
Aku pernah mendamba cinta sedemikian gila, hidup bagai berjalan di awan seolah tak ada yang akan mampu merebutnya dariku. Nyatatanya bukan angin yang membuai tapi badai yang menghempaskanku pada kenyataan bahwa aku mencintai tapi bukan aku yang dicintainya.
Tatapanku masih tajam pada dia yang menggendong Shaka, wajahnya berbinar aku tidak bohong. Dia sangat bahagia, terlihat jelas. Hatiku berbalik, dadaku panas melihat senyumnya. Sesekali dia menatapku dengan senyum yang sama. Siapa yang memberi tahu laki-laki bajingan ini dimana aku tinggal.
"Mama tinggal dulu, mau mandi, gerah" Mama memegang tanganku dan tersenyum. dia bangkit dari duduknya "Kamu puas-puasin main sama Shaka" lanjutnya lagi pada Mas Farhan. Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Tinggal kami bertiga di ruang keluarga. Dan menurutku Mama berlebihan memberikan dia tempat di sini untuk bertamu.
"Kenapa kamu tidak mengabari aku" Tangannya mengusap kepala Shaka, itu semua tidak luput dari pandanganku. Anakku tertidur dalam gendongannya. Bukan membiarkan, tapi sudah berkali-kali aku meminta untuk menggendong Shaka tapi Mas Farhan menolak.
"Untuk apa?" Jawabku sinis, dadaku tergelitik untuk memuntahkan amarah. Kehadirannya saja tidak pernah aku inginkan bagaimana mungkin aku memintanya untuk menemani ku melahirkan.
"Aku sudah berjanji untuk menemanimu melahirkan anakku. Bahkan kamu tidak melibatkan aku memberinya nama dan orang yang harusnya mengadzani, aku Ayah-nya. kamu terlalu egois Ra" Nadanya tidak marah bahkan tatapannya masih datar. Mas Farhan mengatakan itu dengan santai. Tapi aku sudah tersulut amarah, dia menyalahkan aku hanya karena tidak memberinya kabar, dan memang aku yang tidak mau melakukannya sekalipun dia sudah memberikan kontak.
"Tidak perlu, Aku bisa mengatasi semuanya sendiri. Dan harusnya juga Mas Farhan tidak perlu repot datang kesini menemui anakku" Aku balas dengan cara yang sama, datar tanpa emosi padahal aku hampir tidak kuat menahan panasnya dada.
"Repot katamu, aku Ayah kandungnya. aku ingin dia melihatku pertama kali. aku ingin memeluknya ketika dia menangis untuk pertama kali. Apapun itu aku harus jadi orang pertama. kamu keterlaluan Laura" Mulai matanya merah, dia tidak berteriak. dari tarikan kuat dan kecepatan nya menarik nafas aku tahu dia sedang marah. Jangan lupakan tatapan tajamnya bagai laser yang siap membelah tubuhku.
__ADS_1
"Ibu apa kabar?" Aku bukan mengalihkan pembicaraan, aku sedang memberitahu dia alasanku melakukan ini semua. Itu pun kalau Mas Farhan peka.
"Apa maksud mu bertanya kabar Ibu" Rupanya dia masih marah. tatapan dan hembusan nafasnya belum reda.
"Apa Mas Farhan sudah minta ijin menemui Shaka. Surga ada di telapak kaki ibu kan. Bagaimana kalau ibu tahu kamu datang menemui bayi yang tidak pernah dia inginkan" Rupanya kalimat laki-laki tidak peka itu sekarang benar-benar ada didepanku. selain tidak peka, dia juga tidak tahu malu.
" Tidak ada hubungannya dengan ibu, ini tentang aku, kamu dan anak kita. Bukankah sudah aku bilang aku akan memulainya dari awal. Akan aku katakan maaf berulang jika itu bisa membuatmu memaafkanku. Aku akan mengikuti semua keinginanmu. Demi anak kita kesampingkan dulu egomu" Duh, Ayah-nya Shaka ini benar-benar tidak punya urat malu. Atau jangan-jangan dia amnesia. Melupakan perbuatannya yang menghancurkan semua keinginanku untuk bersamanya lagi. bagaimana bisa dia lupa ketika menyuruh menggugurkan kandungan ku dulu.
