KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
SUAMI TIDAK BERGUNA


__ADS_3

Dadaku di penuhi amarah, aku ingin membentak suamiku disini sekarang. Benar-benar suami yang tidak punya perasaan. Demi kebahagiaan ibunya bahkan rela menggadaikan perasaanku. Tidak tahukah Dia kalau ucapannya kali ini telah melukai perasaanku.


“Apa yang ada di kepalamu Mas, yang kamu katakan bukan jalan keluar. Ini pemerasan namanya. aku tidak pernah menuntut hakku sebagai istri. Sekarang, kamu memintaku untuk memberikan gajiku pada Ibu. bagaimana bisa di katakan jalan keluar kalau dalam kenyataannya aku yang dirugikan” Kalau bukan tempat ramai, aku ingin berteriak. Memaki suamiku, menumpahkan segala sakit hatiku padanya. Teganya suamiku, aku pikir Dia sudah berubah. Mulai melunak dan memperlakukanku dengan baik. Ternyata sikap lembutnya pagi ini karena ada misi yang sedang dia usung. Dan aku yakin, semua ide datangnya dari Ibu.


“Hanya itu jalan satu-satunya Ra. Aku tidak mau Ibu akan mencari kesalahanmu setiap hari. Dan akan membuat keadaan rumah tidak tenang. Untuk kali ini kamu nurut ya. Demi kebaikan kamu juga” Sungguh, aku muak mendengar suara suamiku. Apa yang ada di otaknya. mengorbankan istrinya demi ambisi ibunya. Tuhan, seandainya tahu dari awal kalau Mas Farhan akan seperti ini seharusnya aku memikirkan ulang untuk menikah dengannya. Atau paling tidak aku mengajukan syarat tidak tinggal satu rumah dengan mertuaku setelah menikah.


“Demi kebaikanku kamu bilang, dimana letak kebaikan buat aku. Bagaimana dengan kebutuhanku. Aku tidak pernah meminta darimu, sekarang aku harus menyerahkan semuanya pada Ibu, keterlaluan kamu Mas” Aku beranjak, tidak peduli dengan bunyi perutku. Nafsu makanku hilang setelah mendengar ide gila suamiku.


“Ra, kamu mau kemana, sarapan dulu. Nanti sakit. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Untuk kebutuhanmu Kamu tinggal minta sama ibu” Mas Farhan mencegah aku pergi. Dia menarik tanganku. Aku tidak peduli jadi tontonan pengunjung disini. Sakit hati sudah membuatku tidak punya rasa malu. Mendengar jawaban Mas farhan Aku ingin tertawa dengan keras. Aku punya gaji, aku juga yang memintanya pada Ibu, lucu sekali keluarga mereka.


“Nafsu makanku sudah hilang, kamu sarapan saja. Aku berangkat duluan. Dan perlu kamu tahu sampai kapanpun aku tidak akan pernah setuju ide konyolmu Mas” ku hempaskan tangan Mas Farhan yang memegang tanganku. Aku tidak sudi disentuhnya kali ini. Dia berlari mengejarku. Memanggil namaku berkali-kali. Aku berdiri di trotoar. Mengambil gawai dari tasku untuk memesan ojek online.


“Kita duduk dulu di sana. Tidak baik pergi dalam keadaan marah” menggandeng tanganku menjauh dari penjual bubur. Duduk di kursi taman kota, hari masih pagi masih ada waktu untuk mendebat suamiku yang tidak tahu diri.


“Ibu terbiasa pegang uang banyak Ra, kasihan Dia. Waktu bapak kerja dulu semua gaji dan tunjangan Ibu yang pegang, sekarang bapak sudah tidak bekerja lagi, beliau bukan pensiunan. Otomatis uang bulanan Ibu berkurang. Itulah sebabnya Dia selalu marah-marah. Sebenarnya rencana ini sudah lama Ibu sampaikan, sebelum kita menikah, dia meminta Mas untuk bilang ini sama kamu. Tapi Mas nggak enak, baru bisa bilang sekarang. Kamu bantu Mas ya Ra. Nanti aku cari cara biar keadaan ini tidak lama” Kalau ada orang yang paling aku benci saat ini ya, mahluk tidak tahu malu di depanku ini.


Berbicara panjang lebar, dengan tujuan agar aku menyerahkan uangku pada mertuaku, sangat menjijikkan dan tidak tahu malu. Menafkahi saja tidak, malah minta uangku juga buat di kelola Ibunya.


“Kalau memang begitu keadaannya, seharusnya Kamu kasih tahu Ibu untuk mengubah gaya hidupnya, jangan beli barang-barang tidak penting. Bukan mendukungnya. Kamu suamiku, kewajibanmu menafkahiku bukan menafkahi Ibumu. Kalau kamu masih bersikeras dengan keputusanmu Aku lebih keras lagi dengan keputusanku. Seharusnya cari cara biar kita bisa keluar dari rumah Ibu, hidup mandiri sebagai suami istri biar tidak di dikte sama Ibumu”.


Aku melihat setiap Mas Farhan habis gajian ibu selalu membawa makanan dari luar. Sementara masakan di rumah harus di buang. Tidak enak katanya, padahal Dia yang masak. Kalau sudah tanggal tua, semua orang di rumah ada saja kesalahan yang membuat ibu marah-marah. Belum lagi belanja baju-baju yang entah berapa set dia beli, aku tidak peduli.

__ADS_1


“Terus, Mas harus bagaimana Ra” lah, nanya lagi. Dengan cara apa laki-laki ini dididik dirumahnya. Masalah begini saja tidak bisa jadi penengah.


“Ya, terserah. Gajiku hasil keringatku. Aku yang akan menikmati, tidak ada hubungannya dengan Ibumu” Dadaku sesak menahan gumpalan amarah yang terpendam.


