KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
KASIH SAYANG MAMA


__ADS_3

Aku sudah bersiap untuk berangkat ketika Mama duduk di meja makan. Mama terlihat sudah rapi, sama sepertiku. Aku menghampirinya duduk di meja makan bersebarangan dengan posisi Mama.


“Kamu kalau kerja jangan capek, banyak istirahat. Nanti Mama bilang Azka, biar waktu kerjamu di longgarkan. Terus itu baju kayaknya sudah kekecilan, kasihan nanti anakmu sesak, nggak bisa nafas” Menyendok buah kupas setelah menuntaskaan kalimatnya.


“Laura malah senang kerja Ma, bisa ketemu teman-teman. Bisa melupakan semuanya meskipun sementara” aku hanya tidak ingin Mama khawatir keadaanku. Rasanya malu harus menumpang tanpa melakukan apa-apa. Semua kebutuhanku Mama yang penuhi tapi kebutuhan pribadi, tidak mungkin aku memintanya dari Mama, kesannya aku orang tidak tahu diri.


Aku bekerja di restoran teman Mas Arga, restoran dengan menu cita rasa lokal, ada juga beberapa menu yang di adopsi dari menu luar, menyesuaikan selera pelanggan. Cukup besar, dan ramai. Karena memang lokasinya di tengah kota. Penataannya juga benar-benar estetik banget. Teman Mas Arga memang punya beberapa cabang restoran di berbagai daerah. Di kota ini saja ada tiga cabang yang di buka. Aku di tempatkan di pusat, lebih tepatnya restoran pertama.


Aku menempati bagian keuangan. Tugasku mencatat laporan pembelian dan penjualan. Perhari, dan laporannya masuk ke manager. Kebetulan managernya teman Mas Arga sendiri. Azka namanya,sudah punya istri dan anak yang lucu. Mas Azka tidak selalu ada di tempat, lebih suka berkeliling seluruh cabang untuk memantau perkembangan setiap cabang. Orangnya enak, aku menilainya lebih mirip dengan Mas Doni, bos di tempat kerjaku yang lama, tidak terlalu menekan.


Sudah tiga bulan aku bekerja di tempat itu, atas rekomendasi Mas Arga. Semua rekan kerjaku sangat baik. Membuatku sangat betah bekerja di tempat itu. Ramah dan kekeluargaannya sangat kental. Enaknya bekerja di tempat seperti itu waktu terasa sebentar, tidak merasa beban santai saja bawaannya.


“Ya sukur deh, nanti kalau perutmu tambah besar Gimana. Kayaknya sudah mulai kelihatan itu” melirik perutku yang tertutup meja makan.


“Masih belum kerasa, baju-baju lama Laura masih muat” Sanggahku. Mama terlalu khawatir dengan ke hamilanku. Kondisiku yang tertekan dan sedang menghadapi masalah katanya tidak terlalu baik untuk kondisi janinku. Bahkan Mama yang selalu mengingatkan aku jadwal kontrol entah ke bidan atau ke dokter kandungan. Orang yang paling semangat mengantarku. Mama seperti alarm bulananku.


“Nanti Mama bawakan baju kerja yang longgar dari butik, sekalian Mama belikan daster rumahan kamu belum punya kan?” Mama dan chintya itu banyak kepimiripan. Suka maksa kalau untuk kebaikan aku. Meskipun di tolak, nanti pulang kerja pasti sudah bawa.

__ADS_1


“Nggak usah Ma, biar nanti beli sendiri. Pulang kerja sekalian mau keluar. Lama juga nggak jalan-jalan” Itu hanya alasanku, mencari cara untuk tidak selalu merepotkan Mama. Keluarga mereka sudah terlalu banyak membantuku.


Mama punya usaha butik dan salon kecantikan, malah rencananya sebentar lagi mau buka klinik kecantikan, kerja sama dengan temannya yang dokter kulit. Pada awalnya Mama memintaku kerja di tempatnya entah butik atau salon. Tapi aku menolak keduanya, aku tidak paham dunia fashion dan kecantikan. Takut tidak bisa membantu apa-apa. Aku yakin mereka yang direkrut Mama bukan orang sembarangan. Pengalaman di bidang keduanya tidak perlu di ragukan lagi.


Sepertinya Mas Arga mewarisi bakat Mama di bidang bisnis, sedangkan chintya mewarisi Papa lebih nyaman kerja ke kantoran dari pada bikin Usaha. Papa seorang Direktur di sebuah perusahaan swasta terbesar di Kota ini. Sebelum Papa sakit dan meninggal sebelum masa pensiunnya habis.


