti daripada di sini."


Ruiga pun menangis menangis mendengar itu. Dunia ini hampir menyentuh ujung waktu. Tak lama lagi dunia ini akan lenyap beserta dengan isinya. Inilah kiamat dunia alternatif.


"Kira-kira ada sisa berapa hari pagi sebelum Ruhisa dan dunia ini lenyap?"


"Aku tidak tahu pasti. Kira-kira bisa bertahan satu sampai tiga hari, atau mungkin cuma sampai besok saja. Ini adalah pertama kalinya dunia alternatifku mengalami penghapusan dengan sendirinya. Biasanya setelah urusan selesai aku langsung menghapusnya."


"Jadi sebelum aku ada orang lain yang pernah kau kurung di dunia ini?"


"Ada banyak. Tapi cuma kamu saja yang keras kepala dan yang paling lama berada di sini. Yah sampai di sini saja pembicaraan kita. Nikmatilah sisa harimu bersama Ruhisa."


Ruiga yang belum siap kehilangan Ruhisa tak ada hentinya meneteskan air matanya. Ia menangis tanpa bersuara. Kemudian ia masuk ke dalam untuk melihat adiknya yang masih tertidur.


"Ruhisa, andai saja kau bisa kubawa pulang ke duniaku." Kata Ruiga yang mengelus kening adiknya.


Semalaman itu Ruiga tidak tidur. Dia sengaja tidak tidur agar dirinya bisa lebih lama melihat adiknya.


Kabar buruknya adalah waktu penghapusan justru dipercepat. Kali ini tidak hanya satu persatu objek saja yang hilang. Tapi penghapusan terjadi di suatu wilayah seperti perkotaan yang tiba-tiba rata dengan tanah dan sebagainya.


...****************...


Keesokan hari di pagi yang cerah. Ruiga senang melihat adiknya bangun pagi. Seperti biasa Ruhisa selalu minta minum ketika bangun tidur. Dan Ruiga pun memberinya minum.


Ruiga tahu penghapus secara total bisa terjadi sewaktu-waktu, jadi Ruiga ingin melakukan sesuatu pada Ruhisa sebelum berakhirnya dunia ini.


Ruiga tidak pintar menyembunyikan ekspresinya sehingga Ruhisa dapat menebak apa yang dipikirkan Ruiga.


"Kakak kalau mau menangis, menangis saja. Jangan ditahan!"


"Ruhi...."


"Aku sudah tahu kok. Sebelum kakak bicara dengannya, dia sudah bicara dulu padaku."


"Dia? Apakah yang kau maksud Zelus?"


"Ya siapa lagi coba?"


"Bahkan meskipun kau tahu jika dunia ini akan dihapuskan kau tetap mencoba untuk tersenyum?"


"Ujung waktu sudah dekat. Aku ingin menikmati sisa waktuku dengan senyuman bahagia. Apalagi sisa waktuku ditemani oleh orang yang kucintai Hehe."


Ruhisa sadar kalau kesedihan itu bukanlah pilihan bagus. Kesedihan tidak akan merubah kenyataan apa pun yang terjadi. Ruhisa pikir daripada sedih menangisi sesuatu yang akan hilang, lebih baik melakukan sesuatu yang membuatnya senang sebelum masa hidupnya hilang.


"Jangan sok tegar begitu! Aku tahu kau juga ingin menangis kan?"


"Iya sih, kalau begitu ayo kita menangis bersama Hehe."


Ruiga berjalan menuju jendela. Ia membuka jendela agar udara segar bisa masuk ke dalam ruangan. Ruiga pikir itu tidaklah cukup. Lalu teringatlah Ruiga dengan permintaan Ruhisa untuk pergi ke kebun bunga.


Kebetulan di area rumah sakit ada taman bunga walau tempatnya tidak seluas kebun bunga di rumahnya. Tapi Ruiga pikir tempat itu cukup nyaman untuk didatangi.


