
Didepan hotel Malik membuka pintu mobil dan berjalan ke arah Kikan, ia lantas memaksa Kikan keluar dan kembali menyeretnya ke dalam hotel. Tak peduli dengan tatapan para tamu disana, security yang melihat pun tak bisa membantu karena sudah mendapat ultimatum sebelumnya.
Pintu Lift terbuka, mereka masuk kedalam lift menuju lantai dimana Malik dan Kikan bermalam.
"Mas tolong lepasin tangan aku sakit." Kikan memohon seraya memegang lengan Malik.
Dengan kasar Malik terus berjalan, pintu kamar dibukanya dengan begitu kencang dan menutup kembali. Malik melempar Kikan diatas tempat tidur lalu mencengram dagu Kikan.
"Dasar wanita ******, sudah berapa kali kamu bertemu dengan laki-laki itu." Bentak Malik.
"Eng...engga Mas, aku menemui Bara karena ingin memberi pengertian bahwa aku sudah menikah." Kikan berbicara tergagap.
"Omong kosong..." Satu tamparan mengenai pipi mulus Kikan.
"Mas, aku gak bohong." Kikan berangsur mundur.
"Kemari kamu." Malik menarik kaki Kikan sampai menjuntai ke lantai.
Ia marah besar kepada Kikan, memegang kedua tangannya dengan kencang.
"Mas sakit, sudah Mas aku minta maaf." Ucapnya seraya menahan perih yang teramat.
Malik yang sudah dikuasai amarah dan nafsu tidak menghiraukan perkataan Kikan.
__ADS_1
Amarah yang menyelimuti di dalam diri Malik membuat ia menyakiti Kikan dengan caranya, Kikan meratapi semua kemarahan yang ia terima dari Malik.
Malik duduk disamping ranjang dengan sebatang rokok yang menyalah, Kikan mengerjapkan mata dan melihat ke arah Malik yang sedang memunggunginya.
"Mas." Panggil Kikan.
Mengetahui Kikan sudah bangun Malik acuh tak menghiraukan panggilan Kikan. Kikan lantas bangun beransur memeluk Malik dari belakang.
"Maafkan aku Mas, aku akan menjelaskannya." Kikan berusaha meredam amarah Malik.
"Tak perlu kamu jelaskan apapun, karena perempuan seperti kamu sudah pasti beralibi." Malik melepaskan tangan Kikan.
"Mas aku hanya ingin bilang ke Bara kalau aku sudah menikah, gak lebih dari itu Mas." Ucap Kikan terisak.
"Asal kamu tahu Kikan, aku menikahimu karena tidak mau harta kekayaan ku jatuh ke panti sosial karena aku belum menikah. Jadi jangan berharap lebih dariku." Sarkis Malik dengan tajam.
"Mas aku gak salah dengar." Kikan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apa itu benar mas.? Tanya Kikan.
"Iya." Jawab Malik
"Aku gak percaya Mas, kamu bisa memainkan cinta aku dan kepercayaan aku kepadamu. Laki-laki yang sudah aku anggap suami ternyata membodohi aku." Ucap Kikan menahan Sesak didada.
__ADS_1
"Kamu sudah tahu sekarang jadi gak perlu aku lama-lama untuk menceraikan kamu." Malik tertawa sini.
"Bereskan pakaianmu dan sekarang kita akan kembali pulang." Malik pergi keluar membanting pintu dengan kencang.
Kikan yang shok dengan apa yang baru saja terucap dari mulut laki-laki yang ia cintai tak bisa membendung air mata, tangis yang sedari tadi ia tahan harus tumpah ruah.
Langkah Kikan serasa lambat walau hanya harus kekamar mandi, ia tak menyangka liburan yang harusnya menjadi awal kebahagiaan harus sirna karena sebuah pengakuan yang membuat ia terkejut
Hampir 1 jam Kikan menunggu Malik, setelah membereskan pakaian mereka. Tetapi Malik tak kunjung datang.
Tak berapa lama pintu kamar ada yang mengetuk. Tok...tok..tok...
Kikan membuka pintu dan ternyata karyawan hotel. "Ada apa Pak? Tanya Kikan.
"Maaf nona, apakah sudah siap mobil sudah menunggu didepan."
"Saya sedang menunggu suami saya Pak ! Seru Kikan.
"Tuan sudah terlebih dahulu pulang Nona." Jawab Karyawan hotel tersebut.
Kikan tampak shok "Tega kamu Mas meninggalkan aku sendiri." Kikan menahan sesak didada lalu mengambil koper didalam kamar.
Karyawan hotel membantu dan memasukannya ke dalam mobil, Kikan masuk kedalam mobil lalu menuju bandara.
__ADS_1