
Aku belum siap bertemu Mama atau lebih tepatnya tidak ingin bertemu Mama dalam waktu dekat. Karena aku belum menyiapkan jawaban atas permintaan Mama yang menurutku sangat berat. Tapi rasa cinta dan hormatlah yang menyeret kakiku sampai disini setelah Mama memintaku datang sepulang kerja. Bukan di rumahnya melainkan di butik Mama.
Duduk berhadapan dengan rasa canggung dan dua gelas minuman hangat. Kesunyian masih menemani kami. Aku tidak punya bahan untuk membuka pembicaraan. Inilah yang aku takutkan kecanggungan ketika aku masuk lebih jauh dalam keluarga Mama. Padahal sebelum ini kami dua orang yang akan selalu menemukan bahan obrolan hangat yang menarik untuk diangkat. Tapi sekarang, aku melihat Mama berkali-kali menarik Nafas. Sementara aku hanya menunduk tidak bersuara.
“Maafin Mama, Ra” aku mengangkat wajah, meneliti lebih dekat wajah Mama. Aku melihat wajah penuh penyesalan disana tapi kenapa?. “Mama egois dengan permintaan Mama” Mama kembali menarik nafas berat. Tatapannya pada jari yang bermain diatas gelas minuman.
Aku masih menatap Mama dengan intens, apa maksudnya. “ Mama ada apa?” Aku tidak mengerti dengan perubahan Mama. Ketika memintaku untuk menikahi Mas Arga kemarin wajah itu penuh kayakinan memohon, tapi sekarang wajah itu menunduk penuh penyesalan.
“Tidak seharusnya Mama memintamu. Seharusnya menunggu Arga yang siap menerimamu, Mama paham kalau kemarin kamu merasa terhina dengan permintaan Mama. Kamu benar, tanpa menikah dengan Arga kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Maafin Mama sekali lagi. Sudah membuat kamu sampai tidak tidur memikirkan ucapan Mama” Helaan nafasnya panjang. Ahirnya Mama menatapku, tatapan kami bertemu. Aku melihat wajah sendu Mama.
Ku genggam tangannya diatas meja. Menguatkan Mama kalau aku baik-baik saja. Aku tidak ingin terlihat terbebani, karena beban Mama mungkin sudah berat.
“Laura baik-baik saja Ma. Kalau Mas Arga tidak keberatan Laura tidak apa-apa” Jawabku meyakinkan Mama. Pada ahirnya aku akan menerima permintaan Mama setelah mendengar nasehat Ibu sore itu. aku tidak keberatan dengan keputusanku. Mas Arga baik, walaupun dalam arti baik menjagaku seperti dia menjaga chintya. Jalan cerita tentang pernikahan kami kedepannya biarlah menjadi rahasia.
“Kamu perempuan Ra, apa kata Arga kalau hanya kamu yang menyanggupi sementara Arga menyerahkan semua sama Mama. Kemarin waktu Mama tanya dia jawab terserah, jawabnya kayak cewek. Sampai Mama sadar kalau Mama yang terlalu berambisi.” Ada mendung dalam manik matanya. Aku mengusap punggung tangan itu pelan.
__ADS_1
Aku sedikit lega mendengar permintaan Mama, dugaanku benar, Mas Arga punya dunianya sendiri. Kalaupun dia menerima itu pasti karena bujukan Mama. Aku tarik nafas yang mulai terasa longgar. Himpitan di dadaku mulai berkurang. Aku genggam erat tangan Mama sebagai ucapan terima kasih walau tak terucap. Aku semakin Menyayangi Mama, dan Chintya. Eh, dimana bocah itu kenapa tidak terlihat.
Aku melihat Mama masih menunduk dalam, aku urungkan untuk bertanya tentang sahabatku itu.
“Chintya Marah sama Mama Ra, dia yang ahirnya menyadarkan Mama kalau semua ini salah. Sekuat apapun keinginan Mama untuk menyatukan kalian pada ahirnya pendapat cintya yang Mama pertimbangkan” Mama masih belum selesai dengan ceritanya. “ Dia akan membuatmu merasa rendah di hadapan Arga, apalagi kamu pernah gagal. Hingga Mama bertekad menunggu Arga yang memintamu” Aku rasa itu tidak akan pernah terjadi. Sampai kapanpun Mas Arga tidak akan datang meminta padaku untuk menikah. Perempuan yang sedang bersamanya sekarang adalah bentuk keserasian yang sebenarnya. Siapapun akan setuju dengan pendapatku.
“Kenapa mama tiba-tiba ingin Aku dan Mas Arga menikah?” Yap, ini yang selalu mengganjal pikiranku. Aku tidak yakin dengan jawaban Mama yang mengatakan kalau dia menyayangi kami dan harus menikah. Itu hanya alasan Mama.
