KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
PERMINTAAN MAS FARHAN


__ADS_3

Ibu sama bapak bertemu saudara, jadi aku yang berniat mengambil makanan sekalian mau menyuapi Shaka, karena dari sore anakku belum makan, selain minum susu sebelum berangkat tadi.


Ku ulurkan tangan mengambil Shaka dari ayahnya, semoga saja Mas Farhan tidak mendengar percakapan kami. Bukan apa-apa, setiap Miranda menyinggung soal Shaka Mas Farhan gampang marah. Dia tidak suka Miranda mencampuri urusan anaknya.


“Ra, Mas mau bicara sebentar boleh?” Tatapannya memohon. Sepertinya dia ingin pembicaraan kami tidak di dengar Miranda.


“Disini saja Mas, tidak enak sama istrimu kalau harus menjauh takut salah paham”


“Tidak apa-apa. Dia pasti ngerti” kami berjalan menjauhi Miranda


“Maaf sebelumnya. Boleh Mas ajak Shaka kerumah Mama?” Katanya setelah kami agak jauh dari Miranda. “kamu jangan salah paham dulu. Mama sakit, dia ingin bertemu kamu sama Shaka. sebenarnya sudah dari dua bulan yang lalu beliau minta tapi aku tidak menjawab. Aku mengerti perasaanmu Ra, pasti kamu nolak. Ibu hanya ingin menggendong Shaka setelah tahu keadaan Miranda” ucapan Mas Farhan membelah dadaku dengan sempurna. Rasa takut, benci dan trauma itu masih ada.


“Aku tidak tahu harus menjawab apa” Menolak rasanya kurang sopan, tapi menerima tawaran Mas Farhan rasanya tidak mungkin. Aku tidak suka dengan suasana canggung. Bertemu mantan mertua artinya akan mengulang kisah lama itu artinya luka yang sudah mengering akan berdarah lagi. Dan aku tidak mau kerja kerasku melupakan semuanya menjadi sia-sia.


“Tidak perlu langsung jawab, kamu pikirkan matang-matang. Kalau sudah siap kamu kabari aku, biar aku yang jemput” Suaranya memecah keheningan diantara kami.


“Aku pikirkan lagi Mas” Jawabku tanpa selera. Aku tahu Mas Farhan berharap aku menjawab Iya. Terkesan agak sedikit memaksa. Aku tidak tahu Mantan Mama mertuaku itu sakit apa yang jelas, apapun yang terjadi dengan wanita itu aku tidak ingin tahu.


sejak kejadian aku diusir paksa tanpa belas kasihan malam itu, aku sudah tidak pernah menganggap dia menjadi bagian dalam hidupku atau pernah menjadi bagian itu.


“Aku harap sebelum kamu kembali ke Surabaya” Aku sudah bisa menduga, kalau Mas Farhan memang berharap aku datang kerumahnya.

__ADS_1


“Bagaimana kalau Mas Farhan bawa Shaka saja, jemput besok di rumah. aku percaya Mas Farhan akan menjaga Shaka dengan baik” Dari pada aku harus bertemu dengan mantan mertua lagi. Ini adalah penawaran terahir.


Aku yakin wanita itu tidak akan pernah menyakiti Shaka selama ada Mas Farhan. janjinya untuk melindungi Shaka aku rasa tidak main-main.


“Tapi mereka ingin bertemu kamu juga” Aku sudah mulai tidak suka dengan sifat pemaksanya. Mas Farhan akan selalu seperti itu sampai keinginannya terpenuhi.


“Aku tidak bisa janji” Ingin segera mengahiri percakapan yang tidak aku inginkan. Membahas keluarga Mas Farhan benar-benar tidak aku inginkan sekarang dan nanti.


Aku berjalan menjauhi mantan suamiku itu setelah berpamitan ingin menyuapi Shaka. selera makanku benar-benar hilang. Berjalan ke tempat jejeran makanan yang tidak lagi mengugah seleraku. aromanyantidak lagi mengundang keceriaan cacing dalam perutku.


Aku mengambil soto dan salad buah, sengaja aku mengambil itu karena keduanya makanan kesukaan Shaka.


Aku belum ingin mengabulkan keinginan Mas Farhan, jadwalku besok dan lusa masih mengantar Ibu bertemu saudara, mumpung pulang kampung katanya. Sekalian silaturrahim.


