KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
BERDAMAI DENGAN RASA SAKIT


__ADS_3

“Kalau kamu ingin melupakan rasa sakit, bukan dengan membencinya. Mencobalah untuk berdamai” Sepagi ini Mama sudah memberikan nasehat.


Untuk kali ini aku tidak sependapat dengan Mama. Bagiku sampai kapanpun aku akan membenci keluarga itu. Penyebab hancurnya hidupmu, penyebab rasa sakit yang tidak akan pernah berkesudahan. “terkadang, memaafkan bukan untuk orang lain. Tapi untuk diri kita agar lebih ringan menjalani hidup” Lanjutnya. Memasukkan roti selai ke mulut. “ Hidup tanpa kebencian itu lebih ringan. Coba deh. Mama sudah melakukannya berkali-kali, ternyata benar. Hidup lebih bahagia. Tapi pelan-pelan saja Ra, Mama nggak maksa kamu harus melakukan yang Mama sarankan dengan cepat. Awalnya sulit, lama-lama biasa kok” Bagaimana wanita ini bisa santai menjalani hidupnya.


Terhadap anak-anaknya lebih terbuka. Banyak hal yang Mama ceritakan ketika memulai usaha. Mulai dari tertipu, mengalami kerugian. Hingga penolakan di awal-awal ketika mulai merintis.


“Saya tidak bisa memaafkan mereka Ma, sakitnya masih terasa. Apalagi mereka melibatkan anak ini. Mereka bukan Manusia” Tidak ada alasan aku untuk memaafkan keluarga mantan suamiku


“ Memaafkan itu demi kesehatan kamu, juga anak yang ada dalam sana. Kamu tidak bisa hidup dalam kebencian terus-menerus. Dendam itu beban lho buat kita. Kita tidak akan keluar dari masalah selama kebencian masih merong rong hati” Setiap orang berhak memberikan saran, berbicara itu mudah. Karena mereka tidak mengalami apa yang aku alami. Kesakitan yang aku rasakan tak mudah untuk aku lepaskan. “Intinya ikhlas saja, belajar ya. Mama sayang banget sama kamu” Tuh, kan. Mama berbicara begitu saja mataku mulai hangat. Bisa enggak sih Mama jangan membuatku terharu terus. Aku yakin, orang yang akan menjadi menantu Mama adalah orang yang paling beruntung dalam hidupnya.


“Mama duluan, jangan buru-buru. Makan yang banyak, asupanmu harus double sekarang” Kali ini Mama tidak menepuk bahuku. Tapi mencium keningku lama banget. Aku tahan airmata. Perlakuan Mama terlalu hangat menurutku.


Kadang aku berpikir apa yang aku keluhkan sama Tuhan, tidak sebanding dengan kebaikan yang Tuhan berikan. Contohnya melalui Mama. Hubunganku hanya teman anaknya, tapi dia memperlakukan aku seperti anak kandungnya.


“Ma,,,” Mama berbalik setelah hampir mencapai ruang tamu. “Makasih” Aku berlari setelah kata itu melucur. Aku ingin memeluk Mama lebih lama. Tumpahlah air mataku di bahunya. Aku berjanji pada diriku, mulai saat ini akan mendengarkan nasehat Mama. Termasuk berdamai dengan rasa sakit yang mulai menyiksa.


“Perempuan hamil itu memang unik ya, lebih melow, lebih sensitif. Mama dua kali hamil sama kayak kamu. mood Mama cepat berubah” Wanita berhati tulus itu mengusap bahuku perlahan. Kemudian beralih ke rambutku. Mama melepaskan pelukannya setelah tangisku reda. “Mama sudah nganggap kamu sama seperti anak kandung Mama, jadi jangan sungkan. Ceritakan apapun yang mengganjal di hati kamu. perempuan itu hanya ingin didengar dan di mengerti” kembali memegang bahuku. Aku seperti mendapat kekuatan untuk menjalani nasehat Mama.


“Terima kasih Ma, Laura janji akan belajar Ikhlas”.

__ADS_1


“Gitu dong, masalah dendam dan rasa sakitmu biar Tuhan yang membalasnya. Kamu cukup duduk manis saja. Tidak perlu mengotori hati kamu dengan kebencian. Sudah waktunya kamu keluar, menarik nafas lalu katakan. Allah, aku pasrahkan semuanya padamu” senyuman Mama benar-benar tulus. Setiap hari selalu wajah bahagia ini yang aku lihat.


Hari ini, aku melangkah lebih ringan ke dalam ruanganku. Belajar ikhlas yang pertama, selanjutnya biar hatiku yang menilai apakah kuat atau tidak melupakan semuanya, sebisa mungkin aku akan berusaha melupakan semuanya.


Sore menjelang, aku beranjak dari kursi. Membawa handbag. Kemudian keluar ruangan. Baru beberapa langkah aku melihatnya lagi. Remaja itu berdiri menatapku dengan wajah berbinar.


“Mbak Laura baik-baik saja kan” ucapnya setelah menghampiriku. Baru saja aku akan berdamai, tapi rasa benci ini ternyata masih cukup kuat. Ku tarik nafas pelan. Mencoba menjawab itu lebih baik dari pada aku menghindarinya seperti kemarin.


