Kepalsuan Cinta

Kepalsuan Cinta
Kontraksi


__ADS_3

   Alex mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sementara Malik dan Adin berada disebelah Kikan.


    "Perutku sakit banget Kak." Kikan mengenggam tangan Adin.


    "Sabar iya Kan bentar lagi kita samapi rumah sakit." Adin Nampak khawatir.


    Sementara Malik mengelus pelan perut Kikan. "Ade jangan buat Mami kesakitan iya." Batin Malik.


    "Selamatkan Istri dan anakku ya Rab." Lanjutnya.


    Sampai lobby rumah sakit Kikan langsung ditangani oleh Suster dan Dokter yang sedang berjaga, Kikan merasakan perutnya yang sangat sakit.


Kedua pria itu mengikuti suster yang mendorong kursi roda ke sebuah ruangan. "Mohon tunggu disini sebentar Pak." Ucap seorang suster.



Mereka nampak frustasi. "Kalau sampai terjadi dengan Kikan, aku tidak akan memberimu ampun." Adin menarik kerah baju Malik.


"Sudah Pak Adin jangan berkelahi disini.!!! Apa Bapak tidak lihat Bos saya sudah twrlihat lemas." Alex melerai nya.


"Sebaiknya luka Bos di obati terlebih dahulu." Alex akan membawa Malik keruangan dokter.


"Tidak Lex, saya gak mau meninggalkan Kikan dia sendiri di dalam." Tolak Malik.


Akhirnya Alex menyuruh suster dan dokter untuk mengobati luka Malik didepan ruangan tempat Kikan berada. Luka Malik selesai di obati tak lama pintu terbuka.

__ADS_1


"Apa kalian keluarga dari pasien.? Tanya Dokter.


"Saya Suami nya, Saya Kakaknya." Ucap meteka berbarengan.


"Saya akan menjelaskan kondisi Nona Kikan, kehamilannya mengalami kontraksi dini ada sedikit masalah didalam kandungannya, kemungkinan juga Nona Kikan akan melahirkan prematur."


"Kami menyarankan agar Nona segera melakukan operasi." Lanjutnya.


"Beri penanganan yang terbaik Dok." Malik menghampiri Dokter.


"Saya saya boleh menemani Istri saya.?


Dokter mengangguk "Silahkan ikuti saya ke dalam Pak."


Malik melihat Kikan yang terbaring lemah ia menggunakan selang oksigen, ia memghampiri Istri nya "Sayang." Malik mengenggam tangan Kikan.


"Sabar sayang hari ini kami akan operasi dan kita akan bertemua mahluk manis yang ada diperutmu." Malik tak kuasa melihat Kikan kesakitan, air matanya keluar dari sudut mata Malik.


Hampir 2 jam Malik menemani Kikan yang sedang menjalani cecar, ia tak hentinya berzikir memegang kepala Kikan bahkan sesekali mencium nya, dokter mengangkat bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Suster segera membersih kan lalu membedong nya, setelah itu baru lah bayi itu diberikan kepada Malik.


"Ini Pak bayinya." Suster memindakan bayi itu kepada Malik.


"Tolong adzankan iya Pak." Lanjutnya.


Beberapa menit kemudian Malik membawa bayinya keluar, disana Adin dan Alex masih menunggu di pintu depan.

__ADS_1


"Pak Adin ,Lex ini anakku." Malik tersenyum bahagia.


Sedangkan Adin yang tadi tampak kesal menghampiri Malik dan melihat wajah anak itu. "Dia benar-benar mirip denganmu." Adin berkata tanpa sadar.


"Iya Bos sangat mirip denganmu, tampan." Alex menimpali.


"Tolong pegang Kak,," Malik memanggil Adin dengan sebutan itu.


"Aku akan melihat Istriku didalam." Malik langsung bergegas kedalam disana Kikan masih belum sadar karena pengaruh setengah obat bius.


"Sayang." Malik terus menciumi pipi Kikan memegang erat tangannya nya.


"Maaf kamu banyak melalui kehamilan ini sendiri." Lanjutnya.


Setengah jam kemudia Kikan sudah benar-benar sadar "Mas."


"Iya sayang.!!!


"Kenapa perutku rata, dimana anakku Mas.? Kikan hendak histeris.


"Sayang,,sayang dengarkan Mas, anak kita sudah lahir dan dia baik-baik saja." Malik berusaha menenangkan Kikan.


"Dimana dia Mas.?


"Di luar sedang di gendong Kak Adin, bentar lagi mungkin masuk."

__ADS_1


Benar saja Adin dan Alex masuk secara bersamaan membawa bayi mungil mereka.


__ADS_2