KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
PENYEBAB MIRANDA KEGUGURAN


__ADS_3

Banyak sekali pertanyaan berkelebat di benakku, tentang bagaimana Miranda bisa keguguran. Tapi itu tidak terlalu mengganggu pikiranku. Pekerjaan kantor yang sudah mulai menumpuk menjelang ahir tutup buku lebih membutuhkan perhatian sekarang. selain Shaka yang mulai rewel kalau mau ditinggal. Maka untuk menebus waktu lima hariku kantor, hari ini aku ingin menghabiskan waktu dengan Shaka. Menemaninya bermain setelah sarapan setengah jam yang lalu.


Baru saja menghempaskan badan di karpet depan TV ketika suara bel pintu berbunyi, bergegas membuka pintu sebelum suaranya kembali memenuhi isi rumahku. Mas Farhan berdiri di ambnag pintu. Aku pikir Miranda sudah sembuh dan mereka sudah pulang. Nyatanya dia masih berdiri kaku di hadapanku. Tatapannya menoleh kebelakang mencari sesuatu, aku mengikuti arah pandangnya.


“ibu sama bapak masih disini kan, Ra” Wajahnya penuh tekanan. Aku tidak ingin menebak. Hingga ahirnya aku mengangguk dan mempersilahkan laki-laki dengan kaos kuning gading ini menuju ruang tengah. Bukan ruang tamu seperti dugaanku.


Tidak biasanya Mas Farhan bertanya tentang bapak dan Ibu, dia tidak pernah menanyakan orang lain. Selain Shaka ketika kita bertemu.


“Maafkan Saya Pak” Tiba-tiba, Mas Farhan berlutut di kaki Bapak yang baru saja tiba di ruang keluarga.


Kami semua terpaku, suara tangisnya membuatku merinding. Bapak menatapku, mencoba mencari jawaban. Akupun tidak tahu. Apa yang menyebabkan Mas Farhan tiba-tiba menjadi rapuh.


Ibu menghampiri kami, tangannya yang masih terlihat basah setelah mencuci tangan yang tidak sempat di keringkan. Wajahnya panik, mungkin suara tangisan Mas Farhan sampsi ke dapur. Aku tidak tahu.


“Ada apa Nak” Bapak membimbing Mas Farhan dudukdi sofa. Aku yang hanya terpaku tidak sadar kalau Shaka sudah berdiri memeluk betisku. Aku angkat anakku. Ku bawa dalam gendongan. Mungkin dia juga sama takutnya dengan kami. Tangan mungilnya melingkar dileherku, kepalanya disembunyikan di belakang leherku.


Ketakutanku tentang kondisi kesehatan Miranda, apakah terjadi sesuatu dengan wanita itu. sungguh aku begitu cemas. Satu-satunya cara adalah menungu Mas Farhan tenang.


“Saya berdosa pada Bapak dan Ibu, dan saya sedang menjalani karmanya” Air matanya masih menetes walau tak sederas perempuan kebanyakan. Laki-laki dan air mata bukanlah satu kesatuan yang cocok seperti kaum kami. Tapi aku bisa membaca beban di pundaknya tidaklah ringan. Dia datang kesini dengan pengakuan yang begitu emosiaonal. Tentu memerlukan persiapan mental yang matang.


“Apa yang kamu maksud, Bapak bingung. Kesalahan apa yang pernah kamu buat pada kami” Bapak memgang pundaknya kuat, menegakkan bahunya yang menunduk. “Ambilkan air minum Ra” Aku bergegas ke dapur mengambil segelas air dalam gelas kaca.

__ADS_1


“Minumlah, tenangkan pikiranmu. Setelah itu kami akan mendengarkan apapun ceritamu” Menyodorkan gelas dari tanganku.


“Saya minta maaf atas kesalahan saya menyia-nyiakan Laura, keluar dari rumah setelah Ibu mengusirnya tanpa saya antar. Dia keluar sendiri dengan janin yang ada di dalam perutnya,saya sudah melanggar janji untuk menjaga Laura dengan baik, saya memang laki-laki tidak berguna” dengan wajah tertunduk dan tangan saling bertaut, Suara Mas Farhan terbata.


