KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
OVERTHINKING


__ADS_3

“Mama pikir, memberikan kesempatan kalian bicara akan jauh lebih baik, siapa tahu kamu bisa memaafkan Farhan. Kelihatan benget kalau dia masih cintai Ra”


“Kenapa Mama membawanya kesini” Tanyaku dengan tatapan lurus, pada lambaian pohon jambu dibelakang rumah.


“Dia mengikuti Mama kekantor tiga hari berturut-turut. Kasihan dia ingin bertemu Shaka. dia Ayahnya, sebesar apapun kesalahannya jangan terlalu lama mendendam. Lakukan yang terbaik untuk Shaka. Maaf kalau cara Mama membawa dia kesini membuat kamu tidak nyaman” Wajah sendu Mama membuat aku merasa bersalah. Bagaimanapun yang dilakukan Mama memang ada baiknya, mempertemukan Shaka dengan Ayahnya bukan sebuah dosa, hanya saja aku yang tidak ingin bertemu lagi.


“Mama tidak melakukan kesalahan apapun, jadi tidak perlu minta maaf” Aku tarik nafas, memandang wajah Mama yang menunduk membuat dadaku nyeri. Dia wanita yang sudah banyak menolongku, tidak ingin aku membebaninya dengan rasa bersalah. “Dia mengajak rujuk, seolah lupa bagaimana dia menghancurkan Laura Ma” Ahirnya aku katakan juga hal yang membuat aku tidak nyaman. Seandainya laki-laki lemah itu tidak mengungkapkan niat kurang ajarnya mungkin aku tidak akan sebenci sekarang. Mama orang yang paling bisa membaca pikiranku hanya dari raut wajah. Dan tebakannya selalu benar.


“Shaka kayaknya enak banget tidur di pangku Ayahnya. Memang ya, ikatan bathin mereka kuat banget, padahal masih tiga bulan” Kami brbicara tanpa saling menatap, pikiranku dan Mama masih depnuhi rasaa tidak enak.


“Se usia Shaka di gendong siapa saja pasti nyaman Mah” Entah mengapa aku tidak suka kalau suatu saat Shaka dekat dengan Ayahnya. Tujuan Mama baik, apalagi Mas Farhan yang memaksa Mama untuk dipertemukan dengan anaknya.


“Habisin susunya. Banyak istirahat, besok mama ada jadwal pagi” Mama berdiri setelah menghabiskan teh. Mengusap kepalaku kemudian berlalu. Mama menghindari pembicaraan tentang Mas Farhan. Aku tahu mama pasti masih merasa bersalah membawa Ayahnya Shaka bertemu denganku. Aku berlalu menyusul Mama setelah susu di gelasku tandas. Sebelumnya aku mencuci terlebih dahulu.


Anakku terlelap, wajahnya sangat damai, bibirnya bergerak seperti sedang menyusu. Posisinya telentang dengan kedua tangan diatas disamping kepala. Cinta, aku benar-benar jatuh cinta pada buah hatiku. Ku cium pipinya berulang, masih terlelap tidak terusik. Kulanjutkan mencium keningnya. Masih juga terlelap. Aku ingin membangunkan dia mengajaknya bermain, tapi tidak tega.


Sudah jam 10 malam, tapi mataku belum ingin terpejam. Kantuk belum menghampiri, berjalan ke meja membuka laptop mengecek pekerjaanku sebentar, siapa tahu setelah ini aku akan mengantuk.


Setengah jam berlalu, mataku menatap laptop tapi pikiranku masih mengingat ucapan Mas Farhan. Ajakannya untuk kembali membuatku merasa jijik. Laki-laki tidak tahu malu, apa yang dia lakukan ketika masih sah menjadi istrinya. Selain menyakiti apalagi. Caranya memperlakukan Ibu setiap kali kami bersiteru bukan menjadi penengah, justru dengan jelas dia membela Ibu dengan menyalahkan ku atas semua yang terjadi didalam rumah.

__ADS_1


Aku yakin, Mas Farhan melakukan semua tanpa sepengetahuan Ibunya. Masihkah dia bersikap pengecut ketika nanti ibu melakukan hal yang sama pada anakku. Manyakiti dengan lidah tajamnya. Membayangkannya saja membuatku sakit.


Jika suatu saat nanti Shaka bertemu dengan neneknya, apa yang akan dilakukannya. Menatap anakku dengan jijik atau menyuruhku untuk manjauhkan Shaka darinya karena tidak sudi melihat wajah anakku. Tuhan, jangan sampai itu terjadi, aku tidak ingin Shaka mengalami hal yang menyakitkan. Cukup aku yang diperlakukan seperti sampah jangan anakku.


Membayangkan hal apapun tentang Shaka membuat ku begitu sensitif, bahkan membayangkannya saja membuatku meneteskan air mata. Kuusap perlahan bulir air yang mulai menetes. Dadaku sesak karena menahan tangis yang tak tuntas. Aku tidak mungkin tersedu sekarang, bukan waktu yang tepat. Bisa mengundang Mama datang kekamar dan membangunkan tidur anakku.


*Tentang perlakuan buruk yang lagi-lagi aku ingat, makan malam yang membuatku hampir memuntahkan makanan. Kalau tidak ingat bahwa aku harus bersikap sopan didepan makanan sudah aku semburkan isi mulutku pada Ibu ketika itu. Baru saja aku mengambil nasi dan lauk meletakkan di piring. Aku sendok kemulut, mengunyah perlahan. Tiba-tiba aku mendengar suara ibu dengan lantang.


