KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
TUMBANGNYA SEORANG WONDER WOMAN


__ADS_3

Aku berjalan tergesa di koridor rumah sakit. Setelah tadi mendapat kabar dari chintya kalau Mama masuk rumah sakit. Ini pertama kalinya Mama sakit setelah tiga tahun kelahiran Shaka. Belum pernah sakit separah ini sampai harus dilarikan ke UGD. Badanku gemetar ketika Chintya memberiku kabar. Belum tahu Mama sakit apa, tapi dari suara panik Chintya aku tahu kalau kondisi Mama tidak bisa dianggap remeh. Aku pikir penyakit tidak akan mendekati Mama, gaya hidup sehat, wanita yang super aktif. Hingga aku memberikan Mama gelar wonder woman di dunia nyata.


Aku merasa lorong ini terlalu panjang, langkah sudah aku percepat dari tadi entah mengapa kok tidak sampai juga. Nafasku mulai cepat dan berat. Beberapa kali mataku berkeliling membaca tanda tempat Mama di rawat, karena sudah di pindahkan ke ICU katanya. Tak ku pedulikan tatapan tajam mereka, mungkin sekarang penampilanku sudah seperti orang hilang. Untungnya aku memakai sepatu flat, untuk sementara betisku akan aman dari rasa pegal.


Tepat di depan ruangan aku melihat Mas Arga dan Chintya duduk dengan saling menutup wajah. Aku mendekat, mereka melihatku bersamaan. Chintya yang lebih dulu datang menghambur kepelukanku. Tangisnya pecah, dadanya berguncang. Aku kunci rapat mulutku, padahal ada ribuan pertanyaan menggantung di kepala. Air mataku ikut keluar, mendengar tangisan Chintya yang menyayat aku tidak kuat.


Mas Arga mendekat, dia mengusap punggung Chintya dengan lembut. Wajahnya pun di gelayuti duka, wajah sedih mereka tak dapat disembunyikan. Aku tatap mas Arga, mencoba mencari tahu dengan mengangkat kedua alis. Tapi dia hanya membalas dengan gelengan kepala. Mungkin dia tidak ingin memberi tahuku.


“Aku nggak mau Mama kenapa-napa Ra. Orang tuaku tinggal satu, apa jadinya kalau Mama juga pergi” Sungguh kata-kata Chintya membuatku takut. Airmataku semakin deras, entahlah mungkin aku cengeng. Tapi Mama, wanita kuat yang sedang terbaring lemah didalam sana, apa sebenarnya yang terjadi, sampai Chintya harus benar-benar ketakutan.


“Nggak akan terjadi apapun dengan Mama, kita berdoa saja Mama bisa sembuh cepat. Ini hanya cobaan buat kita” Meskipun aku tidak yakin dengan kalimatku sendiri, paling tidak itu kata-kata yang bisa menguatkan Chintya untuk saat ini.


“Tapi Mama pingsan Ra, aku pikir sampai di UGD terus ruang perawatan. Nyatanya Mama harus di bawa ke ICU karena kondisinya parah. Dokter bilang itu tadi” Masih dengan suara sesenggukan dia menjelaskan.


“Kita duduk dulu, nggak enak kalau berdiri gini, aku juga pengen tahu Mama kenapa sampai begitu” membimbing Laura duduk di kursi tamu. Mas Arga hanya terdiam, wajahnya diliputi mendung, dia pun sama cemasnya dengan Laura. dasarnya memang pendiam, dia hanya menunduk tanpa kata. Sekalipun hubunganku dengan Mas Arga sudah lebih baik. Tapi untuk kali ini aku tidak berani menegurnya.


“Mama tadi pagi bilang Nggak enak badan, nggak keman-mana dulu mau istirahat katanya. Aku yang berangkat sendiri. Aku pikir Mama hanya masuk angin seperti biasa. Tiba-tiba Bi sumi nelpon waktu aku sudah sampai butik. Ngasih tahu kalau Mama pingsan di ruang tamu. Aku nggak tahu Mama sakit apa. Pikiranku langsung nggak enak. Aku pulang lagi, sampai di jalan, Mas Arga ngasih tahu kalau nggak usah kerumah, langsung ke rumah sakit aja. Lihat keadaan Mama pucat berbaring Nggak sadar aku hancur Ra” Aku sama hancurnya mendengar cerita Chintya. Kami menangis, aku peluk erat Chintya. Tidak bisa aku bayangkan perasaannya tadi ketika melihat Mama, aku saja yang hanya mendengar rasanya tidak kuat membayangkan wajah yang biasa ceria itu terlihat pucat.


