
Aku baru tahu kalau acara pindah rumah itu benar-benar menguras tenaga, berhubung rumah yang kontrak kosong, tidak begitu banyak barang yang tersedia, hingga aku membelinya sendiri. Aku yang membereskan semuanya setelah di bantu Mama dan Mas Arga. Chintya baru bisa datang besok, karena memang liburnya hanya minggu. Kecuali dia minta pengajuan terlebih dahulu. Aku tidak mengijinkan Chintya datang, tidak enak terlalu sering minta ijin hanya untuk kepentinganku.
Rumah ini sangat sederhana jika di bandingkan dengan rumah Mama yang sangat luas. Hanya berlantai satu dengan tiga kamar tidur dan dua kamar mandi. Yang paling aku suka penataan carport dan taman halaman belakang, meskipun mungil tapi sangat sejuk. Beberapa tanaman pot dengan beraneka jenis ada disini. Di halaman depan rumah ada pohon jambu air di pojok halaman dekat pagar.
Pohon dengan daun yang rindang dapat membantu penyerapan oksigen disiang hari, hingga memberikan rasa sejuk. Sepertinya pemilik rumah ini penyuka tanaman hias.
Dari ceritanya, istrinya adalah penyuka tanaman apapun jenisnya apalagi kalau ada yang unik, sayangnya sekarang dia sakit. Mereka tinggal dirumah anak pertamanya, biar ada yang membantu menjaga sang istri. Hanya sesekali sang suami datang untuk menyiram tanaman dan membersihkan. Sang pemilik tidak tega menjual rumah ini, karena semua desain dan tanaman serta semua yang ada dirumah ini istrinya yang mengatur. Rumah pertama penuh kenangan mereka, bukti perjuangan dan saksi sejarah hingga anak-anak mereka dewasa dan punya kehidupan sendiri.
Terkadang hanya mendengar cerita seperti ini saja membuatku merasa iri. Masih ada laki-laki yang melakukan apapun demi pasangannya, melakukan hal kecil yang bisa membuat istrinya bahagia. Sekali lagi dadaku nyeri mengingat cerita pemilik rumah ini. Ada binar cinta setiap kali menceritakan istrinya. Di usia senja mereka cinta itu masih kuat. Terkadang sendu ketika menceritakan kondisi istrinya sekarang yang harus duduk di kursi roda. Masihkah ada laki-laki seperti itu, bisakah aku mendapatkannya suatu hari nanti.
Beberapa furniture yang aku pesan sudah di letakkan sebelum aku pindah kemarin, hanya saja letaknya yang kurang pas, aku mengatur ulang agar ruangan tidak terlihat sempit. Untuk bagian ini aku melarang Mama ikut membantu, aku di bantu Mas Arga melakukannya. Peluh membanjiri hingga membasahi baju yang aku pakai. Sama seperti Mas Arga, dia sama basahnya. Aku tahu dia lelah. Tapi semangatnya masih menyala kuat.
“Istirahat dulu Mas, capek” Nafasku memburu setelah mendorong ranjang dan lemari di posisi yang pas.
“Kamu saja yang istirahat pasti capek, biar Mas lanjutkan yang lain. Tinggal dikit lagi, habis itu Mas cari makan, sudah siang.” Dia duduk di atas ranjang di sisi yang lain. Keringat mengalir di kedua pipinya. Butiran bening itu juga masih terlihat di kening. Aku beranjak mengambil air mineral dalam kemasan botol. Menyerahkan ke hadapan Mas Arga.
“Minum dulu” Aku minum di botol yang lain. “Maaf Mas, Laura ngerepotin” Aku merasa tidak enak setelah melihat kerja keras Mas Arga membantuku berbenah. Aku pikir, setelah barangku diturunkan selesai sudah, karena barang yang besar sudah aku letakkan terlebih dahulu disini. Ternyata Mama memberi ide untuk merubah posisinya, jadilah aku mengatur ulang semua.
