
Aku melangkah dengan tergesa ingin istirahat. Pikiranku lelah pun dengan badanku. Cerita masalaluku tidak serta merta hilang begitu saja.
“Menikahlah Laura, kesendirianmu seolah mengisyaratkan kalau kamu masih mengaharapkan suamiku” Kalimat Miranda mampu membuat kakiku terpaku di tempat. Dadaku bergemuruh, lantas apa gunanya aku berlari menjauh kalau ahirnya harus kembali pada mantan suamiku.
“Kalau aku mau, sekarang juga aku akan merebut suamimu. Aku yakin dia masih mencintaiku. Jadi, bersikap baiklah sebagai istri. Aku yakin, kamu menemuiku tanpa sepengatahuannya. Bayangkan kalau aku menceritakan ini. Suamimu akan mencampakkanmu seperti sampah” Itulah keyakinanku. Mengapa dia menemuiku di jam kerja. Dan siapa dia berani mengatur tentang jalan hidupku.
Aku menoleh kebelakang, posisi tempat duduknya membelakangiku yang hendak pergi.
“Sudah aku duga, kamu memang benar-benar murahan” Dia berbalik menantangku. Apa masalah hidupnya denganku.
“Jagalah suamimu Miranda, sepertinya Mas Farhan belum tahu bahwa istrinya telah menghina ibu dari anaknya” aku angkat dagu, biarkan aku terlihat angkuh kali ini.
“Aku bukan merebut suamimu, kami menikah setelah kalian berpisah apa masalah hidupmu hingga kamu membenciku” Ya, Tuhan. Wanita ini justru membalikkan Fakta. Aku yakin dia merasa tersudut. Jadi dia ingin membuat seolah akulah yang kejam.
“Seharusnya kalimat itu kamu tujukan untuk dirimu sendiri” Aku tidak ingin mendengar apapun. Kulangkahkan kaki meninggalkan Miranda dengan mata merah dan tangan terkepal.
Aku pikir bertemu Miranda akan membuatku selega pertemuanku dengan Mamanya Mas Farhan. Nyatanya wanita itu masih dengan sikapnya yang membenciku. Bahkan dia dengan terang-terangan mengatakan aku wanita murahan. Ya Allah, kalaulah hati ini tidak pernah tersakiti karena gagal berumah tangga. Akan aku layani mereka yang pernah mendekatiku. Menjalin hubungan serius hingga ke pernikahan. Agar statusku tidak menjadikanku bahan olokan. Apakah semua janda adalah murahan, kalau begitu aku akan membuat asumsi bahwa isi kepala Miranda yang terlalu murahan.
Selera makanku tiba-tiba hilang begitu saja. Perutku tidak bisa menerima apapun. Semua makanan yang masuk akan keluar lagi dengan suka rela. Badanku tiba-tiba lemas, tubuhku kekurangan asupan. Badanku menggigil, panas luar biasa aku rasakan. Dari mata hingga perut rasanya benar-benar menyiksa.
“Minum teh hangatnya Nak, kamu kecapean” Ibu dudu di tepi kasur, membawa gelas berisi cairan berwarna cokelat bening.
“Taruh dulu Bu, rasanya masih pahit” Benar aku tidak mengada-ada. Walaupun semua makanan di lambungku sudah terkuras. Nyatanya rasa mual itu belum berhenti. dan lidahku rasanya pahit. Badankusakit sampai ke tulang, melemahkan semua ototku, apa benar aku kecapean.
“Sedikit dulu, kalau sudah enakan baru minum obat. Kalau begini terus kapan sembuhnya. Kasihan Shaka dari tadi pengen gendong kamu” Aku tidak bertemu Shaka dari pagi, ibu menjauhkan aku darinya. Takut ketularan katanya.
__ADS_1
Sekuat tenaga aku berdiri, kepalaku rasanya seperti di tekan batu besar. Perutku seperti diaduk. Aku mengambil gelas dari tangan Ibu. meneguknya sedikit demi sedikit dengan perlahan.
“Ibu suapi ya” Mengambil bubur yang ada di meja. “meskipun tidak enak di paksa ya, terus minum obat. Tidur lagi. Besok kita sudah harus kembali Ra. Cutimu sudah habis. Bagaimana caranya bawa mobil kalau kamu masih sakit begini” Ibu berbicara sambil menyendok bubur ke mulut. Aku seperti bayi yang tidak bisa apa-apa.
Selesai minum Obat ibu keluar dengan nampan di tangannya. Kantuk tiba-tiba menyerangku. Mungkin efek paracetamol yang sudah aku telan. Mudah-mudahan bangun nanti badanku sudah segar lagi.
