KEPINGAN LUKA

KEPINGAN LUKA
RENCANA KONYOL


__ADS_3

“Ikut saya nanti jam sebelas siang ketemu klien” Mas Azka masuk tanpa aku dengar ketukannya di pintu.


“Ngagetin aja Mas” Jawabku dengan degup jantung yang bertalu karena terkejut dengan suaranya yang tiba-tiba.


“Saya sudah mengetuk pintu berkali-kali nggak ada jawaban Ra, jangan bilang saya tidak sopan, ya” Wajah bersalahnya muncul di depanku karena dia duduk tepat di depanku.


“Oke, nanti saya ikut. Apa yang harus disiapkan?” Tanyaku tanpa basa-basi.


“Seperti biasa, proposal kerja samanya di bikin nanti pulangnya saja soalnya ini dadakan. Formalitas saja sih, orangnya tetap setuju kok. Cuma buat laporan kerja saja”


“Siapa saja yang ikut?”


“Hanya berdua, Desy sama Ozil nggak ikut. Mereka akan datang lagi buat pilih menu setelah sepakat harga” jawabnya tanpa hambatan. Aku yakin proyek yang sekarang tidak kalah besar dengan yang kemarin. Melihat antusiasme dan wajah berbinarnya.


“Kakap lagi Mas? ” Tanyaku, setelah melihat rautnya yang secerah matahari Suarabya jam sebelah siang.


“Yap, Anaknya Bu Yesi”


“Bu Yesi?” Dahiku berkerut.


“Yang kemarin anaknya baru tunangan”


“Oh, acara nikahan?” Tanyaku “apa dia juga mau buat acara pernikahan dadakan seperti kemarin?” lanjutku Penuh rasa penasaran.


“Bukan, acara ulang tahun perusahaan anaknya” Kalimatnya memang sudah usai, tapi tatapan Mas Arga masih belum usai, tapi dia tidak melanjutkan.


“O…” Hanya itu yang keluar dari mulutku.

__ADS_1


“Kok o sih Ra. Tanya apa gitu kamu nggak penasaran apa?” Aneh nih mahluk satu.


“Sejak kapan kita penasaran sama urusan pribadi klien. Yang penting proyeknya sudah kita dapatkan selesai” Benar begitu kan, alurnya. Buat apa aku tanya hal yang tidak ada urusannya dengan kerja sama.


“Ck, kamu terlalu cuek dengan sekitar. Karena saya orang baik. Saya kasih kamu bocoran” Ya, Tuhan. Siapa juga yang butuh. “Anaknya Bu Yesi yang sekarang cowok namanya Yanda. Dia pemilik perusaahaan yang mau kita tangani. Single Ra, umurnya sama dengan saya”


“Hubungannya dengan kita?


“Ck, kali aja cocok sama kamu”


“Mas Azka lama-lama jadi kayak jadi mak comblang. Single kaya raya mana ada cocoknya dengan saya” Wajah Mas Arga tiba-tiba menjadi gusar.


“Jangan terlalu menutup diri Laura, siapa tahu kan kalian cocok”


“Oke, kita mau kesana karena proyek ini, atau ada maksud lain. Kalau iya, saya nggak ikut. Mas Azka ajak Mbak Dian saja”


“Nanti kamu jabarkan dulu, selebihnya saya yang nambahi. Oiya, dia orangnya pendiam sedikit kaku jadi jangan kaget” Memberikan gambaran tentang indvidu bukan masalah pekerjaan adalah keanehan lain dari seorang Azka.


“Siap Bos” Jawabku singkat dengan melirik Mas Azka. Tunggu dia tersenyum samar ada apa ini. perasaanku tiba-tiba lain.


“Mari saya antar keruangan Pak Yanda” seorang wanita dengan suara lembut menyambut kedatangan kami setelah sempat berbasa-basi sebentar dengan Mas Azka.


Setelah ketukan ketiga wanita cantik ini membuka pintu dan mempersilahkan kami masuk. Seorang laki-laki seumuran Mas Azka menyambut kamu dengan senyum tipis, tidak bisa dibilang ramah juga kalau senyuman itu tidak sampai ke mata.


“Macet tadi? ” Tanyanya membuka pembicaraan, setelah kami duduk di sofa ruang kerjanya yang cukup luas. Wajahnya lelah. Mungkin karena dia belum istirahat. Terlihat dari tumpukan berkas yang aku lihat di mejanya yang kami lewat.


“Nggak juga, kan belum jam pulang kantor” Jawab Mas Azka santai.

__ADS_1


“Silahkan diminum, hanya air putih. Takut nggak cocok sama minuman lain” Aku yang hanya diam tidak tahu harus memulai dari mana.


