
Tetang Miranda, wanita yang tidak pernah menyukai kehadiranku. Aku mengerti, tidak ada satupun istri sah yang rela suaminya masih berdamai dengan mantan istrinya. Itu fakta yang tidak bisa di tolak kebenarannya. Sekalipun mampu menerima, pasti ada cemburu yang dia tahan demi terlihat baik-baik saja di depan semua orang. Perempuan dan perasaan cemburu memang satu paket komplit yang tak terpisahkan.
Ini bukan hanya perasaanku saja, kenyatannya memang Miranda tidak pernah ramah berbicara denganku. Segala cacian dan kalimat pedas dia lontarkan. Memang tidak seharusnya aku masih berada disekitar Mas Farhan ketika dia sudah memiliki kehidupan baru.
Ahirnya aku menerima tawaran Mas Farhan setelah pertimbangan yang matang. Tapi dengan saran Bapak kalau aku kesana bersama Ibu tidak dijemput Mas Farhan. Aku sudah memberi tahu Ayahnya Shaka untuk menunggu di rumahnya. Awalnya dia ngotot ingin menjemputku. Setelah aku beri pengertian ahirnya dia paham.
Rasanya hatiku berdebar ketika menghubungi Mas Farhan, dia yang bahagia mendengar keputusanku. Dan aku yang diliputi rasa takut untuk bertemu wanita itu. apa yang akan dilakukannya nanti. Apakah pikiran Bapak benar bahwa setiap orang bisa berubah. Ribuan pertanyaan berkecamuk dalam benak. Tidak tahu harus ngapain nanti ketika kami bertemu. Rasa canggung itu sudah memenuhi benakku bahkan ketika kami belum bertemu.
“Masuk di sebelah sini Ra” Mas Farhan mempersilahkan aku masuk dan memberikan aku petunjuk arah ke kamar Ibunya setelah kami tiba tadi. Aku berjalan, mengikuti langkah Mas Farhan.
Apa yang akan kalian rasakan ketika masuk ke rumah yang dulu pernah membuatmu merasa terhina, diusir dan di rajam dengan kalimat cacian setiap hari.
Rasa sakit itu masih begitu kuat menyiksa ku. Telingaku berdengung seolah kalimat cacian itu terdengar jelas. Suara bentakan mantan mertuaku menggema di dada. Memukul pertahannku dengan sempurna. Aku berhenti tidak kuat melanjutkan langkah. Kakiku terasa lemas. Mataku panas, karena aku berusaha utnuk menahan air mataku keluar.
“Kamu kenapa?” Mas Farhan menghampiri ketika aku terdiam di tempat. Ibu juga mendekat sambil menggendong Shaka.
“Kamu sakit, wajahmu pucat lho” Mas Farhan tidak salah, keringat dingin mulai membasahi kening, telapak tangan dan kaki. Hatiku sedang tidak baik-baik saja. Rasa takut yang teramat, datang menghancurkan rasa percara diri yang sempat membubung tinggi.
Semua tentang tempat ini menarikku pada ingatan masalalu, suara teriakan dan hinaan masih menggema di telinga, bentakan dan pengusiran itu kembali hadir dalam ingatanku dengan sempurna. Remasan di dada semakin kuat, meninggalkan rasa sakit yang luar biasa.
“Kita sudah ada disini sekarang tidak bisa mundur, lanjutkan nak. Setelah itu hatimu akan lega” Ibu mengusap bahuku lembut. Dia yang merasakan apa yang aku rasakan sekarang, ketakutan itu nyata.
__ADS_1
“Ibu ada di kamar bawah disebelah ruang keluarga, tidak akan terjadi apa-apa. Aku yang menjamin” Mas Farhan hampir memegang tanganku, aku tepis sebelum sampai. Aku membencinya seperti dulu. Kata yang terlontar dari bibirnya juga sama, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Ketika berhadapan dengan ibunya dia akan berubah menjadi orang lain. Bukan Mas Farhan yang membelaku dengan berani, nyalinya hanya sampai pada tatapan maut ibu kandungnya. Jangan paksa aku untuk mempercayai ucapannya lagi. Aku yang sudah kenyang dengan kata-katanya untuk kali ini tidak akan mempan.
“Kenapa berdiri disitu Ra, duduklah” seketika pandanganku beralih mencari suara. Ayahnya Mas Farhan berdiri di ambang pintu pembatas ruang tamu dan ruang keluarga. Mendorong kursi roda. Ya Allah, wanita itu terduduk lemah disana. Sebelah tangannya kaku, sedangkan satunya perpegangan pada sisi kursi roda.
“Inilah kondisi Mamaku sekarang Ra” Suara Mas Farhan lemah.
Aku tidak pernah menduga kalau mantan ibu mertuaku ini sakit strok. Aku pikir hanya sakit biasa seperti lansia pada umumnya. Kondisinya yang lemah, mengubah pandanganku tentang sosoknya dulu.
“La,,,Ma,,,ma,,,minta…maaf” Suaranya terbata. Air mata itu mengalir deras. Bahkan dia tidak bisa mengucapkan huruf “R” dengan benar. Apa yang terjadi dengan keluarga ini. “ A,,,ka,,,”Tangannya terulur sebelah ingin menggapai Shaka yang ada di gendongan ibu.
