
Seorang perawat masuk dengan menggendong bayi berbungkus kain biru bergambar panda. Senyum wanita itu sampai ke binar matanya. Ibu berdiri mengambil dan menggendongnya. Wajah Ibu, senyum bahagianya benar-benar menularkan padaku. Aku ikut tersenyum walau belum melihatnya. Aroma khas bayi menguar, terhidu indraku.
“Lihat matanya, kamu banget” Ibu benar, mata itu milikku, dia berkedip. Air mataku menetes, aku seorang Ibu, dia anakku. Ku ulurkan telunjukku kedalam jarinya. Dia menggenggam erat, tangisku pecah, aku sangat bahagia.
Ibu menyerakannya padaku, dia ada dalam gendongan ku sekarang. Terima kasih ya Allah, engkau memberikannya sebagai hadiah terindah diatas lukaku. Aku merasa sempurna sekarang. Dia yang selalu menemaniku didalam perut, sekarang benar-benar bisa menyentuhnya. Tangan mungil berwarna kemerahan. Bibirnya bergerak. Aku tidak kuat untuk tidak memeluknya sekarang. Aku cium keningnya berulang. Alisnya tebal, pun dengan rambut hitamnya.
Aku raba pipinya, halus. Matanya terpejam perlahan. Tidak satupun momen yang ingin aku lewatkan, bahkan aku tidak ingin berkedip. Memandangnya tidak akan pernah bosan, walau mulai mengabur. Air mataku membasahi kain pembungkusnya. Ibu mengusap punggungku, tangannya naik membelai rambutku.
“Dia anakku, aku jadi ibu sekarang. Laura bahagia” Ku angkat kepala menatap wajah Ibu. wanita itu sama sepertiku, tangan tuanya mengusap airmata dipipinya. Dengan senyum di wajahnya dia mengangguk. Kemudian mengecup keningku.
“Selamat Ra, kamu sudah jadi Mama” aku mengalihkan pandangan. Mama, wanita yang selalu mendampingiku, dia berdiri di ambang pintu. Matanya berembun aku tahu itu. dia pasti sama bahagianya denganku. “Tuhan selalu memberikan cobaan dan kebahagiaan bersamaan. Yang penting kita sabar” Ibu duduk disisi pembaringan. Tangannya meraba anakku. Yah, bayi kecil ini aku menyebutnya anak karena terlahir dari rahim ku.
Inikah rasanya menjadi seorang Ibu, dadaku membuncah. Sekali lagi aku mencium keningnya. Mata kecilnya benar-benar terpejam. Apakah dia tidak ingin melihatku, berbagi tatapan dengan Ibunya. Atau tidakkah dia ingin berbicara padaku lewat mata beningnya.
__ADS_1
“Hanya sebentar ibu, silahkan berikan ASI. Mari saya bantu. Setelah ini kami akan membawanya ke ruang perawatan Intensive” Ibu dan Mama berdiri, membiarkan aku dan perawat menyusui anakku. Dia tengkurap di dadaku. Bibir mungil itu bergerak dengan mata terpejam mencari sumber kehidupannya.
“Kenapa nggak langsung di pas kan posisinya Mbak, kasihan dia bingung” kepalanya berputar, bibirnya masih bergerak. Posisinya dengan tempat asinya begitu dekat, mengapa dia tidak menemukannya. Ingin Rasanya aku meletakkan bibir itu tepat diatas sana, biar anakku bisa segera minum.
“Cara ini untuk menstimulasi instingnya bekerja, dia akan menemukan tempatnya. Agar nantinya tidak bingung kalau kita bantu. Dia bayi yang kuat. Saya yakin dia bisa” Benarkah begitu, bayi mungil ini bisa mendapatkan sumber makananya tanpa di bantu?. Aku tidak begitu yakin, kepalanya saja masih berputar-putar begitu padahal yang dicarinya ada di depan hidungnya.
“Tuh, bisa kan” Benar saja, perawat tadi bersuara dengan gembira “Anak yang pintar, dia kuat seperti Ibunya” Ini hanya pujian untuk menghibur kekhawatiranku. Aku merasakan Lidahnya menyentuhku. Aku bahagia. Menghisapnya dengan kuat, tergambar bahwa anakku kelaparan. Ibu jariku bergerak menyentuh rambutnya. Halus sekali.
“Dia pintar Ra, bisa begitu minumnya kuat banget kayaknya. Haus ya sayang” Mama mendekati kami dia mengusap rambut anakku. Aku berikan telunjukku, tangan mungil itu menggenggam erat, sangat erat. “Lucu banget sih, kamu” Mama mengusap pipi anakku.
