KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
POV Laura SHAKA DAN AYAH KANDUNGNYA


__ADS_3

Aku belum menceritakan pada siapapun tentang kedatangan Mas Farhan kekantorku. Tidak ada seorangpun yang bertanya apapun. Bagiku, tidak ada hal yang perlu ku ulang lagi cerita tentang bajingan itu. tentang laki-laki yang seharusnya menyambut kelahiran anakku dengan suka cita. Tapi apa yang aku dapat, justru Mas Arga yang menyambut Shaka dengan suka cita. Menggendong untuk pertama kalinya, dan mengadzani setelahnya. Aku tahu semua cerita itu dari Ibu.


Katanya aku berhutang banyak pada keluarga Mama, mereka memperlakukanku seperti putrinya sendiri. Mama selalu menyempatkan menjengukku setiap pulang kantor hingga malam. Setelahnya dia akan pulang untuk istirahat. Sebenarnya Mama ingin menungguiku sampai pagi, tapi Ibu mencegah, karena Mama harus bekerja.


Ketika aku membuka Mata, Ibu dan Mama adalah orang pertama yang aku lihat. Setelahnya bayiku kemudian Chintya memelukku dengan erat, memberikan ucapan selamat tanpa henti. Mas Arga, jangan lupakan dia yang menyelamatkanku. Laki-laki yang pertama muncul dengan wajah sendu dihadapanku.


Pulang, kata yang terdengar indah setelah mengahabiskan tujuh hari di rumah sakit. Aku bahagia tentu saja. Aku ingin istirahat dengan nyaman tanpa jarum infus yang menempel di tanganku. Dan yang terpenting, aku ingin tidur nyenyak dikasurku. Aku bahagia, aroma kamar tercium jelas di indraku.


Semua sibuk berbenah, bahkan Chintya dengan sigap menggendong bayiku, lihai juga dia. Wanita yang marah karena tidak bisa menemaniku karena mendapat tugas dari Mas Doni, bukan dadakan sebenarnya. Itu pertemuan yang beberapa kali tertunda dengan klien. Dan kebetulan bisa bertemu bertepatan dengan kabar dari Mama kalau aku mau melahirkan.


Cita-citanya untuk menemaniku di ruang persalinan kandas sudah, dia tidak bisa berbuat apa-apa, terlebih ketika tahu kondisiku yang sedang kritis waktu itu. Dia hanya bisa menangis setelah meeting dengan kliennya selesai.


Ketika chintya bercerita, air matanya berurai dengan deras. Aku yang mendengarnya tak kalah berderai. Bahkan dia sempat memarahi kakaknya didepanku, karena dianggapnya lalai menjagaku. Kelakuan chintya kadang-kadang tidak bisa aku nalar, bagaimana Mas Arga akan menjagaku, sementara dia harus bekerja. Lagipula Mas Arga bukan laki-laki yang harus bertanggung jawab atas anak ini. Kehadirannya ketika aku membutuhkan saja sudah lebih dari cukup bagiku. Aku tidak ingin lebih merepotkannya.


Hari-hariku lebih indah setelah kehadiran Shaka ingin, semua orang punya cara sendiri untuk membahagiakannya. Mas arga yang tiba-tiba datang membawa mainan mobil-mobilan pakai remote control, walau Shaka belum paham. Mas Arga dengan senang akan memainkannya, sambil menjelaskan caranya. Anakku kadang tertawa, padahal dia belum tahu apa-apa.


Mama, yang tiba-tiba bawa setumpuk baju bayi sepulang kantor. Dengan mata berbinar menjelaskan arti gambar yang menempel disana. Lagi-lagi anakku tertawa setiap Mama berbicara dengannya. Walau kadang hatiku miris, ketika mengingat orang yang seharusnya bangga dengan kehadiran anakku. Mereka yang mempunyai pertalian darah dengan Shaka, bahkan tidak mau tahu dengan kehadirannya. Seharusnya Ayah kandungnya yang membelikan dia mainan, mengajaknya bermain. Tapi apa, justru orang lain yang melakukannya.


Usianya sudah tiga bulan, sekarang waktunya aku kembali bekerja. Berat rasanya, tapi mau bagaimana lagi. Ada anakku yang harus aku tanggung. Dan peranku sabagai ayah dan ibu yang baik untuk shaka akan di mulai hari ini.


Sebenarnya Mama dan Mas Arga melarangku kembali bekerja, tapi aku tidak ingin menyusahkan mereka terlalu lama. Keberadaanku di rumahnya,di terima dengan baik diberikan fasilitas yang tidak pernah aku bayangkan sudah lebih dari cukup untuk membuatku bahagia.


