KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
BIMBANG


__ADS_3

Tarian erotis daun palem di terpa air hujan mengalihkan perhatianku dari pikiran tentang permintaan Mama yang tidak biasa. Hujan, yang hanya menyisakan rintik tak lantas membuat tanah mengering. Derasnya tadi masih menyisakan genangan di diepan rumah.


Aku berpikir keras tentang apa dan bagaimana ide tidak biasa itu muncul di kepala Mama, dan aku tidak tahu harus menyikapi seperti apa. Menyetujui rasanya tidak mungkin, tapi menolak aku tidak bisa. Wanita itu terlalu banyak jasa kepada aku dan Shaka. aku belum pernah membahagiakan Mama sejauh ini. membalas semua kebaikan Mama belum pernah aku lakukan.


“Jangan buru-buru, pikirkan dulu, tapi Mama berharap kamu menyetujuinya” Kalimat terahir sebelum aku pulang.


Bukankah ini namanya pemaksaan, Mama benar-benar mengharapkan pernikahanku dengan Mas Arga. Rumah tangga macam apa yang akan aku jalani jika hati kami tidak ada rasa. Terutama Mas Arga. Sesil wanita yang benar-benar sempurna untuk Mas Arga. Sedangkan aku, apa yang bisa dibanggakan dari wanita bekas yang terbuang.


“Sudah malam, masuklah Shaka bangun nyariin kamu” Ibu mengejutkanku. Aku melangkah dengan hati yang masih bimbang. Melirik jam di dinding. Jam sepuluh, artinya aku duduk tiga jam di teras.


Aku sudah menceritakan permintaan Mama pada Ibu, wanita yang melahirkanku itu hanya diam. tidak tahu harus menjawab apa katanya. Bahkan dia menyerahkan sepenuhnya padaku.


Bagaimana tanggapan Mas Arga kalau tahu rencana Mama. Atau memang dia sudah mengetahui semuanya. Aku belum bertemu Mas Arga setelah dia menjemputku. Tentu pertemuan nanti akan membuatku canggung. Memandangnya sebagai Mas Arga dan sebagai calon suami itu tentu berbeda. Bahkan aku tidak ingin bertemu dengannya dalam waktu dekat.


“Kantong matamu kelihatan banget Ra” Suara Mas Azka ketika masuk dan menyerahkan laporan yang harus aku revisi. Kelihatan memang karena tida hari tidurku tidak benar-benar lelap.


“Capek banget Mas, Shaka rewel” Capeknya benar. Kalau Shaka rewel itu yang salah, itu hanya karanganku saja. Untungnya dia percaya setelah melihat anggukan di kepalanya.


“Kalau laporanmu sudah selesai kamu boleh pulang awal, istirahat yang cukup. Punya anak kecil yang sakit itu memang menguras tenaga” Sarannya. Sekalipun aku pulang tak akan aku bisa tertidur dengan lelap.

__ADS_1


“Terima kasih Mas” jawabku singkat. Aku menatap punggung tegap Mas Azka menghilang di balik pintu yang dia tutup. Untunglah dia tidak menanyakan alasan Shaka rewel, kalau tidak aku harus memutar otak untuk mencari alasan yang masuk akal.


Permintaan Mama benar-benar menghantuiku. Tiga hari aku tidur larut dan terbangun lebih awal. beban ini tidaklah ringan, mengingat pernikahan bukanlah hal yang sepele untuk diabaikan. Mas Arga tidak bisa menukar Sisil denganku. Kalaupun iya, aku yakin itu hanya karena permintaan Mama bukan karena ada perasaannya terhadapku.


Aku harap Mas Arga akan menentang Mama untuk kali ini. aku secara pribadi bisa berpura-pura demi Mama. Tapi Mas Arga, dia laki-laki yang sudah berkomitmen dengan satu wanita. Tidak mungkin bisa berpura-pura.


“Tumben pulangnya awal, Nak” Suara Ibu menyambutku di depan pintu setelah dia membuka lebar.


“Tidak enak badan Bu, Mas Azka ngijinin” Ucapku sambil mencium tangan Ibu.


“Ibu buatkan susu jahe sama bubur ya” Pintanya seraya menutup pintu. Aku duduk di kursi ruang tamu, memlepas sepatu heelsku.dan meletakkan di rak sepatu ruang tengah. Ibu mengikutiku di belakang,


“Ra,,,”Suara lemah Ibu menghentikan langkahku. Aku berbalik tanpa bersuara. Dari suaranya aku tahu ada yang ingin Ibu katakan.


“Ibu boleh ngasih pendapat” Tatapannya meminta persetujuanku. Ku abaikan lelah badanku dengan mengaggukkan kepala menyetujui.


