
Aku duduk di kursi ruang perawatan Miranda, paviliun dengan fasilitas yang lumayan. Melihat Mas Farhan menyuapi Miranda dengan sabar. Aku dari dulu memang tahu kalau Mas Farhan orangnya sabar. Terlepas dari perlakuannya dulu dia adalah laki-laki yang baik pada dasarnya.
Mas Farhan meletakkan tempat makanan sisa di meja dekat kasur Miranda terbaring. Hening, aku tidak ingin mengajak Miranda berbicara ketika masih di suapi.
“Mas tadi tidak sengaja bertemu Laura waktu beli makan” Mas Farhan menjelaskan pada istriya tentang pertemuan kami, aku yakin dia melakukan itu agar tidak ada salah paham. Aku tahu, wajah miranda tidak suka meihatku. Aku pikir itulah alasan mas Farhan menjelaskan.
“Bagiamana keadaanmu Mir?” Memanggil tanpa embel-embel. Selain usianya yang sama denganku, aku ingin mengakrabkan diri dengan istri mantan suamiku. Berjalan mendekat ke bibir ranjang setelah Mas Farhan membereskan sisa menyuapi tadi.
“Apa wanita yang terbaring lemah diatas ranjang pasien masih bisa dikatakan baik-baik saja? ” Jawabnya sarkas. Dari pertemuan kami yang pertama Miranda memang tidak pernah ramah. Aku paham kondisinya saat ini. pasti Miranda merasa sangat tertekan. Wanita tanpa rahim siapa yang mampu menerima takdir sedemikian drastis mengubahnya.
“Aku harap kamu secepatnya pulih” Mendengar jawaban Miranda sepertinya dia tidak suka dengan kedatanganku. Aku bingung, tidak tahu harus menjawab apalagi. Hanya itu, walaupun terihat banget basa-basinya.
“Aku yakin ucapan itu tidak sepenuhnya dari hatimu, kamu senangkan melihat keadaanku sekarang. kamu merasa menang karena mampu memberikan Mas Farhan keturunan. Sedangkan aku, harus menerima keadaan jika takdir telah mengubahku dengan kejam. Aku benci kamu Laura, sekarang dan selamanya. Wanita munafik yang hanya datang dengan kepura-puraan agar kamu terlihat baik di hadapan mantan suamimu. Apalagi kalau bukan uang tujuanmu, dengan mengandalkan Shaka sebagai senjata” Pelan dengan penuh penekanan suara Miranda tertahan rahangnya mengatup keras. Dia melakukan itu agar pembicaraan dengan penuh kebencian itu hanya di dengar kami berdua. Wajahnya memerah dengan tatapan tajam ke arahku.
Rasa Iba menjalari hatiku, tidak semua wanita kuat menerima kenyataan hidup yang pahit. Termasuk Miranda, wanita dengan semua keinginan terkabul sebelumnya. Pernikahan yang sempurna dengan laki-laki yang dia cintai.
“Aku tidak seburuk yang kamu pikirkan. Kedatangaku hanya ingin memberikan semangat. Kita sama-sama perempuan. Kebetulan Tuhan memberikanmu cobaan hari ini. jangan lupakan aku yang pernah dihancurkan secara bathin oleh mertuamu. Aku harus pergi meninggalkan rumah tanpa suami dengan janin yang aku sembunyikan” Bukan niatku ingin membuat Miranda semakin terpuruk. Aku hanya ingin memberi tahunya bahwa aku pernah mengalami keburukan yang jauh lebih dari itu. “Pulang kerumah orang tuaku tanpa diantar suami, aku ditutupi pintu dengan keras setelah kakiku menginjak teras, apa yang lebih sakit dari itu, tidak ada Miranda. Seharusnya kamu bersyukur kamu di terima dengan baik oleh mertuamu” Lanjutku, setelah melihat Miranda terdiam.
“Tapi Tuhan tidak mengambil anak dan rahimmu bersamaan” masih dengan kebencian dia menatapku “Dan wanita yang kamu sebut mertua, dialah yang menyebabkan aku seperti ini, dia hanya berpura-pura menyayangiku. Aku benci kalian semua” Suara miranda meninggi di akhir kalimatnya “ Pergi, aku tidak butuh manusia munafik seperti kalian” Lengkingan suaranya membuat Mas Farhan mendatangi kami. Tubuh miranda bergetar menahan tangis.
Aku melihat Mas Farhan duduk di tepi ranjang memegang tangan istrinya mencoba menenangkan dengan mengusap kepala Miranda berkali-kali. Aku mundur. Duduk kembali di samping Chintya. Wanita ini sudah menatapku tajam seolah ingin menguliti tubuhku.
“Apa ku bilang, nggak ada gunanya kamu datang kesini. Sudah tahu wanita itu benci banget sama kamu” Sumpah mata Miranda berkali-kali lipat lebarnya. Aku mengerti perasaannya, dia yang sudah memperingatkanku berkali-kali. Tapi tak ku hiraukan.
Aku tidak merasa sakit hati, justru hatiku terenyuh melihat keadaan Miranda dan ucapan terahirnya. Dia yang mengatakan semua kemalangannya disebabkan oleh orang tua Mas Farhan. Apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah wanita tua itu sangat menyayangi Miranda.
