
Kikan sudah berada diluar hotel, mobil hitam berdiri tepat dihadapannya. Supir langsung keluar bergegas mengambil koper Kikan dan memasukkannya kedalam bagasi, setelahnya ia membuka pintu.
Kikan masuk kedalam mobil terdiam duduk sembari merenung, pandangannya kosong seolah kejadian yang baru saja ia alami hanya semua mimpi, tetapi kenyataannya sangat jauh dari bayang-bayangnya.
"kenapa kamu tega mas" batinnya.
Air matanya tak berhenti jatuh mengalir dipipinya, ia masih berharap malik menunggunya dan pulang bersamanya.
Sampai dibandara Kikan langsung menaiki pesawat, pandangan nya kosong tatapan nya begitu sendu. Bagaimana tidak rasa sakit yang diberikan oleh suaminya begitu sangat menyakitkan.
Kata-kata yang diberikan Malik kemarin ternyata hanya bualan semata, laki-laki yang mulai masuk kedalam hatinya, laki-laki yang seharusnya membuat dia bahagia itu hanya lah sekedar harapan kosong.
"Aku menikahimu karena tak mau hartaku hilang." ucapan itu masih terngiyang-ngiyang dikepala Kikan.
Baik Mas, jika memang pernikahan ini hanya sebuah permainan dan kebohongan belaka aku akan turuti semua keinginanmu.
Sesampainya dibandara Kikan tidak pulang kerumah Malik, melainkan ia akan mencari kostsan atau tempat tinggal sementara yang letaknya sangat jauh dari kediaman Malik.
__ADS_1
Iya Kikan sudah sangat bertekat untuk menjauhi Malik, ia akan pergi sejauh mungkin agar tidak bertemu dengan laki-laki pecundang seperti Malik.
Luar kota adalah tempat terbaik untuk Kikan saat ini ia akan pergi ketempat sepupunya yang sudah terlebih dahulu tinggal dikota B. Kikan sampai disebuah tempat yang tidak terlalu luas, rumah sederhana. Di ruangan itu hanya ada kasur, lemari dan kipas angin. Tempat ini setidaknya bisa untuk istirahatnya setelah menempuh perjalan yang melelahkan sebelum ia menemui sepupu nya dikota lain.
"Aku sangat lelah sekali." ucapnya seraya merapikan baju-baju dan memasukannya kedalam lemari.
Kikan memesan makanan dan minuman karena seharian ini ia belum makan sedikitpun, sambil menunggu makanan datang ia merebahkan badannya yang sudah sangat lelah.
........
Saat ini Alex tidak berani bertanya ia lebih memilih diam dan mengikuti Malik yang akan langsung kekantor.
Dalam hati Alex bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Bos nya, bahkan ia tak melihat Kikan sedari tadi "Apa yang terjadi dengan mereka, aku harus menyelidikinya."
Alex menelpon orang suruhannya untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi antara Malik dan Kikan "Kalau kau sudah tahu informasinya segera hubungi aku."
Alex lantas mematikan ponselnya memasukannya kedalam kantong celana.
__ADS_1
"Alex." Malik berteriak memanggil kaki tangannya tersebut
"Ia bos ada apa." jawab Alex.
"Pesankan beberapa minuman dan cepat kamu bawa kesini." ucap Malik dengan tatapan datar.
"Tapi bos,." ucapan itu mengangtung saat tangan malik mengisyaratkan untuk diam.
Dengan segera Alex menyuruh anak buahnya untuk membawakan minuman yang diinginkan oleh Bos nya dan segera membawanya keruangann Malik.
Jam sudah menunjukan pukul 10 malam, hanya tinggal mereka berdua didalam kantor, ada 2 security yang sedang berjaga dibawah. Ia hanya akan naik bila Bosnya memanggilnya.
"Bos, boleh saya tanya sesuatu." ucap Alex yang sudah berada disamping Malik.
"Apa yang ingin kau tanyakan." Malik menghisap batang rokok yang sedari tanya ia pegang.
"Dimana nona Kikan Bos."
__ADS_1