
Liliya yang melihat putranya sedang berduaan bersama perempuan pun dianggap buruk di matanya. Dari dulu Liliya memang sangat tidak membolehkan Ruiga pacaran. Tentu saja hal itu bukannya tanpa alasan, melainkan demi menghindari kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
Liliya berjalan dengan kecepatan tinggi. Dia pun langsung menghampiri Ruiga. Sayangnya bukan Ruiga yang pertama kali menyadari kehadiran Liliya, tapi si Nina yang sadar duluan. Kemudian Nina pun menepuk punggung Ruiga agar Ruiga memperhatikan siapa yang baru saja datang.
"Oh ibu pulang."
"Kalian sedang apa?" Tanya Liliya dengan wajah sangat serius.
"Sedang apa? Ibu bisa melihat sendiri kan kami sedang apa?"
Penasaran dengan layar laptop yang mereka lihat Liliya pun segera mengecek layar laptop tersebut. Liliya pun merasa lega karena yang terlihat di layar bukan film dewasa maupun hal yang berbau negatif. Tapi tetap saja Liliya mencurigai mereka.
"Maaf tante, aku numpang wifian di sini untuk mengerjakan tugas sekolah." Kata Nina dengan senyuman ramah.
"Awas ya kalian jangan berbuat macam-macam!" Kata Liliya yang mencoba memberi mereka peringatan.
"Lah memangnya kami mau ngapain?" Wajah Ruiga nampak heran dengan sikap ibunya yang tiba-tiba aneh.
Tanpa memperdulikan mereka lagi, Liliya pun langsung masuk ke dalam. Ia merasakan seolah si jabang bayi ingin ibundanya rebahan di kamar. Tapi bukan berarti jika Liliya melepaskan anaknya dari pengawasan. Sebelum Liliya masuk ke kamar, dia sempat memberi perintah pada para pembantu dan tukang kebunnya untuk mengawasi pergerakan Ruiga dan Nina.
"Sepertinya ibumu tidak suka aku Rui."
"Ya jelaslah gak suka. Kan ibuku masih normal."
"Dih *****! Bukan itu maksudnya!"
"Terus apa?"
"Kau ini tidak peka banget sih! Jelas banget kan sifatnya barusan itu sangat tidak wajar. Sepertinya ibumu membatasi pertemananmu dengan lawan jenis."
"Nah kali ini kau benar."
"Eh tapi kenapa? Kau kan sudah besar kan? Masa iya Ibumu membatasi pergaulanmu dengan perempuan. Ibuku saja tidak sampai segitunya."
"Ibuku tidak mempercayaiku. Makanya dia melarangku bergaul dengan perempuan."
"Maksudnya tidak percaya itu.....?"
"Dia takut aku menghamili anak orang. Makanya dia melarangku bergaul dengan perempuan. Tapi itu dulu sih sewaktu aku masih awal-awal SMP."
"Astaga dragon! Kau serius?! Aku merasa ragu soal itu. Aku yakin bukan cuma itu saja alasannya. Pasti ada alasan lain dibalik itu."
"Gak kok. Alasannya benar karena dia takut aku menghamili anak orang."
"Lah kok ibumu bisa sih kepikiran sampai ke situ? Iya sih pergaulan anak laki-laki dengan perempuan perlu diawasi. Tapi kan.... haruskah sampai seperti ini? Setidaknya ibumu memberi sedikit kepercayaan gitulah padamu. Kan gak mungkin juga kamu cuma bergaul sama anak laki-laki terus? Suatu saat kau juga butuh bergaul dengan lawan jenis yang seusia."
"Kenapa kau peduli ini? Aku yang dilarang saja biasa saja. Lagipula sikap ibuku barusan masih mendingan dari yang dulu. Bisa dibilang kau sungguh beruntung karena kau tidak diusir ibuku tadi. Dulu teman perempuan SMP pernah datang ke sini, lalu dia diusir."
"Gak mungkin ibumu mengusir orang tanpa sebab. Aku yakin temanmu itu melakukan sesuatu yang membuatnya diusir."
"Sama seperti yang kita lakukan saat ini. Waktu itu kami sedang belajar kelompok. Satu kelompok terdiri dari empat orang, dan akulah satu-satunya laki-laki di kelompok itu."
"Lalu apa yang kalian lakukan? Pasti kalian melakukan sesuatu yang aneh-aneh kan?"
"Hm karena hari itu cuaca panas, maka kami memutuskan untuk mandi."
"Tunggu dulu! Jangan bilang kau mandinya....."
"Kami mandi bareng berempat."
Mendengar hal itu Nina langsung menetesi buku pelajaran yang ia bawa, kemudian ia bersiap untuk pulang.
