
Bara menghabiskan waktu disebuah club malam, pikirannya masih bergelut. Perasaannya kepada Kikan belum hilang sampai detik ini.
Terlalu egois memang, tapi itulah kenyataan bahwa bayang\_bayang Kikan tak pernah pudar sedikitpun. Dengan langkah gontai Bara berjalan menuju mobil yang berada diparkiran.
Aku harus berbicara dengan Kikan. Gumannya.
Kecepatan mobil diatas rata ditambah pengaruh alkohol membuat Bara seakan lupa dengan keselamatan dirinya.
Cinta terkadang bisa membuat seseorang menjadi buta, banyak dari mereka yang malah lari kejalan salah. Menenggak minuman berahkohol cara cepat seseorang menyelesaikan masalah, padahal tanpa mereka sadari itu akan membahayakan kesehatannya.
...
Didalam kamar selepas makan siang Malik dan Kikan saling diam tak satupun ucapan keluar dari mulut mereka.
"Mas, kamu kenapa ko diem aja ?" Kikan memulai percakapan.
Malik hanya menggelengkan kepala pelan dan beranjak kekamar mandi meninggalkan Kikan seorang diri. Kikan ikut menyusul suaminya, tapi pintunya langsung ditutup cepat oleh Malik.
"Mas." Panggil Kikan sambil mengetuk pintu kamar mandi.
__ADS_1
Tak ada sahutan Kikan terpaksa menunggu suaminya keluar dari dalam sana. Satu jam sudah Kikan menunggu, tak ada tanda bahwa Malik akan keluar. Saat Kikan hendak melangkah, pintu kamar mandi terbuka menampilkan Malik yang sudah rapi dengan stelan baju tidur lalu beranjak naik kekasur berbaring dan memunggungi sang istri.
"Mas, aku minta maaf ya kalau aku salah. Mas jangan diamkan aku seperti ini." Ucap Kikan disamping Malik.
Bukan tanpa alasan Malim marah dan mendiamkan Kikan, sebelum turun dari mobil Malik memeriksa Hp Kikan yang tiba_tiba mendapat pesan dari Bara.
*Kan, apa benar kamu sudah menikah. Ko tidak memberi tahu aku...
Kan kamu kan sudah tahu tentang perasaan aku, tapi kenapa kamu malah memilih orang yang baru kamu kenal....
Kan jawab pertanyaan aku....
Kan aku mau besok kita bertemu dicafe tadi....
Kan pokoknya aku tunggu kamu besok jam 10 pagi*....
Semalaman mereka saling diam Malik memunggungi sang istri tanpa berbalik sedikitpun.
Mentari pagi bersinar, Kikan terbangun dan melihat kearah samping suaminya masih tertidur lelap dengan posisi yang masih sama.
"Mas, bangun Mas udah pagi." Kikan memegang lengan suaminya dan mengoyangkan sedikit.
Malik membuka mata perlahan lalu bangkit dan bersandar ditempat tidur.
__ADS_1
"Mas kenap sih ? dari semalam diam terus." Ucap Kikan pelan.
"Kalau aku ada salah aku minta maaf ya." Sambungnya.
"Kamu kenapa gak pernah cerita ke Mas, kalau Bara itu pernah suka sama kamu." Malik berbicara tanpa melihat Kikan.
"Mas tahu dari mana." Kikan langsung gugup meremas kedua tangannya pelan.
"Gak penting Mas tahu dari mana, intinya kamu sudah gak jujur sama saya." Malik berkata tegas.
"Bukan mak...
"Udahlah gak usah kamu bahas." Malim berkata dan beranjak pergi.
Kikan langsung menahan suaminya. "Maaf Mas aku salah." Ucap Kikan yang langsung memeluk Malik dan menangis didada suaminya.
"Aku janji akan jujur soal apapun termasuk tentang Bara." Ucapnya dengan tangisan yang belum reda.
Malik yang tak tega langsung merangkul istrinya dan menduduki diatas kasur.
"Udah ya gak usah nangis Mas percaya sama kamu." Malik mengusap sisa air mata diwajah Kikan.
"Tapi, Mas gak suka cara kamu yang gak mau jujur" Lanjutnya menatap Kikan.
__ADS_1
"Iya Mas, aku janji akan jujur sama Mas. Tapi, jangan pernah diamin aku lagi ya Mas." Ucapnya sesegukan selepas menangis.
Dilain tempat Bara mengirimi kembali pesan kenomor Kikan, tanpa sepengetahuan Malik Kikan berpikir bagaimana bisa menemui Bara.