
“ Kamu tahu siapa yang datang ke kantor, gila medusa itu dengan percaya diri ngantar undangan” Lengkingan suara Chintya tanpa jedah memekakkan telinga, bukan karena ceritanya yang heboh. Tapi memang dia kalau cerita nggak ada lembut-lembutnya. Untuk cerita kali ini dia menganggap kabar yang luar biasa bagiku.
“ Apa kabar yang duduk disebelah mejamu, nggak pecah itu gendang” Tak perlu di perjelas, aku tahu siapa yang dia maksud.
“Inikan jam makan siang, mereka keluar. Aku online ajah. Moodku rusak gara-gara lihat wajah si medusa” Ya Tuhan, anak ini kenapa sih.
“Apa maksudmu cerita gitu” Aku tahu dia punya maksud terselubung. Kita lihat saja.
“Berakit-rakit ke hulu, berenang ketepian. Mantan sudah ke penghulu, kenapa kamu masih sendirian” Aku tidak bisa menahan tawa, setelah menyampaikan kabar dengan begitu hebohnya sekarang malah berpantun ria. “Jangan ketawa, kalau kamu masih begini. Si medusa itu akan merasa diatas angin. Menganggap dirinya menang. Kamu kurang apa sih Ra, masa dengan spek mirip Luna Maya gitu nggak laku” Tawaku berhenti. Chintya menyamakan aku dengan artis papan atas. Sumpah aku tidak tersanjung sama sekali, aku malu karena merasa tidak pantas
“Dengerin baik-baik nih. Aku sudah tahu rasanya berumah tangga, sumpah nggak enak banget. Terus kalau kamu menyamakan aku sama Luna maya. Kamu menyanjungku terlalu tinggi, nggak ada mirip-miripnya sama sekali di pandang dari sudut mana juga. Jaman sekarang mana ada laki mau sama janda anak satu. Hanya ada dua kemungkinan. Antara laki-laki putus asa karena didesak perjodohan atau memang dia laki-laki yang tidak peduli asal perempuan dia pasti mau”
“Kata siapa, sekarang itu janda semakin didepan tau” Chintya ngotot nggak mau kalah. Bahkan dia mengeluarkan teori-teori anehnya.
“Kalau janda tanpa buntut iya kali” Berusaha mematahkan teori aneh yang di ucapkan Chintya.
“Ini, nih. Kamu itu hanya minder, bahasa kerennya insecure. Kamu tuh cantik, pake banget malah. Kalau kamu nggak keluar sama Shaka paling orang ngira kamu masih gadis. Percaya deh” Kok jadi pembahasannya kemana-mana, sampai lupa sama topik yang pertama tadi.
“Kamu sebenarnya mau bilang apa, kenapa jadi ngomongin yang aneh-aneh” Mengingatkan Chintya tujuannya menelponku.
“Jadi, tadi pagi si Miranda datang kekantor aku buat ngantar undangan pernikahannya sama Mas Farhan. Gila, undangannya keren banget, pakai foto preweding juga. Bukan masalah itunya Ra. Secara Mas Farhan kan duda, apa kata orang dia kelihatan lebih mewah di pernikahan kedua, apa mereka tidak malu sama Shaka” Kan, panjang lagi ngomongnya. Jangan lupakan suaranya yang menggebu.
“Terserah mereka sih, kan kamu tahu kalau calon istrinya orang kaya. Mungkin itu wedding dreamnya dia kali” Aku bisa apa, secara mereka memang sudah seharusnya menikah kan. Toh, antara aku dan Mas Farhan memang sudah tidak terikat apapun. Chintya niat banget manas-manasin.
__ADS_1
“Bukan masalah terserahnya Ra, kamu juga harus dapat lebih dari mereka. mertuamu itu perlu dikasih pelajaran. Buktikan kalau menantu yang pernah dia buang adalah berlian yang salah tempat” Aku terbahak. Puas banget aku mengeluarkan ekspresiku kali ini. Chintya kalau bikin istilah suka nggak nanggung. “Jangan ketawa, ini serius” lanjutnya lagi. Nadanya mulai terdengar kesal.
“Dengerin, yang namanya pernikahan itu bukan perlombaan cepet cepetan” Aku berusaha mengatur nafas setelah tertawa cukup lama. “aku sudah pernah gagal Chin, dan aku menderita. Aku tidak pernah membenci pernikahan. Tapi kalau untuk menjalin hubungan lagi kayaknya nggak deh, Tuhan kasih Shaka buat aku itu sudah lebih dari cukup. Aku lebih suka begini, sumpah aku sudah amat sangat bahagia tanpa laki-laki”
“Se trauma itu ya Ra, maaf ” Tidak ada lagi suara menggebu memekakkan telinga. Suara lemah chintya penuh penyesalan membuatku di dera rasa bersalah.
“Minta maaf buat apa, tujuanmu baik kan. Oiya, gimana kabar Mas Doni sama Mas Marwan?” Aku tidak ingin membuat Chintya semakin didera rasa bersalah. Aku alihkan topik pembicaraan.
“Aku ada kabar baik, tapi tidak sekarang, nanti saja. Kalau semua sudah clear” Suaranya riang, tapi aku jadi penasaran.
“Mas Marwan, sama Mas doni mau nikah lagi?” Asal nebak saja, sekalian mencairkan suasana hati Chintya.
