
Ruiga POV
Antara sadar dan tidak sadar aku merasakan bahwa ada yang menggenggam tangan kananku dengan erat. Waktu itu mataku masih terpejam dan tidak melihat apa-apa.
Ingin sekali aku membuka mata namun tak bisa entah kenapa. Namun genggaman tangan yang begitu erat itu secara tidak langsung telah membantuku untuk bangkit dari permukaan kehidupan.
Secara perlahan akhirnya kedua mata ini mulai terbuka walau kesadaranku belum seutuhnya ada. Butuh beberapa detik agar jiwa dan rahayu bisa berfungsi sama seperti diriku masih sehat.
Ada seseorang di samping kananku. Ia sedang menggenggam tanganku dengan erat seolah-olah sedang mendoakan aku. Penampakan itu belum terlalu jelas awalnya. Setelah aku memfokuskan pandanganku, akhirnya aku bisa melihat dengan jelas dan mataku terbuka dengan sempurna.
Oh benar, dunia itu sudah terhapus. Kini aku kembali ke dunia asalku yaitu Bumi. Aku sampai tidak bisa membedakan mana dunia alternatif dan mana dunia asalku. Karena keduanya terlihat sama 90% maka aku sulit membedakan.
"Selamat datang ke dunia Rui."
"Kau....?!"
"Ya ini aku."
Perempuan itu tersenyum padaku. Walaupun sedang tersenyum tetapi kedua matanya berair. Aku jadi bingung, sebenarnya dia itu sedang senang atau sedih?
"Kau di sini?"
"Setiap hari aku selalu di sini."
Jadi begitu. Selama rohku berada di dunia alternatif, ternyata dia yang selalu menjagaku. Bahkan kedua orangtuaku saja tidak terlihat wujudnya di sini.
"Kupikir kau benar-benar membenciku dan tidak mau bertemu aku lagi."
"Niat awalku memang begitu. Tetapi.... Aku tidak bisa melakukan itu. Dan aku menyesal karena waktu itu meninggalkanmu. Seharusnya waktu itu aku tidak kebakar emosi dan pergi begitu saja. Aku merasa gagal menjadi sosok sahabat."
"Bahkan setelah aku mengecewakanmu, kau masih peduli padaku....?"
"Sudahlah, jangan bahas itu! Yang terpenting kau sudah kembali ke sini. Dengan begini aku tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi. Tapi masalahmu masih belum selesai."
"Belum selesai?"
"Masalah dengan kedua orangtuamu belum kau selesaikan. Ingat?"
Benar juga. Keberadaanku di dunia alternatif itu cuma sebagai hukuman. Tapi bukan itu sumber masalahnya. Yang jadi awal masalah adalah sikap burukku terhadap mereka.
"Iya aku ingat. Aku akan minta maaf pada mereka setelah bertemu mereka."
"Sebentar lagi mereka akan datang."
Nina, dia masih mau berteman denganku? Aku merasa malu dengan diriku sendiri. Padahal di dunia nyata aku punya teman sejati, tapi waktu itu aku justru mengabaikannya dan memilih....
Ah sudahlah... Intinya mana pun yang kupilih pastinya selalu ada penyesalan di balik itu. Jika waktu itu aku memilih pulang bersama Nina, pasti aku akan menyesal karena telah meninggalkan Ruhisa, dan sebaliknya juga.
Setelah ini aku tidak tahu lagi mau ngapain. Tanpa Ruhisa di sini jelas akan terasa berbeda. Mulai detik ini tidak ada lagi yang akan memanggilku kakak. Tidak ada juga yang selalu menggodaku. Dan aku tidak bisa melihat tubuh telanjangnya lagi... Ahh gelembung itu meletus dengan cepat.
"Apa yang kau pikirkan?" Tiba-tiba Nina bertanya. Sepertinya dia tahu kalau aku sedang melamun.
"Tidak ada...."
"Jangan bohong! Aku tahu kau sedang memikirkan dia." Wajah Nina menjadi serius seperti mau marah.
"Eh siapa?"
"Jujur saja aku masih kesal dengan perbuatan kalian di dunia itu."
Sudah kuduga, pasti Nina belum memaafkan aku sepenuhnya. Jika dilihat dari ekspresi Nina waktu itu, ia begitu sedih, kecewa, dan marah padaku dan Ruhisa.
"Iya aku salah. Kau boleh marah padaku."
"Tutuplah matamu!"
Ha? Kenapa tiba-tiba ia memintaku menutup mata? Kupikir dia akan memarahiku habis-habisan.