Tentunya hal itu membuat Ruiga heran kenapa rekan kerja kelompoknya meninggalkannya padahal tugas mereka belum selesai.
Nina pun setengah berlari mendekat ke pintu gerbang untuk meninggalkan rumah itu. Namun hal itu bisa dicegah oleh Ruiga dengan memberi aba-aba pada satpam penjaga gerbang untuk menutup gerbangnya.
Setelah itu Ruiga datang dan berkata: "Kenapa tiba-tiba kau pergi?"
"Buka gerbangnya! Aku mau pulang."
"Tapi kan tugasnya belum selesai."
"Mending aku kerjakan sendiri saja di rumah."
"Loh kenapa tiba-tiba kau marah? Memang aku mengatakan hal yang salah lagi? Aku kan tidak menyamakan kamu dengan lont* seperti dulu."
"Kata-katamu tidak salah. Aku pulang karena aku takut."
Sedikit butuh berpikir untuk memahami perkataan dari Nina. Ruiga masih tidak paham apa maksud teman sebangkunya itu.
"Takut apa? Tidak ada hantu di sini, apalagi di siang bolong gini."
"Aku takut kau mengajakku mandi seperti yang pernah kau lakukan bersama temanmu dulu."
"Eh kau ini... Kukira karena apa. Kenapa kau bisa berpikiran sejauh itu?"
"Sudah jangan katakan apa-apa lagi! Buka gerbangnya agar aku bisa pulang."
__ADS_1
"Sebelum kau pulang kau harus dengar hal ini dulu. Kau jangan samakan aku dengan yang dulu! Kami dulu kan masih polos. Waktu itu kami masih SMP kelas satu dan itu pun baru awal-awal semester. Kalau sekarang aku sudah paham hal itu tidak boleh dilakukan."
"Aku tidak yakin soal itu. Sifat dasar laki-laki itu adalah mesum. Mendengar ceritamu tadi aku jadi ngeri. Kukira kau ini cuma anak manja yang tidak tahu apa-apa. Tapi...."
"Tapi apa?"
"Gak apa-apa."
"Hah?"
Karena sudah tidak ada yang bisa dibicarakan lagi maka Ruiga memberi perintah pada satpam agar pintu gerbang dibuka. Dan begitu pintu gerbang terbuka, maka berlarilah dengan kencang Nina.
Pak satpam pun cuma geleng-geleng menyaksikan hal itu sambil menahan senyum.
...****************...
Setelah merasa baikan Liliya mencoba bangkit dari ranjangnya. Dia mau memeriksa keadaan di luar apakah anaknya sedang melakukan sesuatu yang aneh atau tidak.
Ketika Liliya memeriksanya di teras, maka yang terlihat cuma beberapa kursi yang ditata rapi dan satu meja panjang. Kedua anak itu tak lagi di sana. Kemudian Liliya memanggil pembantunya untuk dimintai laporan tugas pengawasan putranya.
"Apakah Ruiga tadi melakukan sesuatu yang dilarang?"
"Tidak bu. Mereka cuma mengobrol sambil mengerjakan tugas sekolah. Dan setelah itu perempuan itu pergi."
"Oh syukurlah." Kata Liliya sambil mengelus-elus dada.
"Sepertinya Ruiga sudah dewasa bu. Dia sudah tidak sepolos seperti dulu."
"Dia masih belum dewasa. Terlalu dini untuk menyebut dia sudah dewasa. Ya sudah, kembalilah pada tugasmu!"
"Oh iya nyonya. Kalau boleh kasih saran, apa lebih baiknya Ruiga dikasih tahu soal kehamilan nyonya. Lebih baik dia dikasih tahu oleh nyonya sendiri daripada dia tahu secara mendadak. Jadi pas si bayi lahir nanti Ruiga tidak kaget."
"Mungkin perkataanmu ada benarnya."
Si pembantu pun kembali menjalani tugasnya. Lalu Liliya berjalan mencari keberadaan putranya. Dia pikir dia perlu mengobrol sedikit.
Tak lama kemudian Ruiga terlihat di pinggir kolam. Dia sedang duduk di tepi dengan posisi kedua kakinya berada di air. Secara perlahan Liliya mendekatinya.
Tak merasa curiga atau memandang ibunya dengan aneh, Ruiga pun membiarkan ibunya berada di sampingnya.
"Apa ibu masih mau membahas soal tadi? Dia kan sudah pergi."
"Sebenarnya ibu masih ingin menasihati banyak hal soal tadi. Tapi bukan karena itu ibu ke sini."
"Terus?"
