
Aku melirik jam di pergelangan tangan, lima belas menit lagi istirahat. Punggungku rasanya kebas, tapi pekerjaanku tinggal sedikit lagi rampung. Aku minum air yag tersisa di tumbler warna pink. Ku teguk untuk menghilangkan dahaga. Bekerja di bawah pendingin ruangan memang harus banyak minum air putih sekalipun tidak haus. Karena tubuh kita kehilangan lebih banyak cairan tanpa kita sadari.
Gawaiku bergetar, sebuah panggilan masuk. Aku lirik sekilas. Ayahnya Shaka aku memberikan nama kontak pada Mas Farhan. Tidak biasanya dia menelponku siang hari di jam kerja.
“Halo,,,” Membuka pembicaraan
“Bisa kita bertemu sekarang, sudah masuk jam makan siang kan?” Dia langsung ke intinya. Bukan kebiasaannya tiba-tiba mengajakku makan siang. Aku bingung, menolak rasanya tidak enak tapi kalau diterima juga tidak mungkin.
“Mmmm...gimana ya, saya masih banyak kerjaan tidak bisa ditinggal” Satu-satunya alasan yang masuk akal.
“Jangan salah paham Ra, aku ngajak keluar bukan untuk makan siang. Lupa ngasih tahu kalau tabungan Shaka masih atas namaku. Kalau sewaktu-waktu kamu butuh harus pakai tanda tanganku. Jadi aku mau ngajak kamu ke Bank itu mau di atas namakan ke kamu biar enak” Oh, jadi itu alasannya. Bukan aku terlalu percaya diri tentu tidak, tapi terlibat pembicaraan pribadi dengan Mas Farhan harus menyediakan tenaga dan pikiran yang kuat.
“Tidak usah Mas, kan ada ATM. Gampanglah” Jawabku tanpa minat.
“Khawatir nanti ada apa-apa, misalnya mau ngambil tidak pakai ATM, atau ada masalah biar tidak usah nunggu aku yang tanda tangan” Hatiku bimbang, tapi yang dikatakan Mas Farhan ada benarnya juga.
“Oke, kita ketemu disana” Jawabku sambil memasukkan barang kedalam tas.
“Aku sudah ada di depan restoranmu, Mas tunggu di parkiran ya” Aku tidak punya pilihan selain menyetujui ajakannya. Semoga saja tidak ada hal lain yang akan di bicarakan selain tentang tabungan Shaka.
“Buku tabungannya di bawa atau kita mampir dulu kerumah buat ngambil” Tanyanya setelah aku duduk disebelah.
“Kebetulan ada di tas, kita langsung saja” Kemarin waktu Mas Arga memberikan buku itu aku langsung menaruhnya di tas, takut lupa, rencananya setelah ini akan aku kumpulkan dengan berkas penting lainnya. Ternyata ada manfaatnya juga lupa melakukan itu.
Kami masuk, kemudian Mas Farhan mengambil nomor antri untuk custumer service, setelah menunggu berapa saat giliran kami diproses. Tidak terlalu ribet, kami bisa cepat selesai. Berjalan ke parkiran menuju mobil Mas Farhan setelahnya .
__ADS_1
Seseorang berdiri di depan mobil Mas Farhan dengan wajah tidak enak dilihat, aku berhenti. Aku yakin setelah ini sesuatu yang buruk pasti akan terjadi. Ancaman yang nyata terhadapku sedang ada di depan mata.
“Begini kelakuanmu di belakangku Mas, dan kau wanita murahan. Ada perlu apa kamu mengajak calon suamiku ke tempat ini. membuat rekening untuk meminta uang, atau memeras Mas Farhan. Oiya, aku lupa kamu kan janda. Dapat uang dari mana buat ngidupin anak kalau tidak merengek pada calon suami orang” Sumpah, mulut Miranda sama tajamnya dengan Ibu Mas Farhan. Kalau bukan tempat umum sudah aku tumpahkan airmata ini. rasanya sangat sakit dituduh melakukan hal yang tidak pernah ada dalam benakku.
Mata wanita itu masih menyala, dia meluapkan kekesalannya dengan suara yang keras, aku yakin mereka yang ada di parkiran pasti dengar. Aku hanya menunduk, tidak ingin membalas Miranda. Membuat keributan di depan umum bukan opsi yang tepat.
“Kau masih calon istri Miranda. Kalau bukan kamu datang merengek pada Ibu, tidak sudi aku menikah dengan wanita bermulut tajam sepertimu. Sekali lagi kamu menghina Laura, aku bisa membatalkan semuanya” Se umur aku kenal Mas Farhan, baru sekarang aku mendengar dia berkata kasar dengan suara keras. Apalagi pada wanita, sangat pantang baginya.
