KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
BUKAN PENYELESAIAN YANG BAIK


__ADS_3

“Dasar menantu kurang ajar, tidak tahu diri. Masih untung kamu bisa hidup disini. Makan gratis, hidup serba enak. Tidak tahu terima kasih kamu” Badanku bergetar, suara lengkingan malam itu memekakkan telingaku. Meskipun ini bukan bentakan yang pertama aku terima, tapi luapan kemarahan ibu yang melahirkan Mas Farhan ini lebih menyayat. Semua kata-kata kotor terlontar untukku tanpa belas kasihan. Hidupku hancur, merasa tidak di hargai sebagai seorang menantu.


Hanya karena aku mengatakan kalau sayurnya kurang garam, reaksi Ibu mertuaku diluar dugaan. Dua bulan aku tinggal bersamanya tapi lagi-lagi aku belum mengenal karakter keluarga baruku sepenuhnya. Mas Farhan, dan Bapak hanya menunduk, tidak ada yang membelaku. Sumpah, Aku tidak tahu harus bagaimana. Pandanganku mulai mengabur tertutup genangan air mata yang mulai berulah, tetesan bening mengalir di kedua pipiku. Tidak bisakah satu orang saja diantara mereka membelaku, mengatakan kalau teguran perkara rasa masakan itu hal yang biasa tidak perlu di besar-besarkan.


Aku pergi dari ruang makan, tanpa melanjutkan makan. Membiarkan menu yang sudah ku ambil ke atas piring begitu saja. Ku tumpahkan tangis di pinggir ranjang. Rasanya aku ingin pulang, bertemu dengan keluargaku. Memeluk mereka dengan erat, menumpahkan segala gundahku disana.


Mas Farhan Masuk ketika aku hampir mulai membaringkan tubuh, bukan tatapan iba yang aku terima. Tapi tatapan menyalahkan atas tindakanku tadi.


“Turun kebawah minta maaf sama ibu Ra, bagaimanapun dia sudah capek masak buat kita, hargai yah” sungguh aku benci perkataan Mas Farhan, dimana letak salahku. Hanya karena mengatakan yang sebenarnya. Kalau rasa masakan ibu hambar, mungkin lupa memasukkan garam.


“Dimana letak kesalahanku, hanya karena perkara masakan kurang garam kamu menyuruhku meminta maaf sama Ibu” Aku benci Mas Farhan untuk saat ini. Bisa-bisanya dia datang ke kamarku hanya menyuruhku minta maaf. Oke, kalau benar aku salah akan Aku lakukan dengan senang hati. Tapi ini.


“Dia wanita yang melahirkan Mas, hormati dia. Mas tidak mau kena kutukannya itu tidak akan baik untuk masa depan kita” Lagi-lagi berbicara tentang kepatuhan. Tidak bisakah suamiku sedikit bersimpati padaku. Meredakan emosiku atau menenangkanku dengan kata-kata manisnya.


“Aku tahu, tidak usah diingatkan lagi. Selalu ini yang kamu katakan tiap ibu memarahiku tanpa alasan. Dia menghina istrimu dengan kata-kata tidak pantas, dan Kamu masih menyuruhku minta maaf. Apa peranmu sebagai suami. Selama Aku tinggal disini tidak pernah sekalipun kamu melakukannya, selain hanya perintahmu untuk berbakti pada Ibumu” Aku benci suamiku, tidak pernah sekalipun aku membantah ucapan ibu, sekalipun Aku dimarahi dengan kata-kata kotor. Menangis adalah caraku menumpahkan kekesalan. Aku tidak pernah membalas umpatan ibu.


“Mas akan berusaha menjadi suami yang baik, tapi Mas juga harus berbakti sama Ibu” jawaban yang sering aku dengar. Tapi aku tidak pernah merasa Mas Farhan sebagai suami yang baik. Dia tidak pernah melindungiku dari kemarahan Ibunya.


“Kalau Mas Farhan mau berperan sebagai anak yang berbakti silahkan. Tapi jalankan kewajibanmu sebagai suami. Selama kita menikah tidak pernah sekalipun kamu memberiku nafkah lahir. Semua uang gajimu ibumu yang pegang. Apa aku protes?, tidak pernah Mas. Aku terima kamu melalaikan kewajibaanmu sebagai suami” Mas Farhan diam, kepalanya tertunduk . sebenarnya sudah lama aku ingin mengungkapakan ini. Mungkin sekarang waktunya.

__ADS_1


“Maafkan Mas Ra, tolong mengerti ya, ibu yang mengelola keuangan disini, toh gajiku juga buat kita makan.” hanya jawaban itu, empat bulan menjadi istrinya. Kurang mengerti apalagi coba.


”Menurut Mas Farhan apa aku pernah mempermasalahkan itu. Apa Aku pernah mengungkit tentang uang di depan ibu, tidak sama sekali. Tapi tolong hargai aku sebagai istri dan menantu di rumah ini Mas, hanya itu. Karena sekarang orang yang aku punya cuma kamu. kepada siapa lagi aku harus bergantung” ucapku dengan amarah yang aku tekan. Lelah rasanya berdebat dengan suamiku, karena jawabannya tetap sama. Penyelesaian masalahku tidak pernah ada.