Aku duduk di meja makan dengan gelas berisi air dingin dihadapanku, kepalaku rasanya sangat panas hingga aku buntu hanya untuk memikirkan diriku sendiri.


“Kamu memikirkan permintaan Mamanya Arga?” Pertanyaan itu ahirnya terlontar dari Ibu. dia wanita yang melahirkanku sudah pasti tahu keresahanku ahir-ahir ini. aku tarik nafas berat, tumpukan beban itu masih menghimpit. Aku tidak ingin membuat Ibu mengkhawatirkanku. Nyatanya, sinar itu masih dengan tatapan yang penuh iba.

__ADS_1


Diam, aku tidak bisa menjawab. Kalimat yang bersarang di kepalaku buntu. Aku hanya menunduk dalam. Seandainya tidak memikirkan hati Ibu aku ingin menangis di pangkuannya. Menumpahkan segala beban yang rasanya tak sanggup aku pikul. Dadaku panas menahan tangis yang ingin meledak.


“Maaf kalau Ibu lancang, tapi melihatmu diam berhari-hari Ibu jadi tidak tega. Ibu kehilangan Laura yang selalu tersenyum cerah menyambut pelukan Shaka. anak Ibu yang selalu makan dengan lahap. Sudah tiga hari makanmu berantakan Ra, tidurmu juga kacau. Bahkan kamu sering menyendiri” Yah, aku menceritakan semua yang terjadi pada Ibu karena dia wanita. Tidak dengan Bapak, karena rasanya sangat canggung.


“Ra, tidak ada salahnya kamu terima” Mataku melebar menatap kearah Wanita yang memaku baju krem ini. aku tidak percaya, apakah Ibu ingin melihat anaknya terjebak dalam pernikahan pura-pura?. “Jangan salah paham dulu, Menikah dengan Arga itu tidaklah buruk. Orang tuanya jelas menerima kalian dengan baik. Apalagi Ibunya Arga, dia bukan orang lain di kehidupan kamu dan Shaka. setelah ini kamu tidak akan mendapatkan perlakuan buruk mertua lagi kalau itu yang kamu takutkan” Masalahnya bukan mertua yang aku khawatirkan tapi hubunganku dengan Mas Arga.


“Laura takut gagal lagi Bu” inilah ketakutan terbesarku. Kalau kali ini aku gagal bukan hanya hubungan antara aku dan Mas Arga yang di pertaruhkan. Tapi hubunganku dengan Mama dan Chintya. Hubungan kental dan hangat itu pada ahirnya akan terasa canggung. Dan mungkin bisa menjadi berantakan.


“Ketakutanmu wajar, tapi omongan Miranda ada benarnya. Kesendirianmu seolah-olah sedang menunggu Farhan. Apalagi Ibu tidak pernah melihat kamu dekat dengan laki-laki manapun. Jangan terlalu menutup diri Nak. Tidak semua laki-laki itu sama” Dia menatapku iba. Aku hanya membalas dengan senyum yang aku paksakan.


Tidak ada hal sekecil apapun yang aku tutupi dari Ibu. apapun aku selalu bercerita, berharap sedikit banyak meringankan beban di kepala. Hidupku tidak lagi menjadi milikku, semua jiwa dan raga aku persembahkan untuk Shaka. aku tidak ingin gagal menjadi orang tua. Dan aku menyerahkan Ibu dan Bapak untuk mengatur apapun tentangku, tapi tidak dengan masalah calon pendamping. Siapapun dia yang akan berjalan disampingku harus menerima Shaka sebagai bagian dari perjalanan kami.


“Laura sedang mencoba membuka hati, tapi tidak dengan Mas Arga. Dia sudah punya kekasih. Wanita cantik yang tidak akan pernah bisa aku sejajari” Bagaimana mungkin aku menyaingi wanita bak super mdel. Sedikitpun Mas Arga tidak akan pernah mau menukarnya dengan wanita biasa sepertiku.


“Apa yang salah dengan Arga, dia sayang sama Shaka. perhatian sama kamu” Ibu sedang mempromosikan Mas Arga. Sesuatu yang seharusnya tidak perlu dia lakukan, tanpa dia katakanpun aku sudah tahu semua. Sayangnya Ibu tidak pernah tahu bahwa kebaikan Mas Arga bukan karena hatinya tapi hanya karena kemanusiaan saja. Lebih kepada Iba dan simpati tidak lebih.


“Tidak ada yang salah, dia terlalu sempurna. Sayangnya Mas Arga tidak akan bisa menukar wanita itu denganku kecuali Mama yang maksa. Dan Laura tidak mau hubungan kami di mulai dengan keterpaksaan”


Ibu terdiam, mungkin sedang meresapi kata-kataku. Aku yakin ibu akan setuju dengan pendapatku.

__ADS_1


__ADS_2