
Kikan keluar kamar menuruni tangga menghampiri Suami dan Kakak nya, disana Malik dan Adin sedang duduk berdampingan bahkan bila yang tidak tahu seperti orang pacaran yang sedang bermesraan.
"Sayang tolong Mas, Kakak mu ini sepertinya sudah tidak menyukai wanita." Malik memasang wajah melas.
"Kikan duduk ditengah memisahkan dua mahluk itu agar berjauhan. "Kakak ngapain sih.!!!! Ia menelisik wajah Kakaknya.
"Beneran Kakak gak suka wanita." Tambah Kikan.
"Sembarangan aja kamu, Kakak tuh cuma masih kesal dengan suami kamu. Lagian kenapa sih harus balik dengan kadal satu ini."
"Kakak, kadal ini Ayah dari anakku tau." Kikan memeluk lengan suaminya.
Adin membuang muka malas. "Kenapa kamu masih berdiri disitu." Ia menoleh ke arah Aira.
"Duduk." Pintanya.
"Siapa Kak.?
"Bawahan teman Kakak, dia yang kemarin diperintahkan untuk menemani Kakak meninjau proyek." Jawab Adin.
Kikan hanya mengangguk pelan. "Aira kenalkan ini Adik saya Kikan dan suaminya Malik." Ucapnya malas saat menyebut nama Malik.
Ia mengulurkan tangannya kearah Kikan dan Malik. "Aira Pak, Bu."
"Kamu tinggal dikota ini juga.? Tanya Kikan.
"Tidak Bu, saya tinggal dikota lain." Jawab Aira.
"Duduk Mba Aira, kenapa berdiri aja." Kikan langsung menghampiri Aira sepertinya ia sangat canggung.
"Mas udah suruh Bibi untuk ambil minuman.? Karena sedari tadi belum ada apapun yang tersedia dimeja.
"Mas lupa." Jawab Malik, Kikan menatap suaminya sambil mengelengkan kepala
"Bi ida tolong buatkan minum untuk tamu aku dan Kakak iya." Pinta Kikan yang berjalan kearah dapur.
Ia kembali menghampiri keruang tamu, duduk bersebelahan dengan Aira.
"Mba Aira sudah menikah atau masih single.? Tanya Aira.
"Kenapa kamu nanya gitu sih Kan." Adin merasa tak enak.
"Bukan seperti itu Kak, Kakak ajak Aira takutnya kalau dia bersuami nanti malah dicariin." Jawab Kikan mengambil sebuah wafer.
"Bener tuh Kak." Malik menimpali.
__ADS_1
"Saya masih single Bu, hanya tinggal dengan Kakak saja." Jawab Aira.
"Tapi saya belum menghubungi Abang saya bu." Lanjutnya lagi.
Kikan menatap nya. "Loh kok bisa, nanti kalau Abang kamu mencari gimana.?
"Yasa sudah menghubungin nya Kan, dia yang meminta ijin kalau Aira ikut bersama aku." Ucap Adin bohong.
"Sudahlah kenapa kamu banyak bertanya sih." Kesal Adin.
Saat sedang asyik memgobrol handphone Malik berbunyi. " Iya Dok bagaimana."
"Syukur Alhamdulillah, kalau begitu besok saya kesana bersama Istri saya "
"Terima kasih Dok." Malik menutup telepon nya.
"Ada apa Mas.?
"Besok Mars sudah diijinkan pulang sayang." Malik memeluk tubuh Kikan.
"Beneran Mas." Malik mengangguk pelan.
"Syukur kalau Mars sudah bisa kembali ke rumah, niat Kakak untuk datang kesini sebenarnya mau menanyakan Mars." Adin tersenyum bahagia, bagaimanapun Mars sudah seperti anaknya sendiri ia yang setiap bulan selalu mengantar Kikan untuk periksa kehamilannya. Tetapi hebatnya bayi itu tidak membuat Maminya kecapean ataupun bikin susah, Malik sudah membayar lunas dengan dia yang muntah-muntah, pusing, lemas, bahkan beberapa hari tidak bisa bangun dari tidurnya.
"Mba Aira menginap disini Kan.? Besok aku akan kenalkan anak aku ke Mba Aira." Kikan tampak antusias.
Malik menyuruh Kikan untuk mengantarkan Aira keruang tamu karena jika harus ke apartemen Adin tidak baik, mereka baru bertemu dan kenal.