“kamu kalau nebak kira-kira dong. Masak iya mereka mau kawin lagi. Bisa-bisa di gantung sama istrinya. Lagian mereka berdua itu kan tipe suami bucin. Nggak mungkin berani lirik cewek” Kami berdua tertawa. Aku yang lebih dulu kenal sama Mas Doni dan Mas Marwan sudah tahu kebiasaan mereka. Mas marwan yang harus menelpon atau terima telepon dari sang istri satu jam sekali hanya untuk membahas hal yang menurutku sepele. Tapi laki-laki itu selalu mendengar istrinya dengan antusias. Tidak jarang memberi pujian dan ucapan terima kasih. Sesederhana itu sudah membuat aku cemburu. Aku pikir aku akan mendapatkan laki-laki seperti Mas Marwan. Nyatanya Tuhan tidak menempatkan aku di posisi itu.
“Nggak ada, nanti aku kasih kamu kejutan” Duh, anak ini membuatku tidak berhenti berpikir penasaran banget.
“Jangan lama-lama kejutannya aku nggak bisa tidur nanti” Menggoda Chintya dengan candaan yang menurutku benar-benar tidak lucu.
“Oke, siap bos. Eh, aku tutup dulu ya, itu anak-anak sudah balik dari makan siang. Bye Laura sayang selamat menebak ya” Emang bener kurang ajar anak ini, main rahasia bikin aku mikir keras.
“Bye Chintya, salam buat Mas Doni sama Mas Marwan” aku mengahiri percakapan. Lagian aku juga harus makan. Jatah makan siangku sudah menunggu. Mudah-mudahan mereka belum bubar, nggak enak rasanya makan sendiri.
“Hai Mbak. Kok baru muncul. Kita sudah mau selesai” Sapa Virda. Staf marketing yang paling cerewet tapi Humble. Kayaknya Mas Azka sudah paling bener naruh dia di sana.
__ADS_1
“Jangan selesai dulu dong, aku nggak ada temannya” Jawabku bergegas mengambil piring. Kerja direstoran itu enaknya, menu tinggal pilih. Nggak perlu makan di luar. Kecuali kalau mereka bosan dengan menu bisanya. Tapi itu jarang. Aku acungi jempol untuk koki disini. Semua rasanya makanan disini juara. “Yang lain sudah selesai” Yang biasanya ramai ini hanya terlihat enam orang saja
“Melayani pesanan online Mbak tadi gantian kita” Firman yang jawab. Terlihat piring mereka sudah kosong. Aku terlalu lama ngobrol sama Chintya.
“Ini kan jam makan siang Mbak” Virda hanya menegaskan. Aku juga tahu itu. aku suka mereka, aku suka tempat kerja ini, berulang aku katakan karena memang benar-benar membuatku nyaman.
Aku kembali keruangan setelah makan siang tadi, menelpon rumah sekedar bertanya kabar Shaka, kegiatannya hari ini. Aku rindu, selalu ingin bertemu Shaka. dia adalah mood boosterku. Ketika lelah melanda, aku akan mengingatnya sebagai penguat. Bahwa, aku punya tanggung jawab besar atas masa depannya.
Tahu kejutan yang dimaksud Chintya, ternyata anak itu berubah pikiran. Setelah sekian lama kerja dengan orang ahirnya dia pulang juga ke Surabaya. Dia ingin membantu Mama mengurus salah satu usahanya. Tidak betah tinggal sendiri di rumah setelah bapak dan Ibu tinggal bersamaku di sini.
Terutama Mama, orang yang paling bahagia dengan keputusan itu, dan aku tentunya. Mungkin waktunya Tuhan mengabulkan doa Mama sekian tahun. Dia ingin Chintya tinggal di surabaya, kumpul lagi bersama dulu.
“Aku seneng banget, sekarang aku ada teman buat sekedar hangout, melakukan hal receh seperti kita kuliah dulu” Antusiasku menyambut kedatangannya pagi ini di ruanganku.
“Emang disini nggak ada yang bisa diajak begitu, sepi banget hidupmu” Kurang ajar emang mulutnya. Nggak tahu apa kalau aku lagi bahagia.
“Ada sih, aku keluar beberapa kali sama mereka. tapi aku banyakan diamnya. Lebih baik mendengarkan mereka yang bercerita. Kalau sama kamukan aku bisa tertawa tanpa jaim, makan spagheti dengan amburadul tanpa harus menjaga image. Atau hal gila lainnya.” Menyeruput moccachino di dalam gelas. Salah satu menu direstoran Mas Azka.
“Tempat kerjamu enak banget, temen-temennya humble lagi. Terus Mas Aska slow gitu orangnya. Aku mau kalau dapat tempat kerja kayak gini.” Ucapnya memutar pandangan berkeliling ruanganku.
“Kamu kan sudah punya posisi enak nanti, malah kamu jadi manajer di tempat Mama. Se enak-enaknya kerja di tempat orang enakan punya usaha sendiri, lebih puas ngatur ini itu. tanpa takut kena marah” Kadang, manusia itu tempatnya lupa bersyukur. Kadang yang terlihat sempurna di mata mereka belum tentu di tempat kita yang menjalani. Salut buat orang yang membuat pepatah rumput tetangga lebih hijau dari rumput sendiri itu, bener banget. Kenyataannya hampir semua orang mengalami itu. termasuk mahluk langka di depanku sekarang.
Dan aku merasa sangat bahagia ahirnya kami bisa tinggal satu kota lagi.
__ADS_1