Sulit baginya untuk memutuskan apakah sekarang adalah waktu yang tepat atau tidak. Tapi jika tidak segera diberitahu, maka Liliya yakin Ruiga akan segera menyadarinya karena sebentar lagi usia kandungannya akan memasuki bulan kelima.
"Kenapa diam? Bukannya ibu paling bersemangat kalau sedang ceramah?"
"Ibu bingung ngomongnya."
"Tinggal ngomong aja apa susahnya coba?"
Liliya pun menghembuskan batasnya sejenak. Lalu sambil berdoa dalam hati dengan harapan putranya bisa menerima takdirnya sebagai kakak, maka dimulailah.
"Kamu masih penasaran tidak kejutan yang pernah kami bilang dulu?"
"Bagaimana bisa lupa? Tiap malam saja aku hampir tidak bisa tidur akibat penasaran tentang itu."
"Benarkah? Kalau begitu siapkan dirimu sekarang karena ini akan memberimu kejutan hari ini juga!"
Wajah suka cita dari Ruiga pun terlihat bersinar hingga telah menghapus rasa lesunya karena ditinggal oleh Nina.
"Cepat katakan apa kejutannya?!"
"Oke... ini pasti berjalan dengan baik. Lagipula Ruiga sudah besar, dan aku yakin dia pasti sudah tidak keberatan." Kata Liliya dalam hati. Lalu mulailah Liliya mengatakan kebenaran, "ibu hamil."
Suasana menjadi hening seketika. Wajah yang tadinya terlihat semangat dan tidak sabaran pun telah sirna menjadi tatapan kosong.
"Artinya aku akan....."
"Kau akan menjadi kakak." Kata Liliya sambil mencoba tersenyum.
"Artinya aku akan digantikan gitu kan?!" Kata Ruiga dengan nada marah.
"Kenapa kau berpikir seperti itu!? Tidak ada yang bisa menggantikanmu!"
"Halah! Aku pernah dengar kau dan ayah bilang ingin punya anak yang lebih baik dariku. Artinya kalian ingin sudah tidak membutuhkanku lagi. Makanya kalian bikin anak lagi!"
"Jangan sembarangan bicara. Seburuk kelakuanmu kami tetap menganggapmu anak. Dewasalah sedikit! Kau sudah SMA, artinya kau sudah pantas menjadi kakak."
"Kalian menyebalkan! Pokoknya aku tidak rela punya adik!" Kata Ruiga dengan nada kasar.
Keributan itu menyebabkan Reiga terpanggil ke lokasi kejadian. Padahal Reiga baru asik-asiknya menyaksikan siaran bola di televisi. Namun karena di area kolam renang terdengar ribut, maka ke sanalah Reiga.
Begitu sampai di kolam renang, Reiga langsung disuguhi perdebatan antara ibu dan anak. Reiga masih belum tahu apa yang mereka ributin. Reiga baru paham setelah Ruiga bilang: "Aku tidak mau menjadi kakak!" Dari kalimat tersebut sangat jelas alasan mereka ribut.
__ADS_1
"Sabar Liliya! Jangan ikutan emosi! Biar aku yang mengatasi ini." Kata Reiga pada istrinya.
"Beritahu anakmu ini! Aku sudah kehabisan kata-kata untuk menasihatinya."
"Ruiga, mau tidak mau kau harus menjadi seorang kakak. Tidak ada buruknya kok menjadi seorang kakak. Apalagi jika kau punya adik laki-laki, pasti itu lebih seru."
"Mau laki-laki atau perempuan aku tidak peduli! Yang namanya adik itu adalah beban!"
"Kau bilang begitu karena kau takut kami akan lebih sayang pada adikmu kan?"
"......"
Ruiga terdiam tak bisa menjawab.
"Tenang saja. Sebisa mungkin kami akan berusaha bersikap adil pada kalian. Meskipun kau sudah punya adik, kami tetap akan membelikan barang yang sebenarnya tidak kau perlukan itu."
"Omong kosong! Sejak dulu aku sudah merasa kalian ini tidak menyukaiku. Maka dari itu kalian punya anak lagi untuk menggantikanku."
"Astaga... Kau ini dari dulu gak berubah! Liliya gimana ini?"
"Lah tadi kau bilang kau yang akan mengurusnya?"
"Haduh. Aku juga bingung mau bicara apa lagi... "
"Pokoknya aku tidak mau punya adik!!" Teriak Ruiga dengan keras.
"Ibumu terlanjur hamil. Terus kau bisa apa? Mau tak mau kau harus menerima adikmu. Jalani saja dulu, setelah itu coba rasakan enaknya punya adik!"
