Kepalsuan Cinta

Kepalsuan Cinta
Menemui Bara


__ADS_3

"Mas kamu mau kemana? Tanya Kikan yang sudah melihat penampilan suaminnya yang sudah sangat rapi.


"Mas ada janji dengan seseorang, kamu disinisaja jangan kemana-mana."


Kikan sedikit kaku dengan ucapan Malik barusan, sebenarnya ada hal penting yang ia ngin luruskan agar nantinya tak ada kesalahpahaman seperti kemarin.


Malik pergi keluar kamar hotel dengan alasan menemui klient sebentar, kesempatan ini yang digunakan Kikan untuk keluar rumah.


Kikan membersihkan diri setelah tahu Bara pergi, ia harus berangkat cepat agar lebih dahulu sampai sini sebelum Malik pulang,.


Kikan sebelumnya mengirimi Bara sebuah pesan, agar bara mau menemuinya di cafe yang kemarin. Kikan bersiap-siap lalu keluar turun kebawah, ia melirik kekanan dan kekiri guna memastikan tidak ada yang melihatnya.



Sampai dilobi Kikan menghentikan sebuah taksi, ia menuju ke cafe. Hatinya merasa cemas karena sudah membohongi sang suami, saat ini ia ingin cepat-cepat berbicara dengan BARA dan menejelaskan semuanya. Berharap ia tak akan mengganggu ketentraman rumah tangganya.


Maafkan aku mas, bukan maksudku pergi diam-diam seperti ini, hanya saja aku ingin meluruskan semua kepada Bara. Batinnya.


Ia langsung bergegas masuk setelah sampai di cafe mencari keberadaan Bara yang ternyata belum sampai. Kikan mencari tempat duduk yang dekat dengan pemandangan luar agar bisa melihat kedatangan Bara. Setengah jam menunggu Bara tak kunjung tiba, Kikan mulai merasa jenuh dan berniat meninggalkan tempat itu.



Saat akan beranjak, suara seorang mengangetkannya "Mau kemana?

__ADS_1


Kikan menengok kebelakang, terlihat pria bertubuh tinggi datang dengan nafas yang ngos-ngosan "Mau pulang."


"Aku sudah datang ko kamu malah pulang sih Kan."


"Kamu bikin aku jenuh, menunggu dari tadi."


"Iya sudah aku minta maaf." Bara langsung mengambil kursi yang ada disamping Kikan lalu menyeretnya agar berhadapan dengan Kikan.


"Apa yang kamu ingin bicarakan Kikan? Tanya Bara.


"Maaf sebelumnya Bar, aku kesini hanya ingin menyampaikan kepadamu bahwa memang benar aku sudah menikah."


"Maksud kamu semua berita itu benar." Bara mengepalkan tangan yang berada di bawah meja.


Bara memejamkan mata sejenak lalu ia kembali berbicara "Kamu sangant tahu Kikan bahwa aku sangany mencintai kamu dan berniat menikahi kamu, tapi apa yang saat ini aku dengar, kamu sudah dimiliki orang lain.


"Aku minta maaf Bara, aku minta tolong jangan usik lagi kebahagiann aku dengan kamu mengirimi pesan yang akan menjadi kesalahpahaman antar aku dan Mas Malik.


"Iya aku mengerti dan aku harus bisa menerima semua kenyataan yang ada, kamu jaga diri baik-baik."


"Bisakah kita tetap menjadi teman seperti dulu." Lanjut Bara.


Mereka saling menjabat tangan, Kikan ingin tak berlama-lama disana ia takut nanti Malik akan sampai terlebih dahulu.

__ADS_1


"Bar aku pamit dahulu iya."


"Lho kok cepet banget sih Kan, kita baru aja memesan makanan loh belum juga datang yang kita pesan"


"Nanti kita ketemu lagi, sekalian aku akan perkenalkan Mas Malik sama kamu."


"Iya sudah kalau begitu, kamu hati-hati dijalan."


Baru saja akan mengeser kursinya sudah ada suara di belakang Kikan, badan Kikan langsung membeku sesaat. Kikan tahu siapa yang sudah berada dibelakangnya.


"Jadi ini yang kamu lakukan di belakang aku."


"Ikut aku pulang." Malik menarik kasar pergelangan tangan Kikan.


Bara berusaha membantu "Bro jangan sperti ini dengan wanita."


"Diam kamu, gak usah ikut campur dia ini istri saya." Malik Menatap tajam Bara.


Malik terus menarik lengan Kikan sampai Kikan meneteskan air mata "Mas tolong lepasin tangan aku sakit."


Tak ada tangapan sedikitpun malahan Malik masukakan paksa Kikan kedalam mobil, ia melaju mobilnya begitu kencang. Kikan menahan takut sekaligus sakit dipergelangan tangannya.


"Mas jangan kencang-kencang aku takut."

__ADS_1


__ADS_2