Kepalsuan Cinta

Kepalsuan Cinta
Pedebatan Malik dan Adin


__ADS_3

    "Aku tidak mengijinkan Kikan pulang kerumah mu." Suara itu mengema disaat Malik meyakinkan Kikan untuk pulang kerumah.


   "Malik menengok "Kenapa tidak bisa.?


   "Kikan harus bersama ku karena aku yang selama ini mengurusnya." Timpal Adin.


   "Jangan egois dong Kakak Ipar, Kikan itu masih Istri saya."


   "Apa kamu bilang.? Saya tidak akan sudi punya Adik seperti kamu." Adin menghampiri Kikan.


   "Kamu jangan mau iya terbujuk rayu kadal satu ini." Tatapannya mengintimidasi.


   "Kamu jangan dengerin Kak Adin iya Kan, dia itu cuma iri sama kita yang sudah baikan dan menjadi keluarga bahagia."


   "Tidak ada dalam hidup saya iri dengan kadal kaya kamu."


   "Dasar jomblo."


   "Cukup." Kikan berteriak kencang.


   "Kalian apa apaan sih, aku ini baru habis melahirkan kenapa kalian berisik sekali." Lanjutnya.


    Mereka berdua langsung terdiam mendengar suara Kikan, Malik dan Adin saling bertatapan karena takut dengan kemarahan Kikan.

__ADS_1


   "Kalau kalian masih terus ribut aku akan bawa anakku untuk tinggal berdua saja." Ancam Kikan.


   "Jangan." Kedua pria itu berucap barengan.


   "Ciee udah mulai kompak." Ledeknya.


   "Kikan pulang kerumah kita aja iya." Adin memegang tangan Asiknya.


   "No,,,sama Mas saja iya sayang." Malik tak mau kalah.


   Keributan itu kembali terjadi Kikan tak bisa menegahi mereka berdua, Alex segera masuk saat mendengar perdebatan mereka.


   "Kenapa kalian kaya anak kecil." Marah Alex.


   "Kau berani bentak saya." Malik melotot.


   "Kau juga berani sama saya Lex, pokoknya kontrak kita saya batalkan." Alex menggeleng.


   "Jangan bawa-bawa kerjaan dong Pak Adin." Alex memasang wajah melas.


Saat kedua orang itu masih terus berdebat, entah apa yang didebatkan mereka.


__ADS_1


"Bu baiknya kita melihat bayi Ibu." Alex membawa kursi roda, salah satu suster membantu memindahkan Kikan. Alex segera mendorong pelan didampingi oleh suster menuju ruangan Baby Mars.


Mereka melihat nya dari ruangan kaca. "Mirip dengan Mas Malik iya Pak Alek." Kikan tampak terharu.


"Ibu tau gak.? Selama Ibu pergi Bos mencari kemana-mana, sudah mengerahkan anak buah tetapi hasilnya nihil. Sepertinya Pak Adin menurup rapat tentang Bu Kikan. Bos itu jarang makan, ke kantor pun hanya sesekali sisanya ia mencari keberadaan Ibu. Alex bercerita panjang lebar.


"Iya setelah mengetahui aku hamil Kak Adin mendesak siapa Ayah dari bayi yang ku kandung, memang benar katamu Lex, Kakak menutup semua informasi tentang ku. Bahkan aku dilarangnya untuk bermain media sosial, aku kecewa Lex dengan Mas Malik tapi rasa cinta ku lebih besar dari rasa benciku." Kikan menangis.


"Aku terlebih mencintaimu Sayang." Entah sejak kapan Malik berada dibelakang mereka, lalu menghampiri Kikan ia mengeser pelan kursi roda lalu berjongkok dihadapan Kikan.


"Awal nya memang aku tidak berniat untuk menikahimu, berpura-pura baik kepadamu, lalu setelah nya aku akan meninggalkanmu. Tetapi, semua salah ternyata aku terjebak dengan permainan ku, aku yang lebih mencintaimu, lebih menyayangimu bahkan aku cemburu jika kau berdekatan dengan laki-laki lain." Malik memegang kedua tangan Kikan.


"Yang sangat aku sesalkan adalah meningalkan mu disaat hubungan kita sudah berjalan baik, meruntuhkan harapamu terhadapmu. Kamu harus ingat Sayang mulai saat ini jangan pernah pergi lagi dari hidupku, Mas gak sanggup."


"Aku sudah memaafkan Mas." Kikan megusap rambut Malik.


"Kurangi sifat egois mu, jika ada kesalah pahaman diantara kita Mas bicara baik-baik dengan aku." Lanjutnya.


"Mas sudah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga Sayang." Kikan mengerutkan keningnya tak paham.



"Maksud Mas."

__ADS_1


"Bos Alex itu ngidam parah Bu." Timpal Alex.


"Serius Mas." Malik memgangguk pelan.


__ADS_2