"Kalau begitu gugurkan saja!"
Kaget bagaikan tersambar petir, Liliya dan Reiga pun jantungnya hampir copot. Dari mereka berdua tak pernah terprediksi sedikit pun jika Ruiga akan mengucapkan kata-kata yang membuat mereka sakit.
Merasa sudah sangat keterlaluan, dengan rasa kesal Reiga pun meninju pipi kiri anaknya. Pukulan itu lumayan kuat hingga membuat tubuh Ruiga ambruk ke lantai.
"Reiga!!! Apa-apaan kau ini?!" Kata Liliya yang panik dan kaget. Lalu ia pun mendekat ke arah Ruiga untuk memastikan bahwa putranya baik-baik saja.
Ruiga masih sadar dan dia telah terbangun dengan posisi terduduk. Terlihat ada bengkakan di bagian pipi kirinya. Dan ketika Ruiga meludah, maka terlihatlah ludah itu bercampur dengan darah.
"Apa kau sadar apa yang kau katakan barusan?" Tanya Reiga dengan kedua mata yang melotot.
"Ya aku sangat sadar. Dan aku sama sekali tidak menyesalinya." Kata Ruiga dengan nada menantang.
"Oh jadi kau mau dipukul lagi?!"
"Stop jangan lakukan lagi! Mau dipukuli berapa kali pun itu tidak akan meriah apa pun!" Kata Liliya sambil menahan suaminya untuk memukul putranya lagi.
"Sekarang juga pergi dari sini! Anak gak tahu diri sepertimu tidak pantas disini!" Bentak Reiga pada anaknya.
Ruiga pun bangkit berdiri lalu berkata, "tidak usah disuruh pun aku juga mau pergi." Dan Ruiga pun berjalan mendekati gerbang rumahnya.
Tak seperti suaminya yang cuek saja melihat anaknya mau pergi, Liliya justru mengejar untuk mencegah anaknya pergi.
"Jangan pergi! Ayahmu cuma emosi sesaat. Setelah kau minta maaf, maka keadaan akan seperti semula."
"Aku tidak akan minta maaf. Aku akan pergi jika kalian ingin aku pergi."
"Kau pikir kau mau pergi ke mana? Di luar saja dunia sangat kejam."
"Ke mana saja tidak masalah. Sekarang nikmati saja anak baru kalian! Ya itu pun jika dia berhasil lahir."
Ruiga tak lagi berada di rumahnya. Kata-kata dari ibunya tidak ia hiraukan, dan ayahnya pun juga sudah merasa bodi amat.
Liliya pun menghampiri suaminya yang saat itu sedang duduk di kursi dekat kolam renang. Dia terlihat biasa saja seolah tidak menyesal telah memukul dan mengusir anaknya.
"Apa kau sadar perbuatanmu tadi?
"Ya aku sangat sadar. Apa ada masalah?"
"Tentu saja masalah! Kenapa kau tega mengusir anakmu sendiri?! Jadi dugaanku benar kan kau ini memang tidak sayang padanya hanya karena dia anak manja yang suka minta-minta!"
"Justru aku berbuat seperti itu karena aku sayang padanya! Sesekali dia perlu diperlakukan kasar agar pikirannya terbuka."
"Gak begitu masalah kalau kau memukulnya. Tapi sungguh kelewatan kau ketika mengusirnya. Kau tidak kasihan dia mau bagaimana di luar sana? Dia belum dewasa dan dia belum bisa cari uang sendiri."
"Kalau kau tidak ingin dia pergi, kenapa kau tadi tidak mencegahnya? Kalau kau mau seharusnya kau bisa mencegahnya dengan cara menyuruh satpam. Tapi kau lebih memilih menasihatinya dengan kata-kata yang mustahil bisa dia terima."
"Aku pikir dia tidak serius akan pergi. Cepat bawa dia kembali!"
"Tidak perlu dicari pasti dia balik lagi. Kau pikir dengan sikap Ruiga saat ini dia bisa bertahan di dunia luar sendiri? Itu mustahil. Pasti dia balik lagi karena sifat manjanya itu tidak akan betah berada di luar. Aku yakin itu."
"Lalu bagaimana jika dia tidak kembali?"
"Pasti kembali. Percaya deh!"
Harapan Liliya setelah matahari tenggelam adalah kembalinya Ruiga ke rumah itu. Namun setelah berjam-jam menunggu tanpa kepastian, putranya pun tak kunjung kembali.
Namun Reiga tetap tidak menyesal. Dia sangat meyakini jika Ruiga pasti akan kembali secara cepat atau lambat. Baginya ini hanya masalah waktu.
__ADS_1
...****************...