Aku ingin mengutarakan niatku pada Mama, untuk tinggal terpisah. Karena setelah ini aku ingin tinggal dengan Ibu dan Bapak. Aku sudah membicarakannya, dan mereka tidak keberatan, bahkan dengan senang hati mendengarnya.

__ADS_1


Makan malam adalah waktu yang tepat untuk berbicara dengan santai. Kami duduk di depan TV, menyaksikan acara kartoon. Semua yang ada di rumah ini harus menyenangkan Shaka, seperti tayangan yang sekarang kami lihat. Mama melarang ada acara dewasa seperti sinetron, berita atau acara lainnya, takut membawa pengaruh buruk bagi Shaka katanya. Kepalanya saja belum bisa benar-benar tegak. Bahkan sudah banyak hal-hal yang khawatirkan Mama tentang anakku.


“Ma, Laura sudah dapat rumah kontrakan. Mungkin minggu depan sudah mulai pindahan” Aku tidak berani menatap Mama, bahkan ketika aku akan mengatakannya tadi, susah payah aku mengumpulkan keberanian. Takut membuat Mama tersinggung.


“Kenapa tiba-tiba, kamu nggak kerasan tinggal disini” Itu bukan Mama, tapi Mas Arga. Badannya tegak dari sandaran sofa ketika mengatakan kalimatnya.


“Maafkan Laura Mas, bukan begitu. Sudah waktunya Laura untuk mandiri. Tidak merepotkan kalian lagi.” Aku masih menunduk. Tatapan tajam Mama seakan mengulitiku. Meskipun dia tidak bersuara tapi aku tahu, reaksinya kurang lebih sama dengan Mas Arga.


“Justru kalau kamu keluar dari rumah ini kamu ngerepotin semuanya. Kami akan khawatir sama Shaka. kalau disini kan terpantau. Kamu egois Ra” Suara Mas Arga meninggi. Aku pikir, Mama yang akan mengatakan itu. Ternyata Mas Arga jauh lebih emosi.


“Pelankan suaramu Ga, nanti Shaka kaget” Suara Mama melunak. Aku sedikit bisa bernafas lega. “Kenapa tidak bilang Mama kalau kamu mau ngontrak. Disebelah rumah ini kosong. Kalau tidak salah mau di jual katanya. Tahu gitu kan kamu ngontrak disitu Ra” Mama benar-benar berhati luas. Dia justru memberikan aku solusi, bukan emosi seperti Mas Arga. “Mama bisa lihat kamu setiap saat. Kalau jauh, gimana nanti kalau Mama kangen Shaka” Bahkan Mama tidak menanyakan alasanku. Aku bersaksi, siapapun nanti yang akan menjadi menantu Mama, pasti wanita itu benar-benar beruntung. Berulang kali aku mengulangi kalimat ini, tapi memang benar yang aku katakan.


“Kalau dekat sama saja ngerepotin Mama. Tidak jauh dari sini, paling sepuluh menit sampai. Laura cari yang dekat kantor, biar tidak capek bolak balik kalau ngasih ASI” Aku tidak ingin memberi Shaka dengan susu formula. Tekadku sudah bulat, kalau dia akan mendapatkan Asi eksklusif selama enam bulan hingga dua tahun kedepaan.


Aku pikir tidak ada yang tahu kejadian sebelum aku dilarikan ke rumah sakit, ternyata kekhawatiran Mas Arga sudah menjawab ketidak tahuanku. Aku malu, tak seharusnya kemelut rumah tanggaku merepotkan orang lain. Siapa yang memberi tahu laki-laki kebanggaan Mama ini, atau jangan-jangan semua rekan kerjaku sudah mengetahuinya.


Bukan suatu hal yang patut dibanggakan ketika aib rumah tangga di ketahui banyak orang. Aku tidak peduli ketika mereka menatap sinis kehamilanku, daripada mereka mengetahui kalau aku hamil dengan bajingan yang tidak bertanggung jawab. Bahkan dengan jelas menolak kehadiran darah dagingnya sendiri.


“Laura sudah dewasa, permasalahan mereka bukan urusan kita. Laki-laki yang kamu maksud, adalah Ayah biologis Shaka, kalaupun mereka ingin bertemu kan tidak masalah. Jangan di halangi dosa lho memutus tali sulaturaahim apalagi dengan orang tua kandung. Shaka ber hak tahu siapa Ayahnya” Selalu jawaban Mama berada di tengah. Benar-benar ber hati besar orang tua Chintya.


