KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
BERTEMU MANTAN


__ADS_3

Dokter menganjurkan aku untuk menjaga mood selama masa kehamilan, dan syukurnya aku berhasil melakukan itu setelah berhasil melawan rasa sakit dan kebencianku yang menggunung. Kepada masa laluku tidak ingin aku ingat lagi. Sekali lagi mama betul mengingat hal-hal yang menyakitkan itu tidak akan membuat kita bisa berjalan kedepan.


Setiap hari aku berusaha berpikir positif untuk menjaga moodku tetap baik, tersenyum pada mereka yang berpapasan denganku di tempat kerja. Aku ingin bahagia menjelang hari kelahiranku. Hari perjumpaan dengan buah hatiku, dengan mahluk yang telah mengambil seluruh cintaku walau belum melihat wujudnya. Karena demi dia akan aku lakukan apapun.


Hariku berjalan baik, semua laporan aku kerjakan dengan sempurna. Walau kadang sakit pinggang datang tiba-tiba. Kalau sudah begitu aku berhenti sejenak, berdiri dan meregangkan otot. Berjalan keluar ruangan berjalan pelan sambil mengusap perutku dengan pelan. Memijit pinggangku juga mampu meredakan rasa sakit. Di usia kandunganku yang ke delapan bulan


“Laura” Suara itu aku seperti mengenalnya, aku putar kepala mencari sumbernya. Aku menemukannya diantara kursi pengunjung restoran, berjalan mendekat ke arahku. Aku terpaku. Dia laki-laki yang tidak pernah ingin aku temui, laki-laki yang sudah merubah jalan hidupku, menghancurkan harapanku tanpa belas kasih.


Kami berhadapan, hanya tersisa jarak beberapa langkah didepanku. Aku terpaku, kakiku terkunci, bahkan mulutku tidak bisa berkata. Seolah orang yang ada didepanku ini sudah menghisap habis semua kekuatan. Kakiku bergetar. Tiba-tiba nyeri di pinggang menjalar sampai keatas. Ku usap dengan perlahan, mataku masih menatap tajam kearahnya. Mungkin aku sekarang lupa untuk berkedip.


“Apa kabar, Ra” Suaranya masih sama, dadaku bergetar hebat. Aku tidak pernah menginginkan pertemuan ini. Ku tarik nafas, dan kuhembuskan perlahan. Aku harus tetap tenang, agar tidak menarik perhatian pengunjung.


“Baik, kamu apa kabar?” Ku tekan suara se tenang mungkin. Kemarahan yang menggumpal rasanya ingin meledak saat ini juga, menyemburkan kebencian di hadapannya, mengumpat dengan kata-kata kotor seperti yang di lakukan ibunya dulu.


“Baik, Dia anakku?” Ku ikuti arah pandang laki-laki di depanku ini. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi kan. Ukurannya yang sudah besar dan menyembul. Aku hanya menutupi dengan kedua tanganku. Tatapannya beralih ke mataku, kami beradu untuk beberapa saat.


“Kita bicara didalam” Aku tidak punya pilihan, sebelum menarik perhatian mereka, ada baiknya aku menarik laki-laki ini keruanganku. Aku tidak akan tertarik dengan semua kata-katanya. Bagaimana anak Mama ini bisa lepas dari pengawasan. Seharusnya dia sekarang tidur kelonan dengan ibunya bukan. Bisa berjalan sejauh ini tanpa pengawasan rasanya luar biasa.

__ADS_1


“Aku ingin bertanggung jawab atas daraah dagingku” ucapnya lagi setelah kami duduk di sofa ruang kerjaku.


“Dia anakku” ku pasang wajah dingin, aku tidak ingin memberikan harapan lagi padanya.”Dan kita sudah tidak punya hubungan apa-apa”. Untuk apa bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak dia inginkan.


“Aku minta maaf atas semua perbuatanku dan keluargaku sama kamu, aku ingin menebus semuanya” mungkin dia terlalu yakin. Datang kesini sepertinya dengan kepercayaan diri yang penuh.


“Aku menyesal sudah memberikan kontakku pada adikmu, aku pikir dia berbeda dengan kalian ternyata sama saja, usahanya untuk menghancurkan hidupku sangat bagus, aku akui itu” Kalau saja aku sedikit bisa membaca keadaan. Tidak akan segampang itu aku memberikan kontakku. Aku yakin kedatangan laki-laki ini karena Faris yang memberi tahu. Tentang kehamilan dan tempat kerjaku.


Aku tahan air mata yang ingin tumpah. Berhadapan dengannya seolah membuka lembaran sakit yang berusaha aku tutup. Laki-laki yang pernah menjadi suamiku ini hanya tertunduk. Aku benci semuanya. Aku benci hatiku yang ternyata masih merindukanya. Aku benci dadaku yang masih berdebar ketika pandangan kami bertemu.