“Baik, masih ada acara dengan temanmu” sebenarnya ini hanya basa-basi. Tidak mungkin dia datang tanpa ada acara seperti kemarin.


“Nggak, hari ini aku ingin bertemu Mbak, bolehkan” ternyata dugaanku salah. Sepeduli apa anak ini sampai datang ke tempat ini hanya ingin menanyai kabarku.


“Boleh, emang nggak kuliah?” aku berjalan bersisihan dengan Faris. Anak ini sebenarnya cukup ceria, hanya saja selama aku tinggal di rumahnya aku tidak pernah melihat dia tersenyum selebar sekarang.


“Penting ya, Mbak buru-buru” Itu hanya alasanku, aku tidak ingin membahas apapun dengannya.


“Sebentar saja. Sepuluh menit” mengacungkan jari telunjuknya di hadapanku dengan senyum lebar, tapi tatapan memohon.


“Kita ke caffee shop depan, nggak enak disini” mengajaknya menjauh dari pandangan rekan kerjaku. Harapanku setelah pembicaraan ini selesai nantinya, dia tidak akan datang menggangguku lagi.

__ADS_1


Kami menyeberang jalan. Motor tetap dibiarkan di tempatnya, rasanya terlalu ruwet kalau harus membawa motor. Duduk setelah menemukan tempat yang nyaman untuk mengobrol. Suasana sore dengan jingga yang hampir pudar membuatku betah berlama-lama disini seandainya teman ngobrolku bukan bocah.


“Jadi” Aku membuka pembicaraan setelah melihat Faris terdiam, kepalanya menunduk dalam. Anak ini aneh, katanya tadi mau bicara, sekarang malah diam.


“Kak Fahri menyesal atas semua yang telah dilakukannya sama Mbak Laura” Tuh, kan. Seharusnya aku sudah bisa menebak, kalau yang ingin dia bicarakan tidak jauh-jauh tentang itu. Aku tarik nafas. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Dan aku malas mendengarnya. Aku berubah pikiran, tidak ingin mengikuti saran Mama berdamai dengan masa laluku kalau masih ada hubungannya keluarga mereka. “Aku tahu Mbak tidak ingin membahasnya. Tapi, sebentar saja dengarkan dulu, setelah itu Mbak Laura boleh pergi” Sepertinya dia bisa membaca pikiranku. mungkin ekspresi ku terlalu mencolok


“Apa kamu menemui Mbak atas permintaan Kakakmu.” Kalau kecurigaanku benar, ini akan menjadi pertemuan terahirku dengan Faris. Tidak peduli tentang nasehat Mama.


“Tidak sama sekali, kalian sudah menjadi mantan bukan, saya hanya ingin memberitahu Mbak kalau keluargaku terpuruk setelah kepergian Mbak. Mungkin ini karma karena mereka sudah menyakiti Mbak” secepat itu, aku yakin ini bukan karma, hanya saja kalau masalah mereka pangkalnya dari uang. Mama yang tidak bisa mengatur keuangan. Tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan. Memuaskan hasrat belanjanya tanpa kenal waktu.


“Terlalu sombong rasanya kalau Mbak menyetujui ucapanmu, apapun yang terjadi itu bukan karma. Tapi Tuhan sedang menguji kalian” Hanya itu kata menguatkan yang bisa ku ucapkan sekalipun aku tidak tahu pasti apa yang terjadi dengan mereka setelah aku pergi.


“Kak Fahri selalu mengurung diri di kamar, setelah pulang kantor kerjanya hanya mengunci diri, Ayah sakit-sakitan tidak pernah dibawa berobat karena Mama bilang tidak punya biaya. Sedangkan Mama, setiap hari hanya marah, gaji Kak Fahri hanya sisa separuh. Tidak tahu kemana sisanya, Kakak tidak pernah menjelaskan apapun sama Mama. Tapi, Kakak masih membiayai kuliahku padahal sudah di tolak. Faris sudah kerja part time buat tambahan. Kak Fahri marah, katanya aku tidak boleh kerja nanti kuliahku nggak selesai” sebenarnya aku tidak peduli dengan ceritanya, tapi mengapa ada rasa puas setelah mendengarnya. Apa mungkin aku sekarang menjadi pribadi yang angkuh.


“Aku turut prihatin Ya, mudah-mudahan masalah kalian cepat selesai” aku tidak tahu, bagian mana cerita Faris yang membuatku merasa diatas angin. Tapi aku tidak ingin terlalu terlihat, bagaimanapun lak-laki di depanku ini dalam kondisi sedang terpuruk.


“Atau mungkin Tuhan sedang menghukum kami yang terlalu jahat sama Mbak” Tatapannya sendu, aku menangkap rasa penyesalan itu di matanya.


“Jangan bicara begitu, Mbak sudah mengikhlaskan semuanya.” Meskipun mungkin sedang berusaha.

__ADS_1


“Boleh Faris minta nomor Hp Mbak Laura. Faris ingin tahu perkembangan ponakanku Mbak” wajahnya memohon, setelah melalui pertimbangan aku menyetujuinya. Paling tidak ini langkah awal aku membuka diri untuk berdamai dengan sumber rasa sakit.



__ADS_2