
Aku beranjak dari meja kerja, melirik jam dipergelangan tangan. Ku periksa meja sekali lagi, takut ada yang ketinggalan. Sudah rapi dan bersih juga. Ku tenteng hand bag keluar ruangan. Berjalan setelah menutup pintu. Ku sapa beberapa karyawan yang berpapasan.
“Saya duluan ya” Pamitku pada waitress yang lewat didepanku. Wanita itu hanya menangguk hormat. Aku ingin mereka tidak terlalu kaku padaku.
Hariku di tempat kerja sudah berahir. Waktunya pulang sekedar meluruskan badan setelah seharian duduk. Ku usap perutku perlahan, haru menyeruak. Aku sangat mencintai calon bayiku ini. Seharusnya laki-laki itu ada disini. Memberikan cintanya untuk kami seperti pasangan lain.
“Mbak Laura” suara keras laki-laki mengagetkanku. Aku sudah hampir mencapai tempat parkir ketika suara itu memanggilku berulang. Ku hentikan kaki, berbalik badan. Seorang remaja mengejarku. Faris. Mantan adik iparku.
“Mbak Laura apa kabar” tanya nya dengan nafas memburu.
“Baik, kamu ada disini?” menatapnya tidak percaya, bukan hal aneh sebenarnya, dia kuliah di kota ini. Cuma yang jadi pertanyaanku kenapa dia bisa ada di tempat ini.
“Iya, ada acara sama teman-teman” Tiba-tiba rasa canggung menyergap kami. Hubungan ku dengan kakaknya sudah selesai, dan rasanya tidak ada yang perlu kami bicarakan lagi. Dulu, ketika aku masih menjadi istri kakaknya, hubunganku dengan Faris juga tidak terlalu dekat. Kalau tidak sibuk kuliah dia sibuk main sama teman-temannya.
“Maafkan keluargaku ya Mbak” tiba-tiba wajahnya mendung, aku melihat wajah anak itu tertunduk. Rasanya kurang pantas anak ini minta maaf, apalagi semuanya sudah terjadi. “Maafkan Kak Farhan, maafkan Ibu. maafkan semua yang pernah nyakitin Mbak Laura” lanjutnya. Kali ini wajahnya terangkat, tatapan kami sempat beradu sesaat. Aku tidak ingin kembali mengingat kejadian menyakitkan itu lagi.
“Sudah terjadi bukan, mungkin sudah takdirnya. Jodoh kami hanya sementara. Nggak usah di bahas lagi ya” Untuk mengabulkan kata Maaf dari Farhan rasanya hatiku belum bisa. Perlakuan mereka terlalu membekas. Untuk saat ini aku hanya berusaha untuk tidak mengingatnya lagi.
__ADS_1
“Ibuku memang keterlaluan Mbak, itu sebabnya aku jarang dirumah. Hanya Ayah yang baik, sayangnya Ayah tidak bisa melawan Ibu” Aku benar-benar tidak ingin membahas masa laluku. Sama sekali tidak ingin mengingatnya.
“Tidak usah di bahas lagi ya, Mbak pulang dulu” Tujuanku ingin mengahiri pembicaraan ini. Seolah sedang mengorek luka yang tak lagi berdarah. Tak akan ku ungkit lagi, karena hanya akan membuat usahaku menyembuhkan luka ini terasa sia-sia.
“Saya hanya menyampaikan pesan Ayah, sejak kepergian Mbak Laura Ayah sakit” Benar-benar aku tidak ingin tahu apapun tentang keluarga mereka. Sudah lama aku menutup buku kisah tentang hubungan yang pernah terjadi antara aku dan keluarga mantan suamiku.
“Semoga lekas sembuh ya, Mbak permisi” Jawaban basa-basi sebagai penutup. Buru-buru aku mengambil sepeda motor di parkiran. Apa aku harus peduli tentang keadaan Ayahnya. Sementara dia hanya diam ketika aku di caci dan di hina istrinya. Tanpa pembelaan atau berusaha menengahi kemarahan Ibu mertuaku. Seharusnya aku tak mendengarkan Faris selesai bicara, seharusnya aku langsung pergi.
“Apa mbak Laura sedang hamil” mungkin Mama benar, bajuku sudah mulai menyempit. Harusnya aku memakai baju yang agak longgar, hingga Faris tak perlu menatap perutku dengan curiga.” Itu ponakanku kan Mbak” lanjutnya lagi. Aku tak menghiraukan. Mengatakan tidak rasanya terlalu terlihat kebohonganku. Sekarang dia sudah tahu tentang anak ini. Segera ku bawa motorku menjauhi pemuda itu tanpa menjawab pertanyaannya.