“Jangan bilang gitu, Mas senang bisa bantu kamu” Ucapnya santai, minum lagi. Aku melihat air yang dipegang Mas Arga sudah hampir habis. Terlihat dari tarikan nafasnya dengan hembusan dari mulut beberapa kali, laki-laki itu benar-benar lelah. Bukan kebiasaan Mas Arga melakukan pekerjaan keras seperti ini. Dia yang terbiasa duduk dikursi dengan laporan dan catatan di atas kertas, harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk melakukan semua ini.
Rasa bersalahku semakin menumpuk, bagaimana tidak tahu dirinya aku berkali-kali merepotkan keluarga Mama.
“Oiya, mau makan apa?” Tanyanya, memaksa aku menatap kearahnya.
“Tidak usah, sudah pesan pakai online” Jawabanku mendapat tatapan tajam darinya.
“Kok nggak bilang?” Tanyanya masih dengan tatapan tajam.
__ADS_1
“Inisiatif aja tadi lihat jam, paling bentar lagi datang, sudah satu jam yang lalu. Kalau pesen sekarang kapan datangnya keburu Mama kelaparan” Aku tidak berani menatap wajah Mas Arga. Dia laki-laki paling pantang di bayari perempuan.
“Kalau makanannya datang biar Mas yang bayar” ucapnya kesal.
“Sudah lunas pakai aplikasi juga tadi” Aku paksakan senyum, walau Mas Arga masih menatapku dengan kesal.
“Kamu kenapa sih Ra” ini bukan lagi kesal, tapi sudah naik tingkat manjadi marah, nadanya naik dua oktaf kalau pendengaranku tidak salah.
“Mas Arga sudah terlalu banyak membantu laura, kali ini saja biar Laura yang bayar” Wajahku memohon. Mas Arga membuang muka, masih marah rupanya. “Oke, nanti Laura bantu ngabisin uang Mas Arga. Katakan saja kapan, dimana” Aku mencoba mencari bahan lawakan walapun terdengar tidak lucu sama sekali.
“Oke, nanti Mas tagih” Sumpah, serius Mas Arga minta uangnya di habiskan. Gila kakaknya Chintya. Nggak ada tempat atau terlalu penuh rekeningnya di bank.
“Jangan serius gitu dong, Laura Cuma bercanda” Dari sekian tahun bertemu dan berbicara dengan Mas Arga, baru sekarang aku mengajaknya bercanda, yah walaupun garing.
“Tapi Mas serius, ini beneran. Nanti Mas ganti pengeluaranmu yang sekarang dengan makan siang” Perkara di bayari cewek segitu nggak terimanya dia.
“Iya, janji. Tapi kalau nggak sibuk ya” Mengalah, lihat moodnya kembali tidak bagus, aku merasa tidak enak. Sudah di bantuin masa bikin Mas Arga kesal.
“Selesai semua kayaknya, tinggal nunggu makanan datang” Ucapku sambil berdiri merapikan celana yang kusut dan berdebu. Menepuk beberapa bagian yang terlihat putih di celana hitamku. Mas Arga melakukan hal yang sama.
“Nunggu di luar saja Mas, sekalian mau lihat Shaka sama Mama”Berjalan keluar, Mas Arga mengikuti dibelakang. Aku buka kamar tempat Mama dan Shaka tadi bermain. Mendorong pintu yang terkuak sedikit. Mereka tertidur, pasti Mama capek jaga Shaka. aku urungkan niat menghampiri mereka. aku tarik pintu menutupnya perlahan.
“Kenapa nggak jadi masuk?” Mas Arga muncul di belakangku.
“Tidur, kasihan mau di bangunin” Berjalan menuju ruang keluarga. Aku menghembaskan badan di sofa. Benar-benar penat. Aku pijit pengkal lengan yang mulai terasa pegal.
“Nanti kalau mau tidur olesi aroma therapi biar nggak terlalu pegal paginya” Mas Arga berucap tapi tatapannya lurus pada layar televisi yang menampilkan infotainment. Aku tahu dia tidak sedang benar-benar menoton. Beberapa kali memindahkan chanel, tatapannya tanpa minat.