"Anak yang kamu maksud, sudah meninggal ketika kamu menyuruhnya menggugurkan. Shaka anakku, dan tidak ada hubungannya denganmu. Karena hubungan itu sudah selesai ketika aku melangkahkan kaki keluar dari rumahmu. Ingatkan. Pulanglah, agar kamu tidak menjadi anak durhaka. tidak akan berkah hidupmu jika Ibu menyumpahimu nanti" Kita lihat reaksinya. Kalau dia masih ngotot aku terpaksa akan mengusirnya.
"Tapi aku tidak mau" Dengan tegas aku katakan, tidak akan ada keraguan lagi. siapapun dia aku bisa menghidupi anakku. bukankah selama ini aku memang hidup sendiri, berjuang bertaruh nyawa juga sendiri. Aku bukan sombong, tapi menjunjung tinggi harga diri yang pernah di injak Ibunya sedemikian rendah.
"Aku Ayah kandung Shaka kalau kamu lupa, dia membutuhkan aku, kamu tidak akan bisa menampik fakta. Aku akan memberikan yang terbaik untuk anakku. kasih sayang dan limpahan materi sampai nanti dewasa. Aku akan menjadi orang pertama dalam setiap tumbuh kembangnya. Kita berdua akan menjadi orang tua yang hebat. Aku sudah menyiapkan semuanya. Hari ini aku meminta dengan sungguh-sungguh, kembalilah. Dan berkemas lah kita akan pulang kerumah" Tinggi sekali percaya dirinya. Ada beberapa fakta yang dia lupakan. Bahwa kata maaf dan permohonannya tidak akan mengembalikan rasa sakit karena perbuatan Ibunya dulu.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah sudi kembali padamu. Cukup sudah aku sakit dan terluka, sementara kamu diam tidak pernah membela ku. Aku ingatkan bahwa kita bukan lagi suami istri. Kamu Ayah nya Shaka tapi kita tidak punya hubungan apapun" Entah bagaimana bisa aku sesantai ini menghadapi Mas Farhan sekarang. Berbeda ketika aku hamil dulu. Dadaku sesak oleh kebencian hanya dengan menatap wajah dan mendengar suaranya.
__ADS_1
"Aku tahu, maafkan aku. Bolehkah aku meminta rujuk. Aku akan perbaiki semuanya kita akan memulai dari awal"
"Maaf aku tidak bisa" Potongku cepat. Aku tidak ingin membahas hubunganku dengannya baik di masa lalu ataupun di masa depan.
"Kenapa?" Tatapannya beralih tajam ke mataku. Yang dari tadi hanya fokus menatap wajah teduh Shaka dalam lelap.
"Karena kamu anak dari wanita yang sudah menginjak harga diriku sedemikian hina. Kita tidak bisa menghilangkan pertalian darah" Jawabku cepat, ku tantang tatapan nya.
"Aku jamin tidak akan aku biarkan Ibu melakukan hal buruk lagi padamu. Aku akan membelamu sekalipun Ibu akn membenciku" Aku pernah mendengar Mas Farhan berkata seperti ini ketika kami tidur saling memeluk. Tapi kenyataan nya berbeda ketika sudah berhadapan dengan Ibu.
"Tapi dia tetap akan menjadi mertuku kan?" Tidak akan bisa dia menyangkal. Hubungan yang diikat dengan pertalian darah tidak akan pernah menjadi bekas. Tapi hubungan yang hanya diikat oleh janji dan sebuah kertas. Kalau sudah rusak akan menjadi bekas pada saatnya nanti.
"Satu hal yang baru baku sadari bahwa, aku lebih bahagia setelah keluar dari rumah mu dan terbebas dari ikatan mu, Aku harap ini pertama dan terahir kamu datang menemui Shaka. Aku minta maaf kalau selama aku menjadi istrimu aku belum pernah membuat kamu dan Ibu bahagia" Ku tutup kalimat dengan suara rendah penuh penyesalan. Mata yang dari tadi tajam menghujam kini tertunduk layu. mendekap Shaka lebih erat.
" Kamu pikir lagi Ra, demi Shaka. Aku mencintaimu sampai kapanpun" Suaranya bergetar kalau aku tidak salah dengar. Menciunm kening Shaka lama.
__ADS_1
"Keyakinan ku sudah bulat. Oh iya, ini aku kembalikan. Maaf tidak bisa menyimpan lebih lama lagi" Cincin kawin, benda terahir yang masih aku pakai. Karena semua hal tentang Mas Farhan sudah lama aku membuangnya. Aku berjanji pada diriku sendiri ketika cincin ini sudah terlepas maka. Hatiku juga akan melepsanya dengan ikhlas.