
Mobil bergerak perlahan, Mas Arga tampak tenang seperti biasa. Tatapannya Fokus kedepan.
Kami sudah sampai di sebuah rumah makan seafood di pinggiran kota, tidak jauh tempatnya. Aku mengikuti saja, menu yang cocok untuk makan siang. Aku suka seafod tapi tertentu. Tidak semua makananan laut itu bisa diterima tubuhku. Ada beberapa yang bisa menyebabkan aku alergi. seperti kepiting dan cumi, kalau udang tergantung jenis udangnya. Udang besar sejenis udang windu bisa menyebabkan aku alergi.
“Kamu apa?” bertanya dengan tatapan masih fokus pada daftar menu di depannya.
“Kakap asam manis, sama plecing kangkung” Jawabku menatap buku menu ditanganku. Melihat gambarnya seperti menggiurkan.
“Kakap asam manis satu, plecing kangkung satu. Udang saos padang, gurame bakar satu, capchay goreng satu. Minumnya jus sirsak. Kamu Ra” Mas Arga kembali menanyakan pesananku tanpa mengalihkan pandangan.
“Jus buah naga boleh” Jawabku, aku suka warna merah menyala yang dihasilkan buah naga. Kelihatannya sangat segar menggugah selera.
“Iya, Jus buah naga satu, sama air mineral dua mbak” Pelayan yang berdiri di dekat Mas Arga mencatat pesanan. Setelah mengulang pesanan kami wanita itu berlalu.
Bukan pertama kalinya aku makan berdua dengan Mas Arga setelah kejadian pindah rumah ketika itu. dia menagih janjinya untuk membayar makananku. Jadilah kami beberapa kali makan siang bareng kalau sedang tidak sibuk.
Mas Arga bercerita pekerjaannya sambil menunggu makanan datang, hebatnya dia tidak bertanya kejadian yang tadi aku alami. Tentang rencananya membuka usaha baru.
Mas Arga dan Mama punya banyak kemiripan, pekerja keras dan paling pintar melihat peluang usaha. Keduanya punya jiwa enterpreneurship yang kuat. Tapi tidak ambisi.
Kemiripan lain Mas Arga dengan Mama, keduanya paling bisa menghidupkan suasana, ada saja cerita yang membuatku tertarik untuk mendengar. Aku orang yang hanya bisa menyimak tanpa memberi tanggapan. Sampai ahirnya ponselku berdering. Kembali nama Ayahnya Shaka tertera di sana. Aku menatap Mas Arga, dia sempat menghentikan ceritanya.
__ADS_1
Satu kali, dua kali aku abaikan. Tapi tidak mampu menghentikan suara deringan dari ponselku. Ini sudah panggilan ke empat. Tapi aku belum belum berminat mengangkatnya.
“Angkat, siapa tahu penting” Mungkin Mas Arga bosan dengan nada deringnya. Terlalu berisik, sampai ke telinga. Aku berjalan menjauhi Mas Arga, tidak enak rasanya kalau membicarakan hal yang terlalu pribadi dengan mantan suamiku di hadapannya.
“Ada apa lagi, sudah aku katakan urusan kita sudah selesai” Ucapku tanpa basa-basi.
“Sekali lagi aku minta maaf Ra, karena aku lagi-lagi kamu harus menerima perlakuan tidak enak” Suaranya rendah penuh penyesalan. Aku tahu kejadian tadi bukan sepenuhnya kesalahan Mas Farhan. Tapi orang yang sudah terlanjur sakit hati mana bisa membedakan mana yang salah dan benar. Bagiku dia dan calon istrinya sama-sama punya peran menyakitiku.
“Tidak ada yang perlu di bahas lagi. Apapun yang dikatakan Miranda itu benar, janda yang tidak punya harga diri ini memang pantas mendapat makian dari calon istri dari laki-laki yang aku dekati” Entahlah, hatiku rasanya belum benar-benar kebal dari penghinaan, rasa sakitnya masih tetap sama.