__ADS_1
“Iya, makasih. Ini sebenarnya belum terasa pegel banget, Cuma capek aja” aku berjalan menyalakan pendingin udara di ruang keluarga.
“Belum terasa, besok bisa jadi nggak bisa digerakkan. Gimana mau ngurus Shaka kalau kamu sakit” Masih dengan tatapan lurus pada layar segi empat yang menempel diatas meja TV. Aku tarik nafas. Berbicara dengan Mas Arga itu rasanya aneh kalau sikap cueknya kumat.
“Makasih, Mas Arga juga” Aku sandarkan badan kebelakang. Meluruskan kaki dengan pijakan palang meja. Enaknya, udara sejuk dari pendingin mulai terasa. Aku kibaskan rambut untuk menghilangkan keringat di leher.
“Harusnya jangan ngidupin AC, nanti masuk angin” Tuhan, aku yang mulai terbuai hawa sejuk, tidak berminat menanggpi ucapan Mas Arga, dia yang santai dengan remot yang masih ditangannya.
“hmm...” Jawabku lemah, tenagaku tiba-tiba terkuras habis. Tiba-tiba kantuk datang menyerang. Mataku rasanya berat. Entah apalagi yang dibicarakan Mas Arga, aku tidak begitu mendengarnya. Bahkan aku mendengar suara Adzan dzuhur samar sampai ke telinga. Aku tidak mampu menahan kantuk. Semua tenagaku tersedot habis.
***
Ku renggangkan badan, menatap layar TV yang masih menyala. Mengucek mata beberapa kali. Jam satu, artinya aku tertidur satu jam. Eh, tunggu. Kenapa tiba-tiba ada selimut, aku putar pandangan melihat sekitar. Mas Arga tidur diujung kiri sofa. Tangannya bersedekap di dada. Aku merasa iba. Dia sama lelahnya denganku harusAnya aku tahu itu. Tapi aku tidak pernah mendengar keluhannya sedikitpun.
“Sudah bangun?” Tanyanya, matanya mengerjap berkali-kali menyesuaikan cahaya. “Jam berapa sekarang?” melanjutkan pertanyaannya lagi.
“Mas Arga yang ngasih selimut?” Apa penting pertanyaan itu, sementara di sini hanya ada kami berdua.
“Iya, aku tadi lihat kamu kedinginan. Takut sakit” duduk tegak, tangannya menyugar rambut lurusnya kebelakang. “Makannya ada di meja, sudah dingin kayaknya” Tanpa menatapku dia melanjutkan kalimatnya.
“Pasti rasanya sudah nggak enak, pesen lagi kalau Mas Arga nggak suka” Dibiarkan selama satu jam tidak mungkin nasinya masih hangat. Aku pesan ayam goreng Mcd tiga paket dan tiga chees burger. “Esnya sudah cair, rasa manisnya berkurang” Kenapa juga pakai acara ketiduran. Sudah tahu kalau nunggu makanan. “Mas Arga sudah makan duluan kan?” aku berharap dia melakukannya, agar rasa bersalahku tidak semakin menggunung.
“Belum, kita makan bareng, esnya mas taruh di lemari pendingin” Jelasnya
“Harusnya tadi Mas Arga makan waktu masih anget, nggak usah nunggu. Jadinya kelamaan kan?” Aku tatap Mas Arga dengan wajah penuh dosa.
“Ck, ayo makan. Ayam gorengnya tadi terlalu panas, kalau sekarang sudah hangat,pas di makan” Aku tahu Mas Arga hanya ingin menghiburku. Mana ada makanan panas dibiarkan satu jam masih hangat.
__ADS_1
“Mama mana?” Ah, iya. Kenapa aku jadi lupa sama Mama.
“Main sama Shaka di kamar” Mas Arga berdiri “Biar aku yang panggil” Berjalan menuju kamar Mama, ku lihat punggung itu menjauh. Betapa bodohnya aku sampai tertidur. Sumpah setelah ini aku ingin menebus semuanya sama Mas Arga, nanti caranya aku pikirkan dulu.