“Kita pindahkan kesebelahnya Ibu” Memidahkan posisinya tengkurapnya menghadap sumber makanan di sebelahnya. Kembali kepalanya bergerak mencari, bibir mungilnya bergerak lucu. Mukanya memerah. Tapi anaku tidak menangis, bahkan tidak putus asa. Dengan susah payah ahirnya bibir mungil itu kembali menemukan tempatnya. Sakit, nyeri dan geli bercampur jadi satu.
Apakah semua Ibu dunia merasakan indahnya memberikan ASI pertamanya. Aku merasa sudah melakukan hal terbaik selama ini. Aku berjanji tidak akan membiarkan airmata derita tumpah di kedua pipinya, kalau harus menangis akan kau pastikan hanya akan ada tangisan bahagia. Kalaupun harus tersenyum aku akan pastikan akulah penyebab senyuman itu. Tak akan aku biarkan anakku punya perilaku pengecut seperti Ayahnya, aku yang akan mendidiknya menjadi laki-laki gagah dan bertanggung jawab. Hingga wanita yang akan bersamanya kelak akan merasa beruntung mendapatkan anakku.
__ADS_1
Dia masih menempel didadaku, tulangnya saja masih lunak. Tapi pikiranku sudah terlampau jauh ke masa depannya. Inikah rasanya jatuh cinta, mencintai dengan tulus. Cinta seorang Ibu untuk anaknya. Akan aku lakukan apapun untuk kebahagiaannya kelak. Akan aku ajarkan dia tentang tanggung jawab.
Aku akan menjadi ibu terbaik, memberikan cinta tanpa pamrih karena cinta yang tulus hak anakku, dan kewajibanku untuk memenuhinya selain materi tentunya. Kembali mataku memanas, ku tahan air yang akan menetes. Sudah cukup aku mengharu biru sejak pertemuanku dengan bayi mungil ini.
Telunjukku masih dalam genggamannya. Seolah dia tidak ingin aku tinggalkan. Tatapanku tak ingin beralih, sungguh aku ingin selalu ada disampingnya.
Sekarang air mataku benar-benar tumpah, proses kelahiran anak ini tidak seperti anak-anak lain. Seharusnya ada dia, laki-laki penyumbang benih itu memeluk kami berbagi kebahagiaan, menangis bersama. Tapi apa yang aku dapat, rasa sakit kala mengingat anakku tidak diinginkan oleh darah dagingnya sendiri. Mereka yang menganggapku keluarga justru tidak menginginkan kehadirannya.
Dimana nuraninya sebagai seorang ibu, calon nenek bagi cucu pertamanya. Seharusnya disambut suka cita penuh kebahagiaan. Tapi apa yang putraku dapatkan, justru perintah untuk menghilangkannya dengan dalih gaji Mas Farhan tidak cukup. Sakit, kembali merambat di dadaku, remasannya sampai ke perut. Menyesakkan, rasanya nafasku tersengal. Airmata kembali deras mengalir. Rasa kecewa masih membuncah.
“Kenapa lagi sayang, bukannya kamu bahagia. Tersenyumlah masa sulitmu sudah lewat. Ibu bangga ternyata kamu wanita yang lebih kuat dari bayangan Ibu” Tangannya membelai halus rambutku. Seandainya Ibu tahu bahwa tangisku bukan karena terharu, tapi luka yang sempat aku ikhlaskan menganga lagi. Ternyata tidak semudah itu melapangkan hatiku untuk mereka. Setiap putaran ingatan itu kembali, darahnya menetes lagi. Sangat menyiksa ketika mengingat semuanya.
“Sudah dong nangisnya, mentang-mentang sudah jadi Ibu nggak berhenti terharu. Tapi wajar sih, semua ibu juga pasti mengalami apa yang kamu rasakan sekarang.” Mama mengusap punggung anakku. Tak akan aku beritahu pada mereka penyebab menetesnya air mataku kali ini. Aku akan tersenyum, hanya dengan itu mereka kan mengira bahwa aku sudah melupakan masa lalu yang memang tidak patut untuk di kenang.
__ADS_1
“Selesai Ibu, saya bawa lagi babynya. Dua jam lagi kita kembali buat ngasi ASI, ini adalah nutrisi terbaik untuk masa Pemulihan si kecil” Aku tidak ingin berpisah dengan anakku, sekalipun hanya dua jam. Dengan terpaksa aku melepaskan genggaman jari mungil itu di telunjukku. Aku akan menciumnya nanti ketika kami bertemu lagi.
Aku melepas kepergiannya, dalam gendongan perawat sampai punggung itu menghilang di balik pintu. Mataku melihat Mas Arga, wajah sendunya menatap anakku yang lewat di hadapannya. Tatapannya beralih padaku, masih sendu. Aku melihat dia menahan kesedihan sekuat tenaga. Menundukkan wajahnya menatap lantai ruang perawatanku. Terahir aku mendengar suara Mas Arga memanggilku, terdengar khawatir. Sekarang aku melihatnya lagi masih dengan wajah sedih.