
Kikan sudah dijinkan untuk pulang kerumah, ia segera berkemas barang dibantu Malik. "Sayang perlekapan Mars sudah di siapkan.? Malik bertanya sambil memeriksa isi tas Kikan.
"Sudah Mas didalam tas yang satu lagi."
"Mas sudah memesan ruangan khusus untuk Mars jadi kamu gak perlu khawatir iya." Malik menghampiri Kikan yang sedang duduk dipinggir kasur.
Mars memang tidak dijinkan pulang karena masih menjalani perawatan dirumah sakit, Kikan sebenarnya merasa keberatan akan tetapi ia juga tidak bisa berlama-lama di rumah sakit. Ia kasian suami nya yang harus bolak balik, ditambah pekerjaan Malik yang semakin menumpuk.
Sebelum pulang mereka keruangan Mars disana sudah ada 3 orang suster yang ditugaskan Adin untuk menjaga keponakan kesayangannya.
"Jangan menangis mungkin hanya tiga harian Mars disini." Malik mengusap air mata Kikan.
"Tetapi aku ingin bersama anakku Mas."
"Tidak lama kok sayang, yang penting kamu harus sediain ASI yang banyak agar Mars tidak kehausan disana." Malik berusaha menghibur.
"Sudah yuk kita pulang kerumah,, Mas juga sudah menyuruh anak buah Mas untuk berjaga disini."
Setelah dibujuk beberapa saat akhirnya Kikan mau mengikuti Malik. Adin kali ini tidak ikut menemani karena harus keluar kota untuk pekerjaan yang mendesak.
"Lex tolong suruh anak buahmu untuk membawa barang ini." Malik melihat Alex yang berada didepan pintu, ia menggandeng Kikan mengajaknya keluar lalu memasuki mobil dilobby depan.
__ADS_1
Dirumah Kikan sudah disambut dengan beberapa Asisten rumah tangga yang berbaris disana. "Selamat datang Nyonya." Ucap salah satunya.
"Mas kenapa banyak sekali.? Kikan merasa heran.
"Agar kamu tidak cape dirumah Sayang." Jawab Malik enteng.
"Tetapi gak sebanyal ini juga Mas." Kikan merasa tak enak.
"Sudah sebaiknya kamu Istirahat saja iya." Malik segera membawa Istrinya kedalam kamar.
.........
Dilain tempat Adin sedang berada dikantor klien nya, saat berjalan keluar kantor ia ditabrak oleh seseorang kopi yang dipegang Adin tumpah semua ke baju nya.
"Maaf Pak saya gak sengaja." Jawab wanita itu.
"Kalau jalan mata kamu pake." Geram Adin.
"Maaf Pak, hak sepatu saya patah Pak." Wanita itu menunjukan sepatunya.
"Bukan urusan saya, lain kamu harus lihat kedepan saat berjalan." Adin masih membersihkan bajunya dengan sapu tangan.
"Biar saya bersihkan Pak." Tangan Wanita itu hampir menyentuh jas Adin hanya saja langsung ditepis olehnya.
__ADS_1
"Jangan sembarangan sentuh saya." Bentak Adin.
Wanita itu hanya bisa menundukan kepalanya. "Biar saya cuci saja Pak, disebrang sana ada tempat cuci yang bisa ditunggu." Aira menawarkan.
"Tidak perlu." Adin lantas pergi begitu saja menaiki mobilnya yang sudah berada didepan.
"Hari ini banyak banget sialnya gua, mulai dari telat bangun, naik taksi gak dapet dan terpaksa naik angkot sekarang malah ngotorin baju orang.
Aira masuk kedalam kantor berjalan menjinjit karena sebelah sepatunya sudah patah. "Lu ngapain sih Ra nenteng sepatu." Teman Aira menghampiri.
"Lu gak liat nih patah sepatu gua, mana baru sebulan gua beli. Hari ini sial banget." Gerutu Aira.
"Masih pagi gak usah ngomel, memding lu keruangan Bos karena tadi lu dicariin."
Aira memegang jidatnya." Iya Ampun Sil gua lupa kalau hari ini gua harus nemenin temen Bos buat mantau proyek baru."
"Nah kan kebiasaan banget ini anak, jangan sampai lu kena SP lagi sama Bos."
"Gua takut Sil." Aira keluar keringat dingin.
"Mudah-mudahan Bos nya bisa memaafkan nya kali ini." Aira berjalan kearah ruangan Bos nya.
__ADS_1