“Mas Farhan membela dia di depanku. Apa istimewanya wanita ini Mas, kamu tega nyakitin aku. Aku yang akan mendampingimu bukan dia” Telunjuknya mengarah padaku, Mas Farhan berdiri di depanku menghalangi Miranda yang semakin mendekat.
“Dia Ibu dari anakku, wanita yang telah mengandung dan melahirkan Shaka”. Suara Mas Farhan meninggi.
“Dia mantan istrimu kalau kamu lupa” Dengan mata yang semakin melebar, mulai berembun kalau aku tidak salah lihat.
Situasi semakin memanas, tidak ada yang mau menurunkan volume suara.
“Tidak ada ****** yang pantas di hormati”
“Dia bukan ******, dan bukan wanita gila hormat sepertimu, dan asal kamu tahu dia harus mengalami banyak kepahitan hidup karena aku. sudah sepantasnya aku menebus semua dosaku padanya”
“Sempurna sekali dia didepanmu, sayang sekali Ibu benci wanita ini” Kembali telunjuknya mengarah padaku dengan mata yang semakin memerah.
“Tidak usah ribut, tidak enak jadi tontonan. Laura pulang naik taksi online saja Mas”
Kataku mengalah, melihat mereka berdua bersitegang aku merasa tidak enak. Apalagi akulah yang menyebabkan keributan ini. semua yang dikatakan Miranda benar, tidak seharusnya aku berduaan dengan calon suami orang, apalagi statusku janda.
__ADS_1
“Aku yang akan mengantarmu pulang” Mas Farhan mencekal tanganku yang hendak berlalu.
“Tidak apa-apa Mas, urusan kita sudah selesai” aku benar-benar pergi setelahya. Melangkah dengan hati yang teramat perih. Tak ku hiraukan panggilan Mas Farhan berkali-kali. Air mataku mulai menetes. Kenapa Tuhan, selalu menghadapkan aku pada wanita dengan mulut pedas.
“Ra, naik” Mas Arga menarikku memasuki mobilnya. Entah darimana datangnya dia. Tapi untuk saat ini aku benar-benar membutuhkan seseorang untuk mengantarku pulang. Naik taksi online dengan mata berlinang rasanya tidak mungkin.
“Mas tadi kebetulan lewat, lihat kayak kamu makanya Mas putar balik. Ada apa?” Aku tidak bisa menjawab, suaraku tercekat di tenggorokan. Airmata ini tak bisa ku bendung lagi. Mas Arga memberikan beberapa lembar tisu di depanku. Aku mengambilnya tanpa suara.
Cairan mata dan hidungku berlomba keluar. Memalukan sekali rasanya menangis didepan Mas Arga. Tapi aku tidak punya pilihan untuk saat ini. tiba-tiba mobilnya menepi, kemudian berhenti. Mas Arga hanya diam. Dia menyandarkan tubuhnya kebelakang.
“Maaf” Hanya itu yang keluar dari bibirku dengan suara lirih, memang apalagi. Pasti Mas Arga berpikir kalau aku wanita cengeng yang perlu dikasihani. Mengenaskan sekali nasibku. Harusnya aku tidak menerima tawaran Mas Farhan membalik nama tabungan Shaka, kalau tahu aku akan dipermalukan pada ahirnya.
“Kalau nangisnya sudah selesai, baru jalan lagi sekalian cari makan. Tidak lucu ngajak makan cewek dengan airmata berlinang. Kelihatan seperti laki-laki yang menyogok wanitanya agar berhenti menangis” Suara Mas Farhan rendah setengah berbisik. Kembali dia memberikan tisu ke hadapanku kali ini dengan tempatnya.
“ Harusnya aku tidak langsung mengiyakan ajakannya tadi, aku malu Mas” Aku butuh orang untuk mendengarkan keluh kesahku. Agar rasa sakitnya sedkiti berkurang.
“Siapa?” Badannya tegak menatapku penuh tanya.
“Aku kepergok jalan berdua dengan Mas Farhan. Miranda menghinaku di parkiran Bank tadi” Aku yakin Mas Arga mengerti maksudku. Masih dengan isakan aku menceritakan semuanya.
“Apa dia masih bungkam melihat kamu di hina” Mungkin kalau orang yang tidak mengenal Mas Farhan sekarang, akan punya pikiran sama dengan Mas Arga. Menganggap Mas Farhan Masih lemah seperti dulu.
“Dia membelaku, itu sebabnya aku pergi tidak ingin membuat mereka semakin bertengkar, wanita mana yang tidak meradang mendengar calon suaminya membela wanita lain” Tangisku sudah reda, jadi ceritaku sudah lancar tidak tersendat lagi.
“kita cari makan dulu sekalian cerita, kalau kelamaan berhenti disini takut diciduk polisi dikira mesum kita” Aku menatap Mas Arga, rasanya sungkan merepotkan laki-laki ini lagi. Tapi bukannya kejadian sekarang aku tidak meminta tolong, dia yang tahu-tahu datang.
__ADS_1