“Itu tidak benar Ra, kamu wanita terhormat. Aku yang menyebabkan semua kemalangan itu. seharusnya aku yang mendapat perlakuan buruk. Bukan kamu. Kamu benar, aku memang laki-laki tidak berguna. Tapi ijinkan aku menjadi Ayah yang bertanggung jawab untuk Shaka, aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama” masih dengan nada yang sama, aku mendengarnya dengan jelas, ada getaran dalam suaranya. Ketika menyebut nama Shaka, suaranya turun seolah ada tekanan bathin yang sedang dia tanggung.
Aku terdiam, tidak tahu harus menjawab apalagi. Aku melihat dan menyaksikan sendiri Mas Farhan bukan laki-laki seperti dulu, paling tidak dia sudah membelaku tadi.
Aku tidak bisa menjanjikan apapun termasuk mengabari dia tentang Shaka. karena setelah ini Status Mas Farhan akan berubah. Dia dan miranda akan menjadi suami istri, apapun perasaan Mas Farhan pada Miranda aku tidak akan ikut campur.
Tidak ada satupun wanita yang rela melihat suaminya masih menjalin hubungan baik dengan mantan istrinya sekalipun ada Shaka diantara kami. Miranda wanita biasa yang akan meradang jika apa yang menjadi miliknya di ganggu orang lain, apapun alasannya. Apalagi setelah kejadian tadi di parkiran.
Ada kelegaan ahirnya Mas Farhan akan memulai hidup baru, aku benar-benar merasa lepas tanpa beban. Sekalipun aku pernah mencintainya sedemikian rupa, tapi rasa itu sudah hilang. Berganti rasa menghargai sebagai Ayahnya Shaka tidak lebih. Apapun yang pernah terjadi diantara kami aku sudah melupakan rasa sakit dan kecewa. Itu semua tidak lepas dari andil Mama yang sudah mengajarkan semuanya.
“Masih bahas yang tadi” Mas Arga bertanya ketika aku sudah duduk kembali ditempatku.
__ADS_1
“Iya, sekalian pamit mau pulang” Ternyata semua pesananku sudah ada di meja. Aroma bumbu ikan bakar dan asam manis kakap masuk kehidung, ternyata aku kelaparan setelah menangis cukup lama tadi.
“Ooo, beneran dia mau nikah” Tanya Mas Arga
“Iya gitu”
“Gimana perasaanmu sekarang?”
“Apa?”
“Perasaanmu melihat mantan suami mau menikah?”
“Biasa aja sih Mas, kayak melepas teman mau nikah. Tidak lebih” Benar begitu perasaanku sekarang. selega itu, bahkan aku sendiri tidak menyangka.
“Bagus lah, makan, Mas cuci tangan dulu” Mas Arga berdiri, menuju wastafel di pojok ruangan. Kami memilih duduk lesehan di dekat jendela. Sebenarnya ada pilihan duduk di kursi. Tapi kalau makan ikan pakai tangan rasanya lebih cocok duduk lesehan. Berasa makan dirumah sendiri.
Mas Arga mengantarku kembali ke restoran setelah selesai acara makan.
“Kalau boleh Mas Kasih saran, lebih bijak lagi memakai uang Shaka dari Ayahnya. Mencegah kemungkinan buruk terjadi Ra, Mas tidak terlalu yakin dengan wanita-wanita di lingkaran hidupnya Farhan. Mereka tidak akan berhenti, sekalipun sudah berjanji” Mas Arga baru bertemu pertama kali dengan Miranda, tapi dia mampu menilai dengan baik.
“Makasih sarannya Mas, Laura janji tidak akan memakai uang itu kalau tidak mendesak” Aku melepas seatbelt, kemudian turun setelah mendapat anggukan dari Mas Arga.
__ADS_1
Kembali masuk ke ruanganku, melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Padahal tidak ada rencana makan di luar, karena insiden yang tidak mengenakkan ahirnya aku makan diluar juga. Jatah makanku tidak diambil siang ini. tidak apa-apa. Yang lain pasti mengerti. Sebenarnya aku lebih suka makan siang dengan karyawan disini. Cerita mereka seru, apalagi kalau ada pelanggan yang punya kelakuan absurd, pasti mengundang gelak tawa yang lain. Aku benar-benar betah kerja di tempat Mas Azka.