Kepalsuan Cinta

Kepalsuan Cinta
Perasaan Bersalah


__ADS_3

    Jangan ditanya bagaimana perasaan Malik saat ini melihat Istri harus mengandung seorang diri tanpa didampingi suami, bagaimana dia menjalani fase ngidam pasti itu sangat menyakitkan.


    Aku tidak tau kalau kamu hamil sayang, padahal orang ku sudah berusaha mencarimu kemana pun tapi mereka tidak menemukan kamu. Ternyata kamu pergi tidak jauh dari kota J.


    Malik terus menatap Kikan yang sedang tertidur pulas, bayang-bayang saat ia pergi begitu saja meninggalkan Kikan, kecemburuan membuat ia gelap mata, tidak berfikir jernih kesombongan serta keangkuhannya sebagai laki-laki menghancurka seseorang bahkan dara dagingnya sendiri.


    Kalau saja dia tidak bertemu dengan Kikan di lift mungkin sampai saat ini dia tidak akan mengetahui kalau ia akan mempunyai anak. Jangan ditanya senang nya walau harus melihat sang buah hati harus menjalani perawatan di inkubator karena harus lahir dini.


Lelaki yang tidak akan terpikir untuk mempunyai anak nyatanya sekarang ia akan di panggil Papi oleh anaknya,,,,akh membayangkan saja rasanya tak mungkin dan nyatanya ini terjadi.


"Kamu hebat saya mau bertahan sampai sejauh ini." Malik terus memandangi wajah Kikan.


Malik memang sangat mengantuk ditambah perih lebam diwajahnya karena ulah Kakak sepupu Kikan, ini hal yang wajar siapapun akan marah jika keluarga yang mereka sayangi diperlakukan tidak baik.


Kikan memgerjapkan matanya pelan, ia melihat kesamping kanan nya menatap pria yang memang sedari tadi tak berpaling melihat ke arahnya.


"Mas." Ucap Kikan pelan.


"Iya sayang." Malik mengusap rambut Kikan.

__ADS_1


"Mas masih disini.?


"Tentu sayang, Mas tidak akan kemana-mana. Mulai saat ini Mas akan seallu berada disamping kamu dan anak kita."


"Jangan terlalu beranggapan lebih Mas kalau anak yang kulahirkan adalah darah dagingmu." Masih ada kekecewaan diwajah Kikan.


"Mas yakin karena dia sangat mirip dengan Mas, sayang." Malik berkata penuh penekanan.


"Mungkin hanya kebetulan." Sarkas Kikan.


"Kamu baru habis melahirkan jangan membuat dirimu stres, kalau pun Mars bukan anakku, aku akan tetap menganggap nya darah dagingku." Timpal Malik.


"Iya itu adalah nama anak kita sayang."


"Terlalu berlebihan."


"Sudah jangan bertengkar kalau kamu sudah benar-benar pulih silahkan kalau kamu mau marah sama Mas." Ia mencium kening Kikan.


"Aku memyesal sayang, tolong maafkan Mas yang bodoh ini. Kamu banyak melalui penderitaan karena Mas, Mas janji setelah ini Mas akan terus membahagiakan kamu dan Mars."

__ADS_1


Air mata disudut mata Kikan terlihat oleh Malik ia lantas mengusap pelan. "Jangan menangis."


"Kamu bilang jangan menangis tapi kamu sendiri menangis." Kikan mengusap kedua mata Malik.


"Air mata yang sudah ia tahan akhirnya luruh juga Malik memeluk Kikan menumpahkan dengan terisak "Maaf kan Mas."


"Ikhh Mas kok malah jadi cengeng gini., harusnya kan aku yang nangis bukan nya kamu." Kikan memegang kepala Malik.


"Kamu kelewatan banget sih Sayang, suami nangis malah di gituin aku kan nangis karena memikirkan kamu menderita karena hamil seorang diri." Malik menatap Kikan.


"Iya orang aku senang aja kok, kan ada Ka Adin yang terus bantuin aku." Jawab nya.


"Kamu emang gak kangen sama Mas.? Mata nya menyipit tajam.


"Awal sih kangen banget, tapi lama kelaman enggak." Jawaban Kikan membuat muka Malik cemberut.


Kikan tertawa ia senang sekali menjaili Malik yang menurutnya sifatnya sudah banyak berubah.


"Tapi sayang Mas mau tanya apa kamu waktu hamil mual sama pusing." Kikan mengeleng.

__ADS_1


"Berarti.." Malik memikirkan waktu itu dia.


__ADS_2