Aku menarik tanganku keatas, merenggangkan badan yang mulai terasa ringan. Rasanya lebih enak sekarang. kepalaku sudah tidak sakit lagi, walaupun rasanya masih pusing. Tidak separah kemarin. Aku lirik jam di dinding. Jam tujuh, artinya ku tidur tiga jam.
Aku beranjak keluar kamar, mencari Shaka adalah tujuan pertamaku. Bapak masih duduk di depan TV dengan remot ditangannya.
“Ibu Sama Shaka sudah tidur, kalau kamu lapar makanan ada di meja. Istirahat lagi besok kamu tidak boleh kecapean” Bapak berucap tanpa mengalihkan fokusnya dari arah TV. Aku mengambil handuk yang tergantung di jemuran baju. Badanku terasa lengket, efek parasetamol itu menurunkan panas dengan keringat yang keluar cukup banyak.
“Jangan mandi Ra, ganti baju saja. Nanti masuk angin” Bapak menyusulku ke ruang jemuran. Bapak ada benarnya apalagi ini sudah malam.
“Iya, Pak. Shaka sudah makan?” Tanyaku, mungkin ini pertanyaan yang nggak penting. Tidak bmungkin Ibu membiarkan Shaka tidur tanpa perutnya terisi. Ibu selalu memperhatikan anakku dengan baik.
Pagi menjelang, dengan badan yang masih sedikit pusing aku membereskan barang-barangku dan Shaka. seharusnya aku melakukannya tadi malam, karena tertidur jadilah sekarang aku membenahi semuanya.
Sesuai janjiku pada Ibu, jam sepuluh kami akan berangkat lagi ke surabaya. Suara ketukan di pintu terdengar saat aku sedang mengganti pakian Shaka. Bapak yang membukakan pintu karena dia sudah siap menunggu kami di ruang tamu.
“Masuk, Laura ada di dalam” Siapa yang bertamu sekarang. Suara Bapak terdengar jelas karena posisi kamarku yang bersebelahan dengan ruang tamu.
“Ada Nak Arga” Hah, apa pendengaranku tidak salah. Mas Arga ngapain datang kesini. Dia kan tahu kalau aku pulang hari ini.
“Bapak temani dulu, Laura mau beresin baju-baju sama mainannya Shaka” Barang bawaanku memang kebanyakan kebutuhan Shaka. mulai dari baju yang dia pakai tas sendriri karena memang sangat banyak. Diapers, sama maiannya. Membawa Shaka menggunakan kendraan umum tentu akan sangat merepotkan. Dia tidak bisa duduk diam, ada saja tingkahnya yang membuat orang kewalahan. Itulah salah satu alasanku membeli mobil ini.
__ADS_1
“Mas Arga kenapa datang, aku kan pulang sekarang” Mungkin memang terdengar tidak sopan, tapi aku penasaran dengan kedatangannya yang tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
“Justru aku datang jemput kamu” Hah, jemput yang bagaimana. aku bingung.
“Aku kan bawa mobil sendiri, ngapain Mas Arga jemput”
“Aku juga nggak bawa mobil Ra”
“Terus,,,?”
“Aku mau jemput bawain mobilmu. Kamu masih belum benar-benar sembuh. Kalau ada apa-apa di jalan bagaimana. ada keselamatan mereka yang kamu pertaruhkan”
“Kata siapa Laura sakit”
“Bapak, barusan bilang”
“Baru tahu setelah sampai disini berarti sebelum berangkat Mas arga belum tahu kan?”
“Chintya yang bilang, Mama nyuruh aku” Ya Tuhan Mama. Berlebihan wanita itu.
“Harusnya Mas Arga nggak usah dengerin Mama, Laura sudah sehat ko” Aku tahu, mungkin Mas Arga tidak sepenuhnya datang karena keinginannya. Hari ini minggu, waktunya laki-laki ini menghabiskan waktu dengan pacarnya. Bukan mengurusi hal sepele yang tidak ada hubungannya dengan Mas Arga.
“Refresing sebentar, capek juga lihat kemacetan terus” Tentu saja Mas Arga akan bilang begitu hanya agar aku tidak merasa bersalah.
“sisil?”
__ADS_1
“Setelah dari undangan kemarin langsung berangkat ke Bali, ada pemotretan” Jawabnya santai.
Oh, Mas Arga hanya sedang kesepian tidak lebih. Tapi aneh gitu ya, kesepian jalannya jauh. Malah nyusul aku kesini. Tadinya hampir saja dadaku meledak bahagia seandainya Mas Arga datang kesini atas kemauannya sendiri. Setelah tahu ada campur tangan Mama, kecewa rasanya.