Aku usap bahunya, sekedar menenangkan dengan pelukan. Aku pegang tangan Mas Arga, menguatkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Pertama kalinya tatapan kami beradu dengan tang saling menggenggam. Dia membalas lebih dengan meremas tanganku, meluapkan emosinya disana. Untuk kali ini aku benar-benar melihat air mata itu jatuh di pipinya. Mas Arga membuang muka menghindari tatapan denganku. Aku tahu perasaannya. Laki-laki mengeluarkan air mata demi wanita yang melahirkannya. Itu artinya hati Mas Arga sama hancurnya dengan kami.

__ADS_1


“Percayalah, kita pasti bisa melewati ini semua. Mama kuat Chin, kita hanya bisa berdoa semoga keadaan Mama nggak apa-apa” Kalimatku ke chintya yang masih dalam pelukan, tapi tangan dan kalimatku untuk Mas Arga yang mulai terlihat sangat rapuh.


Tidak mudah berada di posisi mereka saat ini, orang tua tunggal yang tiba-tiba harus tumbang, sementara mereka hanya tinggal berdua. Sekuat-kuatnya Mama, ternyata ada batas waktu untuk badannya melemah. Mungkin terlalu capek semua Mama urus sendiri.


Seorang dokter muda menghampiri kami, kalau aku tidak salah melihat usianya mungkin sama dengan Mas Arga.


“Udah, Mama sudah sadar. Jangan panik gitu. Dia hanya kecapean” memegang pundak Mas Arga. “Kayaknya Mama butuh menantu Ga, kasih cucu gitu” Wajah ramahnya menggoda Mas Arga. Aku bisa bernafas lega. Itu artinya kondisi memang sudah membaik.


Chintya mengangkat wajahnya ,menatap dokter muda di depanku.


“Makasih Kak, sudah bantuin Mama” Ucapnya sambil menyeka air mata di pipi.


“Kalau gitu aku tinggal dulu mau lihat keadaan Mama". Mas Arga berpamitan


“Gantian dong, kita ngobrol dulu” Wajah Mas Arga gusar.


“Ada ya, dokter ngajak keluarga pasien ngobrol. Nggak ada kerjaan emang” protesnya. “Kamu sama Laura duluan dik” Perintahnya pada kami.


“Laura ya, kenalin saya dokter Hardi, dan saya kebetulan masih single” Mengulurkan tangan ke arahku. Bisa-bisanya dokter ini masih santai. Aku tidak tahu se akrab apa hubungan mereka. selama aku tinggal dengan Mama, baru sekarang aku melihat wajahnya. Lumayan sih, bersih, putih, tinggi juga.

__ADS_1


“Laura. saya permisi ke sana dulu Mas” Pamitku setelah menjabat tangan memperkenalkan diri.


“Gila, jadi itu yang namanya Laura. yang membuat seorang Arga tiba-tiba mutusin pacarnya, terus banyak diam dan jarang ngumpul sama anak-anak” Sumpah, suara dokter itu terdengar begitu jelas. Ingin rasanya mendengarkan lebih jelas obrolan mereka. tapi buat apa.


“Bukan aku, emang dianya yang selingkuh, tidak ada hubungannya sama Laura” suara Mas Arga lirih tapi aku masih mendengarnya karena ku sengaja memelankan langkahku. Setelahnya aku tidak mendengar obrolan mereka. hingga aku masuk kedalam ruang perawatan Mama.


“Mama gimana, apanya yang sakit. Kok nggak bilang chintya Ma. Tahu gitukan nggak usah berangkat tadi” Kembali airmata chintya berderai. Tangisanya kembali pecah. Wajah pucat dengan selang oksigen yang terpasang di hidungnya.


Dalam kondisi lemahnya Mama masih bisa tersenyum. Aku salut untuk wanita kuat yang satu ini. Tangannya masih bisa mengusap wajah chintya dengan lembut.


“Mama nggak apa-apa, kata dokter besok Mama sudah boleh pindah ke ruang perawatan” Bicaranya masih lemah, tapi Mama masih bertahan dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


“Chintya sudah pernah tahu rasanya kehilangan, jangan lagi Ma, itu rasanya nyesek banget”


“Nggak akan, Mama masih ingin lihat kamu nikah dan punya anak” Aku tahu Mama hanya menghibur Chintya. Bahkan Mama masih sering menutup mata, dengan wajah yang meringis seolah sedang menahan sakit.


“Mama sudah enakan?” Sengaja aku bertanya begitu, karena Mama menyembunyikan sakitnya.


“Lumayan, kamu kesini siapa yang jaga Shaka?” Suaranya sangat lemah.

__ADS_1


“Ada ibu sama bapak. Mama cepat sembuh ya” Ku pegang tangan Mama yang masih terpasang selang infus.mengusap punggung tangan itu dengan lembut.


__ADS_2