__ADS_1
“Mas, kami pamit dulu. Biar Miranda bisa istirahat. Semoga cepat sembuh” Chintya menarik tanganku keluar. Tanpa menunggu jawaban Mas Farhan. Kita akan dengar omelannya nanti.
“Tunggu” Mas Farhan menyusulku setelah kami keluar dari ruang perawaatan. Dengan nafas tersengal karena setengah berlari. Aku hentikan langkahku, tapi Chintya menarik tanganku lebih kuat.
“Tunggu dulu, kasihan” Ucapku melepaskan tangan dari cekalan Chintya dengan paksa. Bekasnya terasa panas, aku yakin sekarang ada tanda lima jari chintya ngecap disana.
“Aku atas nama Miranda minta maaf” Wajahnya penuh penyesalan. Terlihat jelas kantung di bawah mata Mas Farhan, aku yakin dia kurang tidur. Siapa yang bisa tidur nyenyak sementara istrinya terbaring lemah. “Aku usahakan mampir kerumah, kangen sama Shaka, sekalian mau bicara sama Bapak” Bapakku yang di maksud Mas Farhan.
“Kasihan Chin” Ucapku melepas kepergian Mas Farhan. Punggungnya menjauh. Dia buru-buru, nungkin ketika menemui ku tadi Miranda tidak tahu
“Kasihan sama Miranda Maksudmu”
“Dua-duanya”
“kenapa harus benci. Miranda kan nggak merebut Mas Farhan. Pernikahan mereka pun karena memang sudah seharusnya. Aku tidak sakit hati. Percaya deh”
“Bukan itu, kamu tahu yang di bilang sama medusa itu waktu aku hadir di perniakahnnya”
“Penting ya, ngomongin itu sekarang”
“Aku masih ingat jelas” Chintya tidak mau kalah “ lihatkan chin, pernikahanku jauh lebih megah dari sahabatmu. karena dari awal laura tidak diinginkan. wanita murahan macam dia itu tidak pantas dapat mas Farhan. lebih bagus kalau dia dapat dapat laki-laki yang sekelas sama dia" Chintya menirukan ucapan Miranda waktu. "Aku yang merasa terhina Ra. Karena kupingku yang dengar” Chintya berapi-api jangan lupakan bibirnya di buat sedemikan seksi menirukan gaya ala wanita yang sedang bergosip. Kalau aku mendengarnya dulu mungkin amarahku akan membubung tunggu. Untungnya setelah tiga tahun Chintya baru menceritakannya padaku, apalagi setelah melihat kondisi Miranda sekarang. tidak ada rasa benciku padanya.
“Sadis sih, tapi ya sudahlah. Nggak ada gunanya juga kan, di bahas lagi”
“Yang bikin aku marah, kamu dan Medusa itu tidak pernah punya urusan. Kenapa dia benci banget sama kamu. kalau bukan ada banyak orang, sudah aku remas mulutnya waktu itu” Tangannya meremas. Meluapakan amarah yang sudah lewat. Temanku rupanya pendendam. “Kau jadi wanita jangan terlalu bodoh. Pakai acara menjenguk ngasih semangat. Tahukan tajanmya mulut si Miranda” Lanjutnya menatapku tajam.
__ADS_1
“Loh, Mas Arga mau kemana?” melihat kaka chintya itu dari kejauhan. Mengalihkan perhatian Chintya agar tidak perlu lagi membahas tentang kebenciannya pada Miranda.
Chintya melambaikan tangan, memberi tahu keberadaannya pada Mas Arga. Benar saja Mas Arga mendekati kami.
“Dari mana saja, di cariin nggak ada” Mas Arga berdiri dihadapan kami, aku tahu ucapannya untuk chintya. Aku tidak punya kuasa menjawab.
“Jenguk si medusa. dirawat di rumah sakit ini juga”
“Medusa?” Dahi mas Arga berkerut, ya jelas dia bingung.
“Miranda Mas” Aku yang jawab, Mas Arga tidak akn mengerti yang dimaksud Chintya.
“Oh, istrinya si Farhan kan?” Mas Arga mengernyitkan dahi mencoba menebak.
“HHmmm” Kataku menganggukkan kepala.
"Sudah makan? " Mas Arga memilih topik lain. sepertinya dia tidak tertarik dengan Mas Farhan. tentu saja mereka tidak pernah terlibat hubungan apapun. selain antara aku dengan mantan suamiku dan aku dengan Mas Arga.
"Barusan, mau ke Mama lagi. Habis itu pulang" jawab Chintya " Pengen mastiin, kalau Mama bisa ditinggal.
" Sudah kok, Mama sudah istirahat. kondisinya sudah stabil juga. Langsung pulang ajah. Dan kamu Ra, langsung pulang nggak usah balik kerja lagi. aku sudah bicara sama Azka" Mas Arga terlihat lebih santai, artinya memang kondisi Mama sudah tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Duh, yang mentang- mentang kerja di tempat Mas ijinnya gampang banget, aku mau pulang juga nggak balik ke butik" Tuh, kan Chintya protes.
" Kalian berdua pulang istirahat " lanjut Mas Arga melihat wajah cemberut adiknya.
__ADS_1