“Mendekatlah nak. Bawa Shaka” Bisik ibuku sambil menyerahkan Shaka ke dalam gendonganku.
Dengan ragu aku melangkah pelan sembari menggendong Shaka. Aku masih terdiam tidak tahu harus berkata apa. Semua kejadian ini nyata di depan mataku. Aku tidak sedang bermimpi. Wanita angkuh itu terlihat lemah tak berdaya.
Mas Farhan mengambil anakku, menenangkna dengan menepuk punggungnya lembut.
“Sudah lama dia ingin bertemu kalian, istriku menyesal nak. Maafkan segala kesalahannya di masa lalu. Kami tahu, Tuhan sedang menghukum atas perbuatan kami dulu” Ayah Mas Farhan seolah menterjemahkan apa yang ada di benak istrinya. Aku membenci mereka atas apa yang menimpaku dulu. Tapi hari ini, benciku menguap. Berganti iba atas apa yang mereka alami.
Setelah Miranda, sekarang Mama mertuaku yang mengalami cobaan, aku tidak berani menyebutnya balasan. Aku bukan mahluk suci yang harus menimpakan karma pada mereka.
“Kami sudah memaafkan apa yang terjadi, dan anakku sudah bisa menerima cobaan yang menimpanya” Ibuku yang mewakili. Aku tidak sanggup berkata-kata. Tangan kami masih saling memegang kuat. Aku menunduk dalam. Menyembunyikan airmata yang tidak mau berhenti.
__ADS_1
“Ibu,,,memang,,,jahat,,,pada kalian. Ibu…tidak... pantas… mendapatkan… maaf” Dengan susah payah dia mengucapkan kalimat panjang. Aku menatap matanya. Selama aku menikah sampai ahirnya berpisah baru sekarang manik kami bertemu. Walaupun kabut menghalangi. Aku bisa melihat ketulusan dari pancarannya.
“Ibu tidak seperti itu, kita sama-sama melakukan kesalahan. Saya juga minta maaf atas apa yang terjadi. Tidak akan ada kemarahan tanpa kesalahan. Dan saya juga tidak berhasil menjadi menantu yang ibu inginkan” Mengusap punggung tangan yang terlihat kurus itu lembut. Kerutan mulai nampak disana.
“Tidak nak, kami yang terlalu egois. Kamu sudah berusaha menjadi menantu yang baik, kami yang tidak pandai bersukur. Padahal kamu sudah menuruti semua kemauan istri saya” Bapak menimpali. Hanya melihat istrinya yang menggelengkan kepala.
“Cucu…eyang…” Tangannya mengarah pada Shaka yang ada di gendongan Mas Farhan
“Anak Ayah mau gendong Eyang?” Tanyanya. aku tahu, Mas Farhan tidak ingin memaksa kalau memang bayi itu tidak nyaman. Benar saja, Shaka merangkul bahu Ayahnya erat. Menyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya dengan nyaman. “Tidak apa-apa Ayah tidak maksa, jangan nangis dong. Malu sama Eyang” menenangkan Shaka karena nafas anakku terlihat naik turun dengan cepat dan kuat. Isakan kecil sudah mulai terdengar, sebisa mungkin Shaka menahannya.
“Biar aku coba” Tidak tega rasanya melihat Mamanya Mas Farhan mendapat penolakan. Rautnya kecewa. Ahirnya aku mengambil Shaka dari gendongan Ayahnya.
Aku coba dengan mendekatkan tangan mereka, walaupun pada awalnya Shaka sempat menolak, tapi lama-kelamaan anakku mulai terbiasa. Anakku mulai terlihat nyaman. Bahkan sempat kontak mata juga. Aku melihat wajah bahagia mantan mertuaku. Lagi-lagi dia menitikkan air mata.
Kemudian mengambil kepala Shaka menciumnya lama dan dalam, air matanya belum berhenti. Dia tidak melepaskan kepala Shaka, diciumnya cukup lama. Kami yang berada dalam ruangan ini cukup terharu. Dia juga menarik tanganku dan kami berpelukan dalam haru. Lebur sudah segala kebencian ini.
Untung saja aku mendnegarkan saran Bapak. Semuanya menjadi indah dalam pelukan hangat. Tidak ada kebencian. Hatiku benar-benar lega sekarang.
“Te..li..ma..kasih” Suaranya terbata.
“Laura juga berterima kasih, karena Mama mau mengakui Shaka. semoga Mama cepat sembuh” Ucapku setelah pelukan kami terlepas. Kuusap tangannya perlahan. Aku baru merasakan kehangatan sebagai seorang menantu, meskipun sangat terlambat dan status itu sudah tidak aku sandang lagi.
__ADS_1
Sekalipun statusku berbeda paling tidak aku sudah merasakannya pelukan hangat yang sangat aku rindukan dari dulu. Tidak ada kata terlambat dalam penyesalan. Karena hidup untuk di jalani dengan tulus sepahit apapun, ambil hikmahnya dalam setiap kejadian.