Bapak menarik nafas panjang, dipegangnya pundak laki-laki rapuh didepannya.


“Sebelum kamu meminta maaf, bapak sudah memaafkan kamu. apalagi kejadian itu sudah lama. Laura sudah bahagia dengan jalannya sendiri. Walau awalnya Bapak sempat marah, karena kamu seperti membuang anak perempuan Bapak seperti sampah. Tapi, setelah kami pikir mungkin takdirnya memang harus begitu. Tuhan tidak pernah salah dalam memilih umatnya yang akan di berikan cobaan. Bapak yakin kamu juga pasti bisa melewati ini, yang penting sabar” Aku melihat, usapan di pundak itu ternyata cukup ampuh, entah nasehat Bapak atau usapan itu yang menenangkan. Nafas Mas Farhan sudah mulai tenang.


“Saya menganggap hukuman untuk kejadian yang menimpa Miranda, dulu saya mendukung Ibu untuk mengugurkan. Sekarang Tuhan mengambil anak saya dengan paksa pada saat saya menginginkannya. Tuhan sedang mengabulkan keinginan saya dengan cara yang berbeda. Maafkan Mas Ra, Maafkan saya Bu, atas ke bodohan saya di masa lalu” Tangannya di rapatkan di depan dada. Wajah memelas yang nampak lebih kurus membuat Mas Farhan terlihat mengenaskan dari kemarin kami bertemu. Wajah penuh penyesalan dengan air yang mulai menggenang. Sakit karena kehilangan itu memang luar biasa.


“Kita sudah berdamai Mas, bagaimanapun Mas Farhan sudah mengucapkan ini berulang. Tidak usah


“Apa yang menyebabkan Miranda keguguran?” Ibu menimpali. Aku memang penasaran tapi aku tahan, karena itu sudah bukan urusanku. Melihat sikap Miranda yang masih trauma aku takut akan membebani Mas Farhan. Aku melihat cinta itu berkilat di matanya setiap Mas Farhan menatap Miranda.


“ Saya tidak tahu pastinya Bu, tapi waktu saya datang. Miranda sudah tergelatak dengan darah yang menggenang di lantai tepat di bawah tangga. Dia tidak sadarkan diri. Ibu saya terlihat ketakutan. Ayah yang menguhubungi saya, karena beliau masih tenang” Aku pikir karena Miranda orang kaya Ibu Mas Farhan akan mengambil asisten rumah tangga. Nyatanya, dia tidak menyebutkan ada orang lain dalam ceritanya.


“Miranda mengalami keguguran di usia kandungannya yang ke delapan, bayinya tidak terselamatkan. Bahkan dokter meyarankan rahimnya diangkat karena hancur.” Tangan Mas Farhan begetar.


Tuhan, seberapa parah Posisi Miranda ketika jatuh waktu itu. aku tidak bisa membayangkan rasa sakitnya. Sedangkan aku yang mengalami kontraksi ketika itupun rasanya tidak sanggup menahan sakit. Wanita dengan segala permasahan tentang kehamilan memang tidak akan pernah habis untuk diceritakan. Kami semua terdiam mendengar penuturannya.


“Setelah menikah Miranda meminta ATM yang di pegang ibu selama ini. Ibu tidak terima dia membanding-bandingkan Miranda sama kamu. tapi tetap Miranda yang pegang dengan perjanjian bahwa setiap bulan Ibu akan mendapatkan jatah bulanan. Saya tidak peduli tentang itu semua biarlah menjadi urusan Ibu dan istriku” Diam sejenak, tarikan napasnya berat, bebannya memang tidak seringan bayanganku. Kehilangan bukanlah suatu hal yang bisa kita terima dalam waktu singkat.