"Kenapa aku harus menutup mata?"
"Karena aku mau menciummu."
Mencium?! Apakah aku tidak salah dengar? Dia masih ingin berciuman denganku meski hatinya telah terluka karena aku? Sulit dipercaya.
"Kau serius mau melakukannya?"
Nina hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. Apakah ini yang namanya cinta buta?
Lalu aku segera bangun agar kami bisa berciuman dengan posisi yang nyaman. Bagaikan sudah tak sabar untuk berciuman, aku segera menutup mataku. Dan dari situ perasaanku tidak enak. Sudah cukup lama aku menutup mata, namun bibirmu tak kunjung bersentuhan dengan bibirnya.
Beberapa detik kemudian....
Bukannya mendapatkan ciuman lembut, yang kudapat justru tinju maut dari Nina. Nina meninju mukaku dengan sangat keras. Aku yang terkena tinjunya langsung jatuh telentang di ranjang rumah sakit.
Tanganku yang memegangi wajahku merasakan suatu cairan di hidungku. Oh ternyata ini darah. Perempuan ini benar-benar monster. Seharusnya aku bisa menduga hal ini. Rasanya aneh dia mengajakku berciuman lagi setelah hatinya kubuat hancur tanpa sengaja.
__ADS_1
"Kenapa kau memukulku?"
"Karena aku sudah berjanji pada diriku bahwa aku akan memukul wajahmu begitu kau kembali ke dunia ini. Aku cuma mau menepati janjiku saja." Kata Nina tanpa rasa penyesalan.
Kemudian aku mengambil selembar tisu di meja sampingku. Lumayan banyak darah yang keluar dari hidungku. Aku tidak tahu apakah mukaku bengkak atau tidak, yang jelas pukulan tadi sangat sakit.
"Bilang saja kau masih dendam dengan kejadian waktu itu kan?"
"Nah tuh tahu. Karena aku dendam, makanya aku membuat janji itu. Tapi sekali lagi aku ucapkan selamat datang kembali ke dunia. Dah semoga kita berjumpa lagi di sekolah, bye."
Meski dia bilang membenciku, tapi dari wajahnya sama sekali tidak ada wajah kebencian. Perempuan itu membingungkan. Eh dia tadi bilang semiga kita berjumpa lagi di sekolah. Artinya pukulan tadi cuma amarah sesaat saja. Kami masih bisa berhubungan entah apa itu statusnya.
Tak lama setelah Nina keluar, lalu masuklah kedua orangtuaku yang terlihat panik berlari ke arahku. Ibuku menangis sambil merangkulku.
"Syukurlah kau bangun Rui. Ibu kangen...."
Aku tidak ingat pasti berapa hari aku berada di dunia itu. Yang jelas itu lebih dari dua bulan. Jadi tidak heran jika mereka merasa sedih.
"Maafkan kami Ruiga. Seharusnya kami tidak sekasar itu padamu." Kata ayahku yang juga menangis.
Bahkan ayah pun sampai menangis? Ternyata benar apa yang dikatakan Nina. Mereka masih menyayangi ku. Kupikir niatan mereka untuk punya anak lagi itu karena ingin menggantikan posisiku dengan anak baru mereka.
"Seharusnya aku yang minta maaf pada kalian. Banyak hal yang terjadi di dunia sana. Kini aku telah sadar kalau menjadi kakak itu gak sepenuhnya buruk. Aku tidak keberatan punya adik."
"Rui, ibu tidak salah dengar kan? Rui mau menerima adikmu?"
"Hah memang seharusnya begitu. Itu baru anak ayah." Ayahku pun terlihat senang.
"Aku tidak sabar menanti kelahirannya... Oh iya, bisakah kita pulang sekarang? Aku sama sekali tidak merasa sakit, jadi aku tidak perlu dirawat di rumah sakit."
"Tapi kan kau baru saja bangun. Istirahat saja dulu sampai besok. Setelah itu baru kita pulang. Lagipula dokter belum menemukan penyakitmu." Kata ibuku.
"Aku kan sudah bilang kan, aku tidak sakit. Aku cuma tidur panjang."
"Tertidur selama tiga bulan lebih? Yang benar saja! Ayah dan ibumu stres memikirkan nasibmu." Kata ayahku.
Tiga bulan lebih? Eh buset, lama sekali aku di dunia itu. Aku tidak mengira aku bisa bangun setelah tertidur selama itu. Dan ternyata benar, dunia alternatif itu cuma dunia mimpi. Sebuah dunia bawah dadaku ketika tubuhku tertidur.