"Apakah kau masih mau pergi ke kebun bunga?"


"Bolehkah?"


"Ayo ke sana selagi bisa!"

__ADS_1


Ruiga keluar ruangan untuk mencari kursi roda di rumah sakit. Anehnya bangunan rumah sakit yang begitu besar ini sepi tiada orang satu pun. Kemungkinan yang paling masuk akal adalah mereka sudah dihapus.


Ruiga tahu waktu itu segera tiba, maka dari itu Ruiga berlari cepat untuk mengambil kursi roda. Dia sangat terburu-buru mendorong kursi roda yang telah ditemukan menuju ruang inap Ruhisa.


Di rumah sakit itu cuma menyisakan Ruiga dan Ruhisa saja. Tiada orang lain lagi di sana. Tidak hanya orang di rumah sakit saja yang menghilang, namun seluruh manusia dunia alternatif sudah lenyap terhapus kecuali Ruhisa.


"Ruhisa!!"


Ruiga masuk membawa kursi roda. Akhirnya Ruiga bisa bernapas dengan lega setelah mengetahui bahwa adiknya belum dihapus.


Tanpa mau membuang waktu lagi, Ruiga langsung memindahkan Ruhisa ke kursi roda dan mendorong kursi roda itu keluar dari ruangan.


"Pelan-pelan saja kak! Tidak perlu terburu-buru."


"Kita harus cepat jika kau ingin ke tempat itu."


"Santai saja. Tidak perlu sampai ke sana. Bisa naik kursi roda sambil ditemani kakak saja sudah membuatku senang kok."


"Pokoknya kiya harus sampai ke sana karena aku terlanjur mengambil kursi roda."


Mereka pun akhirnya sampai. Sepi senyap di sana, namun Ruhisa tersenyum senang. Ruhisa menjadi teringat lagi dengan kebun bunga di rumahnya. Tempat itu indah.


Ruhisa nekad untuk berdiri dari kursi roda. Padahal Ruhisa masih belum sehat total. Ia memaksakan untuk berdiri dan berjalan sendiri meski hal itu sudah dilarang oleh Ruiga. Namun karena ini merupakan hal terakhir yang bisa dilakukan Ruhisa, maka Ruiga pun membiarkan Ruhisa melakukan itu.


"Jangan paksakan diri untuk berjalan!"


"Tenang, aku bisa kok. Coba lihat aku telah melangkahkan kakiku dan berjalan."


Sebetulnya Ruhisa berdiri dan berjalan sambil menahan sakit. Masih terlalu lemas tubuhnya untuk digunakan bergerak.


"Yakin kau merasa senang?"


"Hmm...." Ruhisa menganggukkan kepalanya.


Dan yang membuat Ruiga tercengang adalah kelakuan Ruhisa di situasi akhir. Ruhisa yang telah berdiri telah melepas kancing baju pasiennya. Ruiga yang melihat hal itu sudah tahu apa niat adiknya. Ruhisa mau telanjang di depan kakaknya.


"Senang banget sih kau telanjang di depanku?" Kata Ruiga dengan kesal. Namun Ruhisa malah tersenyum manis menanggapi itu.


"Manusia kan memang telanjang saat dilahirkan. Bertelanjang di taman bunga ini bagaikan menyatu dengan alam."


"Bukannya menyatu dengan alam, tapi kau justru seperti hewan yang tidak pakai apa-apa." Ejek Ruiga pada adiknya.


"Tapi kan di mata laki-laki, perempuan itu lebih cantik kalau tidak pakai baju?"


"........."


Ruiga memilih diam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Di situ Ruhisa sudah telanjang total dan berjalan mengelilingi taman bunga. Kemudian Ruhisa memetik salah satu bunga di situ. Bunga itu berwarna putih yang jenisnya tidak diketahui. Ruiga pikir jenis bunga itu cuma ada di dunia alternatif saja dan tidak ada di bumi.