“Mama tidak setuju Arga dekat lagi sama perempuan itu” ******* berat Mama menggambarkan kalau beliau tidak bisa menerima wanita itu. tapi kanapa, sisil cantik, pembawaannya tenang. Sepertinya dia gadis yang baik walaupun kami hanya bertemu satu kali di acara pertunangan Dokter Hardi.
“Dia mantan pacarnya Arga. Setelah bertahun-tahun kembali lagi. Mama takut mereka kembali menjalin hubungan. Ada alasan kuat yang membuat Mama tidak menyukai sisil” Jawabn Mama belummembrikan kelegaan.
Dia wanita yang baik. Ibu yang sempurna di mataku. bahkan aku yang hanya sahabat anaknya bisa di terima dengan baik. Bahkan di perlakukan sama dengan putrinya. Tapi sayangnya aku tidak bisa memaksa Mama untuk bercerita. Aku genggam erat tangan itu dengan kedua tanganku, hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menenangkan Mama.
“Kalau nanti kamu sudah punya calon pendamping, kasih tahu Mama ya Ra. Mama juga ingin ikut menilai calonmu. Mama tidak rela kalau kamu jatuh pada laki-laki yang brengsek lagi. Ada Shaka yang akan menjadi taruhannya. Dan Mama tidak bisa membayangkan kalau Shaka menjadi korban nantinya” Mama masih orang yang sama, menyayangi, memberikan lebih dari yang aku bayangkan. Ketakutannya Perhatian dan ketulusannya membuatku semakin menyayangi Mama.
__ADS_1
Aku merasakn badan pikiranku mulai plong. Aku memutar pandangan di dalam ruang kerja Mama. Ada sketsa di ujung meja mama. Disusun dengan rapi. Semua diruangan ini juga rapi, dengan aroma lemon dari pengharum ruangan. Mama menyukai aroma buah-buahan yang menyegarkan. Sampai mataku tertuju pada dua patung dengan gaun berwarna putih yang sangat indah, ada dua disana. Sangat cantik. Aku yakin yang memesan gaun pengantin itu bukan orang biasa. Detailnya sempurna, bahannya juga bukan yang biasa.
“Cantik kan, Ra” Mama mengerti arah pandangku. Dia kini fokus pada dua gaun itu sama sepertiku. Bedanya Mama terlihat bangga aku takjub luar biasa. “ Itu Mama yang bikin” lanjutnya. Payet, dengan gambar merak sangat indah. Dengan ekor gaun yang menjuntai. Brokat dengan salur yang sangat bagus. Sedangkan yang satunya dengan payet motif bunga lily dua-duanya dengan motif yang sempurna di mataku.
“Pasti yang pesan orangnya sangat detail, tapi bagus. Mungkin dia ingin yang terbaik di hari istimewanya” Cicitku. Mungkin dia tergolong wanita yang perfeksionis. Tapi tunggu, kenapa ada diruangan Mama. Bukankah semua gaun pesanan harusnya di pasang di galeri. Seistimewa apa orang yang memesannya.
“Tidak ada yang memesan, hanya Mama ingin bikin. Mama kerjakan enam bulan itu dua-duanya. Di bantu mona sama niki” dua orang yang Mama beri kepercayaan. “Siapa tahu kamu sama Chintya bisa memakainya tapi Mama berharap kamu yang pakai, karena Mama akan merasa bangga” Aku membola. Tidak percaya dengan ucapan Mama. Bagaimana dia bisa punya ide kesana. Atau jangan-jangan Mama memang sangat berharap aku sama Mas Arga.
“Mama bikinin yang merak buat kamu Ra, siapapun calonmu kelak datanglah buat fitting. Mama akan sangat bangga” sebelum aku membuka mulut Mama sudah bersuara terlebih dahulu.
Tiba-tiba ada ruang kosong dalam hatiku. Aku merasa bersalah. Sampai sejauh itu Mama menyiapkan semuanya.
“Aku datang...” Suara cempreng Chintya masuk tanpa permisi. Dari mana dia, datang-datang membawa banyak bungkusan. “Antri tadi. Nasi gorengnya benar-benar juara” Mulutnya tidak berhenti mengoceh sambil meletakkan bungkusan di meja. “ini menu andalan cafe di depan Ra, aku sudah dua kali makan dan belum bosan” semua gerak-gerik chintya tidak luput dari pandanganku.
“Nasi goreng seafoodnya enak Ra. Cobain” Mama menggeser satu kotak berwarna hitam dengan logo sebuah nama cafe setelah mengeluarkan dari plastik.
__ADS_1
Tunggu chintya. Aku butuh banyak penjelasan dari wanita cerewet itu. jangan bilang seolah-olah aku bisa melepaskanmu begitu saja. Kamu berhutang banyak cerita yang aku lewatkan. Dan sialnya dia pura-pura tidak melihatku, melahap nasi goreng dengan santai. Dengan mulut penuh dan pipi menggembung dia menatapku sambil tersenyum jahil.