Ruhisa, kakak ingin bertemu kamu.
...****************...
Dua bulan berlalu. Selama aku kembali ke kehidupan lamaku, ternyata selama aku tinggal di dunia alternatif sama sekali tidak ada perubahan. Kehidupanku di sekolah ini sungguh monoton.
Pagi itu aku berangkat sekolah. Dan tiba-tiba aku jadi teringat dengan Ruhisa. Biasanya kami selalu berangkat sekolah bareng. Tapi kini aku sendirian. Aku merindukan kembaranku dari dunia lain.
"Baiklah."
Aku pun masuk ke dalam, lalu berangkatlah mobil ini ke sekolah. Aku menoleh ke kursi samping yang kosong. Bahkan meski aku tahu dia dan dunia itu sudah dihapus, tapi aku masih merasa bahwa dia masih ada bagiku. Terkadang secara samar-samar aku mendengar suara Ruhisa yang memanggilku kakak.
Dan inilah kehidupan lamaku tanpa Ruhisa. Kembaran yang awalnya aku benci, tapi aku justru suka padanya. Seandainya saja Ruhisa terlahir kembali ke dunia ini.
Ah sudahlah, lebih baik aku segera move on dari dunia yang tidak nyata itu. Kehidupanku di sini jauh lebih berarti.
Lalu turunlah aku dari mobil dan berjalan menuju kelasku. Begitu aku memasuki kelas, aku disambut hangat oleh Nina yang menanti bangku kami. Hubungan kami mulai membaik setelah aku kembali bersekolah. Kami telah berjanji untuk tidak membahas kejadian di dunia alternatif lagi.
Hanya saja... Aku merasa ada yang terlewatkan. Itu adalah sebuah perasaan. Ungkapan rasa dari Nina waktu itu belum mendapatkan kepastian dariku.
"Selamat pagi." Kata Nina.
"Pagi...."
"Ngapain masih berdiri di situ? Cepat duduk karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai."
Aku pun duduk di sampingnya sambil menunggu guru datang. Namun setelah bel masuk berbunyi, sang guru pun tak kunjung datang.
"Nin..."
"Apa?"
"Aku mau bertanya."
"Iya apaan?"
"Apakah perasaanmu masih sama?"
"Kenapa kau baru menanyakan hal ini sekarang?"
Dari cara bicaranya sepertinya Nina paham perasaan apa yang kumaksud. Aku yang mencoba untuk peka pun langsung berterus terang.
"Sebenarnya aku ingin bilang ini sejak aku kembali ke dunia ini. Tapi setelah kau memukulku waktu itu, aku jadi takut untuk membahasnya lagi."
"Dih *****..." Jawaban Nina seperti tidak puas sekaligus kecewa.
"Iya aku memang *****. Tapi kita perlu memperjelas hubungan kita kan?"
__ADS_1
"Dulu kan aku sudah bilang kan kalau kau tidak memaksamu untuk membalas perasaanku. Aku cuma ingin mengungkapkan isi hatiku padamu saja."
"Lalu apakah kau tidak mau tahu perasaanku padamu?"
"Gak perlu!" Jawab Nina dengan nada sewot.
"Tapi kenapa?"
"Pakai nanya lagi kenapa!! Dari perbuatan bejatmu bersama Ruhisa saja aku sudah tahu isi hatimu. Kau ini memang laki-laki ***** yang gak punya otak. Padahal Ruhisa itu adalah adikmu, tapi kau malah melakukan adegan terlarang bersamanya! Kau ini ***** banget sumpah!!!"
"Iya kau benar.... Sepertinya aku memang tidak pantas untuk mencintai atau dicintai. Lupakan saja perkataanku tadi."
"Tetapi bohong jika aku bilang kalau aku tidak mencintaimu."
"Apa?"
"Aku cinta padamu, tapi aku tidak mau menjalin cinta padamu. Dah gitu saja."
Lah kok... Maksudnya apaan? Cinta tapi tidak mau menjalin cinta? Aku tidak paham apa maksudnya.
"Maksudnya apaan?"
"Punya otak kan? Pikir saja sendiri maksudnya apa! Sudah berengsek, ***** lagi! Gak guna kau hidup!!"
Dia marah. Ya aku terima kalau dia marah. Tapi aku masih tidak mengerti apa maksud perkataannya tadi.
Intinya gara-gara aku membahas hal tadi, kini aku jadi dicuekin selama berada di kelas. Dia jadi tidak mau bicara lagi meski ia tahu aku sedang mengajaknya bicara.
