KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
DIUSIR


__ADS_3

Tidak pernah aku menginginkan Mas Frhan membantah ibunya. Aku juga tidak menginginkan suamiku durhaka kepada ibunya. Aku hanya ingin dia bersikap adil. Bisa menempatkan diri kapan menjadi anak berbakti dan kapan harus menjadi suami. Aku ingin dia menenangkanku ketika ku terpuruk karena ibunya, aku ingin dia memelukku ketika airmataku tumpah setelah hinaan mertuakau. Sesederhana itu bahkan aku tidak bisa mendapatkannya.


“Mengalah Ra, biar kamu tidak di marahi ibu” Bagaikan mantra menjijikkan yang selalu aku terima ketika aku menangis. Entah bagaimana aku bisa terjebak dalam keluarga mereka. rasanya bayangan hidup bahagia itu hanya akan menjadi impian mahal.


Ditengah tangisku yang pilu meratapi kesakitan demi kesakitan, irisan luka yang semakin melebar, suamiku hanya duduk diam di pinggir ranjang. Menunduk, hanya itu yang dilakukannya. Berbicara hanya untuk mengeluarkan kalimat menenangkan saja tidak bisa. Sekaku itu laki-laki yang aku cintai. Atau memang didikan dengan ketakutan penuh ancaman yng membuatnya tidak bisa melakukan tugasnya sebagai suami.


Tak ku hiraukan tentang gaji Mas Farhan yang semua di pegang ibunya. Tak ku hiraukan tentang dia yang tidak menafkahiku. Hanya karena aku tidak menyerahkan gajiku pada Ibu, sekejam itu dia memperlakukan aku. Hinaan, cacian , umpatan kata kasar dan kotor itu aku terima setiap hari. Aku benar-benar ingin menyerah.


Berkali-kali ku utarakan keinginan untuk keluar dari rumah ini, membangun rumah tangga, hidup mandiri tanpa campur tangan mertua sekalipun hanya mengontrak, selalu di tolak suamiku. Dia menyuruhku bertahan demi kedua orang tuanya yang sudah tua. Tapi apa, tak sekalipun dia membelaku didepan orang tuanya. Atau mungkin aku yang tidak paham tentang aturan tak tertulis yang mereka lakukan.


Setelah perdebatan tentang kemungkinan kalau aku hamil, aku semain membenci suamiku. Kesekian kalinya dia tidak bisa melakukan tugasnya sebagai suami. Apa pantas laki-laki lemah ini aku anggap sebagai suami. Atau hanya aku yang berharap terlalu tinggi hanya untuk mendapatkan perlindungannya dari amarah ibunya. Sakitnya tidak dapat aku sembunyikan lagi. Lewat deraian air mata ini aku tumpahkan semua. Biarlah aku hanya mengadukan ini pada Rabku.


“Apa wanita ini bersikeras tidak mau menggugurkannya, kalau begitu malam ini keluar kamu dari rumahku” Ibu masuk lagi dengan mata yang lebih tajam, tatapan penuh kebencian tentu saja untukku. Bentakan itu lebih keras dari biasanya. Aku bisa melihat urat-urat yang menegang di lehernya. Tangannya lurus mengarah kepintu denga telunjuk yang mengacung.

__ADS_1


Aku berdiri, untuk kali ini biarkan aku menantang wanita angkuh ini. Tak akan aku pedulikan lagi rasa hormat, harga diriku sudah dia injak ke tempat paling rendah. Tak akan aku pedulikan suamiku, biarkan aku yang membela harkat dan martabatku kali ini.


“Kalaupun saya hamil, saya tidak akan menggugurkannya. Saya lebih baik keluar dari rumah ini. Saya tidak akan lebih lama lagi tinggal dalam neraka ini” ku tantang tatapan tajam Ibu Mas Fahri. Rasa takut itu sudah menguap. Kebencian sudah menguasai hatiku. “Terima kasih Mas, karena kamu sukses membuatku menderita selama ini” Ku tekan suara agar tidak berteriak.


Tak perlu mendengar jawaban mereka, aku melihat kedua mahluk yang ada di kamarku ini menegang. Mungkin terkejut aku bisa melawan Ibu. Cukup sudah aku diam selama ini, mungkin diamku dianggapnya penurut atau penakut. Entahlah, aku lelah diam. Aku capek harga diriku diinjak. Aku lelah terus mengalah. Cukup sudah sabarku selama ini. Diamku membuatku semakin terinjak.


Memasukkan baju satu persatu baju kedalam koper, ini juga koper yang membawa bajuku pertama kesini. Kini aku akan membawanya kembali. Air mataku tak terkendali, setiap helaian baju yang ku masukkan, menggoreskan luka yang semakin perih. Lambat laun semakin menyiksa. Dadaku sesak. Terkenang kembali impianku disini, membangun rumah tangga yang damai, berdampingan dengan mertua itu aku kira akan mudah. Tak terpikir akan mengalami penderitaan yang berkepanjangn seperti ini.