“Enak banget ya jadi kamu, pulang kerja tinggal makan. Belanja nggak nyumbang. Gajimu pasti buat beli baju tiap bulan. Untung kamu menikah sama anakku dan tinggal disini, hidupmu bagai putri” Sumpah, aku terkejut mendengar Ibu mengungkit tentang gajiku lagi*.


Aku berhenti mengunyah, rasa makanan yang ada di mulutku tiba-tiba hambar. Dengan susah payah aku menelannya, mendorong dengan air adalah cara biar cepat sampai ke lambung sebelum aku memuntahkan di depan wanita bermulut tajam. Kalau boleh aku jujur, belum pernah aku makan masakan mertuaku rasanya pas di lidahku. Kalau tidak hambar, terlalu asin. Atau kadang bumbunya tidak sesuai dengan bumbu yang biasa Ibuku masukkan ketika masak menu yang sama. Aku berusaha membiasakan diri dengan rasaa yang tidak karuan.


Dimana suamiku ketika ibunya menghinaku lagi dan lagi. Dia ada di meja makan disebelahku. Jangankan menenenangkan aku, menoleh saja tidak. Kesekian kalinya aku seperti tidak punya suami, aku seolah orang asing yang datang kerumah mereka.


Dadaku benar-benar sesak, hidungku tersumbat. Ku tutup wajah dengan lengan diatas meja kerja. Aku menangis sejadi-jadinya tanpa suara, hanya isakan yang terdengar. Ku teguk segelas air, lumayan bisa meredakan sesak. Tapi bayangan buruk perlakuan mereka masih benar-benar nyata berputar dikepala.


Aku tersentak, tiba-tiba ada tangan yang memelukku dari belakang. Sangat erat, hingga aku merasa nyaman. Aku mengenali dari parfumnya.


“Maafin Mama Ra, sudah membuat kesalahan besar untuk hari ini. Mama janji tidak akan mengulanginya lagi. Mama benar-benar minta maaf” Diselingi isakan, isakanku semakin menjadi. Yang dari tadi kutahan ahirnya ku tumpahkan semua. Luka ini menganga kembali. Mendengar isakan dan permintaan maaf Mama hatiku seperti diremas tangan tak kasat mata. Perihnya hingga ke perut.

__ADS_1


“Bukan karena Mama laura menangis, Mama tidak salah. Laura yang masih terlalu mendendam. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kalau wanita yang darahnya kebetulan mengalir didalam tubuh Shaka bertemu. Apa dia akan menghina anakku Ma. Apa dia akan menyuruh Mas Farhan membunuh Shaka” Bahuku terguncang dalam dekapaan erat Mama. Tangisku benar-benar lepas.


“Mama tidak pernah tahu kalau kamu trauma. Mama memang bodoh Ra. Mama tadi curiga makanya pura-pura masuk ke kamar. Mama tidak tega dengar kamu nangis. Jangan pikirkan apapun. Mama akan jadi orang pertama yang akn melindungi Shaka, kalau yang kamu takutkan benar-benar terjadi” Aku merasa tidak enak, rasa bersalah Mama tidak biasa. Aku yang tidak bisa menyembunyikan kepdihanku, atau aku yang terlalu over thinking.


“Kenapa sesulit ini melepas ingatan perlakuan kejam mereka. berkali-kali Laura mencoba ikhlas tapi ketika laki-laki itu muncul, seolah bayangan gelap mengikuti dibelakangnya. Ketika tadi Laura sudah ngasih cincin ke Mas Farhan, Laura pikir semua kenangannya juga akan terbawa” tangisku tak lagi terdengar, dan suaraku tidak terbata seperti tadi. Aku berusaha tenang demi Mama.


“Karena kamu mau pindah rumah, makanya ngasih kesempatan dia buat ketemu Shaka. Ternyata....”


“Nggak usah terus-terusan menyalahkan diri sendiri Ma, emang keluarga mereka saja yang kurang ajar. Kalau tidak ada Mama, mungkin sekarang Laura sudah nggak ada disini sama Shaka. terima kasih untuk semua yang Mama lakukan. Buat Mas Arga juga.” Melaptas pelukan menatap wajah Mama, memperlihatkan kalau aku sudah baik-baik saja. Senyum selebar mungkin. Mama mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Kemudian mencium keningku dan memelukku sekali lagi.


Terdengar tangisan dari kasur, anakku terbangun mungkin sepertinya dia haus.


“Gemes banget suara tangisnya, Mama pengen lihat. Jangan di kasih minum dulu Ra, Mama pengen denger dia nangis” Ternyata aku dan Mama sama. Suara tangisan Shaka bagai kidung syahdu yang menggelitik. Lucu dan menggemaskan


“Mama tidur disini ya, sudah malam biar dekat sama bayi mungil ini” Mencium tangan anakku dengan gemas.


“Nanti terganggu suara nangisnya Shaka, besok harus berangkat pagi kan?” Mungkin Mama lupa dengan janjinya.


“Gampang tinggal Bilang tidak bisa, nanti jadwalnya bisa di atur ulang” Jawabnya enteng.

__ADS_1


Aku tahu yang di katakannya tadi tentang berangkat pagi hanya alasan Mama untuk menghindari percakapan yang memang tidak enak. Mama merasa bersalah setelah membawa Ayahnya Shaka.


__ADS_2