“Kenalin, ini bagian keuangan dan pemasaran sekaligus. Dia yang akan menjabarkan nanti. Jadi kalau ada apa-apa bisa langsung tanya ke dia” Gila, ya. Dia menatapku tajam sebentar. Bahkan senyum ramahku tidak dia balas. Auranya menakutkan di balik wajahnya yang tampan.


“Jadi ini menu kita yang sering menjadi andalan dalam event yang bekerja sama dengan resto kami. Makanan tradisional yang rasanya sudah mendapat banyak pujian dari klien kami. Dan sebagian besar mereka merasa puas” Menyerahkan katalog yang aku bawa dari kantor dia mengambilnya tanpa ekspresi.


“Sebenarnya ini tidak penting, saya sudah menyerahkan semua sama Mama. Kemarin kan pakai kalian juga di acara pertunangan adik aku” Nah loh. Aku merasa seperti orang bodoh ada diantara mereka. buat apa di presentasikan lagi kalau baru seminggu yang lalu mereka memakai jasa kami. Aku menoleh pada Mas Azka meminta jawaban.


“Bu Yesi yang nyuruh kami kesini buat memastikan saja. Ini ada no HP Laura. kalau nanti ada pertanyaan. Bu Yesi tidak tahu berapa jumlah undangan, jadi kita memastikan jumlah pemesanan nanti” Mas Azka menjawab dengan santai. Eh, tunggu kenapa harus kontakku yang dia kasih. Bukankah seharusnya kontak dia sendiri sebagai pemilik. Ini ada yang harus aku usut setelah pulang nanti.


“Oke, sebenarnya acaranya masih bulan depan. Saya juga belum menyimpulkan jumlah undangan saya pikir nanti kurang dua minggu saya fix kan dulu, nanti saya hubungi lagi. Kalau masalah rasa saya lebih percaya Mama” jawabnya tanpa menoleh ke arahku


Selanjutnya obrolan berlanjut seputar mereka. Ternyata mereka saling mengenal cukup akrab. Hanya saja berbicara dengan sedikit formal. Benar kata Mas Azka. Dia laki-laki kaku dan dingin. Tapi ketika berbicara dengan Mas Azka wajahnya berubah ramah. Apa dia laki-laki yang alergi terhadap perempuan ya. Entahlah, itu bukan urusanku.


“Sebenarnya, ini perintah Bu Yesi Ra. Maaf kalau buat kamu nggak nyaman tadi” Membuka pembicaraan setelah kami keluar dari gedung perkantoran dan sekarang terjebak macet disini. “Dia minta tolong aku mendekatkan kamu sama Yanda” Wajah bersalah laki-laki di sebelahku ini tidak serta membuat rasa dongkol ini mencair. “Bu Yesi tertarik sama kamu untuk menjodohkan kalian” Aku menatap tajam Mas Azka. Aku yakin sekarang mataku melebar. Katakan aku kurang ajar pada atasanku tapi dia jauh lebih tidak sopan mencampuri ranah pribadiku.


“Mas Azka keterlaluan” Hanya itu yang mampu aku ucap. Belum lagi kelar yang Permintaan Mama. Sekarang muncul lagi permintaan Bu Yesi. Ada apa dengan Ibu-ibu di kota ini. harus aku gitu yang jadi objek.


“Bu Yesi tahu kok status kamu, dia juga tahu kamu punya anak jadi soal itu kamu tidak usah takut” lanjutnya masih dengan tatapn lurus kedepan


“Tidak dengan anaknya Mas, sekarang saya tahu kenapa dia tadi menatapku tajam seolah tidak suka” Aku ingin meluapkan kemarahanku sekarang. tapi pada siapa? Bagaimana caranya? . Sementara yang seharusnya mendapat amukanku disini adalah bos di tempatku bekerja. Aku hanya bisa mengepalkan tangan dengan erat. Aku ingin menangis Tuhan.


“Tapi kamu tidak suka juga nggak apa-apa Ra, Bu Yesi nggak maksa” Lagi-lagi yang dibicarakan Bu Yesi. Bukan aku yang menjadi korban ke egoisan mereka.


“Tapi aku tidak menyukai cara kalian dari awal” Jawabku singkat. Siapapun tidak boleh ada yang mengatur ku tentang siapa laki-laki yang harus aku terima sebagai pendampingku kelak, itu sudah harga mutlak. Karena mereka tidak tahu rasa sakit karena gagal. Mengumpulkan pecahan dan serakan itu membutuhkan waktu lama, aku tidak ingin terulang.


“Sudah waktunya kamu buka hati Laura. kita hanya membantu selebihnya kamu yang jalanin. Kalau caraku salah minta maaf deh” Santai sekali jawaban Mas Azka. Setelah dia menawarkanku seperti barang dagangan. Dia berucap maaf tanpa beban.

__ADS_1


Berjalan ke pantry dengan segelas air dingin untuk menurunkan suhu di kepalaku hampir mendidih.


__ADS_2