"Aku menginap dihotel saja Pak Malik." Tolak Aira.
"Kamu disini saja Ra." Adin berucap.
"Tak baik kalau kamu sendirian dihotel saya yang membawa kamu kesini, jadi saya yang akan bertanggung jawab selama kamu dikota ini." Lanjut Adin.
"Kikan tolong ajak Aira kekamar kamu."
"Maafkan saya juga Malik malam-malam merepotkan kamu." Adin berkata.
"Kita itu keluarga Kak, seharusnya aku yang berterima kasih karena Kakak anak dan istriku keadaannya baik-baik saja." Malik menepuk pelan bahu Adin.
Sepertinya ada yang disembunyikan Kak Adin, aku melihat dari raut wajahnya saat melihat Aira. Entah ada apa sebenarnya.? yang jelas tatapannya sangat terbaca kalau ia sedang ada beban, aku akan mencari taunya sendiri mau bagaimanapun Kakak adalah keluarga ku masalah apapun yang ia sedang hadapi aku akan selalu membantunya. Bukan karena balas budi tapi aku menganggap nya sudah seperti Kakak kandungku sendiri.
Adin mengibaskan tangannya ke wajah Malik beberapa detik. " Kamu kenapa.? Adin melihat Malik yang sedang memikirkan sesuatu.
Malik tersentak kaget. "Tidak ada apa-apa Kak."
__ADS_1
"Jangan bilang kamu sedang memikirkan wanita lain." Tebak Adin.
"Sembarangan aja, Kikan itu wanita yang gak akan bikin aku berpaling dari siapapun. Aku tuh udah cinta banget sama Kikan." Bantah Malik.
Ia tersenyum sendiri bagaimana wajah Kikan serta sikapnya yang membuatnya terus merasakan kasih sayang yang belum pernah ia dapatkan dengan ketulusan.
Sungguh ia menyesal jika sampai menyia-nyiakan wanita sebaik Kikan, apalagi sekarang sudah ada Mars yang menambah kebahagiaan dikeluarganya.
"Aku akan kembali ke apartemen ku Lik, besok pagi aku akan kembali untuk menjemput Aira." Adin melangkah kan kakinya untuk keluar dari rumah Malik.
"Kak,,,ada yang belum Kakak ceritakan kepada kami.!!!! Malik berkata saat Malik hendak keluar.
Adin menoleh kebelakang, tersenyum getir dihadapan Malik. "Suatu saat nanti kamu akan memgetahuinya." Ia langsung bergegas keluar menaiki mobil dan membawa nya kencang.
Sesampainya diapartemen Adin membuka pintu lalu masuk kedalam ia duduk dibangku dekat tempat tidurnya, ia membuka sepatu dan melemparnya kesembarang arah. Ia memegang pelipisnya memijatnya sebentar lalu berjalan kearah kamar mandi, badannya sudah teramat lengket karena kesibukan yang menyita waktunya.
Adin berendam dengan air hangat. Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan, penghianatan itu tidak akan pernah saya lupakan. Siapkan dirimu untuk melihat kehancurannya.
Dilain tempat Aira berusaha sekuat tenaga menghubungi Abangnya, suara sambungan telepon itu membuat jantung Aira berdetak sangat kencang ia sangat takut sekali.
Telepon itu segera tersambung. "Hallo Bang." Aira tampak gugup.....
Kamu dimana...
Aku diluar kota Bang, sedang meninjau proyek baru....
Kenapa baru hubungin Abang, sedari tadi kamu susah dihubunginya....
Maafkan Aira iya Bang, tadi baterai hp Aira mati....
Kapan kamu akan kembali....
Belum tau Bang....
Sekarang kamu dimana.? Abang akan susul kamu....
Jangan Bang, ini urusan pekerjaan nanti Kalau Ra udah mau balik Ra akan kabarin Abang....
Baiklah kamu hati-hati disana iya Ra, Abang sangat khawatir sama kamu.....
Iya Bang, Ra akan jaga diri disini,,, Aku tutup dulu teleponnya iya Bang.....
Oke baiklah.....
Sambungan itupun terputus. "Aku tak tau sebenarnya apa yang diinginkan Pak Adin sehingga ia membawa ku, semoga saja Pak Adin orang baik dan tidak akan berbuat macam-macam denganku.
__ADS_1