
Meskipun aku sudah tinggal pisah rumah dengan Mama,tapi wanita itu masih sering datang berkunjung ke tempatku, kangen Shaka katanya. Jangan pikir Mama datang dengan tangan kosong. Selalu ada saja barang yang dia bawa, entah makanan ataupun barang kesukaan Shaka. Mama juga masih menghawatirkan aku meskipun Ibu Sama Bapak sudah berkumpul di tempatku.
Seperti ketika aku selesai berbenah sore itu, Mama tidak mengijinkan aku tidur di rumah baruku, karena hanya aku berdua dengan Shaka, takut terjadi sesuatu karena masih lingkungan baru katanya. Jadilah aku kembali lagi ke rumah Mama. Mungkin besoknya aku sudah bisa tinggal disana. Ibu dan bapak juga datang bersama Chintya. Padahal sudah sedih sempat Mama mau pisah sama Shaka. bahkan nasehat panjang lebar Mas Arga juga tidak ketinggalan. Nyatanya aku masih kembali lagi. Meskipun hanya satu hari.
Hingga minggu pagi aku kembali lagi dengan bapak dan Ibu yang sudah datang menemaniku dan Shaka. Mereka dengan gembira menggendong Shaka sesekali diajak bermain. Aku melihat bahagianya Ibu dan bapak selama merawat anakku. Chintya yang tidak ketinggalan menggendong anakku kesana kemari.
***
Hari ini perayaan satu tahun kelahiran Shaka, aku menyiapkan acara kecil untuk merayakan ulang tahun pertamanya. Semua orang sudah berkumpul, hanya ada keluargaku dan keluarga Mama, Chintya dia sempatkan datang untuk ikut kegembiraan kami.
Ruang tamu sudah kami sulap bak pesta ulang tahun sederhana, banner ukuran empat kali empat berisi ucapan ulang tahun untuk anakku. Dengan hiasan balon warna warni dengan dominasi warna biru disetiap sudutnya. Pita membentang diatas kepala kami. Beberapa anak kecil tetangga sekitar yang kami undang sudah mulai berdatangan. Makanan kecil dan hidangan pembuka serta makanan utama sudah terhidang dengan rapi. Semua hidangan ini mama yang memilih. Ini adalah perayaan kedua setelah acara turun tanah lima bulan yang lalu.
Shaka tampak bermain dengan Mas Arga dan Chintya di lantai yang sudah di beri karpet. Sesekali bayiku tertawa lebar saat Chintya pura-pura menjatuhkan mainannya. Beberapa kado tersusun rapi di atas meja didekat pintu. Ada kado dari Chintya Mas Arga juga Mama.
Sebenarnya Shaka tidak antusias dengan perayaannya dia hanya takjub dengan balon dan hiasan dirumah ini. Anakku belum mengerti tentang perayaan. Dia hanya mengikuti kegembiraan dan antusiasku menyambut satu tahun dia melihat dunia.
Acara dimulai dengan pembacaan doa, dan harapan baik kedepannya, bapak yang membuka. Kemudian acara inti, tiup lilin yang diiringi lagu ulang tahun dari anak-anak yang hadir. Anakku bahkan belum tahu caranya memadamkan api dalam lilin walaupun beberapa kali aku mengajarinya sebelum acara hari ini datang. Tetap saja, keramian dan pernak pernik ulang tahun lebih menarik perhatian Shaka ketika kami menyuruhnya meniup lilin. Pada ahirnya aku juga yang meniup mewakili anakku.
Mama dan Mas Arga tidak henti mengucapkan selamat ulang tahun buat Shaka. Ciuman bertubi-tubi di terima bocah lelakiku. Terutama Chintya dia tidak berhenti mencium Shaka sampai anakku memberontak, dia mengahirinya karena mendengar kemarahan Mama. Dasar Chintya, bahkan dengan enteng dia mengucap maaf setelah membuat anakku menangis dengan keras.
Acara sudah selesai, acara pembukaan kado di mulai. Bahkan untuk acara ini anakku sudah terlihat kelelahan. Dia merengek beberapa kali minta minum ASI. Aku yang tidak ingin melakukannya, aku ingin melihat isi kado dari mereka, hanya menggendong Shaka untuk menenangkan. Sampai ahirnya aku mendengar suara ketukan di pintu.
“Maaf, Ayah terlambat” Mas Farhan masuk, kali ini dia tidak sendiri seperti biasanya. Yah, kami berdamai dengan Ayahnya demi Shaka. Dia beberapa kali datang kerumah baruku. Ibu dan Bapak menyambutnya dengan baik, seperti diantara kami tidak pernah terjadi apa-apa. Bahkan terkadang dia akan menggendong Shaka seharian sampai anakku tertidur. Aku hargai pengorbanan Mas Farhan. Jarak dari kota tempat tinggalnya cukup jauh dengan kota tempat tinggalku sekarang. Terbentang jarak ratusan kilometer tidak menyurutkan niatnya untuk bertemu darah dagingnya.