“Ya, sudah kalau mau jalan-jalan. Tapi ingat jangan sendirian. Ajak temanmu, kalau ada apa-apa langsung kabari Mama. Apa Mama temani aja ya” Menatapku lekat, meminta persetujuanku. “Sayangnya hari ini Mama mau meninjau lokasi klinik, lain kali Mama temani ya” Lanjutnya lagi. Mama terlalu menghawatirkanku. Apalagi sejak aku hamil, selalu yang di ingatkannya kandunganku. Dia paling bahagia melihat perkembangan janinku tiap hari.


“Minggu saja jalannya, nunggu chintya datang, biar ada temannya. Tiga hari lagi kan. Nggak mungkin tiga hari kedepan semua bajumu nggak muat. Mama nggak tenang kalau kamu keluar sendirian” Nah kan, itulah Mama. Bukan orang tua kandung, tapi kasih sayangnya melebihi segalanya.


“Ya, Laura tunggu, Ma” Jawabku singkat


“Sungguhan Laura nggak apa-apa Ma. Biar nunggu chintya pulang. Sekalian bisa nonton” meyakinkan Mama kalau keputusanku menunda belanja memang keinginanku.


“Ah,, syukurlah” Mama bernafas Lega. Sepertinya aku berhasil meyakinkan Mama


“Coba kamu akrab sama Arga, Mama pasti minta tolong Dia buat temani kamu jalan” Mulai lagi, padahal aku beneran tidak apa-apa.

__ADS_1


“Jangan Ma, kasihan Mas Arga. Lagian pasti dia sibuk” Apa jadinya kalau Mas Arga yang menemani aku jalan. Bisa jadi diem-dieman sepanjang jalan. Nggak ada enaknya jalan sama orang kaku seperti Mas Arga.


“Iya juga” Mama melihat jam di pergelangan tangannya. “Mama berangkat dulu, kayaknya orangnya sudah nunggu, kamu kalau naik sepeda motor hati-hati” pesannya sebelum beranjak. Menenteng hand bag dan berlalu dari hadapannya.


***


“Mbak Laura, ini nota pembeliannya yang kemarin” Nina, menyerahkan kertas ke tanganku.


“Pagi banget ngasihnya, nanti kan Bisa” Anak ini memang paling takut melakukan kesalahan. Dia sebagai waitress. Diberikan kepercayaan buat menghubungi bagian pembelian dapur. Seperti LPG, air. Dia yang menghubungi untuk diantar. Untuk bagian bahan baku masakan sudah ada bagiannya. Orang yang paham tentang bahan makanan yang segar dan berkualitas baik pastinya.


“Mumpung ingat Mbak” jawabnya. Dia merapikan meja mengelap, nyapu ngepel. Aku memang salut sama kinerjanya. Rajin banget.


“Yang lain belum datang?” Tanyaku, karena dia terlihat sendirian.


“Paling masih di jalan, saya kebelakang dulu Mbak, mau nyuci ini” menunjuk alat pel ditangannya.


“Iya, Mbak mau masuk juga” jawabku berlalu. Masuk ke ruang kerjaku. Menyalakan komputer, merapikan berkas dan membersihkn mejaku dari debu. Sebenarnya tidak terlalu kotor juga tidak terlalu berantakan. Sebelum pulang aku sudah membersihkan dan merapikannya. Urusan menyapu lantai Nia sudah melakukanya tadi. Dia karyawan bekerja tanpa banyak bicara. Tak pernah sekalipun aku mendengarnya mengeluh.

__ADS_1


“mencintai apa yang kita kerjakan itu jauh lebih enak Mbak, terasa tidak terbebani. Semacam menjalani hoby. Coba deh, pasti rasanya lebih ringan. Dan jangan lupa bahagia” Itu jawabannya ketika suatu waktu aku bertanya mengapa selalu bersemangat setiap hari. Mahluk langka begini memang patut di pertahankan. Ingatkan aku untuk merekomendasikan Nia nanti sama Mas Azka.


Kerjaku sampai jam lima sore, itu sudah jam kerja yang di tetapkan Mas Azka. Mengenai laporan penjualan aku menunggu besok pagi dari kasir yang bertugas malam. Buka dari jam delapan pagi sampai jam sepuluh malam. Dengan pergantian shift karyawan bagian dapur dan Waitress. Sedangkan bagian administrasi dan kantor sepertiku tidak ada shift. Biasanya Mas Azka datang berkunjung pada malam hari. Mengontrol sebentar terus pulang. Emang paling enak jadi bos ya gitu, bisa muncul dan menghilang kapan saja.


__ADS_2