Terkadang pikiran ingin keluar dari rumah ini selalu ada, tanpa Mas Farhan juga tidak apa-apa. Punya rumah sendiri sekalipun kontrak. Aku butuh pikiranku tetap waras, tinggal dirumah ini membuatku tertekan apalagi dengan keadaan suami yang selalu membela ibunya. Aku ingin menangis tapi seakan airmataku sudah kering.


Aku lelah, aku membelakangi Mas Farhan. Kau tidak ingin melihat wajahnya sekarang.


“Ra, kamu sudah tidur” memegang bahu kananku dan menggoyangnya pelan. Aku diam, tidak ingin berdebat. “Mas pengen, boleh ya?” lihatlah laki-laki tidak tahu perasaan ini. Sudah membuat hatiku terluka, bahkan dengan tidak tahu malu dia meminta haknya. Sungguh terbuat dari apa hatinya. Apa mungkin rasa simpatinya sudah habis untuk istri yang baru dia kecewakan.


Aku tidak menjawab, pura-pura tidur itu jauh lebih baik daripada melayaninya. Biarkan malam ini aku berdosa karena menolak suamiku. Aku butuh ketenangan, hatiku tidak sedang baik-baik saja. Aku benci suamiku, aku benci ibu mertuaku. Aku benci semuanya. Air mataku menetes dari sudut mata. Aku sudah tidak kuat membendungnya. Aku lelah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


***


Aku memoleskan make up tipis. Setelah memakai baju kerjaku. Tidak ada pilihan, keluar dari rumah ke tempat kerja adalah hiburan tersendiri bagiku. Disana aku bisa melupakan semuanya.


“Sudah siap” Tanya suamiku, Dia juga sudah siap dengan baju kerjanya. Dia PNS di instansi keuangan di daerahku. Aku hanya diam, kulanjutkan memakai bedak dan lipstik. Aku tidak terlalu suka warna mencolok. Nude adalah warna favoriteku.


“Kamu masih marah” tanyanya lagi dengan suara lembut. Aku masih diam. Suamiku mendekat, menatap wajahku melaui pantulan cermin, memeluk bahuku lembut.

__ADS_1


“Mas sedang mencari cara agar masalah kamu dengan Ibu cepat selesai, kita bisa hidup damai tanpa salah paham lagi” perkataannya tidak jua meredakan amarahku.” Untuk sementara biarkan kita disini dulu, kamu yang sabar ya” mengusap bahuku pelan, mencium kepalaku setelahnya. “ Sebagai permintaan maaf, hari ini kita sarapan di luar. Kamu pasti tidak enak makan satu meja sama Ibu, ayo” dia menarik tanganku.


Untuk kali ini aku bahagia. Meskipun masih rencana setidaknya Mas Farhan ada usaha untuk memikirkan masa depan kami.


Senyum mengembang dari bibirku. Aku diam ketika dia menarikku tanganku ke bawah. Biasanya kami berangkat sendiri, tidak apa-apa, untuk kali ini kami berangkat bersama.


“Sarapan dulu” suara mengintimidasi dari meja makan. Aku melihat Bapak dan Ibu mertuaku sedang duduk menikmati sarapannya disana.


“Kita langsung berangkat Bu, ada apel pagi. Laura juga mau bertemu klien katanya sekarang” untuk pertama kalinya Aku mendengar Mas Farhan berbohong di hadapan Ibu. Aku senang, setidaknya dia mulai membelaku.


“Makasih ya Mas, kamu belain aku di depan Ibu” Sebahagia itu aku mendapat perlakuan kecil pagi ini dari suamiku. Memeluk Mas Farhan sambil berbisik keras di telinganya. Karena helm yang kami pakai. Jadi harus agak maju kalau berbicara. Belum lagi kerasnya angin yang menerbangkan suaraku.


“Mulai sekarang Mas akan berusaha melindungimu” Mendengar jawabannya yang ini aku sangat bahagia. Sebenarnya Aku tidak menginginkan Mas Farhan untuk melawan pada Ibunya, hanya saja Aku ingin Mas Farhan bisa menempatkan diri, kapan membelaku dan kapan membela ibunya.


“Sebenarnya Mas ada yang mau di omongin” Dia membuka pembicaraan di sela kami menunggu pesanan bubur ayam.


“Tentang?” Tanyaku Penasaran, apa ini ada hubungannya dengan Ibu, pikiranku mulai menebak.


“Mas sudah memikirkan cara, agar kamu sama Ibu tidak ribut terus, kita bisa hidup bahagia sebagai keluarga. Mas yakin kamu pasti setuju” wajah suamiku di buat sedemikian, santai.

__ADS_1


“Katakan, kalau itu cara yang terbaik buat kita” aku berharap kali ini jalan keluar yang di tawarkan Mas Farhan benar-benar yang terbaik.


“Sebenarnya sudah lama Ibu bilang, bagaimana kalau gajimu Ibu juga yang atur” Mas Farhan berhenti. Dia menatapku ragu, menarik nafas dalam “Biar enak di kamu enak juga di Ibu” sumpah demi apapun. Aku tidak menyangka Mas Farhan akan mengucapkan ini. Memberi jalan keluar yang tentu saja memberatkan Aku.


__ADS_2