
Sudah hampir 2 jam Adin menunggu orang yang akan menemaninya meninjau proyek, ia beberapa kali menelpon temannya.
"Maaf Pak saya terlambat." Wanita itu bergegas menghampiri Adin.
Asin menengok kebelakang. "Kamu." Wajah nya terlihat marah.
"Iy,,Iya Pak." Aira tampak takut.
"Ngapai kamu disini.?
"Saya yang disuruh Pak Yasa untuk menani Bapak melihat proyek ini Pak." Jawab Aira.
"Gadis ceroboh kaya kamu apa bisa kerja.?
Aira tampak kesal. " Tentu saja saya bisa, saya kerja sudah lebih dari 5 tahun."
"Buktikan kalau memang kamu bisa kerja." Adin memberikan tumpukan proposal kepada Aira.
"Sial banget malah ketemu orang sombong ini lagi, walaupun ganteng tetep aja gua kesel liat kelakuannya." Aira Membatin.
"Ngapain kamu liatin saya seperti itu.? Adin menoleh ke arah Aira dan melihat wajah yang sedang menatap tajam kearah Adin.
Aira tersentak kaget saat ketahuan sedang menatap Adin. "Tidak Pak, Bapak mungkin salah."
Adin berjalan berkeliling bangunan yang sedang dikerjakan oleh beberapa orang, Aira terus mengikutinya dari belakang. Hampir berjam-jam Aira mengikuti langkah Adin walaupun jalan yang ia lalui sama saja.
Adin sengaja melakukan itu lantaran ia sangat kesal dengan kecerobohan wanita itu, Adin yang sudah lama tidak berinteraksi selain dengan Kikan sangat tidak terbiasa. Boleh dikatakan Adin sangat kaku dalam hal wanita, bukan ia tak ingin hanya saja ia pernah dikhianati oleh pacar nya terdahulu.
"Pak sebenrnya kita mau kemana.? sedari tadi hanya muter-muter." Aira berbicara seraya menatap Adin.
"Terserah saya, kenapa kamu keberatan.? Kalau memang iya, aku bisa menghubungi Yasa bahwa kamu tidak ingin bekerja lagi." Adin mengambil handphone nya lalu segera menghubungi Yasa.
"Jangan Pak, saya mohon jangan hubungin Pak Yasa." Aira menghampiri Adin yang sedang duduk disofa.
"Baiklah saya tidak akan menghubungi Yasa, tetapi dengan syarat." Adin menyeringai dengan senyum sinisnya.
"Syarat.? Aira bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kok jadi panjang sih Pak, padahal tadi saya hanya bertanya." Lanjutnya.
"Oke jika kamu tidak mau." Adin menekan panggilan atas nama Yasa.
"Iya Din ada apa.? Lu sudah ditempat proyek kan.? Tanya Yasa didalam sambungan telepon.
"Iya sudah sampai gua, tapi sepertinya orang yang lo suruh untuk menemani gua....."
"Baik Pak, saya terima satu syarat dari Bapak." Aira mengambil Handphone yang dipegang Adin.
"Berani nya." Adin langsung berdiri menghadap Aira.
"Maaf Pak." Aira menunduk seraya meyerahkan Handphone milik Adin.
Adin mengambil dengan paksa. "Nanti malam kamu ikut saya ke kota J, saya akan meminta ijin kepada Yasa." Ucap Adin.
"Untuk apa Pak.? saya takut Kakak saya mencari Pak." Aira terkejut.
Adin menaril tangan Aira keluar ruangan, ia berjalan menuju mobilnya.
"Masuklah."Pinta Adin yang langsung diikuti oleh Aira.
Aira berpindah kedepan ia duduk diam tidak inhin banyak bertanya takut malah bertambah masalah lagi. Aira bingung bagaimana dia menghubungi Kakaknya ia takut sekali karena baru kali ini ia keluar kota, bagaimana kalau Kakaknya marah besar. Aira pernah keluar sampai pulang larut malam dan yang terjadi Kakaknya marah besar bahkan ia tak segan memarahi atau memukul jika yang mengajak keluar adalah laki-laki.
"*Bagaimana ini kalau Bang Gibran tau*." Aira gemetaran takut dan juga bingung.
Mobil yang dikendarai Adin sudah berjalan meninggalkan kota T, jalanan tidak terlalu macet sehingga mereka sampai lebih cepat. Mereka memasuki area rumah yang sangat mewah disana ada beberapa penjaga yang berjaga.
"Silahkan masuk Pak Adin." Penjaga itu membuka gerbang.
"Apa Tuan mu ada.? Adin turun dari mobil begitupun dengan Aira, penjaga rumah itu memgangguk lalu berlari menutup pintu gerbang.
__ADS_1
Adin masuk kedalam dan melihat Malik sedang menonton televisi. "Kak."
"Panggil nama aja, berapa kali sih gua bilang lu gak boleh panggil Kakak kecuali Kikan." Adin nampak tak suka.
"Oh tidak bisa aku akan tetap memanggil mu Kakak." Malik tak mau kalah.
"Terserah,,,mana ade gua.? Ia mendudukan bokong nya disofa.
"Dikamar sedang memompa ASI." Jawab Malik malas.
"Kenapa muka lu gitu, lu gak suka gua datang kesini." Adin lebih mendekat ke arah Malik.
"Apaan sih dekat-dekat....Sayang Kakak kamu gak normal." Teriak Malik.
"Sembarangan banget lu kalau ngomong." Adin ingin meninju Malik. Tetapi, tatapan Malik langsung beralih ke sosok wanita yang sedari tadi berdiri.
"Siapa Kak.?
Adin menoleh dan ia benar-benar lupa kalau kesini ia mengajak Aira. "Sial kenapa gua bisa lupa." Gerutunya.
__ADS_1
"Dia itu....