__ADS_1


“Waktu kejadian itu Bapak sempat melerai pertikaian mereka. Ibu murka melihat Miranda pulang dengan membawa banyak belanjaan di tangannya. Sementara jatahnya sudah tidak pernah di berikan. Ibu mengejar Miranda sampai ke atas tangga. Sempat cekcok lama, sampai ahirnya ibu menarik tas Miranda dan meminta ATM dengan paksa. Miranda jatuh setelah kakinya salah menginjak tangga” Yang di ceritakan Mas Farhan ini, seperti yang diceritakan Ayahnya. Karena memang dia tidak tahu kejadian sebenarnya. Tatapan menerawang seolah dia ingin mengulang ke masa itu menyesali kejadian yang menimpa keduanya.


Iba, sungguh tidak ada seorang pun yang ingin berada di posisi ini, kehilangan anak dan kesempatan untuk memiliki untuk selamanya.


“Yang sabar ya, Ibu paham apa yang kamu rasakan. Ibu berdoa semoga setelah ini kalian lebih saling menyayangi apapun kondisi istrimu, dia jauh lebih sakit dari yang kamu terima saat ini” Seburuk apapun perlakuan Mas Farhan dan keluarganya padaku di masa lalu. Tidak pernah meninggalkan benci dan dendam yang berlarut. Sudah tiga tahun kami lalui setelah perceraian, waktu yang cukup buatku mengubur masa sulit.


“balasan dari Tuhan atas semua perbuatan kami pada Laura di masa lalu. Sangat menyakitkan, saya tidak bisa membayangkan perasaan Laura ketika saya paksa untuk tinggal satu rumah dengan Ibu. saya tidak mendengar keluhannya ketika dia mengajak saya keluar dari rumah. saya pikir, Laura hanya butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Nyatanya perlakuan Ibu kepada Miranda saja bisa begitu keras, apalagi Laura menantu yang mulai dari awal kedatangannya kerumah sudah tidak mendapat sambutan ramah dari Ibu” Tatapannya padaku. “Mas Boleh gendong Shaka Ra” Tangannya terulur meminta Shaka dalam gendonganku. Setelah cukup tenang.


Mas Farhan mendekap erat bayi tiga tahun ini. aku melihatnya kembali mengusap wajah. Matanya memerah. Ada genangan yang akan tumpah.


“Ayah sayang benget sama Shaka, jadilah laki-laki yang kuat dan bertanggung jawab. Jangan lemah seperti Ayah ya, Nak” bisiknya di telinga Shaka.


“Ajak Miranda pindah rumah setelah ini Mas, dia akan lebih tertekan karena kejadiannya di rumah Mas. Jangan sampai dia stress karena harus melihat tempatnya jatuh setiap hari, takut trauma” Saranku.


“Aku nggak akan ngajak Miranda pindah kerumah aku Ra. Rumah itu buat Shaka, tidak ada seorangpun yang boleh mengambilnya” Suaranya tegas, dia menatapku tajam.


“Tidak apa-apa. Shaka sudah cukup dengan uang tabungan setiap bulan yang Mas kirim, kalau tidak ditempati nanti rusak juga. Sayang nggak ada yang rawat” Aku tau cerita rumah itu dari Mas Farhan. Bahkan dia sempat memperlihatkan detailnya ketika kami melakukan video call. Aku tidak menginginkan hal lain. Tabungan itu sudah cukup. Mas Farhan punya kehidupan sendiri, aku tidak ingin mengganggunya.


Luka yang mereka torehkan dulu, akan selalu membekas. Nyatanya berdamai dengan hati. Melawan rasa benci membuatku bisa menerima kehadiran Mas Farhan di hadapanku meskipun hubungan kami tidak lebih dari teman. Demi Shaka, agar anakku tidak kehilangan kasih sayang orang tuanya.


Rasanya terlalu pongah kalau aku mengiyaan ucapan Mas Farhan bahwa semua yang terjadi padanya dan Miranda adalah balasan dari Tuhan atas perlakuannya padaku di masa lalu. Bahkan Tuhan sudah menulis garis takdir yang harus di jalani setiap orang jauh sebelum mereka lahir.

__ADS_1


__ADS_2