Dia berlima dengan Faris, Bapak, ibu serta seorang perempuan yang baru pertama aku lihat. Mereka masuk dengan kado yang cukup besar. Hanya satu kado, aku tidak melihat ada kado yang lain. Mas Farhan menggendong Shaka. ada satu hal yang masih mengganjal. Wajah mantan Ibu mertuaku yang tidak pernah ramah. Melihat wajahnya aku sedikit gemetar, ibu memegang tanganku yang mulai dingin. Aku takut dia akan mencelakai anakku.
“Tenang dia tidak akan berani melakukannya, lihat saja, kalau sampai terjadi Ibu orang pertama yang akan menghajarnya” Aku tahu Ibu hanya menghiburku, tapi tetap tidak bisa menghentikan debaran jantungku yang mulai tidak beraturan.
Semua orang yang ada diruangan ini berdiri menyambut kedatangan mereka, yang paling terlihat bahagia itu Faris, selain Mas Farhan pastinya. Bahkan dia terlihat beberapa kali memegang pipi dang mengelus tangan Shaka.
“Selamat ulang tahun sayang, maafin Ayah terlambat” ucapnya memeluk Shaka dengan erat, mencium kedua pipinya bergantian. Aku tidak tahu harus berbuat apa, menyapa Ibunya Mas Farhan rasanya canggung. Sampai ahirnya mantan bapak mertuaku mendahului menyalami Bapak, dan semua orang yang ada diruangan ini. hal yang sama dilakukan Mama dan wanita itu.
Pada saat tangannya berjabatan denganku dia memperkenalkan diri
“Miranda, calon istri Mas Farhan” Mengulurkan tangan dengan penuh percaya diri Aku menyambut uluran tangannya.
Wow, benarkah dia calon istri Ayahnya Shaka. Bukannya aku cemburu, tidak sama sekali, karena rasa dihatiku sudah lama mati untuk laki-laki lemah sepertinya. Yang membuat aku takjub, dua minggu yang lalu ketika dia mengunjungi Shaka, Mas Farhan masih bersikeras mengajakku rujuk. Lagi-lagi Shaka yang dia jadikan alasan. Hebat sekali, ternyata dia bisa mengucapkan itu walaupun tanpa perasaan seperti iseng. untung saja aku tidak tertarik dengan tawarannya, bagaimana nasibku seandainya aku mengiyakan.
“Laura” Tidak perlu aku perjelas statusku, karena aku yakin dia sudah tahu. Aku tersenyum seramah mungkin. Tiba-tiba Ayah Mas Farhan tepat berdiri dihadapanku dengan wajah sendu, matanya berkaca-kaca.
“Maafkan Ayah Nak” Panggilan itu masih dia pakai walaupun statusku bukan lagi menantunya. Aku terharu mendengarnya. “Boleh Ayah menggendong Shaka” Aku hanya menganggukkan kepala. Suaraku tertahan di tenggorokan, aku melihatnya penuh harap. Mau menggendong Shaka masih meminta ijin dulu.
Aku melihat wajah bahagia ketika aku mengiyakan permintaannya.
__ADS_1
“Terima kasih” Ucapnya lirih, kemudian berjalan menghampiri Shaka dalam gendongan Mas Farhan. Anakku berontak ketika hendak di gendong kakeknya. Shaka bukan anak yang cepat akrab dengan orang baru, Shaka hanya tahu keluargaku dan keluarga Mama. Dia akan akrab dengan orang yang tiap hari dia lihat.
Aku tidak tega melihat wajah kecewa Ayah karena penolakan Shaka. Aku menghampiri mengambil Shaka dari gendongan Ayahnya, menenangkannya karena Shaka terlihat tidak nyaman.
“Shaka mau gendong kakek?” Tanyaku padanya setelah mulai tenang. Anakku memelukku erat. Bahasa tubuhnya mengisyaratkan bahwa dia menganggap kakeknya orang asing.
“Shaka kecapean dari tadi minta tidur” Aku hanya mencari alibi, melihat wajah kecewanya aku jadi tidak tega.
“Taruh di bawah biar bisa main, kalau di gendong tidak mau” Iya, Mama benar. Aku dudukkan Shaka dibawah dengan camilan dan mainannya. Ahirnya dia mulai tenang dan senyum mulai terlihat. Faris dan Ayahnya duduk bermain dengan Shaka. aku melihat binar bahagia di mata Ayahnya Mas Farhan. Paling tidak anakku tidak merasa takut seperti tadi.