“Faris tidak pernah mengatakan apapun, lebih tepatnya dia tidak ingin memberi tahu sekalipun aku memaksa dan mengancamnya. Dia memang berbeda dari kami, orang-orang yang telah membuat hatimu sakit. Aku yang mencari sendiri tentang kamu. aku tahu bayi itu sebelum kamu keluar dari rumah malam itu. Aku minta maaf tidak bisa melindungimu juga anakku. Aku memang bodoh, aku laki-laki lemah. Kamu pantas membenciku. Lakukakanlah, benci aku sepuasmu, maki aku sepuasmu, tumpahkan semua amarahmu, kamu berhak melakukannya” Aku pikir laki-laki menumpahkan air mata di hadapan perempuan dengan penuh penyesalan hanya ada dalam sinetron, sekarang benar-benar terjadi di hadapanku. Aku tidak tahu ini air mata buaya atau air mata penyesalan yang sebenarnya.


Udara didalam ruanganku terasa panas, pendingin ruangan tidak mampu melakukan tugasnya dengan baik, bahkan pasokan udara yang ku hirup seolah lebih sedikit mengisi rongga dadaku.


“Semua sudah terjadi, Tuhan sedang mengujiku saat ini lewat kamu dan keluargamu agar aku lebihh kuat, aku tidak berhak menghakimi siapapun. Aku sudah ikhlas” walaupun kata ikhlas itu sekarang sudah mulai runtuh karena melihat wajahnya. Rasa ingin mengumpat, mencaci itu semakin kuat. Sia-sia kalau aku melakukannya. Atau bisa jadi anak dalam kandunganku akan mendapatkan imbasnya.


Rasa sakit mulai mencengkram bagian perut bawahku, aku tahan agar tidak menunjukkan wajah kesakitan didepan laki-laki ini. Ini luar biasa sakitnya sunggguh ini sangat menyiksaku.

__ADS_1


“Aku ingin kembali, memperbaiki semuanya dari awal. kita akan hidup bahagia dengan keluarga kecil kita” Apa katanya, kembali. Bibirnya bergerak tanpa beban. Seolah apa yang dilakukannya di masa lalu sudah mendapatkan maafku. Aku acungi jempol untuk rasa percaya dirinya yang tinggi.


“Kita sudah selesai, bukankah akte cerai kita sudah sama-sama pegang. Apa lagi, aku harap kita tidak akan pernah kembali. Neraka yang kamu dan ibumu ciptakan hampir membakar semua hidup dan masa depanku. Ingat, sebelum kamu datang kesini seharusnya kamu berpikir ribuan kali untuk mengeluarkan kalimat itu. Kembali padamu, artinya kembali kerumahmu dan kembali menerima siksaan. Atau kamu datang kesini atas perintah ibumu seperti biasanya, untuk membawaku kembali karena belum puas menyiksaku. Belum puas menghina dan menginjak harga diriku” Dari awal pernikahanku dia selalu melakukan perintah Ibunya, termasuk untuk menghilangkan anak yang ku kandung.


“Sudah aku katakan aku benar-benar menyesal atas semua yang aku lakukan, aku terlalu bodoh karena tidak bisa menjadi suami yang baik, aku tidak bisa membelamu dihadapan ibuku. Aku menyesal” Kembali bahunya berguncang. Daripada rasa iba, rasa benciku lebih besar. Apa yang laki-laki ini lakukan dihadapanku tidak akan bisa merubah apapun. “Aku mohon beri aku kesempatan satu kali lagi. Aku ingin memperbaiki semuanya”


“Kita sudah menjadi mantan, dan dia anakku. Pulanglah, aku mohon biarkan aku hidup bahagia sekali ini saja. Aku tidak ingin terlibat apapun dengan keluargamu lagi” Tak akan aku tumpahkan air mata. Yang hanya akan menunjukkan sisi lemahku di hadapannya.


“Selama kita menikah tidak pernah sekalipun kamu membentakmu atau berkata kasar dihadapanmu, aku tidak pernah selingkuh. Karena aku sangat mencintaimu Ra”


“Menunjukkan cinta itu bukan hanya dengan hal yang kamu sebutkan. Sekali saja lindungi aku dari amukan Ibumu, atau peluk aku ketika aku terpuruk dari kemarahan dan hinaan Ibumu,sesederhana itu kamu tidak bisa melakukannya” Akan aku runtuhkan rasa percaya dirinya dengan mengingatkan perlakuannya padaku di masa lalu. “Apa yang kamu lakukan selain menyuruhku mengalah dan meminta maaf. Katakan, apakah itu bisa dikatakan suami yang baik” akan kuungkit kesakitan demi kesakitan yang dilakukannya padaku.


Sialnya, semakin aku menumpahkan amarah, semakin kuat cengkraman rasa sakit di perut bagian bawah, sekarang melingkar ke pinggang. Aku harus mengusir laki-laki ini sekarang sebelum semuanya lebih parah.


“Saya kira masalah kita sudah selesai. Keluarlah aku harus kembali bekerja. Tidak enak dilihat atasanku, kita sudah terlalu lama berbicara” aku dengan jelas mengusirnya. Tak akan aku pedulikan perasannya lagi. Aku butuh istirahat, rasa sakit ini mulai tidak biasa. Menahan sakit dan amarah ternyata tidak mudah, keringat dingin mulai tampak di dahi.


“Kamu mengusirku”

__ADS_1


“yah, keluarlah” segahku cepat. Tak ingin mebuang waktu dengan berbasa-basi” Mohon dengan sangat jangan ganggu aku lagi setelah ini” Ku tahan rasa ini sebisa mungkin.


__ADS_2