Dan setelah pelajaran berakhir, akhirnya waktunya pulang tiba. Sebelum dia pulang aku perlu memberitahu sesuatu pada Nina.
"Jangan pulang dulu!" Kataku padanya. Tapi Nina cuek saja dan mencoba pergi. Aku tidak mau menyerah begitu saja. Dengan sifat aku tahan tangannya agar tidak pergi.
"Apa sih maumu?!" Kata Nina dengan nada sewot.
"Aku cuma mau memberitahu. Diperkirakan nanti malam ibuku mau melahirkan. Apakah kau mau datang untuk melihat adikku? Tapi jika tidak mau datang juga tidak masalah. Dah kau boleh pergi."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi aku langsung keluar dari ruang kelas. Begitu aku sampai di pintu gerbang sekolah, aku melihat mobil jemputan supirku di sana. Tapi sekilas aku seperti melihat sosok Ruhisa yang melambaikan tangan padaku di depan mobil. Sayangnya hal itu cuma imajinasiku saja.
...****************...
Sesuai prediksi dokter, ibuku benar mau melahirkan malam harinya. Waktu itu pukul 19.00 tepat ibuku dibawa ke ruangan bersalin. Aku dan ayahku cuma bisa menunggu di luar ruangan.
Ayahku terlihat panik mondar-mandir di depan pintu, sementara aku cuma duduk diam di tepi lantai. Tak lama kemudian terdengarlah suara langkah kaki yang mendekat. Dan ketika aku menoleh, ternyata itu Nina.
"Kau datang..."
"Apakah aku telat?"
"Tidak ada kata telat. Aku senang kau datang."
"Setelah dia tumbuh besar, jangan sampai kau melakukan hal bodoh padanya seperti yang pernah kau lakukan bersama Ruhisa!"
Astaga, ternyata dia masih memikirkan hal itu. Tapi gak mungkin banget kan aku akan berciuman dengan adik kandungku sendiri di dunia nyata. Karena adikku yang ini bukanlah adik kembarku Ruhisa. Karena mereka berdua adalah pribadi yang beda, maka perasaanku ke mereka juga berbeda.
"Tentu saja tidak. Dia bukan Ruhisa, jadi mana mungkin aku melakukan itu."
"Pokoknya awas saja kalau aku sampai dapat kabar kalau kau begituan sama adikmu lagi!"
"Tidak akan."
Aku lupa sudah berapa lama ibuku ada di ruangan itu. Dan tak lama kemudian terdengarlah suara bayi menangis. Mungkinkah dia adikku? Aku pun tak sabar untuk melihatnya.
Ternyata tidak secepat itu untuk bisa melihat adikku. Perlu beberapa prosedur agar si bayi bisa diserahkan ke keluarga.
Dia adalah bayi perempuan yang sehat. Setelah menjalani prosedur rumah sakit, ibuku diperbolehkan untuk menggendong adikku yang belum ada nama.
"Sial, ayah pikir bayinya laki-laki."
"Kan sebelumnya dokter sudah bilang kalau bayinya perempuan. Gimana sih ayah ini." Kata ibu.
"Laki-laki atau perempuan itu sama saja kan? Lagipula Om sudah punya Ruiga sebagai anak laki-laki. Walau Ruiga tidak bisa diandalkan, tapi dia tidak jelek-jelek amat kok om Hehe." Kata Nina.
Apa-apaan Nina berkata seperti itu?
"Yang dikatakan Nina benar. Jenis kelamin bukan masalah. Dengan lahirnya anak perempuan kita, maka anak kita sudah lengkap yaitu laki-laki dan perempuan." Kata ibuku.
"Bolehkah aku yang memberikan nama untuk adikku?"
Ayah dan ibuku terlihat kaget mendengar kata-kata dariku. Setelah terdiam sejenak, akhirnya Ibuku berkata: "Boleh saja, tapi jangan diberi nama yang aneh ya!"
"Sepertinya aku tahu deh nama yang akan kau berikan." Kata Nina.
"Hm, benar. Namanya adalah Ruhisa. Ruhisa Sasugara." Kataku pada mereka.
"Sudah kuduga." Kata Nina.
__ADS_1
Dilihat dari wajah mereka, nampaknya mereka merasa tidak keberatan. Mereka menyetujui saja nama yang kuberikan pada adikku. Dan pada saat itulah aku resmi menjadi seorang kakak sungguhan.
...TAMAT...