Aku melihat bapak mertua dibawah tangga dengan wajah sendu, tatapannya menyiratkan kesedihan. Aku menatapnya sejenak, setelah itu aku bergegas menarik koper. Aku mendengar derap langkah berlari menghampiriku ketika aku hampir mencapai pintu.


“Jangan pergi Ra, kita bisa bicarakan ini baik-baik” Mas Farhan menarik lenganku, langkahku berhenti tanpa membalikkan badan. Aku sudah tidak ingin melihat wajahnya. Sungguh, aku benar- membenci suamiku. “Aku akan berusaha mencari jalan keluar. Tapi untuk saat ini bertahanlah demi aku. Demi hubungan kita” Laki-laki itu memohon. Tapi hatiku sama sekali tidak tersentuh dengan kalimatnya.


“Farhan apa-apaan kamu. lepaskan, biarkan dia pergi” Satu bentakan keras, mampu melepas tangan yang memegang lenganku kuat. Hanya sebatas ini tanggung jawab suamiku, bahkan untuk menahan istrinya saja dia tidak mampu. Semua hal, terkalahkan oleh murka ibunya. Begitu berbaktinya suamiku, bahkan untuk melakukan perannya sebagai suami saja, kalah oleh rasa hormat pada ibunya. Untuk apa dia menikahiku kalau pada ahirnya semua hal dia lakukan untuk wanita yang di telapak kakinya masih ada surga suamiku.

__ADS_1


“Satu langkah kamu keluar dari rumah ini, maka selamanya kamu jangan bermimpi untuk kembali” Aku tahu kepada siapa kalimat itu di tujukan. Tidak perlu menarik urat leher dengan berdebat, diam sudah cukup bagiku. Karena apapun yang aku lakukan sekarang akan tetap salah di matanya. “Dan jangan coba-coba kamu mengantarnya. Kalau kamu melakukan itu, Ibu tidak akan pernah menaganggapmu anak, dan kamu akan mendapat kesialan karena sudah membantah Ibumu” Dan, ahirnya kalimat pamungkas itu keluar, sumpah serapah penuh kutukan seperti biasa yang akan membuat nyali suamiku menciut. Tak akan berani dia melanggar itu kalau Ibunya yang berkata.


Dengan rasa sakit yang semakin menggumpal, aku langkahkan kaki menuju pintu. Membukanya seolah dunia luar sedang menyambutku dengan kebebasan yang sebenarnya. Rasa luka yang mereka torehkan, akan aku ingat selamanya. Tak kudengar lagi suara Mas Farhan.


Beginikah nasibku, ditendang keluar seperti sampah dari rumah suamiku sendiri, perihnya hati ini menjalar keperut. Tumpah ruahlah airmataku yang hanya berupa tetesan dari tadi. Rasa kecewa, sakit dan luka atas perlakuan mereka sempurna berpadu menjadi gumpalan kepedihan dan siksaan bathin yang tak berkesudahan. Demi anak yang ada dalam kandunganku, tak akan aku mengemis tanggung jawab dari laki-laki yang memang tidak ingin melakukannya.


Belum sampai aku menyentuh pagar, suara pintu tertutup dengan keras sampai ke runguku. Kulangkahkan pasti menjauhi mereka, membuka gerbang simbol bebasnya diriku dari neraka yang mereka ciptakan.


Sudah kuduga ekspresi ibu dan bapak. Tak tega aku melihat air mata mereka. setelah aku membuka pintu rumahku sambutan penuh kekhawatiran terpampang jelas disana. Sejak turun dari taksi online tadi keinginan pertamaku adalah memeluk ibu, saat ini aku tuntaskan semuanya. Aku peluk mereka bergantian. Orang-orang yang tidak akan pernah menyakitiku. Kutumpahkan segala duka dan kepedihan.


“Maafkan Laura, Bu. Laura belum bisa membahagiakan kalian. Justru sekarang Laura datang dengan air mata. Ijinkan Laura tinggal disini. Aku sayang ibu dan Bapak” dengan terbata-bata. Kata kata itu terucap, bahkan kadang tidak terlalu jelas, karena berlomba dengan suara tangis yang tidak dapat kutahan. Bapak mengusap punggungku lembut. Ibu tidak melepaskan pelukanku, hangat. Inilah rumah yang aku cari penuh cinta dan kehangatan walau dalam kesederhanaan bukan dengan gaya hidup mewah yang di paksakan.


“Ibu menyayangimu Nak, sampai kapanpun kamu adalah anak kami. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan kami juga. Apapun yang terjadi kami akan menerima keadaanmu. Berhenti menangis air matamu hanya akan menyakiti Ibu sama Bapak” mereka adalah rumah tempat aku kembali. Menjadi anak seperti semula. Aku tidak ingin yang lain. Aku ingin mereka sehat Tuhan. Kuseka airmata. Aku berjanji tidak akan pernah menumpahkan airmata lagi dihadapan mereka.

__ADS_1


__ADS_2