Aku mempersilahkan mereka dengan hidangan kecil sisa ulang tahun tadi. Sesekali terlihat mantan Ibu mertuaku pandangannya berkeliling mengamati rumahku. Apa peduliku, dia bukan siapa-siapaku sekarang. satu hal lagi, dia tidak tertarik dengan Shaka, paling tidak dia tidak mencelakai anakku.
Obrolan mulai terdengar, Mama yang memulai. Dia memang orangnya humble, jadi kalau ada dia obrolan yang kaku bisa hidup. Lain dengan ibuku, dia akan lebih banyak diam mendengarkan.
“Miranda ini calon istrinya Farhan, jadi dia memang diajak biar lebih akrab dengan putranya” Tunggu, mengapa wajah Mas Farhan tidak terlihat bahagia, bahkan dia duduk dibawah main dengan Shaka, tidak duduk berdampingan dengan calon istrinya. Satu lagi dari mulai masuk juga tidak terlihat berdampingan. Wanita yang dinobatkan sebagai calon istrinya Mas Farhan ini lebih dekat dengan Ibunya Mas Farhan.
“Cantik, mereka memang cocok” Mama tidak bohong, wanita itu memang cantik. Terdengar obrolan basi basi setelahnya.
“Dia memang dari dulu saya jodohkan dengan Farhan, tapi takdir tidak ada yang tahu. Farhan lebih memilih Laura. Dan ahirnya mereka pisah jadi Miranda punya kesempatan lagi. Mereka memang ditakdirkan berjodoh walaupun harus menunggu dulu, untunglah Miranda orangnya setia” Mengusap bahu calon menantunya. Tatapan Mas Farhan tidak enak dilihat setelah mendengar ibunya membanggakan calon menantunya.
Jadi ini alasan Ibu tidak menyukaiku, ternyata aku bukan menantu yang dia inginkan. Pantas saja semua yang aku lakukan tidak pernah benar di matanya. Katakan aku bodoh tidak bisa membaca keadaan ketika itu, tapi lebih bodoh Mas Farhan yang ketika itu masih berstatus suamiku tidak pernah membelaku.
“Orangnya baik, Pantas Farhan masih menginginkan Miranda sebagai istri. Dari keluarga berada dan saya yakin dia akan menjadi istri dan menantu yang baik untuk keluarga kami” Menutup kalimat dengan penuh kebanggaan.
Lagi-lagi aku melihat tatapan tidak suka Mas Farhan, kali ini Ayah dan Faris juga melihat Ibu dengan tatapan sama. Ada apa dengan keluarga mereka. seolah ibu dan kedua wanita itu tidak sepaham dengan pemikiran laki-laki di keluarga mereka.
“Jangan lama-lama Bu, disini panas” Ahirnya wanita itu bersuara sambil mengibaskan tangan ke wajahnya, walaupun kalimatnya tidak enak didengar. Surabaya disiang hari tanpa AC memang panas, tapi aku menyalakan kipas angin di sudut ruangan. Mungkin wanita itu tidak biasa.
“Ayo Farhan kita pulang, kadonya sudah kan?” Tidak ada keinginan Ibu untuk menyapa cucunya. Walaupun hanya sekedar basa-basi.
Mereka berdiri. Aku melihat Shaka sudah mau digendong Ayahnya Mas Farhan. Laki-laki itu tersenyum bahagia.
“Cucu kakek berat juga ya, makan apa sih” memegang perut Shaka.
“Naci” semua yang mendengar jawaban Shaka tertawa. Dia yang mulai belajar beberapa kata kadang terdengar lucu dengan jawaban polos khas anak-anak.
“Nanti kakek mau main lagi sama Shaka boleh?” tanyanya lagi sama Anak yang dalam gendongannya. Shaka mengangguk senang. Aku merasa lega setelah melihat Shaka tidak takut lagi sama mantan Ayah mertuaku.
Aku mengantar mereka keluar diikuti Mama, ibu Bapak dan juga Mas Arga. Shaka beralih kegendongan Mas Arga. Aku mengambilnya karena yang lain sudah menunggu di mobil.
“Kalau kamu masih mau kita rujuk, aku bisa membatalkan semuanya Ra, bukan keinginanku. Tapi keinginan Ibu” Aku paham sekarang mengapa tatapan Mas Farhan tidak terlihat senang ketika Ibu memperkenalkan calon istrinya.
“Aku doakan Mas lebih bahagia dengan Miranda, sepertinya dia wanita yang tepat” Ada kelegaan ketika aku mengucapkan harapan baik ke Mas Farhan, paling tidak dia tidak akan mengajakku rujuk lagi. Hilang satu beban pikiran. Tinggal merajuk asa, dan menata hatiku yang terlanjur berbentuk kepingan luka.