Jiwa mudaku yang masih menggebu penuh kebencian, akan merasa puas kalau melihat keluarga itu sengsara. Tapi kerkadang ucapan Mama bagaikan jeweran kecil, untuk mengingatkan bahwa yang ada di pikiranku itu salah. Kalau mau belajar ikhlas. Mama tempat yang tepat. Betapa lapangnya hati wanita ini.


“Terserah Mama, Cuma kalau ada apa-apa jangan nyalahkan Arga kayak kemarin” Mas Arga menyerah, dia beranjak masuk kamar. Aku tidak mengerti ucapannya. Menyalahkan seperti apa yang di maksud tadi.

__ADS_1


“Sudah malam, bobok sana. Kasihan Shaka. kamu juga, mulai besok kan sudah mulai kerja” Mama menyentuh punggungku. Matanya berkedip dengan kepala mengangguk. Senyum tulusnya seolah ingin mengatakan bahwa, semuanya akan baik-baik saja.


Aku beranjak dengan menggendong Shaka masuk kamar. Antara lega dan sedih, karena Mama sudah memberiku ijin untuk punya rumah sendiri. Ibu dan Bapak yang akan menjaga Shaka. menikmati masa pensiun setelah senja. Menimang cucu adalah kebahagiaan tersendiri bagi mereka. aku pun ikut bahagia karena terbantu dengan penjagaan mereka sama anakku.


***


Hari sudah sore, rasanya sangat melelahkan setelah tiga bulan cuti. Aku ingin buru-buru pulang, bertemu anakku. Rindu aroma tubuhnya, aku menahannya sedari tadi, padahal sudah video call sama Bi Sumi. tapi tetap saja rasnya belum puas kalau tidak melihatnya langsung. Dadaku membuncah, terbayang wajahnya akan tersenyum cerah menyambutku, secara sumber kehidupannya datang kan.


Dengan semangat menggebu aku memasuki rumah, Mama membelakangi pintu ruang keluarga.


“Assalamualaikum Ma” ucapku pelan mama benar-benar fokus pada objek di depannya, dia menoleh setelah mendengar suaraku. Apa aku salah lihat, mata mama sembab.


“Waalaikum salam,sudah pulang” Mataku tidak salah, mama mengusap matanya. Tapi masih ada tetesan yang menggenang.


“Mama kenapa” Tanyaku heran. Melihat keadaan yang tidak biasanya membuatku bertanya. Apalagi menyangkut Mama, wanita kuat yang tiba-tiba sendu. Satu lagi, seharusnya Mama mamsih di butik jam lima sore, katanya hari ini ada rapat penting dengan investor kliniknya.


“Kamu pasti terharu, lihat deh. Mama menarik badanku sejajar dengannya dan memutar badanku menghadap kedepan. Kemudian mama menunjuk dengan dagunya. Aku memutar kepala dengan bingung.


Mataku melebar, Mas Farhan menggendong Shaka, di memeluk erat bayiku. Aku mengatakankn dia anakku karena dari awal laki-laki itu tidak mengingkan kehadirannya. Seketika amarahku memuncak, aku tidak terima dia memeluk darah dagingku. Aku hendak merebut Shaka dari laki-laki lemah itu, tapi mama menarik tanganku. Aku kerutkan dahi menatapnya.


“Jangan di ganggu, biarkan dia bertemu anaknya. Memeluknya untuk melepaskan kerinduan, tarik nafas biar marahmu sedikit lega. Lihat, Shaka. dia anteng di dalam gendongannya. Kita tidak bisa menghilangkan pertalian darah, bagaimanapun bencinya kamu sama Ayahnya. Lakukan demi Shaka sekarang. Jangan kedepankan ego, Shaka butuh kalian berdua” kata-kata Mama, meredakan segala lahar panas yang sudah siap aku ledakkan. Aku tarik nafas, cukup lihat apa yang akan dilakukannya.


“Kamu sudah pulang Ra, maaf aku tidak minta ijin kamu untuk menggendong anakku, dan tidak perlu ijin bukan” Percaya dirinya terlalu tinggi mahluk sok tampan didepanku, sayangnya dia Ayah kandung Shaka.

__ADS_1


Ku paksakan senyum, walau hati tidak terima dia menyentuh anakku. Akan aku pastikan ini adalah pertemuan pertama dan terahir dia dengan Shaka.


__ADS_2