Aku belum berani bercerita pada Ibu, biarlah dia berbahagia dengan bertemu kerabatnya, sudah cukup aku menyusahkan Ibu selama ini.


Aku sudah menutup lama kisahku, dan mengijinkan Mas Farhan hadir di kehidupanku sekarang karena Shaka. tapi kalau mantan Ibu mertuaku mau ikut masuk ke hidupan ku sekarang, apa bedanya kisahku dulu dan sekarang.


Akun menikmati apa yang aku miliki untuk saat ini, Shaka dan dua orang yang mencintaiku dengan tulus. Apalagi yang aku cari.


Tidak sedikit orang yang menyinggung ku tentang pendamping hidup, aku hanya menjawab dengan senyum tanpa kata. memang ada laki-laki yang mau dengan janda beranak satu. aku tidak ingin memiliki ekspektasi terlalu tinggi. cukup jalani nikmati dan syukuri.

__ADS_1


" Farhan telepon Ibu tadi" Aku baru saja membersihkan diri setelah mengantar Ibu bertemu saudara. " Mengenai tawarannya ke kamu Ra, Ibu tidak tahu harus bilang apa" lanjutnya tanpa menatapku.


Rupanya Mas Farhan tidak main-main. Dia mendahului ku mengatakan rencananya pada Ibu.


"Laura bingung Bu" Ucapku. datar.


"kamu tidak bisa mengubah kenyataan bahwa, Ibunya Farhan itu neneknya Shaka. ada darahnya yang mengalir dalam tubuh anakmu. tidak ada yang bisa menyangkal itu. Kalau menurut Bapak datanglah kesana. Bawa Shaka bertemu dengan keluarga Ayahnya" Bapak ikut bersuara.


Laki-laki kebanggaanku itu bukan orang yang selalu ikut campur, nyatanya jari ini dia bersuara. Dan aku yakin bapakntidak akan pernah menyumbang ide yang tidak masuk akal.


"Laura belum siap, Bapak tidak ingat bagaimana dia memperlakukan anak kita. sudahlah biarkan Laura yang memutuskan sendiri" Ibu membelaku. Dan hanya perempuan yang mengerti perempuan. itunaku rasakan dari Ibuku.


" kejadiannya sudah lama, Bapak yakin setiap orang pasti berubah. Yang buruk tidak selamanya buruk begitupun yang baik. Apalagi dia sakit. Siapa tahu dia sudah menyesali perbuatannya dulu" Bapak menyesap kopinya dalam cangkir putih. Tatapannya menerawang.


" Ketika menyuruh ku menggugurkan kandungan dia tidak merasa bersalah. Dengan jelas wanita itu mengusir ku tanpa perasaan" Slide ingatan itu muncul begitu saja. Ada tangan tak kasat mata yang tiba-tiba datang meremas hatiku. Sakit bercampur sesak memenuhi rongga dada.


Bapak menarik nafas panjang mendengar jawabanku " Bapak adalah laki-laki yang paling terluka dengan kejadian itu. hati Bapak hancur. Nyatanya kita sudah mampu melewati semuanya dan Laura sudah bahagia sekarang. Satu kali lagi kesabaranmu diuji nak, datangi dia maka ikhlas mu akan sempurna. Mari bergandengan menyongsong masa depan tanpa meninggalkan keburukan di masa lalu. Bapak takut kamu menyesal nanti. karena umur manusia tidak ada yang tahu" Aku mengangkat wajah, menatap lekat laki-laki didepanku.


Wajah teduh itu masih sama. Selalu memberikan ketenangan setiap kali berbicara. Aku merasa tersentuh dengan kalimat Bapak. dia memang benar, aku tidak ingin menyesal kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada mantan mama mertua ku.


"Nanti Laura hubungi Mas Farhan buat jemput" setelah hening beberapa saat inilah keputusan ku. tiga hari lagi aku kali ke Surabaya, tidak tahu kapan lagi datang kesini.

__ADS_1


"Kamu berangkat sendiri ditemani Ibu, jangan minta jemput Farhan takut salah paham sama istrinya" Lagi-lagi aku menyetujui ucapan Bapak.


Cara berpikir kedua orang tuaku memang jauh ke depan. berbeda denganku yang masih Sering mengedepankan ego dan emosi sesaat.


__ADS_2