"Kak, kakak lepas juga dong bajunya! Aku malu kalau telanjang sendirian..."


"Malu? Kau sama sekali tidak terlihat malu sedikit pun!! Selama kau telanjang di depanku kau selalu tidak malu seolah kau bangga memamerkan dadamu yang datar itu!!"


"Ya maaf jika punyaku tak sebesar milik Nina."


"Aku kan sudah menyuruhmu untuk tidak menyebut nama itu."


"Hahaha aku lupa."


"Hah apa boleh buat...."


Karena ini adalah permintaan terakhir Ruhisa, maka Ruiga mencoba mengabulkannya. Agak ragu Ruiga melepas baju di depan adiknya. Walaupun dulu ia pernah mandi bareng teman perempuannya, tapi itu sudah lama terjadi. Sekarang adalah masa yang berbeda di mana Ruiga sudah punya rasa malu.


"Sini biar aku bantu."


Langit menjadi gelap. Gelapnya tidak seperti mendung, tetapi seperti berada di luar angkasa. Setelah penghapusan objek, kini giliran penghapusan ruang dan waktu. Sepertinya Ruhisa akan dijadikan penutupan objek yang dihapus.


"Puas kau sekarang?" Kata Ruiga yang sudah telanjang bulat seperti adiknya. Ruhisa yang melihat itu tersenyum puas.


"Kita jadi seperti bayi yang baru terlahir lagi ya.... Andai saja kita punya waktu lebih banyak lagi."


"Cepat katakanlah sesuatu yang belum pernah kau katakan sebelumnya! Sebentar lagi taman bunga ini akan menjadi ruang hampa...."


"Kata-kata yang ingin kukatakan adalah 'aku sayang kakak.' Dah gitu aja..."


Ruhisa pun tersenyum. Kemudian ia mendekat pada kakaknya dan memeluk kakaknya dengan sangat erat. Mereka berdua sama-sama menangis tanpa bersuara.


Dunia itu sudah hilang tapi mereka berdua masih ada. Mereka melayang di ruang hampa seperti luar angkasa, hanya saja di situ tidak ada bintang dan masih bisa melihat tubuh mereka sendiri. Dan di situlah mereka melakukan 'Long Kiss Goodbye.'


Setelah ciuman panjang itu dilakukan, maka terlihatlah sebuah butiran cahaya yang menyelimutinya tubuh bugil Ruhisa. Lebih tepatnya butiran cahaya itu adalah bagian dari tubuh Ruhisa yang mulai melebur tiap detiknya.


"Sudah saatnya. Kakak jaga diri baik-baik ya di dunia kakak. Aku senang pernah menjadi sodari kembar kakak walau diriku yang sebenarnya tidaklah nyata."


"Jangan bilang begitu! Kau ini sungguh nyata bagiku. Kau, ayah, dan ibu adalah nyata di sini. Kau punya nyawa, rasa, dan pikiran. Dan kau akan selalu menjadi adik kembarku yang cantik. Terima kasih atas waktu berharganya...."


"Jangan sedih kak! Pasti kita akan berte......."


Belum sempat mengatakan kalimat terakhirnya, Ruhisa terlanjur lenyap menjadi butiran cahaya putih yang melayang di ruang hampa dan tersebar mengelilingi tubuh Ruiga.


Karena Ruhisa merupakan salinan jiwa dari Ruiga, maka butiran cahaya itu masuk kembali ke dalam tubuh Ruiga dan menyatu dalam jiwanya yang terpisah sebelumnya.


Setelah itu Ruiga tidak sadarkan diri lagi. Ruhnya telah kembali ke asalnya yaitu dunia manusia itu sendiri. Meski ruhnya telah kembali ke raga aslinya, Ruiga tetap belum bisa bangun. Belum ada hal yang bisa menjelaskan kenapa hal itu terjadi. Sepertinya karena belum ada waktu yang pas.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2