Ku pacu motor matic di jalan yang mulai ramai. Kepalaku terasa berat. Ucapan terahir Faris membuatku ketakutan. Bagaiman kalau dia menyampaikan ini pada Ibunya. Apa mantan Ibu mertuaku akan mengejarku untuk menggugurkan anak ini. Tidak boleh terjadi. Sejak ketukan palu hakim wanita itu tidak punya hak lagi mencampuri hidupku.
Aku berlari menuju kamar, tumpahlah tangis yang dari tadi aku tahan. Luka itu seperti baru kemarin. Seharusnya aku tidak bertemu keluarga mereka siapapun itu, bahkan Faris sekalipun. Ternyata hatiku tak sekuat perkiraanku. Rapuhnya masih sama seperti pertama terluka. Benteng pertahananku tak se kokoh harapan. Ahirnya aku terlelap setelah lelah menangis.
“Ra, makan dulu” Suara Mama memasuki runguku. Tertidur setelah menangis rasanya tidak enak. Dadaku masih terasa sesak. “Kamu nangis lagi, kenapa?” Wajah Mama penuh kecemasan. Dia menatapku penuh selidik. Seolah sedang mencari rahasia besar. Memindai wajahku dengan alis mengkerut.
Aku duduk, menyamai posisiku dengan Mama yang duduk di pinggir ranjang
__ADS_1
“Laura beneran nggak apa-apa Ma” Aku berusaha bersikap biasa. Tapi sepertinya gagal. Mama bukan orang yang akan percaya begitu saja. Apalagi penampilanku tidak mendukung dengan kata tidak apa-apa yang aku lontarkan.
“Jangan bersembunyi di balik kata tidak apa-apa Ra, dari sore belum keluar kamar, tidur lengkap dengan baju kerja, mata sembab. Jangan bohongi Mama” padahal aku sudah bisa menebak kalau Mama tidak akan percaya. “Apa ada hubungannya dengan Farhan” memang apalagi yang bisa membuatku menangis.
“Tadi ketemu Faris di tempat kerja” Nadaku lemah, seharusnya pertemuan itu biasa saja, tidak perlu melibatkan emosi kalau saja Faris tidak menceritakan kondisi ayahnya dan mencurigai kehamilanku.
“Adik iparmu”
“Mantan, Ma” sanggah ku cepat tak nyaman rasanya menganggap aku masih punya hubungan dengan mereka.
“Maaf, ganti baju dulu, Mama tunggu di bawah” Aku tahu Mama tidak ingin memancing emosiku. Dia berlalu, keluar dari kamar setelah menutup pintu kembali. Mama menepuk bahuku lembut sebelum dia beranjak tadi. Tatapannya iba.
Aku bergegas membersihkan diri, mungkin terlalu berlebihan atau mungkin ini ada pengaruhnya dengan hormon kehamlilanku. Ahir-ahir ini aku sering merasa menjadi drama queen. Masalah sepele bisa memancing emosiku.
Aku hanya berharap Faris tidak meceritakan apapun sama kakaknya. Apalagi tentang kecurigaannya dengan perutku. Dia tidak ber hak tahu apapun tentang anak ini. Anak yang hampir saja hilang karena kebodohannya. Sifat pengecutnya sebagi suami yang tidak mampu melindungi istrinya. Bahkan membela saja tidak. Aku membenci diamnya laki-laki itu ketika aku menerima perlakuan tidak baik dari Ibunya. Aku benci ketika dia menyuruhku minta maaf pada Ibunya tanpa tahu siapa yang seharusnya salah. Dan aku benci mengingat apapun tentang mantanku dan keluarganya.
Aku berharap dia tidak akan peduli padaku seperti biasanya, agar aku tidak perlu menyembunyikan apapun dari keluarga brengsek itu.
__ADS_1
Ternyata harapanku tidak sesuai kenyataan, Faris kembali menemuiku setelah aku berada di tempat parkir ke esokan harinya. Dia menceritakan keadaan kakaknya. Bagaimana menyesalnya laki-laki itu. Aku tidak peduli. Aku tidak melihat pengorbanan walau sedikit dari Farhan. Dia tidak pernah mencariku ketika aku keluar dri rumahnya. Bahkan seolah mereka berbahagia setelah aku pergi dari kehidupan mereka. Atau memang ini yang mereka harapkan. Mungkin kepergianku membuat membuat keluarga itu kembali damai seperti sebelum kedatangan ku.