“Kalau masih mau membicarkan hal nggak penting begini lebih baik aku berangkat” aku pergi dengan perasaan kesal yang menggunung. Pembahasan yang tidak bermanfaat.


***


“Mama nggak nyangka Farhan akan begitu, kayaknya Dia sayang banget sama kam. Waktu kalian nikah, tatapaannya itu lho. Mama sampai iri. Jadi kangen papanya anak-anak” Mama benar, Mas Farhan memang sangat memujaku. Tapi itu tidak berlaku ketika ada Ibu mertuaku. Kami seperti dua orang asing yang kebetulan bertemu. Berbicara seperlunya dengan gaya formal terkesan kaku.


“Seandainya dari awal saya tahu Mas Farhan begitu patuh sama Ibunya. Mungkin saya tidak akan menikahi dia Ma” Kembali air mataku menetes. Sakit itu masih nyata. Kesakitan ketika Ibu mertuaku membentak, merendahkanku dengan kata kasarnya, seolah kejadian itu masih kemarin. Sakitnya masih nyata.


“Kenapa Tuhan tidak menciptakan mertua kayak Mama” ucapku disela tangis, dalam pelukan Mama. Ini hangat. Benar-benar hangat aku menyukainya.


“Manusia itu sifatnya macam-macam. Tuhan menciptakan manusai jahat biar tahu kalau ada yang baik juga. Manusia sudah ada porsi sakitnya sendiri, jangan bilang begitu lagi ya, itu namanya kamu tidak percaya takdir. Pasti ada rencana indah yang sudah Tuhan siapkan buat kamu dan anak kamu” pelukan mama semakin erat. Aku ingin selamanya begini, memeluk wanita ini dengan erat. Rasanya sakitku berkurang.


Angin sore menerbangkan helaian rambutku, setelah mama melepas pelukanku tadi rasanya lebih damai. Sudah empat bulan sejak aku tinggal disini. Tidak ada sedikitpun yang berubah dari sikap Mama terhadapku. Hanya saja sekarang dia sering bertanya ke hamilanku, lebih cerewet. Katanya aku tidak boleh ini, itu. Biar Bi Sumi yang kerjakan, takut capek.


“Bu, ada Mas Arga” Bi Sumi menghampiri kami.


“Tumben ini bukan ahir pekan atau saya tidak memintanya datang, suruh ke sini Bi” jawab Mama, wanita itu mengerutkan dahinya.” Aneh banget anak itu” meneguk tehnya dengan wajah bingung.

__ADS_1


“Sudah makan belum” Ahirnya dia muncul. “Arga bawa ini. Kebetulan ada meeting dekat sini sekalian mampir.” Memperlihatkan bungkusan beberapa plastik makanan ke Mama dengan wajah ceria khas Mas Arga. Setiap kami bertemu Mas Arga tidak pernah menatap wajahku, dia hanya berbicara dan menatap Mama.


“Banyak banget Ga, kamu ngerampok toko makanan di mana?” Mama, kalau bicara sama anaknya memang begitu, selalu di bawa bercanda. Itulah sebabnya aku melihat keluarga mereka hangat meskipun tanpa kehadiran sosok Ayah. Cinta mama sudah memenuhi keduanya, dan aku sudah merasakan itu.


“Ya Allah ma, masih negatif mulu perasaan. Ini beli, katanya enak-enak menunya. Cafe baru buka, beli yang ini diskon yang ini” menunjukkan beberapa bungkusan plastik dengan mengangkatnya ke atas.


Kami beranjak ke meja makan, membuka semua bungkusan yang di bawa Mas Arga. Aku tidak pernah terlibat obrolan serius atau sekedar basa-basi dengan Mas Arga. Kalau ada di rumah biasanya aku lebih banyak diam, bingung tidak tahu harus bicara apa.


“Ayam geprek, Roti bakar, kebab, burger. Ini apa?” Mama menunjuk makanan berbentuk bulat seperti bakso tapi di goreng.


“Ini namanya takoyaki, makanan sedang viral sekarang. Mama coba pasti suka” Kami duduk, melihat semua makanan dengan aroma yang menggugah. Ada mie goreng, kebab, burger. Entah makanan apalagi. Ada beberapa makanan yang terlihat asing bagiku.


“Lho, ini rujak. Sejak kapan Kamu suka rujak” benar, itu rujak buah “Emang ada cafe yang menjual rujak buah” Mama menatap Mas Arga. Laki-laki itu dengan santainya menyendok makanan ke mulutnya. “Ga, kalau mama tanya jawab” Mama mulai kesal karena di acuhkan.


“Itu chintya yang suruh, sebelum beli makanan tadi aku telpon, tanya makanan kesukaan mama, terus katanya jangan lupa beli rujak manis buat Laura” Mama mengangguk mengerti.


“Kelakuan anak itu meskipun jauh tetap saja” Mama membuka bungkusan nasi goreng, tapi tiba-tiba tangannya berhenti.


”Dasar kamu, makanan kesukaan Mama Masih tanya adikmu, keterlaluan” melempar tisu yang sudah di remas kearah Mas Arga. Tapi dengan santainya dia tetap menyendok makanannya.


“Bi, duduk sini, makan sekalian ini kebanyakn nggak mungkin habis” memanggil Bi sumi yang masih sibuk di wastefel, entah apa yang dia cuci. “Makan rujaknya Ra, kalau pedes berhenti” menggeser rujak buah ke depanku. Aku tidak bisa menahan godaan ini. Sudah ke empat kalinya Mas Arga membawa rujak ini kerumah. Aromanya sama, rasanya enak banget apa memang begitu bawaan orang hamil. Mencium baunya saja membaut liurku berproduksi lebih banyak.

__ADS_1


__ADS_2