__ADS_1
“Mas harap kamu tidak menolak ini, meskipun kamu sudah menolakku” Menyerahkan buku Tabungan. Aku menatapnya penuh tanya. “Tabungan pendidikan Shaka, aku sudah membuatkan untuknya, hanya ini yang bisa aku berikan, bentuk tanggung jawabku sebagai Ayah” Rupanya dia mengerti tatapanku.
“Tidak usah, Aku tidak ingin membuat kesalah pahaman diantara kita hanya karena ini” Aku menolak halus, tanpa dia aku bisa menanggung hidup Shaka, kalimat ini yang akan keluar seandainya aku akan menolak dengan kasar. Tapi bukan waktu yang tepat.
“Aku tidak keberatan, mereka tidak tahu tentang ini. Setiap bulan aku akan mengirimkan uangnya ke rekenening ini. bukan dari gaji tapi dari hasil usahaku” Dia menjelaskan. Aku sangat keberatan menerimanya.aku sangat tahu mertuaku, dan aku yakin wanita yang akan menikah dengan Mas Farhan punya karakter yang sama dengan Ibunya.
Aku bukan orang yang akan merendahkan harga diriku demi uang, pada saat mereka tahu tentang ini aku yakin mereka akan menghinaku kembali. Membayangkannya saja aku tidak bisa. Kembali menerima penghinaan demi penghinaan Ibunya Mas Farhan aku tidak akan sekuat dulu.
“Tidak perlu, Shaka itu sudah menjadi tanggung jawabku ketika aku mempertahankannya dulu. Mas Farhan simpan saja” Aku dorong buku tabungan berwarna abu-abu yang ada ditangannya.
“Aku menghargai keputusanmu menolakku karena aku memang pantas menerimanya, tapi aku akan marah kalau kamu menolak tanggung jawabku untuk darah dagingku. Jangan membuatku terlihat lebih buruk. Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku pada kalian” Wajahnya sendu, aku tidak tega. Aku tarik nafas. Aku menoleh kebelakang pada mereka yang selalu mendukungku. Mama dan Ibu mengangguk.
“Yah, Laura terima. Terima kasih” Tatapan tajam Mas Farhan mendengar ucapanku. Apalagi yang salah. Aku sudah menerimanya.
“Tidak usah berterima kasih, ini tanggung jawabku” Suaranya lebih keras. Oke. Aku tersenyum.
“Cepetan panas” Teriakan dari mobil membuat Mas Farhan menoleh.
“Iya,,,” Membalas dengan teriakan yang sama.
“Aku tidak akan mengundangmu kepernikahanku, Aku tidak ingin Ibu mempermalukanmu disana. Aku harap kamu mengerti” Ucapnya sebelum beranjak “ Satu lagi, ijinkan aku dan Ayah untuk bertemu dengan Shaka sewaktu-waktu”
“Silahkan datang, Shaka pasti senang”
“Jaga kesehatan, jangan sampai sakit Shaka lebih membutuhkanmu daripada orang lain” Nasehatnya sebelum ahirnya dia benar-benar pergi setelah aku mengangguk sambil tersenyum.
Tidak ada lambaian tangan, aku hanya tersenyum ketika mobil bergerak meninggalkan halaman. Aku mengamati tabungan ditanganku. Tiba-tiba Shaka mengambilnya, kemudian memasukkan kedalam mulut. Aku segera menariknya kembali, buku tabungan dari bank swasta nasional itu terlihat sedikit berdebu.
Semua mata menatapku. Bukan, maksudku pada buku ditanganku.
“Tabungan pendidikan buat Shaka dari Ayahnya” Tanpa mereka bertanya aku menjelaskan.
“Bertanggung jawab juga laki-laki lemah itu” Suara ketus Chintya mendapat hadiah sikut dari Mama.
“Yang kamu hina tadi itu Ayahnya Shaka lho”
“Apa tidak akan jadi masalah nanti Ra, maksudku melihat bagaimana orangtuanya tadi bicara” Mas Arga ternyata punya pikiran yang sama denganku. Sempat khawatir dengan Mantan Ibu mertuaku dan calon istrinya Mas Farhan, sebelum dia meyakinkan.
“Tidak ada yang tahu soal ini” Jawabku tidak yakin.
“Bagaimana kalau suatu saat mereka tahu” Yah, itulah yang aku takutkan dikemudian hari. Bahkan Mas Arga yang hanya bertemu satu kali dengan wanita itu sudah bisa menilai bagaimana sikapnya.
“Hati-hati saja jangan pakai uang itu dulu, kalau suatu saat terjadi hal yang tidak diinginkan, kamu bisa mengembalikannya utuh” Mas arga sangat bijak kali ini.
__ADS_1
“Ibu setuju Ra, taruh saja sampai Shaka benar-benar butuh” Ibuku pun merasakan ketakutan yang sama denganku.